Harga Kecintaan pada Ahlulbait as

Seseorang datang mengeluh pada Imam Ali as.

Ia mengadu karena kemiskinannya. Imam menjawab: “Tidak, kamu orang kaya.”
Ia bertanya: “Bagaimana mungkin Ya Imam, sedang aku tidak punya apa-apa”.

Imam(as) berkata: “Kecintaanmu kepada kami Ahlul Bait(as). Maukah kau tukar cintamu dengan seratus dirham?”
Ia menjawab: “Tidak ya Imam.”. “Seribu Dirham?”.
“Tidak ya Imam…”.
“Sepuluh ribu dirham…?”.
“Tidak akan pernah Ya Imam…”.

Imam tersenyum dan berkata: “Lalu, bagaimana mungkin kau berkata kau tidak punya apa-apa ??”.

-Ya Allah Ya Rasul Allah,takkan kami tukar kecintaan ini dengan apa pun hingga akhir hayat kami.
(dari berbagai sumber)

Iklan

Karl Marx ke Madura

Karl Marx mengunjungi Madura. Ia tertarik dengan kehidupan rakyat di sana. Bagaimana kondisi perekonomian Madura, kesejahteraan masyarakat kecil yang unik di dalamnya. Marx sebenarnya penasaran ingin melihat kaum proletar di sana setelah dibangunnya (jembatan) Suramadu.
Malam pertama di Madura, Marx ingin menikmati sate spesial ala Madura. Pesanan segera datang. Melihat besarnya sate tersebut, Marx terkagum-kagum. Setelah selesai makan, ia bertanya kepada pelayan,”Sate itu dari daging apa tadi? Rasanya kok enak sekali.”
Pelayan menjawab bahwa itu adalah daging sapi yang mati saat bertanding karapan sapi. Mendengar itu, Marx merasa mual perutnya. Tapi karena enak, ia pikir tidak apa-apa.
Esok malamnya, Karl Marx mampir untuk menikmati sate lagi. Tapi kali ini satenya tidak sebesar yang kemarin. Rasanya tidak kalah enak. Namun Marx penasaran mengapa satenya jadi lebih kecil.
“Mas, kenapa sate yang sekarang lebih kecil dari yang kemarin malam?” tanya Marx.
“Oh,” jawab pelayan, “Soalnya dalam karapan hari ini, yang mati adalah penunggangnya.”
(Rif’an Anwar, Si Buta dari Gua Plato,(Kanisius: Yogyakarta, 2011),hal.155.