Wilayatul Faqih dalam Perspektif Ayatullah Behjat


Untuk mengenang arwah agung Ayatullah Uzhma Muhammad Taqi Behjat, pada kesempatan ini kami menurunkan sebuah tulisan tentang satu sisi dari sekian banyak sisi kehidupan arif besar ini, yaitu konsep Wilayatul Faqih. Apakah ia bersikap pro atau kontra dalam menanggapi sistem pemerintahan yang sudah dimplementasikan dalam kancah kehidupan sosial di Iran ini?

Secara ringkas dapat diklaim, Ayatullah Behjat memiliki pandangan yang positif terhadap konsep ini. Berbeda dengan ulama-ulama besar yang seperingkat dengan dirinya di Hauzah Ilmiah Qom, ia berangkat ke kota suci Najaf Asyraf pada periode Masyruteh II. Dalam pelancongan ini, ia banyak berjumpa dengan para tokoh Gerakan Masyruteh. Banyak juga statemen-statemen bernilai historis yang ia nukil dari mulut mereka. Baca entri selengkapnya »

Wiladah Imam Ali al-Hadi as

Tanggal 15 Dzulhijjah (2 Desember untuk tahun 2009), dalam almanak Islam, merupakan hari kelahiran khalifah Rasulullah yang ke-10, yakni Imam Ali al-Hadi (salam atasnya). Beliau hidup sezaman Mutawakkil dari klan Abbasiyah. Meski kekhalifahan (de jure) beliau cukup singkat, Imam Ali Hadi mewariskan “karya-karya” spiritual yang lestari seperti al-Ziarah al-Jamiah al-Kabirah yang kandungannya sangat berharga untuk dipelajari dan dihayati. Demi mengambil berkah dari kehidupannya kami kutipkan tiga hadis dari Imam Ali al-Hadi as sebagai berikut.

1. “Salah satu yang membuat Allah marah adalah hamba yang terus-menerus bermaksiat dan mengharap ampunan kepada Allah.”

2. “Sesungguhnya Allah menjadikan dunia sebagai tempat ujian dan akhirat sebagai tempat balasan, Allah menjadikan ujian dunia sebagai sebab meraih pahala akhirat dan pahala akhirat sebagai pengganti dari ujian dunia.”

3. “Dunia ibarat pasar. Satu kaum akan mengambil keuntungan dan yang lain merugi.”

Lebih jauh tentang Imam Ali al-Hadi, silakan rujuk buku ini:

In Memoriam Imam Muhammad al-Baqir as

Dalam sejarah Islam, tanggal 7 Dzulhijjah adalah tanggal wafatnya Khalifah Muslim yang ke-5, yakni Imam Muhammad al-Baqir, putra Imam Ali Zainal Abidin, putra Husain bin Ali bin Abi Thalib. Seperti kita tahu, Imam Ali al-Murtadha adalah suami Sayidah Fathimah az-Zahra binti Nabi saw. Banyak petuah dari Imam al-Baqir yang disampaikan kepada para pengikut dan pecintanya yang bisa menjadi bahan koreksi-diri kepada kaum Muslim sejauhmana mereka mencintai dan mengikuti jejak langkah Nabi dan keluarganya. Berikut sebagian petikan nasehat beliau.


1. “Bertakwalah kepada Allah Swt. Pengikut kami adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dan memberikan ketaatan kepada-Nya.” (Al-Kâfî 2:74)
2. “Jangan kalian mengambil sembarang pendapat. Demi Allah, pengikut kami adalah orang yang taat kepada Allah Swt.” (Al-Kâfî 2:73) Baca entri selengkapnya »

Sutan Takdir Alisyahbana dan Pemikiran Kebudayaannya

sta.jpg

Abdul Hadi W. M.
(Budayawan-Sastrawan Islam, Dosen ICAS-Paramadina University & UI)

Sutan Takdir Alisyahbana (STA) adalah tokoh terkemuka dan istimewa dalam sejarah kesusastraan dan pemikiran kebudayaan di Indonesia. Dia menulis puisi, novel, esai-esai sastra, kitab pengetahuan tatabahasa dan karangan-karangan ilmiah mengenai falsafah, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Tidak banyak sastrawan di negeri menguasai persoalan-persoalan falsafah dan kebudayaan sedemikian luasnya seperti STA. Tidak banyak pula cendekiawan Indonesia yang memiliki perhatian besar terhadap persoalan kesusastraan, estetika, seni dan bahasa Indonesia seperti STA. Belakangan ia sangat menaruh minat pada sejarah intelektual Islam, khususnya pemikiran Ibn Rusyd dan menjelang akhir hayatnya kepada Muhammad Iqbal. Kecenderungan ini pun sangat jarang dijumpai di kalangan teman-teman sejawatnya maupun generasi cendekiawan Indonesia di belakangnya.
STA adalah tokoh terkemuka dan istimewa dalam sejarah kesusastraan dan pemikiran kebudayaan di Indonesia. Dia menulis puisi, novel, esai-esai sastra, kitab pengetahuan tatabahasa dan karangan-karangan ilmiah mengenai falsafah, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Tidak banyak sastrawan di negeri menguasai persoalan-persoalan falsafah dan kebudayaan sedemikian luasnya seperti STA. Tidak banyak pula cendekiawan Indonesia yang memiliki perhatian besar terhadap persoalan kesusastraan, estetika, seni dan bahasa Indonesia seperti STA. Belakangan ia sangat menaruh minat pada sejarah intelektual Islam, khususnya pemikiran Ibn Rusyd dan menjelang akhir hayatnya kepada Muhammad Iqbal. Kecenderungan ini pun sangat jarang dijumpai di kalangan teman-teman sejawatnya maupun generasi cendekiawan Indonesia di belakangnya. Baca entri selengkapnya »

Ayatullah Uzhma Muhammad Ali Syahabadi (1875-1950)

PENYUCIAN jiwa dan perjuangan untuk penyempurnaannya merupakan suatu konsep Islam yang paling pokok. Al-Quran suci dalam suatu nada yang sangat unik menekankan penyucian jiwa sebagai satu-satunya jalan kepada keselamatan dan keberhasilan yang abadi.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS.91:9-10) Baca entri selengkapnya »