Filsafat Sendiri

MAHASISWA kita ini melancong keluar negeri. Bukan untuk main-main tentunya. Tetapi untuk melakukan studi banding atas pelajaran-pelajaran yang diterimanya di kampus. Mahasiswa kita ini, entah karena apa, sangat tertarik untuk mempelajari pemikiran para filsuf Barat. Beberapa alasan bisa bisa kita cari. Barangkali karena dia memang terpesona dengan pemikiran Barat, atau karena dia merasa inferior dengan keilmuan bangsanya sendiri. Semoga bukan karena keduanya.
Pertama kali tiba, ia menikmati daerah asing dan berjalan-jalan layaknya seorang turis. Foto kanan-kiri, berdecak kagum setiap kali melihat pemandangan yang selama ini hanya bisa ia nikmati lewat TV. Dengan agak malu, kita harus akui, kelakukan mahasiswa kita ini memang cukup ndeso,
Di sebuah universitas, ia menemui seorang Profesor filsafat. Ia kemukakan tentang ketertarikannya mempelajari pemikiran filsafat Barat.
“Bagus sekali,” jawab Profesor itu. “Tapi kenapa Anda tidak mempelajari filsafat Indonesia? Bukankah itu lebih menarik dan sesuai dengan konteks kehidupan kalian sendiri?”
“Itu dia masalahnya, Prof, ” mahasiswa kita menjawab. “Bangsa kami semula tidak punya masalah genting. Tapi dari Baratlah bangsa kami mendapat banyak masalah: modernisasi, liberalisasi, sekularisasi, kolonialisasi. Maka saya harus mempelajari filsafat Barat untuk mengatasi masalah-masalah brengsek dari bangsa Anda itu, Prof.”

(Si Buta dari Gua Plato, hal.153-154)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: