Ibn Arabi’s Hermeneutics and Criticisism

by Arif Mulyadi and Salman Parisi

Biography
Ibn `Arabi (Abu Bakr Muhammad ibn al-`Arabi al-Hatimi al-Ta’i) (1165-1240) – entitled with the honorifics al-Shaikh al-akbar (“The Greatest Teacher”) and Muhyi al-Din (“The Reviver of Religion”) – was born in Mucia in the Andalusian regional of Southern Spain, in a family of pure Arab blood (hence his name), and educated in Seville. When only twenty he already possessed profound spiritual insights. There is a story of him at this age meeting the great Aristotlean philosopher Averroes, who was shaken by the encounter with such a divine teacher.
Until 1198 Ibn `Arabi spent his life in Andalusia and North Africa meeting other Sufis and scholars and occasionally engaging in debates. All this time he had been having various mystical visions. In that year he had a vision ordering him to depart from the East where he would spend the rest of his days. Baca entri selengkapnya »

Ihwal Menjalani Hidup

Ketahuilah, jika kamu melupakan kebenaran dan tidak menerapkannya dalam hidupmu, cepat atau lambat kamu akan meninggalkan jalan itu karena kelupaan terhadap kebenaran menunjukkan kurangnya iman kepada Allah, dan kurangnya kedamaian yang dibawa oleh rasa puas pada nasibnya. Iman kepada Allah menunjukkan pengetahuanmu bahwa kamu tak mampu melakukan apa pun dengan dirimu, dan bahwa kamu tahu sangat sedikit. Karena itu, kamu lemah; kamu tergantung kepada-Nya, Sang Mahakuasa dan Mahatahu. Ini akan memberimu kedamaian hati. (Selamat Sampai Tujuan, hal.86)

Jangan Takut Miskin!

Ibnu Arabi bermadah, “Jangan takut miskin! Allah akan memberikan kepadamu apa yang telah Dia janjikan, baik kamu memintanya ataupun tidak. Tidak pernah ada seorang dermawan binasa dalam kemiskinan.” (Selamat Sampai Tujuan , hal.31)