Berusahalah Menjadi Para Pengikut Sejati Imam Mahdi!

Moha Mahmud & H. Ali Azhim

Kita semua tahu bahwa Imam Kedua Belas (semoga Allah mempercepat kehadirannya) sudah hidup lebih dari 1177 tahun dan tetap dalam kegaiban. Beliau tidak akan hadir secara fisik dalam kehidupan kita sampai kita siap? Apakah yang tengah kita lakukan itu salah sehingga Imam tetap dalam kegaiban dan tidak dapat dilihat dalam kehidupan kita?

Sekalipun Imam Mahdi berada dalam kegaiban, sesungguhnya beliau tidak melupakan dan mengabaikan kita. Kegaibannya tidak berarti bahwa ia hidup di sebuah yang terisolasi, jauh dari pemukiman. Imam kita bersama para pengikutnya dan kaum mukmin setiap kali mereka menyerunya. Inilah keyakinan dasar Islam Syi’ah—bahwa Imam kita memiliki kemampuan untuk menolong para pengikutnya ketika mereka meminta pertolongan, baik mereka ada di Melbourne, London, Toronto ataupun tempat-tempat lainnya. Dia tersembunyi dari pandangan kita, tetapi sangat awas dengan kondisi-kondisi kita. Kita bisa mengambil manfaat dari keberadaannya sebagaimana manusia mengambil manfaat dari matahari ketika ia tersembunyi d balik awan gemawan. Kita bisa mengeluhkan segenap kesulitan kita kepadanya. Dalam setiap langkah, kita bisa mengadukan kepadanya melalui permohonan pertolongan kita. Siapapun bisa menemukan ribuan peristiwa dalam kitab-kitab sejarah terpercaya ketika orang-orang menyeru kepadanya meminta pertolongan dan dia datang menolong mereka.

Kita sebagai muslim Syi’ah semestinya memiliki hubungan tulus dengan Imam Zaman kita selama kegaibannya. Hati dan jiwa kita semestinya dipenuhi kecintaan dan kasih saying kepadanya. Pemikiran kita seyogianya dicurahkan untuk melayaninya, dan keinginan kita semestinya adalah bertemu dengannya. Doa-doa kita semestinya berupa permohonan rahmat Allah untuk dicurahkan kepada  Imam Mahdi, dan permohonan kita demi keselamatannya. Keberadaannya semestinya hidup dalam satu kesatuan dan kehidupan kita dinyalakan dengan kecintaan kepadanya.

Menanti Imam Mahdi

Kita memiliki keyakinan kokoh bahwa suatu hari nanti Imam Mahdi akan hadir kembali dengan perintah dan izin-Nya. Menanti dan menyiapkan kemunculannya merupakan salah satu tugas utama seorang muslim Syi’ah hari ini. Karena itu, kita harus berusaha memperoleh kemampuan dan manfaat untuk menjadi sahabat istimewa beliau ketika hadir kembali. Siapapun yang menantikan dan mempersiapkan dirinya demi kemunculan kembali Imam mesti memiliki karakteristik dan keutamaan seperti para sahabat Imam Mahdi. Dia pun harus siap mengorbankan jiwa dan hartanya di jalannya. Karena alasan ini, Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Siapa saja yang menantikan al-Qaim kami laksana orang yang mengorbankan darahnya sendiri di jalan Allah.” Benar, dia yang benar-benar siap dem Imam Mahdi menjadi laksana seorang syahid di jalan Allah. Apakah kita mengetahui siapakah orang-orang yang mengharapkan kemunculannya? Apakah kita menantikah janji Allah akan hujah-Nya dengan cara yang sama sebagaimana kita menanti kepulangan kekasih kita dari sebuah perjalanan?

Dalam riwayat lain, Imam Shadiq as meriwayatkan kebaikan para sahabat Imam Mahdi, “Jika seseorang menginginkan dirinya sebagai termasuk dari para sahabat al-Qaim, dia harus menantinya dan harus bertindak dengan perilaku yang baik dan kerendahan hati. Jika ia meninggal, sebelum munculnya al-Qaim, ia akan diberi pahala seperti orang yang telah mengikutinya. Kemudian bertindaklah secara cermat, dan nantikanlah, bahwa upaya dan penantian ini akan memberikan kenikmatan, wahai orang-orang telah menemukan keselamatan.”

Namun pendekatan kita terhadap loyalitas yang menjanjikan atas Juruselamat yang ditunggu tetap bermasalah. Kita lalai untuk membangun tanggung jawab kita terhadap dia. Kita dapat membangun hubungan pribadi dengan Imam kita dan memperkuat kesetiaan kitanya dengan banyak cara untuk menyucikan jiwa kita dengan menjadi hamba Allah dan khalifah-Nya yang sejati.

Doa dan Permohonan bagi Imam Mahdi

Menunggu Imam secara aktif haruslah menjadi tujuan utama kita, yang dapat dicapai melalui doa, salat, permohonan, dan bacaan al-Quran. Berikut adalah beberapa tindakan ibadah yang dapat kita lakukan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah dan memperkuat kesetiaan kita kepada Imam:

Pertama, seyogianya kita membaca doa ‘Ahd selama 40 hari. Tentang ini, Imam Ja’far Shadiq as telah menyatakan,. “Siapa saja yang mendaras doa ini selama empat puluh hari setelah salat subuh, ia akan termasuk di antara pembantu Imam Mahdi. Seandainya dia meninggal sebelum munculnya kembali Imam, Allah akan membangkitkannya dari kubur agar pembaca doa itu tampil bersama kepada Imam.”

Kedua, seyogianya kita harus membaca 50 ayat al-Quran setiap harinya dan menghadiahkan pahala bacaannya kepada Imam Mahdi. Hal ini adalah amal perbuatan yang sangat dianjurkan sebagai sarana memperkuat hubungan kita dengan Imam kita. Namun sebagian ulama menyarankan, dalam konteks Indonesia, lima hingga sepuluh ayat berikut terjemahannya dihayati sudah memadai.

Ketiga, mengirimkan salawat kepada Nabi saw dan keluarganya. Sayyid Ibnu Thawus menulis dalam Jamal al-Usbu, “Di antara tugas hari Kamis adalah dianjurkan untuk mengirimkan salawat kepada Nabi (dan Ahlulbaitnya) seribu kali, dan disarankan agar orang berdoa, Allumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad wa ‘ajjil farajahum, wa ahlik ‘adduwwahum, minal jinnati wa al-nas, minal awwalina wa al-akhirin. Ya Allah, memberkati Muhammad dan keluarga Muhammad , dan mempercepat kemunculan kembali mereka. Dan menghancurkan musuh-musuh mereka, dari jin dan manusia, dari yang pertama dan terakhir “.

Tugas Lainnya Selama Kegaiban Imam

Jika kita telaah dan melihat kembali kehidupan pengikut setia para Imam Suci sebelum Imam Kedua Belas, dan mempertimbangkan pengorbanan mereka tanpa ragu-ragu, kita akan segera menyadari di mana kita telah melakukan kesalahan dan bagaimana kita dapat memperbaiki. Kita bukan Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, atau Malik al-Asytar (para pengikut sejati Imam Ali), bukan pula kami Maytsam al-Tammar, yang tidak pernah berhenti memuji Imam Ali. Meskipun kita orang-orang mukmin dan menganggap diri kita pengikut Imam, sayangnya kita tidak memiliki sifat-sifat yang dibutuhkan dari orang seperti itu dan perlu bekerja keras untuk menjadi lebih seperti contoh-contoh yang diriwayatkan kepada kita. Demikian pula, kita bukan para syuhada Karbala, yang dengan cinta dan kasih sayang berjuang dengan cara membela Imam Zaman mereka (Imam Husain) dan akhirnya syahid. Kita enggan untuk memberikan kekayaan, kehidupan, waktu kita dan sarana-sarana lain di jalan Imam kita, jadi bagaimana kita bisa menyebut diri kita pengikut sejati?

Ada beberapa tugas dan kewajibang yang harus kita lakukan sembari menunggu munculnya kembali Imam Kedua Belas membuktikan bahwa kita adalah pengikut sejati beliau, dan untuk mempersiapkan diri saat beliau muncul:

Bersiaplah untuk kemunculannya. Langkah utama bagai keselamatan adalah untuk mengenali Imam Zaman, yang begitu penting sehingga dalam tradisi Nabi saw kita membaca: “Barangsiapa yang mati tanpa mengenal Imam Zamannya seperti orang yang mati di zaman jahiliah (masa sebelum kedatangan Islam).” Mati di zaman jahiliah berarti kematian yang kosong dari Islam dan iman. Adalah jelas bahwa orang yang mati tanpa mengenal Imam zamannya dihitung sebagai kelompok yang tidak beriman. Oleh karena itu, kita harus mengenal Imam Zaman demi Islam dan iman kita dan agar kita dapat dikenal sebagai orang-orang yang memperoleh keselamatan dan termasuk di antara umat beriman.

Ucapkan doa untuk keselamatan dan kesuksesan baginya setiap hari dan berdoalah untuk kemunculannya kembali. Salah satu doa faraj yang dianjurkan adalah doa yang diawali dengan “Allahumma kun …”

Kita harus mencari jalan untuk melestarikan dan memelihara Islam yang hakiki. Ini dapat dengan cara yang terbuka bagi kita, misalnya dengan menulis buku, artikel, menerjemahkanya, menyelenggarakan lokakarya, belajar secara pribadi, mengajar, berbagi informasi yang akurat, berbicara dengan orang lain dan lain-lain.

Sama seperti kita memberi sedekah (shadaqah) ketika seorang anggota keluarga bepergian atau melakukan tugas penting untuk memberikan keselamatan dan keberhasilan, kita pun harus melakukan hal yang sama untuk Imam kita dengan maksud bahwa kita memberikan sedekah demi keselamatan dan perlindungan Imam. Ini bukan karena ia membutuhkannya, melainkan untuk menunjukkan kesetiaan dan cinta kita kepadanya.

Kita harus selalu berusaha menyempurnakan diri kita sendiri dalam moral dan etika kita, dan membimbing teman-teman dan kerabat kita. Kita tidak boleh lupa untuk melakukan amal makruf nahi mungkar karena ini adalah fondasi dari setiap masyarakat muslim.

Kesimpulannya, kita sampai pada kesadaran bahwa kita memiliki Imam yang hidup yang membutuhkan dukungan, yang mencintai kita dengan tulus, dan yang masih menganggap kita semua sebagai pengikutnya meskipun kita jauh dari apa yang dilakukan oleh Hurr untuk Imam Husain as. Kita harus sangat bersyukur kepada Allah jika beberapa kebajikan yang diketahui dari sahabat Imam Mahdi ditemukan di dalam kita, dan kita harus berdoa untuk perbaikan mereka dan perbaikan setiap hari. Jika karakteristik ini tidak ditemukan di dalam kita, kita harus berdoalah kepada Allah bahwa Dia menghiasi kita dengan sifat-sifat ini dan bahwa tindakan kita dan perilaku kita juga akan mewakili kebenaran klaim kita. Setelah semua ini, kita akan mampu untuk mengorbankan jiwa kita yang tidak berharga, dan, insya Allah, kita akan mampu menyongsong Imam kita, Imam Mahdi, dengan penuh martabat dan kemuliaan.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: