Berusahalah Menjadi Para Pengikut Sejati Imam Mahdi!

Moha Mahmud & H. Ali Azhim

Kita semua tahu bahwa Imam Kedua Belas (semoga Allah mempercepat kehadirannya) sudah hidup lebih dari 1177 tahun dan tetap dalam kegaiban. Beliau tidak akan hadir secara fisik dalam kehidupan kita sampai kita siap? Apakah yang tengah kita lakukan itu salah sehingga Imam tetap dalam kegaiban dan tidak dapat dilihat dalam kehidupan kita?

Baca entri selengkapnya »

Iklan

A Sweet Story

I want to tell you a story which began in my childhood:

When I was a kid my toys were my friends. I used to talk with them and tell them my secrets, believing that they could really hear me. When I was upset and crying I used to grab and hold them tight so that I might forget all my sorrow. But when I got a little older, I realized that they were not hearing me! I mean they were not able to hear me. In the depth of their eyes, there was no emotion. I had lost my intimate companions.

When I started school I was so happy that among all those kids I was able to find someone to play and talk with easily, becoming his best friend, and he, my best friend. I thought there was no one in the world better than him. I had found whom I wanted. Baca entri selengkapnya »

Mengingat Imam Mahdi dan Beramal Berdasarkan Ajaran-ajarannya

Hadis-hadis dari para imam (salam atas mereka) begitu jelas berkenaan dengan fakta bahwa Imam Mahdi (salam atasnya) adalah saksi amal perbuatan kita dan ia mengetahui semua kegiatan kita. Di mana pun kita berada dan dalam kondisi apa pun, kita berada dalam pengawasan Imam (salam atasnya). Dia adalah mata dan telinga Allah Swt yang waspada. Setelah Anda yakin akan hal ini, Anda akan melihatnya dengan mata batin dan pengawasannya akan selalu ada dalam pikiran Anda. Maka itu adalah wajib bagi Anda untuk merasakan diri Anda di hadapannya. Setiap orang harus memiliki persepsi ini, kecuali orang yang buta hatinya. Baca entri selengkapnya »

Taubat yang Ikhlas dan Pemenuhan Hak-hak

Seperti disebutkan sebelumnya, dosa-dosa dan ketidaktaatan kita kepada syariah memainkan peran besar dalam memperpanjang kegaiban Imam Mahdi as. Tawqî Imam as lebih lanjut mengatakan, “Sesuatu yang menjauhkan kami dari mereka (para pengikut Imam Mahdi–penerj.) adalah hal-hal yang tidak menyenangkan yang kami dengar tentang mereka dan tidak menyukai dari mereka sesuatu yang kami tidak pernah harapkan dari mereka. Dan Allah adalah Zat yang pertolongan-Nya dicari dan cukuplah Dia bagi kami dan [Dia] sebaik-baiknya Pelindung.” (Bihâr al-Anwâr, jil. 53, hal. 177)

Berdoa kepada Allah agar Kita Tidak Kehilangan Ingatan kepada Imam Zaman as

Hendaknya kita berdoa kepada Allah Swt agar kita tidak pernah lalai dalam mengingat Imam Zaman (salam atasnya). Pasalnya, Allah Swt telah menetapkan seperangkat aturan bagi kita sekaitan dengan Imam Zaman (salam atasnya). Syekh Amir, duta khusus Imam Zaman (salam atasnya) di masa kegaiban pendek, mengatakan, “Jangan hapuskan ingatan kepada Imam (salam atasnya) dari hati-hati kita.” (Kamaluddin, vol.2, pagina 513)
Mari renungkan kata-kata ini: Betapa pentingnya komponen doa dan bagaimana orang Syi’ah dianjurkan untuk memasukkan kata-kata tersebut dalam doa-doa mereka. Kita semestinya jangan pernah mengabaikan noktah penting ini. Kita harus mencamkan dalam pikiran khususnya ketika kita mempunyai harapan tinggi untuk diterimanya doa-doa kita. Kita seyogianya memohon kepada Allah dan meminta-Nya untuk tidak menjadikan kita alpa dalam mengingat Imam (salam atasnya). Kita tidak boleh menunda-nunda masalah ini sehingga seseorang menderita dengan penyakit ketidaksadaran sebelum ia mulai berdoa. Menurut riwayat-riwayat para Imam (salam atas mereka) kiranya penting bagi kaum mukmin untuk berdoa sebelum bencana datang.
Siapa pun harus berusaha menghindari segala dosa yang bisa mencerabut ingatan kepada Imam Zaman karena itu merupakan bencana besar seperti disebutkan dalam doa Amirul Mukminin Ali (salam atasnya) dalam doa Kumail-nya, “Ya Allah, ampunilah kami dari dosa-dosa kami yang menyebabkan turunnya musibah (dan kemalangan).”

Perbaikan-Diri

Kewajiban berikutnya adalah menghilangkan kebiasaan-kebiasaan kotor dan sifat-sifat buruk serta memperindah kepribadian kita dengan moral yang baik. Ini adalah kewajiban di setiap saat tetapi terutama ditekankan lagi untuk periode kegaiban karena ia adalah syarat wajib untuk mendapatkan kelayakan sebagai sahabat-sahabatnya.

Nu’mani ra mencatat sebuah riwayat dari Imam Shadiq as yang mengatakan, ”Barangsiapa yang menginginkan untuk dimasukkan di antara para sahabat Imam Zaman (salam atasnya), haruslah menjadi seorang muntazhir (orang yang menunggu), dan ia haruslah saleh dan perilaku baik. Jadi, sekalipun ia wafat sebelum munculnya kembali Imam as, ia akan mendapatkan ganjaran yang sama seakan-akan dia sedang bersama Imam as. Berjuang dan nantikanlah! Sekiranya engkau ingin dianugerahi Kerahiman Ilahi…” (Ghaibat Nu’mani, hal. 106)

Mengutamakan Keinginan Imam Zaman Daripada Keinginan Kita

Ini berarti bahwa ketika kita berniat untuk mengambil sebuah langkah kita harus memikirkan langkah itu apakah Imam Zaman (semoga Allah mempercepat kemunculannya) akan ridha dengan hal itu ataukah tidak. Kita harus melakukannya hanya jika sesuai keinginannya dan tidak melakukannya jika hal itu akan menyebabkan ketidakrelaannya. Dalam situasi seperti itu kita harus mengatasi keinginan pribadi kita dan meraih keridhaan Imam. Anda akan menjadi kekasihnya dan diingat dengan kata-kata mulia oleh Imam (salam atasnya) dan nenek moyangnya. Ini disebutkan dalam riwayat yang dicatat oleh Fadhil Muhaddis Nuri yang mengutipnya dari kitab Amali Syaikh Thusi bahwa perawi bertanya kepada Imam Shadiq (salam atasnya), “Mengapa kami mendengar begitu banyak tentang Salman Parisi dari Anda?” Imam (salam atasnya) menjawab, “Jangan panggil dia Salman Parisi, katakanlah: Salman Muhammadi. Apakah engkau tahu mengapa aku banyak mengingatnya?”
“Hal ini karena tiga hal,” kata Imam (salam atasnya), “Dia mengutamakan keinginan Amirul Mukminin Ali (salam atasnya) daripada keinginan pribadi. Berteman dengan orang miskin dan memilih mereka daripada orang-orang kaya dan keterikatannya kepada ilmu dan para ulama. Sesungguhnya Salman adalah seorang Muslim dan bukan orang-orang musyrik.”(Bihâr al-Anwâr, vol. 22, hal.327)

Membahagiakan Mukmin, Membahagiakan Imam Mahdi

Membahagiakan orang-orang mukmin pada masa kegaiban artinya menjadikan Imam Mahdi (semoga Allah mempercepat kemunculannya) sangat bahagia. Memyenangkan dan membahagiakan orang-orang mukmin adalah mungkin melalui bantuan keuangan ataupun bantuan tenaga.
Kadang-kadang kenikmatan mereka diperoleh dengan memecahkan masalah-masalah mereka atau merekomendasikan kasus mereka ke beberapa pihak yang berwenang atau bahkan dengan berdoa untuk mereka. Di lain waktu, kita bisa membuat mereka bahagia dengan memberi mereka kelonggaran untuk pelunasan utang. Jadi, ketika melakukan salah satu tindakan di atas, jika niat dari dari pelaku adalah bahwa Imam (as) akan ridha dengan perbuatan itu, ia akan mendapatkan ganjaran untuk itu. Ada lebih banyak kemuliaan dalam hal ini daripada hanya menyenangkan orang yang mukmin. Sebuah hadis dari Imam Shadiq as dalam al-Kâfî yang mengatakan, “Barangsiapa di antara kalian membahagiakan seorang mukmin, hendaknya tidak boleh berpikir bahwa kalian telah membahagiakan orang mukmin ini. Demi Allah, dia telah membahagiakan kami! Demi Allah, dia telah membahagiakan Rasulullah.” (Al-Kâfî ,vol. 2, pagina 189).

Dekat, Tidak Jauh!

Antisipasi akan kedaulatan pemerintahan Allah di tangan washi terakhir dari Nabi dan Rasul termulia saw, sebenarnya merupakan jalan penuh harapan akan kehidupan dan ekspektasi tahapan sosial terakhir di muka bumi. Ini bukan saja cita-cita para nabi sebelumnya berikut masing-masing washinya, melainkan juga cita-cita dari para imam maksum as.

Diriwayatkan bahwa Imam Ridha sedang berada dalam sebuah majelis. Saat itu gelar “al-Qaim” diucapkan dan terdengar oleh Imam Ridha, beliau segera berdiri, menghadap kiblat, tangan di atas kepalanya seraya berkata, “Ya Allah, pecepatlah kemunculannya, dan mudahkanlah kebangkitannya.” (Muntakhab al-Atsar, hal.506)
Bagaimana halnya dengan kita? Apakah antisipasi Imam Mahdi telah meliputi setiap momen dari seluruh kehidupan kita? Apakah ia telah menentukan pengertian hakiki dari ‘harapan’ untuk kita? Apakah ia telah menyediakan sebuah arahan bagi kehidupan kita? Apakah ia telah mengubah cara berpikir kita? Apakah ia menjadi alasan bagi tetesan air mata dan hati yang hancur? Apakah ia menjadi alasan bagi keriangan dalam hati kita?

Jika tidak, mungkin itu dipandang masih jauh, padahal sesungguhnya ia sangat dekat! Hanya Allah yang tahu!
… Sesungguhnya mereka melihatnya jauh, padahal kami melihatnya dekat… (Doa al-‘Ahd)
(Sumber: http://www.kindfather.com, diakses pada 12 Mei 2009)

Spiritual Attachment with the Imam of the Age (a.t.f.s.)

During the period of Ghaibat, it is the responsibility of every being, rather of every believer, that he establishes a spiritual contact with the Imam of the Age (a.t.f.s.). When a person acquires the recognition of the Imam, a unique relationship is established wherein the heart, as per its capacity becomes a reflection of the characteristics and ethics of the Imam (a.t.f.s..).
Allah the Almighty informs us in the Holy Quran, ‘O those who believe! Be patient and enjoin patience amongst one another and remain in contact. And be careful of your duty to Allah lest you succeed.’ (3: 200) Baca entri selengkapnya »

« Older entries