Seperti Inilah Ayatullah Khamenei Mensifati Nabi Saw

Tidak syak lagi, meneladani seluruh segi dan aspek kehidupan Rasulullah Saw merupakan kewajiban setiap Muslim, karena tanpa meneladani prilaku dan ahlak beliau seseorang tidak akan mampu mencapai kesempurnaan yang menjadi tujuan penciptaannya. Tentu saja, setiap pribadi memiliki derajat kesempurnaan dan kapasitas yang berbeda, oleh karenanya, yang dituntut dari seorang Muslim ialah mengikuti sirah Nabinya Saw sesuai kemampuan dan kapasitas dirinya.

Untuk meneladani manusia termulia kecintaan ilahi ini, haruslah diawali dengan makrifat atas kehidupan dan pribadi sucinya, semangkin besar makrifat seseorang terhadapnya, maka semangkin besar pula potensi jiwanya untuk menyerap sifat-sifat mulia yang dimilikinya. Atas dasar ini, dalam tulisan ini kita akan menyimak sifat-sifat agung Nabi besar kita dari lisan Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Khamenei (Semoga Allah Swt menjaganya).

Dalam beberapa ceramah dan nasihat beliau, terdapat beberapa poin sekaitan dengan kriteria dan akhlak Rasulullah Saw yang di antaranya ialah sebagai berikut:

1. Kewajiban setiap Muslim dalam meneladani perilaku Rasulullah Saw
Sekaitan dengan pribadi agung Rasulullah Saw dan kewajiban kaum Muslimmin untuk mengikuti prilaku beliau, Ayatullah Khamenei mengatakan: “Rasulullah Saw selain memiliki keistimewaan maknawi, hubungan dengan alam ghaib dan derajat yang tinggi, dimana orang seperti saya tidak akan mampu memahaminya, beliau pun –dari sisi insaniah- merupakan manusia yang luar biasa dan tidak ada bandingannya. Beliau Saw adalah pribadi yang sangat agung dengan kapasitas [maknawi] yang tidak terbatas yang memiliki akhlak dan prilaku yang sangat istimewa. Beliau adalah penghulu para wali dan nabi Allah Swt. Kita sebagai kaum Muslimin berkewajiban untuk meneladani pribadi agung beliau, dalam hal ini Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu[1]”. Kita memiliki kewajiban untuk mengikuti Rasullullah Saw tidak hanya dalam melaksanakan –beberapa rakaat- shalat, akan tetapi, dalam ucapan, tindakan, berinteraksi dan prilaku keseharian kita pun harus mengikuti beliau. Oleh karena itu, kita harus mengenal kepribadian beliau.

Dengan mempelajari ucapan-ucapan Ayatullah Khamenei, kita dapat mengetahai bahwa beliau merasa prihatin akan kondisi kaum Muslimin yang tidak lagi mentaati Rasul Saw secara mutlak. Oleh karenanya, dimata beliau, meneladani Rasulullah Saw di seluruh dimensi kehidupan kita adalah sebuah kewajiban.

2. Kewajiban para penulis dan dai untuk menjelaskan kepribadian agung Rasulullah Saw
Ayatullah Khamenei mewaisatkan kepada para penulis dan penceramah untuk meneliti lebih dalam kehidupan Rasulullah Saw, menurut penilaian beliau upaya yang saat ini telah dilakukan belumlah mencukupi. Dalam hal ini belia mengatakan: “Pembahasan akan pribadi Rasulullah Saw dan penjelasan mengenai sisi-sisi kehidupan beliau masih relatif sedikit. Masih banyak orang yang tidak mengenal sebagaimana mestinya kehidupan manusia termulia di alam semesti ini. Tidak dalam akhlak, juga tidak dalam prilaku individu dan sosial beliau. Sesungguhnya seluruh kriteria baik pribadi seorang yang agung, ada pada diri beliau. Sungguh, seorang akan membutuhkan waktu berjam-jam untuk membicarakan keutamaan akhlak beliau.

3. Kewajiban para ilmuan dalam memperkenalkan kehidupan Rasulullah Saw kepada maysarakat.
Dalam banyak kesempatan, Ayatullah Khamenei acap kali menuturkan berbagai sisi akhlak Rasulullah Saw, beliau mengajak seluruh umat Islam untuk mengikuti dan meneladani akhlak Rasul terakhir ini. Di antara beberapa sifat mulia Rasul yang beliau sebutkan ialah sebagai berikut:

A. Jujur
Sekaitan dengan hal ini Ayatullah Khamenei mengatakan: “Kejujuran dan sifat menjaga amanat beliau (Rasulullah Saw) betapa besarnya sehingga pada masa Jahiliyah beliau dijuluki al-Amin (orang yang sangat dipercaya). Masyarakat Arab biasa menitipkan barang berharga yang mereka miliki kepada beliau dan mereka yakin bahwa barang yang mereka titipkan itu akan kembali ke tangan mereka sebagaimana semula. Bahkan setelah beliau memulai dakwah Islam sekalipun, dan mayoritas masyarakat Quraisy memusuhinya, mereka –termaksud orang-orang yang memusuhinya- masih mempercayainya dan tetap menitipkan barang berharga mereka kepada beliau.”

B. Sabar dan toleran
Dalam pandangan Ayatullah Khamenei, kesabaran Rasulullah Saw sangat luar biasa. Menurut beliau, jika kaum Muslimin meneladani sifat Rasul Saw yang mulia ini, maka akan banyak problematika yang dapat diselesaikan. Beliau mengatakan: “Kesabaran beliau (Rasulullah Saw) sampai pada taraf dimana beliau mampu menahan diri dalam menghadapi perkara tertentu dimana orang lain tidak akan mampu melakukannya jika perkara tersebut menimpanya. Terkadang musuh-musuh beliau –di kota Makkah- melakukan tindakan-tindakan buruk terhadap beliau, dimana saat paman beliau Abu Thalib dan Hamzah ra mendengarnya, maka mereka akan mereaksi keras perlakuan mereka itu, namun Rasulallah Saw dengan penuh kesabaran mampu menghadapi berbagai tidakan buruk tersebut.”

C. Pemaaf
Ayatullah Khamenei memandang bahwa sifat pemaaf Rasulullah Saw adalah sifat yang paling menonjol dari pribadi beliau. Saat menjelaskan mengenai sifat ini, beliau mengatakan: “Rasulullah Saw adalah seorang yang sangat pemaaf, sifat ini sedemikian agung sehingga beliau sering kali memaafkan musuh-musuh pribadinya. Setiap beliau menyaksikan seorang yang terzlimi, beliau tidak akan meninggalkannya sebelum beliau menolongnya. Seringkali beliau memperlakukan musuh-musuh yang telah beliau tundukkan dengan perlakuan [baik] yang mereka (para musuh) sama sekali tidak dapat memahaminya, contohnya adalah apa yang beliau lakukan setelah fathu Makkah dimana beliau bersabda: “Hari ini adalah hari pemberian maaf dan pengampunan[2].” Oleh karena itu, beliau tidak melakukan balas dendam terhadap musuh-musuh beliau. Beginilah sifat pemaaf manusia agung ini.”

D. Ketulusan Hati
Saat menuturkan sifat ini, Ayatullah Khamenei membawakan kisah perdagangan Rasulullah Saw yang beliau lakukan sebelum beliau diutus menjadi seorang nabi. Seraya mengatakan: “Pada masa Jahiliyah, beliau Saw melakukan perdagangan dan memiliki beberapa teman (patner) dalam perdagangan. Setelah beberapa tahun, salah satu dari teman beliau tersebut menceritakan pengalamannya [bersama beliau] dan mengatakan bahwa beliau adalah teman [berdagang] yang paling baik, beliau tidak keras kepala dan juga tidak suka berdebat (saat transaksi), beliau pun tidak pernah merugikan patner dagangnya dan tidak berbohong kepada pelanggannya. Beliau benar-benar seorang yang tulus.

E. Menjaga kerapihan dan kebersihan
Kriteria Rasulullah Saw ini memiliki efek dan pengaruh yang luar biasa, dalam menjelaskan sisi ini Ayatullah Khamenei mengucapkan: “Sejak kecil beliau sangat bersih. Di masa remaja, beliau selalu merapihkan rambut beliau. Kemudian di masa muda, selain merapihkan rambut, beliau pun selalu merapihkan janggutnya. Setelah Islam [tersebar] dan beliau telah menginjak usia lanjut, beliau tetap sangat memperhatikan masalah kebersihan. Betul, baju beliau adalah baju lama dan [terkadang] terdapat jahitan di dalamnya, namun baju beliau sangatlah bersih.” Ayatullah Khamenei melanjutkan: “Semua ini sangat berpengaruh dalam aktifitas, pergaulan dan kesehatan seseorang. Perkara-perkara yang tampak remeh ini memiliki pengaruh besar dalam jiwa seseorang.”

F. Ramah
Ungkapan Ayatullah Khamenei mengenai sifat ramah Rasulullah Saw terhadap masyarakat di sekitarnya sangatlah menarik, beliau mengatakan: “Prilaku Rasulullah Saw terhadap masyarakat sangatlah baik, beliau selalu tersenyum di depan mereka. Kesedihan beliau hanya akan tampak saat beliau sedang sendiri. Beliau selalu memberikan salam kepada setiap orang yang beliau temui dan akan melarang siapa saja yang mencela atau berkata buruk kepada selainnya. Beliau sendiri pun tidak pernah menghina atau berkata buruk kepada orang lain, wajah beliau selalu ceria di hadapan orang-orang miskin dan kaum papa, tidak jarang beliau bergurau dengan para sahabatnya.”

G. Senantiasa beribadah
Meskipun tidak akan ada seseorang yang akan menyamai Rasulullah Saw dalan beribadah –baik dari kualitas ataupun kuantitasnya-, akan tetapi, menurut Ayatullah Khamenei umat Islam pun harus mengikuti sisi maknawi Nabi Saw ini. Beliau mengatakan: “Rasulullah Saw sangat menyukai ibadah sampai-sampai kedua kaki beliau tampak membengkak karena sering berdiri di mihram untuk beribadah. Waktu malamnya, banyak beliau habiskan untuk shalat, munajat, menangis, beristighfar dan berdoa. Saat menjawab para sahabat yang bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah, bukankah anda tidak memiliki dosa, lantas untuk apa anda melakukan ibadah, doa dan istghfar semua ini? Rasul Saw menjawab: Apakah aku tidak harus berterimakasih kepada Allah Swt atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepadaku ini?[3].”

H. Keteguhan hati (istiqamah)
Menurut pandangan Ayatullah Khamenei rahasia keberhasilah Rasulullah Saw dalam dakwah beliau di tanah Hijaz ialah keteguhan hati beliau. Mengenai hal ini beliau mengatakan: “Keteguhan hati Rasulullah Saw sedemikian tinggi sehingga di sepanjang sejarah tidak ada seorang pun yang mampu menyaingi beliau. Sifat tersebut sedemikian agung sehingga beliau mampu membangun pondasi yang kokoh bagi agama Ilahi ini. Dengan keteguhan hati ini, di kawasan yang sama sekali orang tidak pernah membayangkannya, di tengah-tengah sahara yang tandus Hijaz, beliau mampu membangun peradaban yang abadi.”

Beberapa kepribadian dan akhlak Rasulullah Saw yang sangat mulia ini merupakan pelajaran yang sangat berharga untuk seluruh kaum Muslimin. Manusia yang mencari kebenaran dan keadilan akan berupaya untuk meneladani sifat-sifat ini. Umat Islam yang pada masa ini lebih membutuhkan keadilan, peraihan hakikat dan persatuan di antara mereka dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, dengan meneladani norma dan akhlak mulia nabi mereka Saw, maka akan banyak permasalahan individul dan sosial yang dapat mereka selesaikan.

Selain sisi pribadi kehidupan Rasullullah Saw, dalam berbagai kesempatan lainnya tidak jarang Ayatullah Khamenei menyoroti kebijakan-kebijakan Rasulullah Saw dalam permasalahan sosial dan politik. Selama berkuasa dan memimpin pemerintahan Islam pertama di kota Madinah banyak sekali kebijakan-kebijakan politik Rasulullah Saw yang dapat dijadikan sebagai teladan dan pedoman oleh kaum Muslimin khususnya para penguasa dan pemimpn dari mereka. Oleh sebab ini, menurut Ayatullah Khamenei sebagaimana aspek individu Rasulullah Saw, aspek sosial dan politik beliau pun harus selalu dipelajari dan disebarluaskan kepada umat Islam, agar mereka dapat meneladaninya.

Secara ringkas, terdapat beberapa aspek sosial-politik kehidupan Rasulullah Saw yang terpenting yang dapat kita tarik dari ucapan-ucapan berharga Pemimpin Besar Revolusi Islam ini, yang diantaranya ialah:

1. Ahli dan bijaksana
Rasulullah Saw memiliki Kebijakan-kebijakan politik yang sangat mengagumkan sepanjang sejarah. Sekaitan dengan ini Ayatullah Khamenei mengatakan: “Barang siapa yang mempelajari sejarah hijrah dan masuknya Rasulullah Saw ke kota Madinah, setiap peperangan yang beliau pimpin, strategi beliau dalam memancing musuh (kafir Qurays) dari kota Makkah ke kawasan sahara (saat berperang), pelbagai serangan dan propaganda yang musuh lakukan dan sikap beliau saat menghadapi lawan-lawannya, maka ia akan menyaksikan kebijakan dan keahlian beliau yang mengagumkan dalam mengatur segala urusan pemerintahan.”

2. Konsinten dan patuh di hadapan undang-undang
Seorang yang mempelajari sirah Rasulullah Saw akan merasa takjub saat menyaksikan sikap patuh beliau di hadapan undang-undang di saat beliau kuasa untuk tidak mematuhinya. Dalam menjelaskan aspek ini, Ayatullah Khamenei menuturkan: “Beliau senantiasa menjaga dan patuh terhadap undang-undang, beliau tidak akan membiarkan seorang pun melanggarnya, baik bagi dirinya maupun orang lain. Beliau memandang dirinya pun wajib mentaati segala aturan yang berlaku. Hal ini juga dikuatkan dengan ayat al-Quran, setiap hukum dan undang-undang yang wajib dijalankan oleh umat Islam, beliau pun harus menjalankannya dan tidak boleh melanggarnya.”

3. Menepati perjanjian dan menjaga Rahasia
Kebijakan ini bisa jadi secara politis dipandang tidak menguntunkan, akan tetapi, Nabi Muhammad Saw dengan segala kesibukannya dalam mengatur pemerintahan, beliau tetap memperhatikan dan menjaga perkara ini. Ayatullah Khamenei dalam menjelaskan prilaku yang agung ini mengatakan: “Salah satu kebijakan beliau dalam aspek politik, beliau senantiasa menepati perjanjian yang telah disepakati, satu kali pun beliau tidak pernah melanggar penjanjian yang telah beliau tandatangani. Meskipun beberapa kali orang-orang kafir Quraisy telah melanggar perjanjian, namun beliau tetap menjaganya. Selain itu, beliau pun (dalam strategi berperang) seorang yang pintar menjaga rahasia. Saat beliau bersama pasukannnya bergerak untuk menaklukkan kota Makkah, tidak ada seorang pun yang mengetahui apa tujuan beliau mengerahkan pasukannya dan tempat manakan yang beliau tuju. Dengan strategi tersebut, beliau berhasil memperdaya kelommpok kafir Quraisy sehingga mereka tidak mengetahui bahwa beliau beserta pasukannya sedang menuju kota Makkah.

4. Memperlakukan musuh dengan perlakuan yang berbeda
Sangat sulit bagi seseorang untuk memperlakukan musuh-musuhnya dengan perlakuan yang berbeda-beda. Umumnya seseorang akan memukul rata dan bersikap sama terhadap semua orang yang memusuhinya, namun tidak demikian dengan Nabi mulia kita Saw. Saat menjelaskan perkara ini Ayatullah Khamenei mengungkapkan dengan sangat menarik, “Rasululullah Saw tidak memandang musuh-musuh beliau dengan pandangan yang sama, hal ini merupakan pelajaran penting dari kehidupan beliau. Sebagian musuh beliau memiliki permusuhan yang dalam terhadap beliau, namun beliau mengetahui bahwa permusuhan mereka tidak memiliki dampak negatif yang berarti, dalam hal ini beliau pun akan memberi keringanan kepada mereka. Sebagian lain dari musuh beliau senantiasa hendak melakukan propaganda terhadap Islam, dalam menghadapi kelompok ini, beliau memerintahkan sebagian sahabatnya untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Sebagian lagi dari musuh beliau sangat berbahaya bagi Islam dan kaum Muslimin, dalam menghadapi mereka, beliau akan bersikap tegas dan keras. Hal ini sebagaimana yang beliau lakukan terhadap [kaum Yahudi] Bani Quraidhah, dimana beliau memerintahkan untuk menghukum mati mereka dalam waktu satu hari, demikian pula Bani Qunaiqa yang beliau perintahkan agar mereka diusir dari tempat tinggal mereka, demikan halnya dengan Yahudi Khaibar yang beliau perintahkan untuk diperangi dan dikuasai. Kebijakan tegas ini beliau lakukan karena keberadaan mereka (tiga suku Yahudi ini) benar-benar membahayakan Islam dan kaum Muslimin.” (IRIB Indonesia/Taqrib/SL)

Catatan:

[1] QS. Al-Ahzab: 21.

[2] Allamah Majlisi: Bihâr al-Anwâr, jld. 12 hlm. 902, bab. 62.

[3] Kulaini: Ushûl al-Kâfî, jld. 2, hlm. 59, Hadis No” 6, bab. As-Syukr.

TAUHID, MENOLAK MENGABDI SELAIN KEPADA ALLAH (1)

LA ILAHA ILLALLAH adalah ungkapan paling murni dalam lubuk fitrah manusia. Rasulullah saw datang ke tengah umat manusia dengan mengumandangkan kalimat “La ilaha illallah” (tiada tuhan selain Allah) itu; sebagai pernyataan utama dari pesan kenabian (kerasulan), yang merupakan landasan paling penting bagi pembebasan dan kemerdekaan manusia.
Sebagian kelompok dalam masyarakat yang menobatkan diri sebagai kalangan elite, para pembesar, kepala-kepala suku (dan bangsa) yang merasa memiliki kewibawaan dan kemuliaan (secara sosial, ekonomi dan politik) menjadi kelompok yang berdiri di barisan paling depan dalam menentang panggilan fitrah tersebut. Mereka juga memengaruhi dan mengomandani anggota masyarakat lainnya untuk melawan (seruan) Rasulullah saw. Baca entri selengkapnya »

Fatwa Imam Khamenei soal Penghujatan terhadap Aisyah dan Simbol-simbol Ahlussunnah

Permintaan Fatwa:
Umat Islam mengalami krisis metode yang mengakibatkan penyebaran fitnah (cekcok) antarpara penganut mazhab-mazhab Islam dan mengakibatkan diabaikannya prioritas-prioritas bagi persatuan barisan Muslimin.
Hal ini menjadi sumber bagi kekacauan internal dan terhamburkannya kontribusi Islam dalam penyelesaian isu-isu penting dan menentukan. Salah satu akibatnya adalah teralihkannya perhatian terhadap capaian-capaian putra-putra umat Islam di Palestina, Lebanon, Irak, Turki, Iran dan negara-negara Islam lainnya.
Salah satu hasil dari metode ekstrem ini adalah tindakan-tindakan yang menjurus kepada pelecehan secara sengaja dan konstan terhadap ikon-ikon dan keyakinan-keyakinan yang diagungkan oleh para penganut mazhab Sunni yang kami muliakan.
Karenanya, kami memohon YM berkenan memberikan pernyataan tentang sikap syar’i secara jelas terhadap akibat-akibat yang timbul dari sensasi negatif berupa ketegangan di tengah masyarakat Islam dan menciptakan suasana yang diliputi ketegangan psikologis antarsesama Muslim baik di kalangan para penganut mazhab Ahlulbait maupun kaum Muslimin dari mzhab-mazhab Islam lainnya, mengingat penghujatan-penghujatan demikian telah dieksploitasi secara sistematis oleh para provokator dan penebar fitnah dalam sejumlah televisi satelit dan internet demi mengacaukan dan mengotori dunia Islam dan menyebarkan perpecahan antarmuslimin.
Sebagai penutup, kami berdoa semoga YM senantiasa menjadi pusaka bagi Islam dan Muslimin.
Ttd
Sejumlah ulama dan cendekiawan Ahsa’
4 Syawal 1431 H
Jawaban Imam Khamenei:
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullah wa barakatuh
Diharamkan menghina simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, Ahussunnah, berupa tuduhan terhadap istri Nabi Saw dengan hal-hal yang mencederai kehormatannya, bahkan tindakan ini diharamkan terhadap istri- istri para Nabi terutama penghulunya, yaitu Rasul termulia saw.
Semoga Anda semua mendapatkan taufik untuk setiap kebaikan.

Catatan: Terjemahan diatas saya lakukan secara bebas. Mohon dimaafkan bila kurang pas. Semoga beliau memaafkan saya, muqallid dan pewalinya yang penuh dosa ini.
Sumber: http://www.facebook.com/reqs.php#!/note.php?note_id=481815595729.

HARI AL-QUDS SEDUNIA

Urgensi Penyelenggaraan Hari Al-Quds

Tibanya Hari Al-Quds Sedunia (yakni hari Jumat terakhir di bulan Ramadhan) kembali mengingatkan umat Islam dunia tentang tugas dan kewajiban mereka membela bangsa Palestina yang teraniaya. Dengan mendeklarasikan Hari Al-Quds Sedunia, Imam Khomeini ra telah menanamkan isu Palestina ke dalam hati nurani manusia, memadukan dan memusatkan semua pekik kecaman kepada Zionisme, dan kitapun menyaksikan antusiasme umat Islam dalam menyambut peringatan ini.

Para pejuang yang gigih berjihad di Tanah Pendudukan dan hidup dalam getirnya perjuangan sebagai satu-satunya jalan untuk membebaskan Palestina dan melenyapkan rezim pendudukan harus merasa dan tahu persis bahwa bangsa-bangsa di Dunia Islam selalu mengingat dan menyokong mereka. Agar para mujahidin yang terasing di kampung halaman mereka sendiri itu dapat memiliki perasaan demikian, maka unjuk rasa Hari Al-Quds harus dilakukan di Dunia Islam. Inisiatif Pemimpin Besar kita, Imam Khomeini ra, dalam mendeklarasikan Hari Al-Quds adalah dalam rangka ini. Tanpa cara demikian, warga sipil di Teheran -misalnya- tidak bisa memberikan kontribusi apapun bagi perjuangan Palestina, sebab mereka tidak bisa ikut mengangkat senjata ke sana dan berperang melawan Israel.

(Sumber: http://indonesian.khamenei.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=366)

Ramadhan Bulan Taubat

Tak terasa satu persatu hari-hari Ramadhan berlalu begitu saja. Dan kini telah memasuki sepuluh hari terakhir bulan penuh maghfirah ini. Pada sepuluh hari terakhir inilah, terdapat momentum lailatul qadar. Suatu malam yang dikenal sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan.

Tak syak, salah satu ibadah yang paling ditekankan di bulan Ramadhan adalah bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah swt. Apalagi di bulan suci ini, Allah swt membuka pintu maghfirah dan rahmatnya lebar-lebar bagi umatnya. Karena itu, Ramadhan juga dikenal sebagai bulan taubat dan ampunan. Beberapa waktu lalu, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam sambutannya pada pertemuan dengan para pejabat pemerintahan Iran menuturkan, “Di antara keistimewaan bulan suci Ramadhan, apa yang menarik bagi saya adalah keutamaan Ramadhan sebagai Sharut-taubat wal-inabah, bulan pertaubatan. Taubat adalah kembali menuju jalan yang benar setelah tersesat dari jalan yang menyimpang, dari dosa, dari kekufuran. Sementara inabah adalah kembali menuju jalan yang diridhai Allah swt. Baca entri selengkapnya »

“Kini Palestina Bukan Lagi Masalah Arab, Bahkan Bukan Hanya Islam, tapi Masalah HAM” – Sayyid Ali Khamenei

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar Ayatullah Al-Uzhma Sayyid Ali Khamenei hari ini, Selasa (1/6) dalam pesannya menyebut serangan brutal dan kebengisan Rezim Zionis Israel terhadap konvoi kapal bantuan kemanusiaan merupakan serangan terhadap opini umum dan hati nurani umat manusia di seluruh dunia dan menekankan, “Kini Palestina bukan lagi masalah Arab, bahkan bukan hanya Islam, tapi masalah hak-hak asasi manusia dunia kontemporer dan para pendukung rezim haus darah dan tak tahu malu ini, khususnya Amerika, Inggris dan Perancis betul-betul harus memberikan jawaban.”


Teks lengkap pesan Rahbar sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim

Serangan brutal dan bengis rezim Zionis Israel terhadap konvoi kapal bantuan kemanusiaan, menambah mata rantai kejahatan besar yang dilakukan oleh pemerintah jahat dan durjana di dekade ke tujuhnya yang yang hina.

Ini merupakan sebuah contoh perlakuan kasar dan buas yang selama puluhan tahun dihadapi oleh umat Islam di daerah ini khususnya di negeri teraniaya Palestina. Baca entri selengkapnya »

Wajib Bagi Setiap Muslim Membela Perjuangan Islam Palestina

Kini tidak ada masalah paling urgen dalam kehidupan seorang muslim dan dunia Islam sepenting masalah Palestina. Ini merupakan musibah terbesar yang menimpa setiap muslim dalam periode terakhir. Bagaimana tidak. Musuh-musuh dunia Islam menjadikan sebagian dari rumah umat Islam sebagai tempat berlindung untuk memerangi barisan umat Islam. Membela perjuangan Islam Palestina hukumnya wajib ‘aini dan contoh paling jelas dari jihad difa’i (membela diri) yang ditekankan oleh seluruh ahli fiqih Islam.

Setiap jengkal dari tanah Palestina sama seperti sejengkal rumah umat Islam dan setiap kekuasaan selain pemerintahan Islam dan rakyat muslim Palestina di sana adalah pemerintah penjajah. Di sini bukan masalah anti Yahudi, tetapi masalah rumah umat Islam yang terampas.

Mensyukuri nikmat ilahi harus ditunjukkan oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia dengan mendukung bangsa Palestina yang berjuang atas nama Islam secara luas di segala bidang seperti politik, media, dan militer.

Bersahabat dengan mereka yang mendukung secara mutlak perampas tanah Palestina bertentangan dengan sikap permusuhan terhadap Rezim Zionis. Oleh karenanya, menyandarkan diri pada para pendukung rezim ini pasti merupakan penyimpangan dan kesalahan besar. Siapa saja yang memberikan bantuan kepada orang-orang Zionis dan Israel atau melakukan perundingan dengan mereka berarti berada di pihak Israel. Berjuang untuk mengembalikan tanah air Palestina harus punya makna hakiki. Berjuang berseberangan dengan upaya perdamaian. Masalah Palestina adalah perjuangan adalah sebuah kewajiban, sementara perdamaian adalah sebuah pengkhianatan.

Seluruh cendekiawan, penulis, seniman dan mereka yang berkecimpung di media di dunia Islam harus melihat masalah Palestina dengan pandangan kewajiban. Kini mereka harus menyadarkan opini dunia akan ketertindasan luar biasa yang dialami rakyat Palestina. Aksi penyadaran ini harus dilakukan dengan segala bentuk seni.

– – –
Bagian dari pidato Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei saat bertemu dengan peserta Konferensi Islam Palestina pertama 4/12/1990 (13/9/1369)

Ngaji Nahjul Balaghah Bersama Imam Khamenei: Latar Belakang Kenabian [I]

DALAM pelajaran sebelumnya[1], latar-belakang pengangkatan para nabi dibahas dengan sejumlah pernyataan Imam Ali dalam Nahjul Balaghah. Pelajaran ini ditujukan untuk menyempurnakan apa yang disebutkan sebelumnya dengan menganalisis secara spesifik keunikan-keunikan dari dua periode yang merupakan tema dalam pembahasan kita, yakni zaman pra-Islam, atau zaman Jahiliah (periode sebelum bi‘tsah) dan periode Islam (periode setelah bi‘tsah).

Dua Jenis Kekurangan di Zaman Jahiliah
Menurut kata-kata Ali, di zaman Jahiliah, manusia mengalami dua jenis kekurangan: material dan spiritual.
Pada jenis kekurangan pertama, taraf kesejahteraan dan keamanan sosial sangat rendah. Ini secara eksplisit diutarakan dalam Nahjul Balaghah (dalam khotbah yang berbeda-beda) dan al-Quran suci. Al-Quran menyebut zaman Jahiliah sebagai berikut, Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS. al-Quraisy: 4) Baca entri selengkapnya »

Jumat Ketiga Ramadhan, Rahbar Pimpin Shalat Jum’at di Tehran

Hari ini (11/9), hari Jum’at ketiga bulan Ramadhan, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam tampil sebagai imam shalat Jum’at di Tehran. Dalam khotbah awal di hadapan ratusan ribu jemaah yang memenuhi mushalla Universitas Tehran dan jalan-jalan di sekitarnya, beliau menjelaskan sisi kehidupan politik Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as). Rahbar menandaskan bahwa perilaku politik Imam Ali dicontoh dengan baik oleh Imam Khomeini (ra). Beliau menyinggung peringatan hari Al-Quds Sedunia yang diselenggarakan setiap hari Jum’at terakhir bulan suci Ramadhan, seraya mengatakan, “Peringatan hari Al-Quds Sedunia adalah pusaka berharga peninggalan Imam Khomeini. Berkat kemurahan dan petunjuk Ilahi, hari Jum’at mendatang bangsa Iran yang besar dan sadar ini akan serentak bangkit memimpin bangsa-bangsa yang lain dengan mengibarkan panji pembelaan kepada bangsa Palestina.”

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut hari Al-Quds Sedunia sebagai bukti keterikatan ‘Imam Khomeini, Revolusi Islam dan bangsa Iran’ dengan Masjidul Aqsha. Beliau menjelaskan bahwa dengan menghidupkan dan mengangkat isu Palestina dan pembebasan Al-Quds, bangsa Iran telah membangkitkan amarah kaum arogan dunia dan zionisme internasional. “Selama ini musuh kita selalu berupaya melemahkan penyelenggaraan hari Al-Quds, namun tahun ini pun bangsa Iran yang terhormat baik di Tehran maupun kota-kota lainnya di seluruh negeri akan menggelar pawai besar untuk memperingati hari tersebut. Bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia mengikuti jejak bangsa Iran dan akan menghidupkan kembali nama Al-Quds,” tegas beliau. Baca entri selengkapnya »

Pesan Duka Imam Ali Khamenei atas Wafatnya Ayatullah Bahjat

Bismillahirrahmanirrahim
Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.

Saya mendengar berita duka bahwa ulama rabbani, faqih, dan arif yang salih Ayatullah Hajj Sheikh Muhammad Taqi Bahjat (quddisa sirruhu) telah meninggalkan dunia fana ini dan berpulang ke rahmatullah. Bagi saya dan bagi semua orang yang mencintai figur besar tersebut, ini adalah musibah besar yang tak bisa terobati.
“Kematian ulama menimbulkan lobang dalam Islam yang tak mungkin bisa ditutupi dengan apapun juga.”
Beliau adalah salah satu marji besar di zaman ini. Beliau juga guru akhlak dan irfan yang menonjol, yang telah memberikan berkah spiritual berlimpah yang tak akan pernah ada habisnya. Hati ulama yang saleh dan penuh ketaqwaan itu ibarat cermin bening yang memancarkan cahaya ilahi, kata-katanya yang semerbak harum menjadi petunjuk pemikiran dan amal bagi mereka yang meniti jalan spiritual.
Dari lubuk hari yang dalam, saya menyampaikan belasungkawa kepada Imam Mahdi (aj), juga kepada para ulama, para marji’, para murid, dan para pencinta beliau, terutama kepada keluarga Almarhum. Saya memohon kepada Allah untuk memberikan kesabaran kepada diri ini dan kepada semua yang berduka. Untuk arwah beliau yang suci, saya memohon kepada Allah rahmat dan maghfirahNya.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullah
Sayyid Ali Khamenei
27 Odibehesht 1388 HS (17 Mei 2009)
22 Jumadal Ula 1430 Hijriyah

Sumber: http://www.leader.ir/langs/id/index.php?p=contentShow&id=5389

« Older entries