Pesan Arba’in

Khalifah Muslimin ke-11, Imam Hasan Askari as telah menyebutkan tanda seorang mukmin sebagai berikut:
(1) Mendirikan shalat sejumlah 51 Rakaat, yakni 17 rakaat shalat fardu dan 34 rakaat shalat sunnah rawatib (shalat sunnah yang mengiringi shalat fardu), yang terdiri atas: 8 rakaat sebelum shalat zuhur, 8 rakaat sebelum shalat asar, 4 rakaat setelah shalat magrib (dikerjakan dua rakaat-dua rakaat), 2 rakaat sesudah shalat isya (yang dihitung 1 rakaat) yang dikerjakan sambil duduk, 8 rakaat shalat malam (dikerjakan dua-dua), 2 rakaat shalat syafa’, dan 1 rakaat shalat witir, dan 2 rakaat sebelum shalat subuh. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Sudah Hampir Delapan Tahun

Oleh: Cahya Sumirat

Sudah hampir delapan tahun,
Kuikuti upacara perkabungan tentang kesyahidanmu,
Sudah banyak pula tanya yang tak mampu kujawab,
Selalu terhenti pada gulana.

Sudah hampir delapan tahun,
Kududuk mendengar kisah kesyahidanmu dengan para pecinta tahunanmu,
Lewat seorang pencerita yang suarakan kepedihan deritamu,
Tak mampu juga tumbuhkan jiwa ksatria di dada.

Sudah hampir delapan tahun,
Kulihat pencerita tahunan tentangmu itu duduk di mimbar dan tanggal yang sama,
Hantarkan penggalan-penggalan kisah heroikmu sejak Madinah hingga Karbala,
Semua hanya tersisa di mimbar belaka.

Sudah hampir delapan tahun,
Kujadi pemukul dada dari sayap kiri hingga di dekat pembicara,
Ajak peserta sampaikan maktam sebagai belasungkawa atasmu, Pangeran Syuhada,
Tapi semua itu tak mampu ciptakan suasana duka yang baka,
Karena esoknya aku kembali tertawa.

Sudah hampir delapan tahun,
Selalu kutunggu Muharam dan Asyura,
Tak lebih ‘tuk penuhi syahwat ritualku,
Hanya untuk perdengarkan syair maktamku yang terbaru,
Atau perlihatkan baju hitamku yang paling mewah bahannya,
Atau pertontonkan lukisanmu di layar hapeku.

Sudah hampir delapan tahun,
Kuucap janjiku kepadamu, Husain,
Bahwa yang ingin kutambah adalah kawan,
Tetapi yang tercipta adalah lawan.
Bahwa yang ingin kutingkatkan adalah taat,
Tetapi yang terjadi adalah maksiat.
Maktamku sebatas memukul dada,
Tak mampu memukul durjana,
Sajakku sebatas kumpulan kata dan kalimat,
Tapi tak mampu jadikan jiwa ‘tuk terpikat.
Kidung dukaku sebatas nyanyian,
Tak mampu pompa semangat perjuangan,
Maktalku sebatas cerita lontaran tombak dan panah
Tak mampu hidupkan etos jerih payah.

Sudah hampir delapan tahun,
Kuikuti upacara perkabunganmu,
Semuanya berhenti di kerongkongan,
Tak lahirkan teladan pada lingkungan.

7-1-2005

Sumber: http://ejajufri.wordpress.com/2010/12/11/sudah-hampir-delapan-tahun/

Posisi Wilâyah

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Kalau ada seseorang bangun shalat malam dan puasa di siang harinya dan bersedekah dengan seluruh hartanya dan selalu melaksanakan haji, tapi ia tidak mengenal wilâyah wali Allah yang harus ia ikuti, maka semua amalnya tidak akan dihargai oleh Allah Swt dan ia juga bukan ahli iman.”
Selama manusia tidak mengenal walinya, ia tidak akan bisa bertauhid. Tauhid harus dipelajari dari Imam Husain as; yang menyerahkan semua wujudnya untuk jalan hak; yang menunaikan shalat mikraj. Mereka yang mengatakan cukup saja al-Quran mengira bahwa menjadi khalifah adalah mengambil kekuasaan. Apakah para khalifah bisa melakukan ibadah seorang nabi atau shalat dan puasa seorang nabi? Apakah bisa ia menjadi seorang ahli tauhid sejati hanya dalam satu waktu atau saat-saat melaksanakan ibadah secara ikhlas?
Karena itulah maqam para peziarah pusara Imam Husain as lebih mulia dibandingkan maqam para peziarah Ka`bah. Mungkin ada bermilyar-milyar manusia yang berkunjung ke rumah Allah, tetapi ia tidak bisa menemukan Imam Husain as. Seorang peziarah Imam Husain memang harus mendapatkan maqam seperti itu dan ini bukanlah asal-asalan melainkan sebuah fakta. Doa akan dikabulkan di makam para imam. Ini bukanlah syiar. Lihatlah dan perhatikan orang-orang yang mengambil syafaat dari turbah Imam Husain as. Walaupun seorang dokter mengatakan tanah itu berbahaya bagi manusia, tetapi tanah dekat kuburan Imam Husain as bisa menyembuhkan setiap luka. Mungkin keistimewaan ini hanya khusus untuk makam Imam Husain as, karena makam Rasulullah saw tidak dikenal punya khasiat seperti itu.
(Bahauddini, Tangga-tangga Langit, Jakarta: Al-Huda, hal.)

Muharam (1)

Seorang teman menghubungiku dan menanyakan apa refleksiku mengenal muharam yang sebentar lagi akan disambut oleh kaum Muslim. Bagi kami, menyambut Muharam berarti menyambut bulan kesyahidan Imam Husain bin Ali. Artinya, alih-alih kami merayakannya dengan suka cita kedatangan awal bulan Islam ini, kami menyedihi bulan ini. Sebab, di bulan inilah pada tahun 61 H, tepatnya tanggal 10 Muharam, Imam Husain menemui kesyahidannya.
Sayangnya, sejauh ini yang ada dalam pikiranku, refleksi itu tidak muncul. Aku merasa kosong dari apa yang bisa kupersembahkan kepada al-Husain. Sedih, karena tak merasa ada duka yang memuncak dalam dada ini. Aku diliputi oleh kebingungan dan kedukaanku atas segala kekuranganku. Aku sedih tak mampu untuk membiayai, hatta untuk cukup, keluargaku. Aku kira aku sangat egois karena kesedihanku hanya berkisar pada ketakmampuanku menghidupi keluargaku. Tapi bagaimana dengan al-Husain.
Memang tempo hari sewaktu menutup pengajian dengan kedua putraku, aku memesankan kepada mereka agar menjelang Muharam ini, hendaknya mereka (dan tentunya yang dimaksud adalah kami) mengurangi aktivitas yang sifatnya hura-hura. Kuingatkan kepada mereka untuk sering-sering berziarah kepada Imam Husain meski dengan jarak jauh.
Tapi, itu aku rasa tak cukup. Bahkan aku merasa basa-basi.
Ketakutanku bukan karena apakah wuduku sudah beres, salatku sudah sah, taharahku sudah bebas syubhat dan sebagainya yang justru menjadi kawan akrabku di kuburan kelak.
Ya Husain, jujur aku padamu, jangan sampai segala kekuranganku mengalahkan cinta ini kepadamu. Aku tahu cinta ini begini minim, namun aku percaya bahwa itu bisa menjadi modal bagiku menghadapmu.
Ya Husain, bisikkanlah kepada keluargaku dan aku sendiri, dunia hanyalah sementara sehingga kesulitannya bukanlah akhir segalanya.
Ya Husain, demimu, tanamkan terus cinta kepada seluruh pengikutmu agar mereka saling mencintai Sang Mahacinta sehingga cinta mengalir dalam setiap nadi kehidupan.

UNDANGAN TERBUKA: PERINGATAN KESYAHIDAN IMAM HUSAIN BIN ALI, CUCUNDA NABI SAW

∫lm. Asyuro dengan tema “Kebangkitan Dalam Duka Untuk Membangun Indonesia”
Insya ΛLLΛH akan diadakan pada hari Kamis tgl 10 Muharam 1432 H (16/12) di Balai Samudra, Jl. Boulevard Barat ‎​№ 1, Kelapa Gading.
Jam 11:30 s/d selesai Donor Darah.
Jam 13:00 – 16:00, Peringatan Asyuro.
Ceramah: Ust Muhammad bin Alwi BSA.
Maktam: Syd A. Al-Mahdali.
Maqtal: Ust Khalid AlWalid.
Doa Ziarah: Ust Ahmad Muhajir.

Bagi yang ingin turut berpartisipasi dalam berkhidmat : BCA KCP Dewi Sartika, 2731-391-612 a/n Hasan Alaydrus & Ahmad Hidayat.

Imam Husain (S.A.) : “Hartamu akan menjadi milikmu selama kamu menafkahkannya, maka janganlah kamu menyisakannya bagi orang sesudahmu, akhirnya menjadi perbendaharaan bagi orang lain. Dan kamu akan dituntut dengan harta itu di hari perhitungannya. Ketahuilah bahwasanya kamu tidak akan kekal dengannya & dia tidak akan menyelamatkanmu, maka makanlah harta itu sebelum ia memakanmu.”

Imam Ali Ridho (S.A.) : “Sesiapa pada hari Asyuro meninggalkan urusan dunia, maka ALLAH SWT akan memenuhi kebutuhan dunia dan akhiratnya. Sesiapa menjadikan hari Asyuro sebagai hari musibah, kesedihan dan hari tangis, maka ALLAH SWT akan menjadikan hari kiamat kebahagiaannya.”

Allahummal’an qotalatal Husaini ‘alayhis-salam…
Yaa ALLAH, laknatlah para pembunuh Al-Husain AS…

Semoga keberkahan & kecintaan dalam berkhidmat untuk Agama Muhammad saww & klrgnya (S.A.) akan selalu meliputi kita semua.

Labbaika Ya Husain..

Wassalam.

Signifikansi Ziarah dalam Peringatan Kesyahidan Imam Husain

Arif Mulyadi

Asyhadu annaka aqamtash-shalâta
Wa âtaytaz-zakâta
Wa amarta bil-ma`rûf(i)
Wa nahayta ‘anil-munkar(i)
Wa atha’tallâhi wa rasûlahu hatta âtâkal-yaqîn(u)…

SALAH satu ajaran Islam yang dianjurkan untuk terus dihidupkan adalah berziarah, baik langsung ataupun tidak, kepada wali-wali Allah. Akar kata ziarah itu sendiri adalah zâra, dengan bentukan berikutnya yazûru-ziyâratan, yang arti generiknya ‘mengunjungi’. Kata mengunjungi meniscayakan adanya pertemuan antara dua belah pihak dan salah satu adab bertemu adalah ucapan salam seperti assalâmu ‘alayka/ki/kum, yang diucapkan si pihak yang ingin bertemu kepada orang yang dikunjunginya. Jadi, dari awal si peziarah sudah menyampaikan doa keselamatan kepada orang yang dikunjunginya. Baca entri selengkapnya »

Kapolresta Minta Haul Sayidina Husein Aliran Syiah Dibubarkan

Cirebon (ANTARA News) – Kapolresta Cirebon AKBP Ary Laksmana sempat meminta panitia untuk membubarkan Haul Sayidina Husein di Keraton Kasepuhan Cirebon dengan pembicara Ketua PB Nahdlatul Ulama (NU) KH Said Agil Siradj, Rabu malam.

Menurut Kapolresta yang datang di Keraton Kasepuhan, acara itu perlu dibubarkan karena panitia telah dianggap menipu pihak kepolisian karena dalam ajuan ijin mencantumkan Peringatan Tahun Baru Islam, namun dalam pelaksanaanya acara yang digelar adalah Haul Sayidina Husein yang tidak lain cucu Nabi Muhammad SAW.

“Saya juga sudah mengontak Pangeran Arief Natadiningrat (putra Mahkota Keraton Kasepuhan) yang juga mengaku jika izin panitia hanya Peringatan Satu Muharam, dan pihak Keraton meminta agar acara itu dibubarkan,” katanya sambil menunjukkan surat dari Pangeran Nasfudin dari Keraton Kasepuhan. Baca entri selengkapnya »

Para Syahid Karbala dan Kufah

Berikut daftar para syahid di Karbala dan Kufah
1. Abu Bakr bin Ali bin Abi Thalib
Dia dipanggil Muhammad Ashghar atau Abdullah dari Laila binti Mas’ud bin Hanzalah bin Manats bin Tamim.
2. Abu Bakr bin Hasan bin Ali [bin Abi Thalib]
3. Abdul Hatuf Anshari dan saudaranya
4. Sa’d (kedunya putra Hurr)
Keduanya [no 3 dan 4] berasal dari Kufah yang bergabungn dengan Imam Husain di Karbala.
5. Adham bin Umayah al-Abdi
Ia adalah putra Ubaidah, yang ayahnya pengikut setia Nabi saw. Baca entri selengkapnya »

Fatwa Boikoit Israel dari Ulama Sunnah-Syi’ah

1. Ayatullah Uzhma Sayid Ali Khamenei
Fatwa 8822 ( dikeluarkan dari Kantor Rahbar, Qum, Iran)
27 Februari 2002
Soal:
1) Bolehkah membeli produk-produk Amerika?
2) Bolehkah membeli produk-produk dari perusahaan yang mengalokasikan keuntungan mereka untuk mendukung Amerika Serikat?
3)Bolehkah membeli produk-produk dari perusahaan yang menyebarkan amoralitas (atmosfer tidak Islami dan mendukung amoralitas?)

Jawab:
1&2) Setiap transaksi dengan suatu perusahaan yang keuntungannya untuk membantu musuh-musuh Islam dan kaum Muslim atau untuk mendukung rezim Zionis adalah haram)
3) Apabila pembelian barang-barang dari perusahaan-perusahaan ini akan mendukung dan membantu mereka dalam penyebaran penyimpangan dan amoralitas, hukumnya haram.

2. Allamah Syekh Yusuf al-Qaradawi
20 Muharram 1423 AH/4 April 2002

Soal: Apakah kita dibolehkan untuk membeli barang-barang produk Israel, sekalipun uang ini bisa jadi digunakan untuk membantu “mesin perang Yahudi”?

Jawab:
(Dengan pendahuluan yang cukup panjang) Setiap riyal, dirham, … yang digunakan untuk membeli barang-barang mereka pada akhirnya menjadi peluru-peluru yang ditembakkan di jantung saudara-saudara dan anak-anak di Palestina. Karena alasan ini, adalah suatu kewajiban untuk tidak membantu mereka (musuh-musuh Islam) dengan membeli barang-barang mereka. Membeli produk mereka artinya mendukung tirani, penindasan, dan agresi. Membeli produk-produk mereka akan memperkuat mereka. Kewajiban kita adalah memperlemah mereka sepanjang kita mampu. …Demikian pula untuk barang-barang Amerika, adalah haram. Sudah saatnya bagi umat Islam untuk mengatakan TIDAK kepada Amerika, TIDAK kepada perusahaan-perusahaannya, TIDAK kepada produk-produknya, yang membanjiri pasar-pasar kita…

3. Ayatullah Sayid Muhammad Husain Fadhlullah
2 Ramadan 1421H/ 28 November 2000
(Dengan pendahuluan yang cukup panjang) Usaha terkecil yang dapat kita lakukan untuk membela kaum Muslim melawan agresi politik, militer, dan ekonomi musuh-musuh Islam adalah dengan memboikot seluruh produk musuh dan yang memelihara ekspansi dan kekuatannya. Khususnya AS yang merupakan musuh terbesar kaum Muslim. Kita harus memboikot seluruh produk Amerika di mana pun. Anda pun harus memboikot barang-barang Israel juga perusahaan-perusahaan yang membantu perusahaan-perusahaan secara finansial. Anda juga harus mendesak pemerintahan Anda untuk menghentikan dana-dana ke bank-bank Amerika, karena mereka selalu mendukung Israel.

(4). Ayatullah Uzhma Sayid Ali Sistani
Dari “A Code of Practice for Muslims in the West” karya Ayatullah Seestani yang diterjemahkan oleh Sayyid Muhammad Rizvi dan diterbitkan oleh Imam Ali Foundation, London:
249. Tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk membeli produk-produk dari negeri yang berada dalam keadaan perang dengan Islam dan kaum Muslim, misalnya, Israel (hal.146)
265. Soal: Apakah boleh untuk membeli (barang-barang) dari toko-toko yang menyisihkan sebagian laba mereka untuk mendukung Israel?
Jawab: Kami tidak mengizinkan (melarang) hal itu. (hal.150)

Sumber: http://www.inminds.com/boycott-fatwas.html

Menziarahi Husain

ketika kubur bertemu nisannya
para mullah meramalkan usia kesetiaan
tapi apa yang istimewa dari kesyahidan?
perjalanan tradisi ke tanah asal
mengurai jiwa sendiri
menuju Yang Ilahi i

setelah menikam diamku dengan kenangan
kenapa kaukuburkan lagi jiwaku di sebelahnya?
tidak terlihatkah akar lalang di atas gundukan
selalu mengajakku mengganti daun-daun tersabit
tulang belulang pun mengeraskan sejarah secukupnya

maka, selamat tinggal
kuusung semangatmu mencari mati

3 Muharam 1430/31 Desember 2008

« Older entries