“KEMULIAAN AKHLAK TUJUAN PARA NABI, BUKAN SEKADAR ILMU”

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Al Uzhma Luthfullah Shafi Ghulpagani dalam pertemuannya dengan sejumlah budayawan di kota Busyhahr Republik Islam Iran menyatakan bahwa tidak ada satupun ilmu dan ma’rifat yang lebih mulia dan lebih agung dari ma’rifat dan hidayah Ahlul Bait As. Beliau berkata, “Manusia jika menginginkan budaya yang sebenarnya, maka ia harus mencarinya dalam petunjuk Al-Qur’an lalu setelah itu petunjuk dari Ahlul Bait, misalnya dalam Nahjul Balaghah, Shahifah Sajjadiyah dan perkataan-perkataan Ahlul Bait lainnya.” Baca entri selengkapnya »

“KEMULIAAN AKHLAK TUJUAN PARA NABI, BUKAN SEKADAR ILMU”

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Al Uzhma Luthfullah Shafi Ghulpagani dalam pertemuannya dengan sejumlah budayawan di kota Busyhahr Republik Islam Iran menyatakan bahwa tidak ada satupun ilmu dan ma’rifat yang lebih mulia dan lebih agung dari ma’rifat dan hidayah Ahlul Bait As. Beliau berkata, “Manusia jika menginginkan budaya yang sebenarnya, maka ia harus mencarinya dalam petunjuk Al-Qur’an lalu setelah itu petunjuk dari Ahlul Bait, misalnya dalam Nahjul Balaghah, Shahifah Sajjadiyah dan perkataan-perkataan Ahlul Bait lainnya.” Baca entri selengkapnya »

Bedah Buku: Penebar Rahmat

 

 

 

 

ImageJudul               : Penebar Rahmat: Muhammad Menurut Muhammad

Penulis             : Muhammad Rey Syahri

Penerjemah      : Irwan Kurniawan

Penyunting      : Abdul Rauf

Penerbit           : Al-Huda

Tebal               : 292 halaman

Harga              : Rp 42.500,-

 

Dalam pandangan-dunia Islam, semua keberadaan merupakan ayat-ayat Allah (âyâtullah) dan ayat Allah yang paling sempurna adalah Muhammad Rasulullah Saw. Ada firman Allah Swt yang mengatakan apabila seluruh pohon dijadikan pena dan lautan sebagai tintanya, niscaya itu tidak akan mampu untuk menuliskan keagungan Allah Swt. Demikian pula, ketika kita ingin menuliskan keagungan Rasulullah Saw, sebagaimana manifestasi paling sempurna dari keagungan Allah, semuanya itu hanya akan menyinggung sisi tertentu dari keberadaan dan kepribadian  Nabi Terakhir ini. Tak heran, hampir setiap tahun senantiasa ada buku yang menggambarkan Rasulullah Saw. Mulai yang ditulis untuk anak-anak hingga orang tua, ditulis oleh non-muslim hingga muslim sendiri.

 

Dan, penulisan biografi Muhammad Saw ini pun bermacam-macam pendekatannya, seperti Annemarie Schimmel menggunakan pendekatan fenomenologis ketika menulis buku Dan Muhammad Utusan Allah, Syekh Ja`far Subhani menggunakan pendekatan kritik historis saat mengeluarkan karyanya The Message (Risalah),  Syekh Jawadi Amuli menggunakan pendekatan filosofis-teologis ketika mengeluarkan karyanya yang berjudul Nabi dalam Al-Quran, belum lagi Seyyed Hossein Nasr serta beberapa penulis prolific lainnya. Semuanya itu membenarkan bahwa berbicara tentang Muhammad Saw senantiasa memiliki keunikan masing-masing.

 

Bagaimana halnya dengan buku ini?

 

Buku ini sesungguhnya lahir dari pencanangan “Tahun Nabi yang Agung, Muhammad”, sekitar enam tahun lalu, oleh Pemimpin Spiritual Tertinggi Iran Sayyid Ali Khamenei yang mengajak seluruh lapisan masyarakat Islam untuk memperkenalkan pribadi teragung ini kepada Dunia Islam secara khusus dan masyarakat dunia secara umum. Boleh jadi salah satu alasan pencanangan “Tahun Nabi yang Agung” itu karena tahun-tahun sebelumnya masyarakat Barat (khususnya) berusaha mendevaluasi keagungan Rasulullah Saw sampai-sampai pribadi termulia dijadikan sebagai olok-olok kartun.

 

Dalam pengantarnya untuk buku Penebar Rahmat ini, Muhammad Rey Syahri mengatakan, “Untuk menghadapi konspirasi dan perang budaya ini, kita harus bisa menggunakan kesempatan yang bernilai ini untuk memperkenalkan berbagai dimensi dari kepribadian Rasulullah Saw secara benar…” (hal.20)

 

Sesuai dengan judulnya, penulis memang menekankan aspek moralitas Nabi Agung Saw ini. Rahmat atau kasih sayang sesungguhnya merupakan bagian dari akhlak sementara kesempurnaan akhlak amerupakan misi kenabian dari Muhammad Saw. Karenanya, buku Penebar Rahmat diawali dengan kesaksian al-Quran terhadap kenabian Rasulullah, kesaksian para ahli ilmu hingga hikmah dan falsafah kenabian.

Menurut Rey Syahri , “Mengetahui hikmah yang terkandung di balik pengutusan Rasulullah saw dipandang sebagai tema terpenting yang berkaitan dengan pengetahuan terhadap kepribadian Nabi saw. Hikmah yang terkandung di balik pengutusan Nabi saw pada dasarnya tidak berbeda dengan pengutusan para nabi yang lain. Perbedaan satu-satunya adalah penutup para nabi ini menyempurnakan risalah-risalah nabi-nabi yang terdahulu. Oleh karena itu, kenabiannya merupakan penutup kenabian.”  (hal.34)

Dalam falsafah kenabian itu sendiri, menurut pandangan Tuhan, ada tiga pilar yang harus diperhatikan: (1) falsafah penciptaan manusia, yaitu membawanya menuju kesempurnaan; (2) dalil penyempurnaan tidak ada dalam eksistensi manusia; (3) hanya Pencipta alam semesta ini yang mampu memberikan program penyempurnaan manusia karena Dia yang benar-benar mengetahui kesiapan dan kebutuhan manusia.

Turunnya Rasul Saw disertai dengan al-Quran, yang salah satu kandungannya merupakan sekumpulan titah akhlak dan petunjuk moralitas. Dalam al-Quranlah, manusia akan mendapatkan banyak penjelasan tentang hikmah pengutusan para nabi di antaranya membebaskan manusia dari belenggu-belenggu internal dan eksternal, mengeluarkan manusia dari kegelapan (kebodohan), mengajarkan al-Quran dan Hikmah (Sunnah), menerangi alam semesta ini dengan cahaya ilmu, membangun moral masyarakat, dan mewujudkan keadilan sosial. Kesemuanya ini merupakan fondasi penting dalam membangun sebuah masyarakat dan penerapan program penyempurnaan yang dilakukan para beliau.

 

Karenanya, adalah tepat bagi kita sebagai pembaca untuk membaca kembali karya-karya terkait dengan Rasulullah Saw ini, khususnya di bulan-bulan kelahirannya, Rabiul Awal. Apabila pembaca sudah memiliki karya terbaru dari Karen Armstrong—mantan biarawati yang kini mengaku sebagai “freelance monotheist”—yang berjudul Muhammad: Prophet For Our Time, segeralah Anda membaca buku Penebar Rahmat ini. Kami sarankan demikian, karena buku ini memuat bagaimana pandangan al-Quran dan Ahlulbait terhadap pribadi agung Muhammad Saw ini. Apabila pembaca menemukan kemuskilan-kemuskilan dalam buku biografi Muhammad yang ditulis oleh para pemikir Barat, terutama yang terkait dengan akhlaknya,  segeralah merujuk ke buku karya Rey Syahri ini. Buku yang terdiri enam bab plus pengantar ini, insya Allah akan menjawab kemuskilan-kemuskilan tersebut termasuk falsafah kenabian yang semakin hari mendapat tantangan yang keras. Selamat menyimak! (Arif Mulyadi)

 

Malam al-Qadr (5)

Ya, ucapan selamat dan ribuan selamat bagi orang yang telah mampu untuk meraih karunia Ilahi dengan melakukan secara benar apa-apa yang telah diuraikan. Namun orang yang tidak atau belum mendapatkan karunia Ilahi dalam melakukan semua ibadah dan amalan tersebut, apalagi tidak, jangan sampai diperdaya oleh setan yang membisikkan kepadanya:
“Engkau bukanlah orang yang mampu melakukan semua ibadah yang menjemukan ini sebagaimana semestinya dilakukan. Karena itu, sia-sialah mencemaskan dirimu sendiri, tinggalkanlah, dan kerjakanlah urusanmu sendiri. Karena, perbuatan yang tidak dilakukan secara sempurna tidak akan memberikan pahala apapun bagimu.”
Dengan cara ini, setan berhasrat agar si mukmin berhenti melakukan apa-apa yang ia harus lakukan, yang justru bakal menutup jalan keselamatan dan kebajikan pada dirinya sendiri selamanya. Dengan kelalaian dan tipu daya ini, ia akan memerosokkan diri ke dalam bahaya serius. Karenanya, ia semestinya tidak memperhatikan bisikan-bisikan setan ini dan tidak menunjukkan kelalaian dalam melakukan apa-apa yang bisa ia lakukan, meskipun tampaknya sangat tidak berarti. Sebab, amal-amal dan ibadah-ibadah tersebut, betapapun kecilnya, memiliki iluminasi [pencerahan, peny.] dan pahala yang akan memudahkan pelakunya mendapatkan karunia Ilahi berupa melakukan amalan dan ibadah lain yang sangat membantu agar dapat menunaikan ibadah yang sempurna. Baca entri selengkapnya »

Pesan dari Imam Muhammad Al-Jawad dalam peringatan hari lahirnya

Anjuran untuk Menuntut Ilmu
Imam Jawad menganjurkan supaya menuntut ilmu dan beliau menjelaskan keutamaan orang-orang berilmu melalui hadis-hadis dari Imam Ali as. Berikut adalah sebagian hadisnya.
“Hendaklah kamu menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu wajib. Mengkajinya adalah sunnah. Ilmu adalah tali persaudaran antar sesama saudara. Adalah bukti atas keksatriaan. Adalah mutiara di majelis-majelis. Teman dalam bepergian dan hiburan dalam keterasingan.”
“Ilmu dua macam: dicatat dan didengar. Tidak bermanfaat ilmu yang didengar jika tidak dicatat. Siapa yang mengenal hikmah takkan sabar atas bertambahnya. Keindahan terletak pada lisan dan kesempurnaan terletak pada akal.”
“Sesungguhnya anak Adam mirip sekali dengan timbangan, berat dengan ilmu—dengan akal—atau ringan karena kebodohan.”
“Ikutilah ulama sebagai pedoman dalam ketidakjelasan. Perdebatan akan membawa riya. Siapa yang menyalahi segi-segi masalah akan dihinakan oleh segi-segi muslihat dan orang tamak berada dalam belenggu kehinaan. Siapa yang mencari keabadian, maka siapkan hati yang sabar untuk berbagai musibah.”
Sebagaimana Imam Jawad as merasa sedih karena banyak orang bodoh dan ulama diuji dengan mereka. Dalam pandangan beliau, sebab perselisihan muncul dari apa yang dilontarkan orang-orang bodoh dan dampak kebodohan mereka.
Beliau meriwayatkan dari Imam Ali as, “Ulama adalah kaum asing, lantaran banyak orang bodoh di tengah mereka.”
“Seandainya orang bodoh diam, umat tidak akan berselisih.”
(Seri Teladan Abadi: Muhammad Al-Jawad, Penerbit Al-Huda)

Tentang Berpegang Teguh pada Ajaran Agama di Masa Kegaiban, Warisan Terbaik, dan Saudara Terburuk

1. Khalifah ke-6, Imam Ja’far ‘alaihissalam berkata: Berpegang teguh pada (ajaran) agama di masa kegaiban Al-Mahdi seperti mengupas kulit kayu pohon berduri dengan tangan (Kamaluddin I/288) (31-7-2009 ; 11:31:10)
2. Khalifah ke-1, Imam Ali ‘alahissalam berkata: Khayru maa waratsal abaa-u al-abnaa-a al-adab. Warisan paling baik dari orang tua kepada anaknya adalah pendidikan akhlak. (26/3/2010 ; 10:55:22)
3. Khalifah ke-5, Imam Muhammad Baqir ‘alaihissalam berkata: Saudara (sahabat) yang paling buruk adalah ia yang menyertaimu ketika kaya dan memutuskan hubungan denganmu ketika kamu miskin. (29/3/2010 ; 10:32:03)

Arba’in Imam Husain as: Belajar tentang Ibadah, Keberanian, Kezuhudan, Kedermawanan, Kesabaran, dan Kepedulian Imam


Ibadah Imam Husain
Sejak kanak-kanak Imam Husain as sangat cinta ibadah. Beliau sering menunaikan salat bersama Rasulullah saw.
Hafash bin Ghiyats meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah saw berdiri untuk salat dan Imam Husain juga datang dan berdiri di sebelahnya. Ketika Rasulullah membaca takbir, Imam Husain yang baru berusia lima atau enam tahun waktu itu juga berusaha mengucapkannya tetapi tidak bisa diucapkan dengan benar. Rasulullah kembali mengucapkan takbir. Lagi-lagi Imam Husain tidak dapat mengucapkannya dengan benar. Maka Rasulullah pun mengucapkan takbir sebanyak tujuh kali secara bersama-sama. Oleh karena itu, sejak itu disunahkan membaca takbir tujuh kali sebelum Takbiratul Ihram.
Seseorang bertanya kepada Imam Zainal Abidin as, kenapa ayahnya mempunyai anak sedikit. Beliau menjawab, “Alasannya karena beliau menunaikan salat seribu rakaat setiap malam.” Imam Husain as juga menunaikan haji sebanyak dua puluh lima kali dengan berjalan kaki dan tunggangannya tetap berjalan di sampingnya selama perjalanan.
Sedemikian rupa kecintaannya beribadah kepada Allah sehingga pada malam Asyura ibadahnya terhenti karena harus menghadapi Umar bin Sa’d. Malam kesusahan adalah malam Asyura, segala malapetaka telah mengepung Imam as, bahkan saat beliau sedang khusyuk dalam salat dan beribadah sepanjang malam dengan keikhlasan, kerendahan hati dan penghambaan. Hanya orang seperti Imam Husain as saja yang dapat melakukan ibadah seperti ini. Musuh-musuh beliau menembakkan anak panah pada saat Imam Husain as sedang mendirikan salat. Lebih penting lagi adalah ketika beliau sedang mengerjakan salat asar. Makhluk yang terluka dan tertindas ini dikepung oleh musuh-musuh yang menyerang beliau dari segala sisi sementara beliau sedang menunaikan salat asar dengan isyarat. Puncaknya adalah mereka memenggalnya saat beliau sedang sujud. Baca entri selengkapnya »

Tentang Tidak Boleh Mengemis, Orang yang Paling Dimurkai Tuhan, dan Orang yang Menuju Kesempurnaan

1. Nabi Muhammad saw: Tidak boleh mengemis (meminta) kecuali karena kemiskinan yang sangat sempit atau utang yang sangat menghimpit. (Bihar al-Anwar 96:156) (21/01/10; 13:31:05)
2. Nabi saw: Orang yang paling dimurkai Tuhan: orang yang menyebarkan fitnah, yang menceraiberaikan orang yang bersaudara, dan yang menjatuhkan kehormatan orang yang bersih (Bihar al-Anwar, 71:383) (25/01/10; 15:03:51)
3. Imam Ali: Hanya orang yang menuju kesempurnaan yang merasakan kekurangan dirinya (Ghurar al-Hikam) (29/01/10; 09:32:39)

Tentang Manusia yang Berat Siksanya, Orang yang Paling Lalai dan Empat Tanda Orang Fasik

1. Nabi saw : Asyaddun naasi ‘adzaaban yawmal qiyamah imaamun jaair. Manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah pemimpin yang zalim (Nahj al-Fashahah 212) (10-4-’09 ; 10:24:54)
2. Nabi saw : Aghfalunnas man lam yatta’izh bittaghayyuriddunya … Orang yang paling lalai ialah orang yang tidak mengambil pelajaran dari perubahan dunia sekitarnya (Nahj al-Fashahah, 2115) (13-4-’09 ; 10:22:23)
3. Nabi saw : Tanda orang fasik itu empat: mengejar-ngejar kesenangan, melakukan yang tidak bermanfaat, memusuhi orang, dan memfitnah (Tuhaf al-‘Uqul 23) (1-5-’09 ; 12:39:34)

Tentang Orang yang Meninggal, orang yang paling lalai, dan manusia yang paling berat siksanya

1. Nabi saw bersabda, “Bila seseorang meninggal dunia, orang banyak berkata, “Apa yang sudah ia tinggalkan?” Para malaikat berkata: Apa yang sudah ia antarkan?” (Nahj al-Fashahah, 2791) (17-4-’09 ; 09:45:03)
2. Nabi saw : Aghfalunnas man yatta’izh bittaghayyurid dunya… Orang yang paling lalai ialah orang yang tidak mengambil pelajaran dari perubahan dunia sekitarnya (Nahj al-Fashahah, 2115) (13-4-’09 ; 10:22:230
3. Nabi saw: “Asyaddun naasi ‘adzaaban yawmal qiyamah Imaamun jaair. Manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat ialah pemimpin yang zalim (Nahj al-Fahshahah) (10-4-‘ 09 ; 10:24:54)

« Older entries