Doa Lelaki dengan Mata Berkaca-kaca

Tuhan, ampuni aku yang menjalani kemiskinan
dengan ketakrelaan
Ampuni aku yang cita-citanya rendah
Ampuni aku yang nafsunya besar hartanya kurang
yang bacaannya filsafat, tapi hatinya tetap sesat
yang jadikan pelajaran irfan semata hiburan
yang nerjemahin buku-buku akhlak tapi pekertinya
rusak

(puisi jadul, 2004)

Membaca Hujan


Aku membaca hujan
dengan tafsir kegelisahan
dengan karya Ibn ‘Arabi
tetapi tak ada jawaban
yang kuharap memuas hati
sebentuk asmara yang terpendam

(puisi jadul, tahun 2004)

Menziarahi Husain

ketika kubur bertemu nisannya
para mullah meramalkan usia kesetiaan
tapi apa yang istimewa dari kesyahidan?
perjalanan tradisi ke tanah asal
mengurai jiwa sendiri
menuju Yang Ilahi i

setelah menikam diamku dengan kenangan
kenapa kaukuburkan lagi jiwaku di sebelahnya?
tidak terlihatkah akar lalang di atas gundukan
selalu mengajakku mengganti daun-daun tersabit
tulang belulang pun mengeraskan sejarah secukupnya

maka, selamat tinggal
kuusung semangatmu mencari mati

3 Muharam 1430/31 Desember 2008

BUNGA

Aku mendapat bunga hari ini
meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar
dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya
karena hari ini ia mengirim aku bunga.

Aku mendapat bunga hari ini.
Ini bukan ulangtahun perkawinan kami atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku
Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya
karena ia mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini,
padahal hari ini bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain.
Semalam ia memukuli aku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meningggalkannya.
Aku tidak punya uang.
Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam,
karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.

Ada bunga untukku hari ini.
Hari ini adalah hari istimewa : inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam.
Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya,
aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini….

PS :
Tolong di forward ke perempuan dibelahan dunia manapun.
Kadang wanita terlalu lemah dan menerima saja untuk disakiti.

Syair Atthar, Rumi, dan Hafiz

Syair Atthar
Gar nahan guiy ayan ah gah bavad, gar ayan guiy nahan an gah bavad
Gar geham juiy chu bichun ast uw, an gah az har dou birun ast uw

Kalau engkau mengatakan bahwa Dia itu tersembunyi,
maka Dia sesungguhnya Mahanyata
Kalau engkau katakan bahwa Dia itu nyata,
Sesungguhnya Dia Mahagaib
Tapi bila engkau cari Dia di dalam keduanya, Dia pun tiada di dalam keduanya,
karena tidak ada yang menyerupai-Nya

(Dina Y. Sulaeman, Pelangi di Persia, Jakarta: IIMan, hal.57)

Syair Rumi
Quwwat-e Jibril az matbakh nabud
bud az didar-e khallaq-e waduud

Kekuatan Jibril bukanlah (bersumber) dari dapur (makanan)
(Dia kuat) karena telah berjumpa dengan Allah Yang Maha Pecinta

(Dina Y. Sulaeman, Pelangi di Persia, hal.219)

Syair Hafiz
Ziraki ra guftam in ahwal bain-e khandid-o guft
Sha’ab ruzi be wal ajab kari parishan alami
(Dengan cerdas aku berkata tentang sesuatu di antara tawa dan kata
Anehnya, suatu hari kesukaran akan datang dan pekerjaan menjadi sulit

(Dina Y. Sulaeman, hal.221)

Syair Milad Imam Hasan Askari

Bu-ye golha-ye beheshti za faza mi ayad
Athr-e ferdows ham aghus-e saba mi ayad
Hatefam guft ke milad-e hasan ast emruz
Ze injahat bu-ye behesht az hame ja mi ayad

Bau bunga-bunga surga merebak ke udara
wangi surga datang ke dalam ke pelukan pagi
kabar gaib datang, hari ini adalah kelahiran Hasan
karena itulah harum surga tertebar ke semua arah

(Dina Y. Sulaeman, Pelangi di Persia, hal.105-6)

Setelah Jalan Menapak

in memoriam Murtadha Muthahhari

Kupikir akhiri saja malam ini
kunang-kunang pun redup bersama pagi
kuharap sampai di sini
dari balik awan pun terlihat tanah
pepohonan berdiri
kukenang angin lalu pun
sebuah pintu tetap saja membuka
jalan matahari
kuraih puja puji pun
asa terbersit tetap saja mendekati doa
setelah jalan setapak
kucium kaki ibu berkali-kali
setelah jalan setapak
kusampaikan salam pada raja-raja
dari rahim kekasih
setelah jalan setapak
kucari lagi jejak
yang tercatat

M.H. Aripin Ali, Solo, 7-4-2008, 03:13:00

Aku Takut Kematian

Setelah kematian
Seberapa lama kan menangis
jika 99 dari 100 cinta milik Tuhan
diberikan di akhirat
bukankah layak girang
dengan kematian
tetap saja yang terbayang
pada hari tetangga yang mati
kehilangan dan sejumlah air mata
kematian bagai penghantar duka
sudahlah
sebentar lagi matahari terbit
lho

: puisi M.H. Aripin Ali
(2-3-2008; 06:47:38)

Selapis Rindu

: puisi A Ipin ketika di Kalimantan

Kulihat dalam hatiku
dua bocah kecil di pinggir danau
mempermainkan kail harapan
pohon jati berbaris menegakkan janji
sampai aku di sebuah petak
tempat anak-anak pergi dan menghilang
di sanalah tlah menuntut ilmu

kudengar dalam hatiku
semilir angin menghalau bangau
kicau kutilang menghias
rindang pepohonan

kudengar pula salam
yang parau dalam pertanyaan tentang diriku
kujalani lagi setapak yang tadi
membawa serta pertanyaan tentang hatiku
tentang cinta yang hanya menuju hatinya

Ziarah

Ketika kubur bertemu nisannya
para mullah meramalkan usia kesetiaan
tapi apa yang istimewa dari kematian?
perjalanan tradisi ke tanah tua
mengurai daging sendiri

setelah menikam diamku dengan kenangan
kenapa kaukuburkan lagi jiwaku di sebelahnya?
tidak terlihatkah akar ilalang di atas gundukan
selalu mengajakku mengganti daun-daun tersabit
tulang belulang pun mengeraskan sejarah secukupnya
maka, selamat tinggal!
kuusung semangatmu mencari tanah mati

(In memoriam: Imam Khomeini, Ayatullah Syekh Fadhil Lankarani, Ayatullah Mirza Ali Taskhiri, Ayatullah Sayid Murtadha Askari)

« Older entries