Melepas Buhul Setan

Jika engkau bangun dari tidurmu, usaplah kedua matamu dan berzikirlah kepada Allah. Hal itu akan melepaskan salah buhul setan. Setan mengikatkan tiga buhul pada tengkuk salah seorang di antara kamu ketika tidur. Setiap buhul itu mengatakan, “Malammu masih panjang. Tidurlah!”
Jika engkau berzikir kepada Allah, terurailah satu buhul. Jika engkau berwudhu, terurai satu buhul berikutnya. Dan jika engkau menegakkan shalat, maka terpisahlah seluruh buhul itu.
(Ibn ‘Arabi. Wasiat-wasiat Ibn ‘Arabi, Bandung: Pustaka Hidayah, hal.163)

Ibn ‘Arabi tentang Belajar Memberi


Belajarlah untuk memberi, baik kamu punya banyak atau sedikit, baik saat suka maupun duka. Ini menjadi bukti imanmu kepada Allah. Cobalah memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan. Ini merupakan penegasan bahwa Allah telah menentukan kebutuhan jasmani seseorang dan tidak ada yang akan mengubahnya. Ini merupakan bukti tawakalmu kepada Allah.

Ibn ‘Arabi tentang Pendidikan Anak


Ajarkanlah firman-firman Allah dalam kitab suci-Nya dan perilaku-islami yang baik kepada anak-anakmu. Jaminlah mereka bisa melaksanakan apa yang telah kamu ajarkan kepada mereka. Lakukanlah hal ini dengan tanpa mengharap balasan apa pun dari mereka. Sejak dini, ajari mereka untuk menghadapi kesulitan, untuk bersabar, untuk berpikir.
Jangan letakkan cinta dunia di dalam hati mereka. Ajari mereka untuk tidak mencintai apa pun di dunia ini yang membuat mereka pongah–kemewahan, baju-baju indah, makanan-makanan yang lezat, dampak-dampak ambisi. Sebab, jika semua ini diperoleh, mereka akan dikurangkan dari kebaikan yang merupakan hak mereka di akhirat. Jangan biasakan mereka terbiasa dengan barang-barang yang baik; hentikan kebiasaan mereka.
Berhati-hatilah agar hal ini, yang bisa tampak keras, tidak menimbulkan watak kikir dalam dirimu terhadap anak-anakmu. Lakukanlah hal ini dengan memperhatikan dan mengikuti agamamu.
(Selamat Sampai Tujuan, hal.30-32)

Takut kepada Allah

Takutlah kepada Allah dalam tindakan-tindakanmu dan lebih-lebih dalam hati dan pikiran-pikiranmu. Takut kepada Allah adalah takut kepada siksa-Nya. Siapapun yang betul-betul takut kepada peringatan-peringatan siksa sang Hakim Mutlak hanya bisa bertindak sesuai dengan rida Sang Pencipta dan mencari yang benar di atas yang salah. Dia berfirman:
…dan Allah mengingatkanmu (untuk mengingat) diri-Nya… (QS Ali Imran: 27)
…dan ketahuilah Allah bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka berhati-hatilah atasnya… (QS al-Baqarah: 235)

Takut kepada Allah merupakan sebuah perlindungan, sesuatu yang melindungimu dari bahaya. Perlindungan Allah adalah paling kuat dari semua dari baju baja, dari semua benteng; tidak ada bahaya yang bisa menembusnya. Demikianlah rasa takut kepada Tuhan pasti melindungimu. Nabi, yang Dia utus sebagai rahmat-Nya bagi alam semesta, sendiri berlindung kepada Tuhan. Dia berdoa kepada-Nya, “Aku berlindung dalam rahmat-Mu, keindahan-Mu, dalam kelembutan-Mu, dari murka-Mu, dan dari kekuatan-Mu. Aku berlindung dalam kasih dan sayang-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. (Selamat Sampai Tujuan, hal.48-9)

Husnuzhan pada Manusia

Ibnu Arabi berkata, “Lihatlah kebaikan-kebaikan manusia. Pandanglah kebaikan-kebaikan saudaramu sesama mukmin sebab pada diri Muslim berhimpun akhlak terpuji dan tercela.” (Selamat Sampai Tujuan, Jakarta:Serambi)