Asal-usul Alam Semesta

hawking

Kuliah J. Robert Oppenheimer diberikan oleh Stephen Hawking

BERKELEY – Ini adalah sebuah teks dari kuliah J. Robert Oppenheimer di bidang Fisika, yang disampaikan pada 13 Maret 2007, oleh Stephen Hawking, professor Lucasian matematika pada Cambridge University. Hawking berbicara di Zellerbach Hall di kampus University of California, Berkeley – USA.

Dapatkah Anda sekalian mendengar suara saya?

Menurut suku Boshongo di Afrika Tengah, pada mulanya – saat itu hanya ada kegelapan saja, air, dan tuhan besar Bumba. Pada suatu hari Bumba, karena sedang menderita sakit perut, telah memuntahkan matahari. Matahari menguapkan sebahagian air, hasilnya adalah tanah daratan. Masih menderita sakit perut, Bumba memuntahkan Bulan, Bintang-gemintang, dan selanjutnya binatang-binatang. Harimau kumbang (leopard), buaya, kura-kura, dan pada ahirnya manusia.

Mitologi penciptaan ini, sebagaimana masih banyak lainnya lagi, berusaha menjawab pertanyaan yang kita tanyakan bersama. Mengapa kita berada di sini? Dari mana kita berasal? Jawaban-jawaban yang biasanya diberikan adalah, bahwa manusia dalam perbandingan waktu asalmula, adanya baru-baru saja. Bahkan sudah jamak dikenal pada awal-awalnya, bahwa jenis keturunan manusia telah mengalami kemajuan dalam pengetahuan dan teknologi. Jadi sesungguhnya tidak begitu terlalu lama atau bahkan sudah lebih jauh maju lagi. Misalnya menurut Bishop Usher, “Book of Genesis” telah menempatkan penciptaan dunia pada jam 9 pagi hari, tanggal 27 Oktober, 4,004 sebelum kristus (BC). Di samping itu alam lingkungan, gunung-gunung dan sungai-sungai, dibandingkan dengan umur manusia hampir tidak
mengalami perubahan apa-apa. Sehingga dianggap menjadi latar belakang yang tetap atau tidak pernah ada – semacam permukaan padang kosong, atau telah diciptakan bersamaan waktunya dengan manusia. Baca entri selengkapnya »

Ilmuwan Inggris: Anak Terlahir Sudah Mengimani Tuhan

Pernyataan bahwa keyakinan kepada Tuhan dalam kepribadian anak adalah hasil indoktrinasi semata dibantah oleh Dr. Justin Barrett, peneliti ahli di Centre for Anthropology and Mind, University of Oxford, Inggris. Hasil penelitian ilmiahnya bertahun-tahun menunjukkan bahwa mengimani Tuhan merupakan tabiat bawaan anak sejak lahir. Temuan ini sekaligus membantah pandangan kaum Ateis. Baca entri selengkapnya »

Pakar Yunani Kuno vs Pakar Muslim di Bidang Ilmu-Ilmu Eksakta

Ainu Amri Tanjung

eksakta.jpg
NOTE: Geometri berkembang pesat di kebudayaan Yunani, sedangkan
Aritmatika berkembang pesat di kebudayaan Hindu-Arab. Hal ini
merupakan akibat dari ‘apa yang dianggap penting’ dalam kebudayaan
tersebut. Kebudayaan Yunani menekankan Keindahan Visual, sedang
kebudayaan Hindu-Arab menekankan Keindahan Abstrak.

Matematika bangsa Yunani Kuno terbentuk dari bahan-bahan tradisi
bangsa-bangsa Sumaria, Babilonia dan Mesir Kuno, demikian pula halnya
Ilmu Pengetahuan Alam/sains, yang asasnya hanya pada observasi saja.
Ilmu Ukur diperkembang oleh pakar Yunani Kuno secara sistematis, dan
mencapai puncak kemajuannya dalam zaman Euclid. Namun dalam bidang
matematika yang lain yaitu ilmuhitung, tidak memperolah kemajuan.
Tidak ada pertambahan operasi, tetap hanya menambah, mengurang,
mengali dan membagi saja. Dengan demikian mereka itu hanya tetap
berkisar dalam bilangan rasional saja. Hal ini membawa akibat yang
parah, ilmu hitung tidak dapat mengikuti perkembangan ilmu ukur,
sehingga ilmu ukur itu berjalan sendiri tanpa dukungan ilmu hitung.
Ada beberapa bagian dari Dialogue Plato (427 – 347 Seb.Miladiyah)
yang menunjukkan pemisahan itu mencapai puncaknya, artinya keduanya
sudah terpisah sama sekali dalam zaman Euclid. Baca entri selengkapnya »