Ciri-ciri Hamba-hamba ar-Rahman (I)

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (QS Al-Furqan [25]: 63)

Hujjatul Islam wal Muslimin, Syekh Abdul Jawad Ibrahimi, ketika mengupas ayat ini, mengatakan bahwa hamba-hamba ar-Rahman mengucapkan kata-kata keselamatan ketika bertemu orang jahil. Menurutnya, kata salâmâ mengandung dua makna. Makna pertama, mengucapkan salam kepada mereka yang jahil. Di sini, hamba ar-Rahman berdoa kepada Tuhan meminta keselamatan kepada orang-orang jahil. Makna kedua dari salâmâ adalah bahwa hamba ar-Rahman sesungguhnya berkata secara tak langsung bahwa dari dirinya dia tak akan menyakiti orang-orang jahil.

Selanjutnya, dalam surah yang sama di lain ayat disebutkan, … dan tidak membunuh (laa yaqtuluuna) jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, … (25:68).

Ciri berikutnya dari hamba ar-Rahman adalah “tidak membunuh”. Menurut Syekh Jawad, kata membunuh juga memiliki dua makna yakni membunuh secara fisik dan membunuh karakter, yakni melalui fitnah, tuduhan, dan aktivitas nonfisik lainnya. Dalam doa ziarah kepada para maksum juga sering disitir beberapa bait ziarah yang menegaskan dua pengertian tersebut. Dalam kisah Sayidah Maryam disebutkan berkaitan dengan makna kedua.

Dalam realitas sosial, sering dijumpai jenis pembunuhan kedua, pembunuhan karakter. Hal semacam ini harus diperhatikan baik-baik.
——————
Kuliah singkat dari Syekh Abdul Jawad Ibrahimi, wakil direktur Islamic Cultural Center (ICC) hari Selasa, 27 April 2010/13 Jumadil Ula 1431.

Iklan