Karl Marx ke Madura

Karl Marx mengunjungi Madura. Ia tertarik dengan kehidupan rakyat di sana. Bagaimana kondisi perekonomian Madura, kesejahteraan masyarakat kecil yang unik di dalamnya. Marx sebenarnya penasaran ingin melihat kaum proletar di sana setelah dibangunnya (jembatan) Suramadu.
Malam pertama di Madura, Marx ingin menikmati sate spesial ala Madura. Pesanan segera datang. Melihat besarnya sate tersebut, Marx terkagum-kagum. Setelah selesai makan, ia bertanya kepada pelayan,”Sate itu dari daging apa tadi? Rasanya kok enak sekali.”
Pelayan menjawab bahwa itu adalah daging sapi yang mati saat bertanding karapan sapi. Mendengar itu, Marx merasa mual perutnya. Tapi karena enak, ia pikir tidak apa-apa.
Esok malamnya, Karl Marx mampir untuk menikmati sate lagi. Tapi kali ini satenya tidak sebesar yang kemarin. Rasanya tidak kalah enak. Namun Marx penasaran mengapa satenya jadi lebih kecil.
“Mas, kenapa sate yang sekarang lebih kecil dari yang kemarin malam?” tanya Marx.
“Oh,” jawab pelayan, “Soalnya dalam karapan hari ini, yang mati adalah penunggangnya.”
(Rif’an Anwar, Si Buta dari Gua Plato,(Kanisius: Yogyakarta, 2011),hal.155.

Iklan

Nama-nama Betawi yang di ‘Barat’ kan

Show Much Bean Much Say Knee (Somad Bin Mat Sani)
Man Sure Give Brain (Mansur Gibran)
And Tounge Bean Say Neap (Entong bin Sanip)
Much Pay Cee (Mat Peci)
Judge Free Bean Say Far (Jupri bin Safar)
Say The Lee (Sadelih)
Row Jay Lee (Rojalih)
Mare Judge Kee (Marjukih)
More Say Knee Bean Tea Rodge Jack (Mursanih Binti Rojak)
Know Noon Bean Tea Bow Old (Nunung Binti Bo’o)
Much Row Jea (Matroji)
Row High Yeah (Rohaye)
Rodge Jack Bean Mare Bune (Rojak bin Marbun)
You Dean Pay Tooth (Udin Petot)
Seat Tea Mare Foo A (Siti Marfu’e)
Seat Tea Eye Say (Siti Aise)
Dash You Kee (Dasukih)
Bank Dean Knee (Bang Danih)
Duch Land (Dahlan)
Make More (Makmur)
Show Lea Keane (Solikhin)
Zoo Lay High (Zulekha)
(dari worlewor)

Mengapa Saya Suka Bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia memang lebih nyaman. Coba aja ngomong kalimat-kalimat di bawah ini.

Bahasa Indonesia:
‘Tiga nenek sihir melihat tiga buah arloji merk Swatch. Nenek sihir mana melihat pada arloji Swatch yang mana?’

Dalam bahasa Inggris:
‘Three witches watch three Swatch watches. Which witch watch which Swatch watch?

Yang lainnya…

Bahasa Indonesia:
‘Tiga nenek sihir biseksual mengagumi kenop kenop dari tiga arloji Swatch. Nenek sihir biseksual mana yang memandangi kenop arloji Swatch yang mana?’

Dalam bahasa Inggris:
‘Three switched witches watch three Swatch watch switches. Which switched witch watch which Swatch watch switch?

Pengin tahu, ternyata bahasa jawa juga gak kalah belibetnya dibanding bahasa Inggris gitu, loh :

Bahasa Indonesia :
Ketika saya kelas 2 (SD) ,pembantu saya grosiran kalung dan (jualan) kolak dari (buah) kolang-kaling (sebanyak) 2 kilo di seberang sungai ..gitu,lho!

Bahasa Jawa (kawi) :
Kolo kulo kelas kalih kuli kulo kulak kalung kalian kolak kolang-kaling kalih kilo kulon kali ..kae, lo! ..:-)

(Dari milis tetangga. Maaf jika repost)