Ayatullah Mazhahiri: Ketenangan Abadi Hanya dengan Mengingat Allah


“Kawula muda masa kini, lantaran telah menjauhkan diri dari Allah, telah direnggut oleh muslihat cinta palsu. Ini adalah sebuah penyakit yang tidak dapat diobati. Mereka siap mengorbankan agama, harga diri, dan seluruh harta milik mereka hanya demi merenggut sebuah cinta palsu. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki Allah. Tapi, apabila seorang pemuda merasa memiliki Allah dan Dia bersemayam dalam relung hatinya, niscaya ia pasti dapat menguasai diri,” begitu pesan Ayatullah Mazhahiri dalam sebuah frase kuliah akhlak ini.
Pada kesempatan ini, kita akan mengikuti seluruh wejangan akhlak yang telah disampaikan oleh marja’ agung dunia Mazhab Syiah ini.

Bismillahirrahanirrahim
“Ya Allah! Lapangkanlah dadaku. Mudahkanlah urusanku. Uraikanlah kekeluan lidahku supaya mereka dapat memahami ucapanku.”

Ketenangan Abadi dengan Mengingat Allah

Bulan Rajab adalah bulan Allah. Bulan Sya’ban adalah bulan Rasulullah saw. Dan bulan Ramadhan adalah bulan untuk umat Rasulullah saw.

Dalam tiga bulan ini kita harus berusaha sekuat tenaga guna mewujudkan hubungan naluri yang mesra dengan Allah Tuhan kita.

Jika seorang hamba tidak memiliki hubungan naluri yang mesra dengan Tuhannya, niscaya ia akan terjerumus di dunia ini dan juga di akhirat kelak. Ia tidak akan menemukan jalan keselamatan apapun. Hubungan naluri yang terlaksana dengan jalan mengakrabkan diri dengan Al-Quran, doa, dan tawasul dapat menyelamatkan manusia dari kesedihan, kelemahan saraf, dan seluruh problematika kehidupan sehari-hari.

Begitu pula, hal ini akan mengantarkan manusia kepada suatu posisi dimana ketika ia membaca Al-Quran niscaya ia akan memahami bahwa Allah sedang berbicara dengan dirinya. Ketika ia beristighfar dan berdoa di tengah malam, ia memahami bahwa ia sedang berbicara dengan Allah.

Al-Quran adalah kalam yang turun dan doa adalah kalam yang naik. Kedua jenis dialog ini adalah dialog dengan Allah.

Shalat adalah satu jenis dialog dengan Allah. Ketika membaca surah Al-Fatihah dan surah yang lain, Allah sedang berbicara dengan kita. Dan ketika membaca zikir-zikir yang lain, kita sedang berbicara dengan Allah.

Dialog seperti ini bagi ahli makrifat adalah curahan cinta kasih (mu’asyaqah). Kenikmatan tertinggi bagi mereka di tengah malam adalah bercinta kasih dan berdialog dengan Allah melalui shalat malam dan membaca Al-Quran. “Dua rakaat di pertengahan malam lebih saya cintai dibandingkan dengan dunia dan segala isinya.” Begitu tegas sebuah hadis. (Wasa’il Al-Syi’ah, jld. 8, hlm. 156)

Para wali Allah rela menendang dunia dan seluruh isinya hanya supaya mereka dapat mengerjakan dua rakaat shalat malam. Dalam pandangan mereka, dunia ini tidak memiliki nilai. Dunia hanyalah sebuah perantara untuk menaiki tangga kesempurnaan. Oleh karena itu, mereka tidak sedikit pun menaruh hati terhadap dunia dan segala sesuatu yang berbau duniawi. Kalbu mereka hanya tertancap kepada Allah.

Jiwa Tenteram Lantaran Hubungan Naluri Ilahi

Para wali Allah membaca Al-Quran, mengerjakan shalat, beristighfar, dan berdoa. Dalam setiap kondisi ini, ia menikmati kenikmatan tertinggi dari curahan cinta kasih ini. Hubungan naluri dengan Allah dapat mewujudkan jiwa yang tenang dalam diri setiap orang. “Ingatlah! Para wali Allah tidak pernah takut dan tidak pula bersedih hati.” (QS. Yunus : 62)

Mereka yang memiliki hubungan naluri dengan Allah tidak akan pernah sedih, gundah, dan gulana. Mereka tidak sedih dengan masa lalu dan juga tidak merasa gundah dalam menghadapi masa depan, karena mereka merasa memiliki Allah. Hanya mereka yang tidak memiliki Allah selalu dirundung kesedihan.

Dunia ini dipenuhi oleh kesedihan, kegundahan, kekhawatiran, dan perbedaan-perbedaan yang yang mengancam setiap anggota keluarga dan masyarakat. Sayangnya, kekhawatiran dan kegundahan ini telah menjerumuskan sebagian orang ke dalam jurang dosa. Mereka yang bodol dan lengah, guna menghilangkan segala bentuk kekhawatiran dan menggapai ketenangan sementara, membiasakan diri dengan minuman-minuman keras dan memabokkan. Tapi sebagian yang lain hanya menanggung kehidupan yang penuh dengan kegundahan ini hingga ajal menjemput mereka.

Ketenangan Kalbu di Bawah Naungan Ilahi

Umat manusia telah kehilangan jalan. Mereka telah ditimpa oleh kekhawatiran yang menumpuk-tumpuk. Mereka tidak pernah menemukan tempat berlindung yang aman di dunia ini. Mereka tidak memahami bahwa satu-satunya tempat perlindungan bagi manusia hanyalah Allah. Mengingat-Nya dapat menenangkan dan menenteramkan setiap hati yang gundah dan gulana. “Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah hati bisa tenteram.” (QS. Al-Ra’d : 26)

Ketenangan mutlak dan ketenteraman yang abadi hanya dapat diperoleh dengan membentuk hubungan dengan Allah. Mengingat Allah kadang-kadang dapat dilakukan dengan membaca Al-Quran sembari disertai dengan fokus perhatian bahwa Allah sedang berbicara dengan dirinya. Dalam menjawab ucapan-Nya ini, ia berdoa dan bermunajat dengan-Nya. Perbincangan dan dialog ini dapat menghilangkan segala bentuk kesedihan dan kegundahan, serta mendatangkan ketenteraman.

Ketenteraman abadi semacam ini muncul dari sebuah jiwa yang tenang. Yakni, ketika Allah menguasai relung kalbu kita dan segala sesuatu selain-Nya telah hengkang dari kalbu kita, niscaya kalbu kita menjadi tempat Allah “bersemayam”. “Kalbu seorang mukmin adalah ‘arsy Zat Yang Maha Pengasih.” (Bihar Al-Anwar, jld. 55, hlm. 39)

Dalam sebuah hadis qudsi pernah ditegaskan, “Langit dan bumi-Ku tidak dapat menampung-Ku. Tapi kalbu hamba-Ku yang beriman dapat menampung-Ku.” (Ibid.)
Ketika kalbu kita telah menjadi ‘arsy Ilahi, maka Allah akan menguasai seluruh hati kita. Dalam kondisi seperti ini, dialog dengan Allah yang bersemayam dalam hati kita sangat menyenangkan. Untuk itu, kita serta merta selalu mencari kesempatan untuk bercinta kasih dengan Allah.

Kelezatan Munajat dengan Allah

Ketika kita mencintai seseorang, maka kita selalu ingin berbicara dengannya dan mendengarkan suaranya. Sebagai contoh, ketika orang tua yang sangat mencintai anak kecil mereka berbicara dengannya, alangkah bahagianya sang anak ini. Mereka yang telah mencicipi kecintaan kepada Allah dan Allah menempati hati mereka, niscaya mereka akan selalu bahagia ketika berbicara dengan-Nya.

Ketika bermunajat dan berdoa kepada Allah saw, Ahlul Bait Rasulullah saw selalu tak sadarkan diri dan perhatian mereka hanya terfokus kepada-Nya sehingga mereka tidak memperhatikan kondisi sekitar.

Amirul Mukminin Ali as mengerjakan shalat dan selalu tak sadarkan diri. Dalam doa Kumail, ia melontarkan seluruh kekurangan dan kerendahan hati di haribaan Sang Ilahi Rabbi. Ia telah terlebur dalam alam kemanunggalan dan telah melupakan seluruh alam kemajemukan.

Imam Sajjad as melantunkan doa Abu Hamzah Tsumali dan menikmati seluruh kenikmatan duniawi dan ukhrawi di dalamnya.

Ketika Allah telah menguasai kalbu seseorang, niscaya ia akan mencintai-Nya dengan sepenuh hati. Kenikmatan teragung bagi seorang pecinta adalah ketika ia dapat berdialog bebas dengan kekasihnya. Kelezatan yang lebih tinggi dari itu adalah ketika sang kekasih memberikan perhatian terhadap seluruh ucapan yang diucapkan sang kekasih. Dan kelezatan yang lebih tinggi lagi dari itu semua adalah ketika sang kekasih berbicara dengannya.

Jika kita mencintai Allah seperti kita mencintai anak kita, niscaya kita akan merasa bahagia apabila kita berbicara dengan-Nya dan ketika Dia berbicara dengan kita. Jika kecintaan seperti sudah tercipta, maka tidak mungkin kita meninggalkan shalat malam dan tidur lelap di waktu sahar.

Musibah terbesar bagi kita adalah ketika kita sudah merasa bosan dengan munajat kepada Allah. Nabi Musa as berangkat untuk bermunajat kepada Allah. Salah seorang hamba pendosa berpesan kepadanya, “Sampaikan pesanku ini kepada Allah; berapa banyak dosa yang harus kulakukan dan Engkau tidak menyiksaku?” Nabi Musa as pergi dan bermunajat kepada Allah. Ketika hendak pulang, datang panggilan dari sisi Allah, “Mengapa engkau tidak menyampaikan pesan hamba-Ku itu?” “Ya Tuhanku! Engkau lebih mengetahui apa yang telah diucapkan oleh pendosa itu,” jawab Musa pendek.

Allah menjawab, “Katakanlah kepada hamba itu bahwa Aku telah menurunkan bala yang terbesar kepadanya. Tapi ia tidak menyadarinya. Bala dan petakamu adalah kamu tidak pernah dapat merasakan kelezatan bermunajat kepada-Ku dan kamu tidak menyadari petaka ini.”

Shalat Hakiki dan Pertolongan Ilahi

Betapa banyak masyarakat kita bercengkerama dari awal hingga akhir malam tanpa ada guna. Mereka menonton film-film di televisi dan menghabiskan waktu dengan sia-sia. Malah mereka juga tidak tergerak hati untuk mengerjakan shalat di awal waktu, apalagi mengerjakan shalat malam. Mereka tidak sadar bahwa shalat adalah sebuah hubungan naluri dengan Allah. Mereka hanya mengerjakan shalat dengan terpaksa. Mereka mengerjakan shalat untuk membebaskan diri dari kekang taklif dan menyelamatkan diri dari api neraka.

Shalat ahli makrifat tidak untuk tujuan masuk ke dalam surga dan tidak pula untuk menyelamatkan diri dari api neraka. Shalat ini sendiri bagi mereka adalah surga. Mereka sangat menikmatinya.

Jika masyarakat kita memberikan perhatian khusus dan kecintaan kepada shalat selama waktu yang mereka perlukan untuk menonton film atau film serial, niscaya banyak problem kita terselesaikan dengan baik.

Jika shalat kita adalah sebuah shalat hakiki, maka setiap doa yang kita baca setelah mengerjakan shalat pasti terkabulkan. Mengapa banyak doa kita tidak terkabulkan? Alasannya, shalat kita bukanlah shalat yang hakiki dan sejati. Shalat kita hanya untuk membebaskan diri kita dari kekang taklif atau untuk menyelamatkan diri kita dari api neraka. Shalat seperti ini jelas tidak akan mengandung doa yang pasti terkabulkan. Jika kita mengerjakan shalat hakiki dan memperhatikan seluruh adab shalat, niscaya kita tidak akan pernah bimbang dan gundah. Allah akan menuntun tangan kita dan menyelamatkan kita dari setiap jalan buntu.

“Kami pasti menolong orang-orang yang berimana.” (QS. Al-Rum : 47) “Dan begitulah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’ : 88)

Dua ayat di atas sangat pendek, tapi memiliki makna yang sangat luas. Allah sangat mencintai seluruh makhluk-Nya lebih dari kecintaan 70 orang tua terhadap anak mereka. Tapi sayangnya, kecintaan Allah ini hanya bersifat satu arah. Bukti bahwa umat manusia tidak mencintai Allah adalah mereka masih berani berbuat dosa dan mereka tidak mengerjakan shalat dengan sesungguhnya.

Kesempatan Menjadi Manusia Sejati

Bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan adalah tiga bulan kesempatan untuk membangun diri. Tiga bulan ini berlalu dan kita sudah harus berhasil membangun diri. Bagaimana caranya? Ketika kita sedang mengerjakan shalat, kita harus pahami bahwa Allah sedang berbicara dengan kita. Inilah arti kehadiran kalbu. Kita harus memahami perhatian Allah dalam shalat sehingga kita tidak bisa berpisah dari mengingat-Nya. Kita juga tidak bisa menyelesaikan shalat lantaran kita tahu perhatian Allah kepada kita.

Ketika kita tidak berhasil merenggut kecintaan Allah dan hati kita terkosongkan dari keberadaan-Nya, mau tidak mau orang lain yang akan memenuhi hati kita. Akibatnya, kita akan terbawan arus cinta palsu. Jika kita tidak bisa tidur dan tidak memiliki makanan sebagai ganti dari shalat malam, maka kita akan kebingungan kesana kemari. Akibatnya tidak lain adalah kesengsaraan.

Kawula muda masa kini, lantaran menjauhkan diri dari Allah, telah tertimpa oleh cinta palsu. Jelas, ini adalah sebuah penyakit yang sulit diobati. Mereka bersedia mengorbankan harga diri dan seluruh harta milik demi cinta ini. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki Allah.

Jika seorang pemuda senantiasa bersama Allah dan Allah telah menguasai relung kalbunya, niscaya hatinya akan senantiasa hadir. Di separuh shalat, Allah berbicara dengannya dan di separuh yang lain, ia berbicara dengan-Nya. Ia tidak rela menghentikan dialog manis ini. Ia senantiasa mencari celah dan membaca zikir supaya shalatnya tidak pernah berakhir. Ia selalu berusaha memperpanjang ruku’, sujud, dan qunut semampu kekuatannya hanya untuk berdialog dengan Allah.

Alangkah bahagianya mereka yang tidak terjerat oleh kesibukan-kesibukan duniawi lantaran mereka telah menyibukkan diri dengan zikir dan shalat. Seluruh tali yang menjerat kehidupan mereka terurai. Lebih dari itu, mereka tidak pernah berhadapan dengan tali penjerat sehingga harus terurai. Mereka tidak memiliki harta kekayaan dan fasilitas material. Tapi, mereka memiliki sebuah kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan ketenteraman, karena Allah telah menguasai kalbu mereka sehingga kehendak mereka adalah kehendak Allah.

Dalam sebuah syair dinyatakan,
“Seseorang menghendaki penyakit, yang lain menginginkan obat.
Seseorang ingin berjumpa, yang lain ingin berpisah.
Dalam penyakit, obat, perjumpaan, dan perpisahan ini, aku hanya menghendaki apa yang Dia kehendaki.”

Jika sudah demikian, Allah akan menganugerahkan maqam terpuji kepadanya. Bagaimana? Ia akan memandang segala sesuatu sebagai haribaan Ilahi dan ia berdialog dengan-Nya di haribaan ini.

Akrab dengan Al-Quran, Doa, dan Tawasul

Saya berharap kalian mengakrabkan diri dengan Al-Quran. Bacalah Al-Quran, khususnya di pertengahan malam. Banyak petaka yang menimpa sebuah rumah lantaran Al-Quran terusir dari rumah ini. Jika Al-Quran sudah dilupakan dalam sebuah rumah, niscaya Allah juga terlalaikan. Ketika Allah telah terlalaikan, maka rumah dan kehidupan ini menjadi gelap gulita tak bercahaya.

Harapan saya yang lain adalah akrablah dengan doa. Lantunkanlah doa selalu. Jangan hanya mencukupkan diri dengan hanya membaca Doa Kumail di malam Jumat dan Doa Nudbah di pagi hari Jumat. Sertakanlah doa selalu dalam setiap langkah kalian, karena Allah sangat dekat dan cepat mengabulkan setiap doa.
“Sesungguhnya Allah menjadi pemisah antara seseorang dan kalbunya.” (QS. Al-Anfal : 24)

“Jika hamba-Ku menanyakan kepadamu tentang diri-Ku, maka katakanlah bahwa sesungguhnya Aku sangat dekat. Aku mengabulkan seruan penyeru apabila ia menyeruku. Maka hendaknya mereka terima (ajakan)-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga mereka memperoleh petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Semua ini dapat kita lakukan dengan mengerjakan shalat dan berdoa, khususnya bertawasul. Hubungan naluri dengan Allah memerlukan tawasul.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah perantara untuk menuju kepada-Nya.” (QS. Al-Ma’idah : 35)

Doa adalah ucapan yang naik ke atas. Perantara anugerah (faidh) Ilahi harus mengantarkan ucapan ini ke atas. Perantara anugerah adalah Ahlul Bait as. Pada masa kita sekarang ini, perantara anugerah Ilahi ini adalah Imam Zaman as.

Bertawasul kepada Ahlul Bait as akan lebih mendekatkan hati kita kepada alam malakut. Jika kecintaan kepada Imam Mahdi as tertanam tegar dalam relung kalbu kita, niscaya kita pasti dapat mengenalnya dengan baik. Melalui perantaranya, kita dapat mewujudkan hubungan naluri dengan Allah. Dalam kondisi seperti ini, kita akan menemukan maqam syuhud dan tidak perlu lagi kita mencari jalan untuk berjumpa dengan Imam Zaman as, karena kita senantiasa berada di haribaannya—semoga jiwa kita menjadi tebusannya.
(Sumber: http://www.shabestan.net/id/pages/?cid=5576)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: