Harga Kecintaan pada Ahlulbait as

Seseorang datang mengeluh pada Imam Ali as.

Ia mengadu karena kemiskinannya. Imam menjawab: “Tidak, kamu orang kaya.”
Ia bertanya: “Bagaimana mungkin Ya Imam, sedang aku tidak punya apa-apa”.

Imam(as) berkata: “Kecintaanmu kepada kami Ahlul Bait(as). Maukah kau tukar cintamu dengan seratus dirham?”
Ia menjawab: “Tidak ya Imam.”. “Seribu Dirham?”.
“Tidak ya Imam…”.
“Sepuluh ribu dirham…?”.
“Tidak akan pernah Ya Imam…”.

Imam tersenyum dan berkata: “Lalu, bagaimana mungkin kau berkata kau tidak punya apa-apa ??”.

-Ya Allah Ya Rasul Allah,takkan kami tukar kecintaan ini dengan apa pun hingga akhir hayat kami.
(dari berbagai sumber)

MENCARI FATIMAH DI MALAM RAMADHAN

Dalam kitab tafsir Furat bin Ibrahim, diriwayatkan satu hadis dari Imam Ja’far Shadiq. Beliau berkata, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatul Qadr. Lailah (malam) adalah Fatimah dan Al-Qadr adalah Allah. Barangsiapa yang mengenal Fatimah dengan sebenar-benarnya makrifat, maka dia telah menemukan Lailatul Al-Qadr.”

Memang unik hadis ini. Dalam kitab ‘Ilal Syarai’, diriwayatkan hadis dari Imam Muhammad Al-Baqir yang berkata, “Ketika Fatimah dilahirkan, Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukam kepada malaikat. Dengannya, Dia membuat lisan Muhammad berbicara lalu menamakannya (sang bayi) Fatimah. Dia berkata, Aku menyapihmu dengan ilmu dan memutuskanmu dari kotoran (haid). Kemudian Imam berkata, “Demi Allah, Dia telah menyapih beliau dengan ilmu dan memutuskannya dari kotoran dengan perjanjian.” Dalam kitab Mishbahul Anwar, hadis ini menjelaskan bahwa makna ‘Aku menyapihmu dengan ilmu’ adalah ‘Aku menyusuimu dengan ilmu hingga kamu menjadi kaya dengan ilmu’. Aku menyapih berarti ‘Aku memutuskanmu dari kebodohan disebabkan karena ilmu’. Ini merupakan kiasan yang menandakan bahwa wujud fitrah beliau adalah seorang alim yang mengetahui ilmu-ilmu rabbani. Dalam makna yang lain, itu berarti ‘Aku menjadikanmu sebagi hamba yang memutuskan manusia dari kebodohan’. Ketika Dia memutuskan beliau dari kebodohan, maka beliau memutuskan manusia dari kebodohan. Adapun makna ‘Aku memutuskanmu dari kotoran (haid)’ adalah kiasan yang berarti ‘Aku memutuskanmu dari akhlak dan perbuatan yang tercela’. Ketika Aku memutuskanmu dari kotoran-kotoran ruhani dan jasmani, maka kamu memutuskan manusia dari kotoran-kotoran maknawi.

Dalam kitab Al-Khishal, Imam Ja’far Shadiq berkata, “Tahukah kamu tentang tafsir Fatimah?” Aku (Yunus bin Zhibyan) berkata, “Kabarkan kepadaku wahai Tuanku?” Imam Shadiq menjawab, “Beliau diputuskan dari kejahatan.” Kemudian Imam berkata lagi, “Seandainya tidak ada Amirul Mukminin yang menikahi beliau, maka beliau tidak akan memiliki kufu (orang yang setara dengannya) hingga hari kiamat ….”

Mungkin kita pernah mendengar ucapan Amirul Mukminin, “Tanyakanlah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku.” Imam Ali adalah satu-satunya orang yang setara dengan Fatimah, maka bukan hal yang tidak mungkin jika Fatimah juga mengatakan “Tanyakan kepadaku sebelum kalian kehilangan aku.” Bukankah beliau dinamakan Fatimah karena memutuskan manusia dari kebodohan.

Selanjutnya amalan-amalan yang dilakukan pada malam Lailatul Qadr (malam ganjil dari bulan Ramadhan, seperti malam kesembilan belas, malam kedua puluh satu, malam kedua puluh tiga) antara lain adalah membaca doa Jausyan Kabir, ber-tawassul dengan Nabi dan Ahlul Baitnya sambil meletakkan Al-Quran diatas kepala, menunaikan shalat seratus rakaat, dan sebagainya. Dalam kitab Mafatihul Jinan, disebutkan juga bahwa amalan yang paling mulia di malam Lailatul Qadr adalah mencari ilmu. Baca entri selengkapnya »

Wasiat Nabi saw kepada Imam Ali as

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata : “Bahwa Rasulullah saaw berwasiat kepadaku dengan sabda beliau :

“Ya Ali! Aku berwasiat kepadamu dengan sesuatu wasiat, maka jagalah dia baik-baik, kerana selama engkau memelihara wasiat ini niscaya engkau akan tetap berada dalam kebaikan.

“Ya Ali! Bagi orang mukmin itu ada tiga tanda : Melakukan sholat, berpuasa dan berzakat.

Dan bagi orang munafik ada pula tiga tandanya : Pura-pura sayang bila berhadapan, mengumpat di belakang dan gembira bila orang lain mendapat musibah.”

“Bagi orang zalim ada tiga cirinya : Menggagahi orang bawahannya dengan kekerasan, orang diatasnya dengan kedurhakaan dan melahirkan kezalimannya secara terang-terangan”.

“Bagi orang riya’ ada tiga tandanya : rajin bila di depan orang ramai, malas bila bersendirian dan ingin dipuji untuk semua perkara”

“Bagi orang munafik ada tiga tandanya : Bohong bila berkata, mengingkari bila berjanji dan khianat apabila dipercaya”. Baca entri selengkapnya »

Karamah Imam Ali bin Abi Thalib as

Setelah menguburkan Ayahandanya, Imam Hasan dan Imam Hussain serta rombongan kembali ke Ku’fah, di tengah perjalanan mereka melihat seorang pengemis tua dan buta sedang merintih. Mereka bertanya,”Siapa kau dan kenapa kau begitu gelisah dan meritih ?”

Dia berkata,”Aku adalah orang asing dan miskin. Ditempat ini aku tidak punya kawan dan tempat curahan hati, sudah setahun aku berada di kota ini, setiap hari datang orang yang baik hati, dia selalu membawakan makanan untuku, sungguh dia orang yang baik hati. Tapi sudah tiga hari ini dia tidak datang padaku dan menanyakan keadaanku”

Mereka bertanya,”Apakah kau mengetahui namanya ?”
Dia menjawab, ”Tidak”
”Apakah engkau tidak menanyakan namanya ?”
”Aku sudah menanyakannya tapi dia malah berkata,’Apa urusanmu dengan namaku. Aku mengurusmu hanya karena Allah semata”

Mereka berkata,”Apakah kau punya petunjuk dari perkataan dan perilakunya ?”
Dia berkata ,”Lisannya selalu berdzikir kepada Allah. Ketika dia bertashbih dan bertahlil, bumi dan zaman, pintu dan dinding, seirama dengan suaranya. Ketika duduk disampingku dia selalu berkata: Orang miskin duduk bersama orang miskin, orang asing duduk bersama orang asing” Baca entri selengkapnya »

Hadis-hadis dari Imam Hasan Mujtaba as

Menjelang peringatan kelahiran Imam Hasan Mujtaba bin Ali bin Thalib (salam atas mereka berdua) pada tanggal 15 Ramadhan, ada baiknya kita mengenal hadis-hadis yang diriwayatkan oleh beliau.
Berikut beberapa hadis dari beliau yang saya kutip dari Muntakhab Mizan al-Hikmah
Adab Makan
Imam Hasan Mujtaba as berkata, “Di dalam hidangan terdapat dua belas perkara yang wajib diketahui oleh setiap Muslim, yaitu: empat kewajiban, empat perbuatan sunah, dan empat adab. Adapun empat kewajiban adalah: makrifat, ridha, membaca Bismillah, dan syukur. Adapun empat perbuatan sunah adalah: berwudhu sebelum makan, duduk pada sisi yang kiri, makan dengan tiga jari, dan menjilat jari-jari (setelah makan). Adapun empat adab adalah: makan yang di dekatmu, mengecilkan suapan (makanan), membaguskan kunyahan, dan sedikit memandangi wajah orang-orang.”
Nas Imamah
Diriwayatkan dari Imam Hasan as, “Sesungguhnya Husain bin Ali as, setelah wafatnya aku dan berpisahnya ruh dari tubuhku, adalah imam sepeninggalku. Dan di sisi Allah yang nama-Nya teragung dalam al-Kitab (al-Quran), (al-Husain) merupakan warisan dari Nabi saw. Allah Azza Wajalla menggabungkan baginya di dalam warisan ayah dan ibunya. Maka Allah mengetahui bahwasanya kalian adalah makhluk pilihan-Nya. Kemudian Dia memilih Muhammad saw di antara kalian, Muhammad saw memilih Ali as, Ali as memilihku sebagai imam, dan aku memilih al-Husain as (sebagai Imam sepeninggalku).”
Tatkala ayahnya bertanya kepadanya perihal tamak (asy-syuhha), Imam Hasan Mujtaba as menjawab, “Yaitu, engkau menganggap apa yang ada di kedua tanganmu adalah kemuliaan, sedangkan apa yang engkau nafkahkan adalah kerugian.”
Kepengecutan
Tatkala ditanya tentang kepengecutan, Imam Hasan Mujtaba as menjawab, “Ia adalah keberanian terhadap teman dan menghindar dari musuh.”
Kebodohan
Tatkala ayahnya (Imam Ali as) bertanya tentang makna kebodohan, Imam Hasan Mujtaba as berkata, “Kecepatan melompat pada kesempatan sebelum memiliki kemampuan, dan kesukaran dalam menjawab.”
Sabar
Tatkala ditanya tentang sabar, Imam Hasan as menjawab, “Meredam amarah dan menguasai diri.”

Sayidah Fathimah: Kado Teragung Allah

Sayidah Fathimah dinamai demikian karena tak seorang pun bisa memahaminya. Karena alasan ini, dan sebagai kesadaran sepenuhnya akan nilai Pemimpin dunia dan akhirat, kita semata-mata harus merujuk pada para maksum, yang memiliki persepsi yang sempurna tentangnya. Karena itu, satu-satunya sumber pengumpulan informasi tentangnya adalah keturunannya yang saleh, dan hadis-hadis yang berasal dari mereka. Sebelum memulai kajian akan hadis-hadis tersebut, seyogianya orang mencamkan bahwa seluruh imam Ahlulbait berbicara menurut kapasitas reseptif dan kemampuan seseorang atau orang-orang yang mencari informasi. Hadis-hadis ini merupakan selayang pandang akan kualitas-kualitas az-Zahra, karena pengetahuan hakiki hanya ada pada Allah Swt, Nabi saw, dan para imam as. Tidak ada yang lain. Baca entri selengkapnya »

A Sweet Story

I want to tell you a story which began in my childhood:

When I was a kid my toys were my friends. I used to talk with them and tell them my secrets, believing that they could really hear me. When I was upset and crying I used to grab and hold them tight so that I might forget all my sorrow. But when I got a little older, I realized that they were not hearing me! I mean they were not able to hear me. In the depth of their eyes, there was no emotion. I had lost my intimate companions.

When I started school I was so happy that among all those kids I was able to find someone to play and talk with easily, becoming his best friend, and he, my best friend. I thought there was no one in the world better than him. I had found whom I wanted. Baca entri selengkapnya »

Keistimewaan Pemberian Nama “Fathimah”

Sakuni dalam al-Kafi meriwayatkan, “Aku menemui Abi Abdillah as sementara aku dalam keadaan sedih dan kecewa. Imam as bertanya kepadaku, ‘Wahai Sakuni, apa yang menyebabkanmu kecewa?’ Aku berkata, ‘Aku diberi anak perempuan.’ Imam as berkata, ‘Wahai Sakuni, bebannya akan ditanggung oleh bumi dan rezekinya ditanggung oleh Allah. Dia hidup di luar kehidupanmu dan makan dari selain rezekimu.’ Demi Allah, beliau telah melegakanku. Imam as berkata, ‘Kau beri nama siapa dia?’ Aku berkata, ‘Fathimah.’ Beliau as berkata, ‘Ah, ah.’ Kemudian beliau meletakkan tangannya di keningnya dan berkata, ‘Rasulullah saw bersabda, ‘Hak anak terhadap orangtuanya adalah jika anak itu adalah laki-laki hendaknya memuliakan ibunya, menetapkan nama yang baik baginya, mengajarinya kitab Allah, menyucikannya, dan mengajarinya berenang. Jika perempuan hendaknya memuliakan ibunya, menetapkan nama yang baik baginya, mengajarinya surah an-Nur, jangan mengajarinya surah Yusuf. Jangan meletakkannya di kamar atas dan segeralah mengirimnya ke rumah suaminya. Adapun jika kalian menamainya dengan Fathimah, jangan kalian mencercanya, melaknatnya, dan memukulnya.’” (al-Kafi, jil.6, hal.48, hadis ke-6; Tahdzibul Ahkam, jil.8, hal.112, hadis ke-387. )

Mengingat Imam Mahdi dan Beramal Berdasarkan Ajaran-ajarannya

Hadis-hadis dari para imam (salam atas mereka) begitu jelas berkenaan dengan fakta bahwa Imam Mahdi (salam atasnya) adalah saksi amal perbuatan kita dan ia mengetahui semua kegiatan kita. Di mana pun kita berada dan dalam kondisi apa pun, kita berada dalam pengawasan Imam (salam atasnya). Dia adalah mata dan telinga Allah Swt yang waspada. Setelah Anda yakin akan hal ini, Anda akan melihatnya dengan mata batin dan pengawasannya akan selalu ada dalam pikiran Anda. Maka itu adalah wajib bagi Anda untuk merasakan diri Anda di hadapannya. Setiap orang harus memiliki persepsi ini, kecuali orang yang buta hatinya. Baca entri selengkapnya »

Taubat yang Ikhlas dan Pemenuhan Hak-hak

Seperti disebutkan sebelumnya, dosa-dosa dan ketidaktaatan kita kepada syariah memainkan peran besar dalam memperpanjang kegaiban Imam Mahdi as. Tawqî Imam as lebih lanjut mengatakan, “Sesuatu yang menjauhkan kami dari mereka (para pengikut Imam Mahdi–penerj.) adalah hal-hal yang tidak menyenangkan yang kami dengar tentang mereka dan tidak menyukai dari mereka sesuatu yang kami tidak pernah harapkan dari mereka. Dan Allah adalah Zat yang pertolongan-Nya dicari dan cukuplah Dia bagi kami dan [Dia] sebaik-baiknya Pelindung.” (Bihâr al-Anwâr, jil. 53, hal. 177)

« Older entries