Filsafat Sendiri

MAHASISWA kita ini melancong keluar negeri. Bukan untuk main-main tentunya. Tetapi untuk melakukan studi banding atas pelajaran-pelajaran yang diterimanya di kampus. Mahasiswa kita ini, entah karena apa, sangat tertarik untuk mempelajari pemikiran para filsuf Barat. Beberapa alasan bisa bisa kita cari. Barangkali karena dia memang terpesona dengan pemikiran Barat, atau karena dia merasa inferior dengan keilmuan bangsanya sendiri. Semoga bukan karena keduanya.
Pertama kali tiba, ia menikmati daerah asing dan berjalan-jalan layaknya seorang turis. Foto kanan-kiri, berdecak kagum setiap kali melihat pemandangan yang selama ini hanya bisa ia nikmati lewat TV. Dengan agak malu, kita harus akui, kelakukan mahasiswa kita ini memang cukup ndeso,
Di sebuah universitas, ia menemui seorang Profesor filsafat. Ia kemukakan tentang ketertarikannya mempelajari pemikiran filsafat Barat.
“Bagus sekali,” jawab Profesor itu. “Tapi kenapa Anda tidak mempelajari filsafat Indonesia? Bukankah itu lebih menarik dan sesuai dengan konteks kehidupan kalian sendiri?”
“Itu dia masalahnya, Prof, ” mahasiswa kita menjawab. “Bangsa kami semula tidak punya masalah genting. Tapi dari Baratlah bangsa kami mendapat banyak masalah: modernisasi, liberalisasi, sekularisasi, kolonialisasi. Maka saya harus mempelajari filsafat Barat untuk mengatasi masalah-masalah brengsek dari bangsa Anda itu, Prof.”

(Si Buta dari Gua Plato, hal.153-154)

Karl Marx ke Madura

Karl Marx mengunjungi Madura. Ia tertarik dengan kehidupan rakyat di sana. Bagaimana kondisi perekonomian Madura, kesejahteraan masyarakat kecil yang unik di dalamnya. Marx sebenarnya penasaran ingin melihat kaum proletar di sana setelah dibangunnya (jembatan) Suramadu.
Malam pertama di Madura, Marx ingin menikmati sate spesial ala Madura. Pesanan segera datang. Melihat besarnya sate tersebut, Marx terkagum-kagum. Setelah selesai makan, ia bertanya kepada pelayan,”Sate itu dari daging apa tadi? Rasanya kok enak sekali.”
Pelayan menjawab bahwa itu adalah daging sapi yang mati saat bertanding karapan sapi. Mendengar itu, Marx merasa mual perutnya. Tapi karena enak, ia pikir tidak apa-apa.
Esok malamnya, Karl Marx mampir untuk menikmati sate lagi. Tapi kali ini satenya tidak sebesar yang kemarin. Rasanya tidak kalah enak. Namun Marx penasaran mengapa satenya jadi lebih kecil.
“Mas, kenapa sate yang sekarang lebih kecil dari yang kemarin malam?” tanya Marx.
“Oh,” jawab pelayan, “Soalnya dalam karapan hari ini, yang mati adalah penunggangnya.”
(Rif’an Anwar, Si Buta dari Gua Plato,(Kanisius: Yogyakarta, 2011),hal.155.

Para Penggugat Idealisme: Schopenhauer (1788-1860)

Filsafat Modern, menurut taksonomi F. Budi Hardiman, dimulai oleh Machiavelli. Akan tetapi, dalam serial tulisan ini, kami menulisnya secara acak. Jika ada kesempatan, akan kami susun ulang. Serial tulisan filsafat modern hanya membicarakan pernak-pernik kehidupan para filosofnya, tidak membahas pemikiran mereka. Semoga bermanfaat.

Peleceh Orang
Schopenhauer menyebut dirinya sendiri “peleceh orang”. Kesukaannya mengeluhkan dunia yang bodoh dan kesengsaraan manusia menjengkelkan ibunya sendiri. Ia adalah orang yang mudah curiga pada lingkungannya. Ia selalu menyimpan senjata di kamar tidurnya, menyembunyikan hartanya, tak pernah mau dicukur orang, karena takut lehernya digorok.
Suatu kali dia memukul seorang wanita penjahit karena celotehannya menyinggungnya, hingga wanita itu sakit sepanjang hidupnya. Ia juga cekcok dengan penerbitnya. Maka itu ia menyendiri di Frankfurt dan hanya berteman dengan pudel-pudelnya.