Antara Yang Baik dan Yang Terbaik

Imam Ali as berkata, “Tidak ada yang dapat menggantikan akhirat, dan kehidupan
ini tidak sebanding untuk kita tukarkan”
(Ghurar al-Hikam) Sering kali kita
menjual “diri” kita dengan murah. Apalagi sebagai orang Islam yang
lebih sering berkehidupan di tengah-tengah maraknya kebudayaan dunia Barat,
yang hampir semua hal masih patut untuk kita pertanyakan terlebih dahulu
apakah halal atau tidak (baik itu makanan, entertainment, suasana dan lingkungan
sekitarnya ataupun hal lainnya), tapi tetap saja kita sudah terbiasa untuk tetap
melakukannya dengan mudah.

Ajaran Islam hampir selalu menitikberatkan pada hal peperangan dengan hawa
nafsu kita. Bahkan kita diajarkan bahwa hal tersebut merupakan perperangan yang
paling berat bagi setiap manusia. Karena itu, sangatlah penting agar kita
senantiasa selalu mengambil keputsan-keputusan yang sifatnya dapat membantu diri
kita untuk melalui cobaan hidup ini. Lebih lagi terhadap hal-hal yang menyangkut
godaan-godaan duniawi sehingga pada akhirnya kita dapat menuju kepada penguasaan
terhadap diri kita sendiri.

Seringkali kita dengan mudahnya melakukan hal-hal yang baru-baru saja dicap
halal. Bahkan, begitu kita mendengarkan bahwa hal yang bersangkutan dinyatakan
halal (tidak dilarang), saat itu juga kita langsung melakukannya, tanpa terlebih
dahulu memikirkan: “Ya, memang hal itu tidak dilarang, tapi apakah hal tersebut
merupakan hal terbaik untuk saya lakukan saat ini? Dan apakah hal tersebut akan
membawa diri saya lebih dekat kepada Allah Swt ataukah sebaliknya?”

Seseorang pernah mendatangi Khalifah Keenam Muslimin, Imam Jafar Shadiq as dan
menanyakan, “Wahai Imam, aku ingin membangun sebuah rumah yang besar, apa
pendapat Anda terhadap hal ini?” Sang Imam menjawab, “Walaupun tidak ada
larangan terhadap hal itu, seorang mukmin seharusnya tidak punya waktu untuk
hal-hal seperti itu.” Cukup jelas apa yang dikatakan Sang Imam, bahwa untuk
membangun sebuah rumah besar memang halal dan tidak dilarang, tetapi bagi
seorang mukmin yang benar, seharusnya tidak memiliki waktu untuk disia-siakan
pada hal seperti itu.

Seharusnya kita bertanya terlebih dahulu kepada diri kita sendiri…, apakah kita
sedang menjual murah diri kita hanya sekedar untuk memperoleh/mendapatkan
hal-hal yang bersifat materi dan duniawi? Apakah kita sudah tidak lagi mampu
membawa diri kita untuk menuju kepada tingkatan tertinggi sebagaimana Allah Swt
sudah sebelumnya memberikan kemampuan tersebut pada diri kita? Bukankah kita
sudah yakin bahwa keberadaan Allah Swt sebagai Sang Pencipta dari segala-galanya
adalah lebih dekat dari pada urat-nadi kita? Kenapa kita dengan mudahnya tetap
saja menjual murah diri kita sendiri…?

Melakukan dosa dapat dikatakan sebagai sebuah proses. Seseorang tidaklah dapat
dinyatakan sebagai pelaku dosa yang sudah terbiasa (apalagi menyangkut dosa-dosa
besar) hanya dari satu kali saja situasi perlakuan. Jikalau kita sudah merasa
terbiasa untuk melakukan dosa tanpa adanya rasa penyesalan, itu disebabkan
karena kita selalu membiarkan saja masuknya kesempatan bagi diri kita untuk
semakin terbawa dan bahkan hanyut. Di saat itulah diri kita sudah mulai rasa
nyaman untuk tidak lagi harus berusaha mengejar yang “terbaik” untuk diri kita.
Perlahan-lahan kita mulai terbiasa puas dengan diri yang lebih rendah, dan
bahkan bersedia untuk berkompromi pula…

Sering kali kita dengar bahwa pilihan itu selalu hanya antara yang baik dan
buruk, ataupun antara benar dan yang salah. Padahal, jika kita membuka lebar
pemikiran kita untuk berpikir secara kritis dan positif, jauh lebih bermakna
jika kita membataskan pilihan kita itu hanya kepada yang “baik” dengan yang
“terbaik”. Karena yang akan terjadi, jika kita pilih yang “baik” dengan
mengorbankan yang “terbaik”, maka diri kita akan merasa tidak lagi terdorong
untuk lebih maju, merasa cukup puas dengan keadaan di saat itu, dan bahkan rela
melepas begitu saja semua kesempatan yang datang yang dapat mambawa diri kita
menuju kepada kesempurnaan. Apakah hal ini yang sungguh-sungguh kita inginkan
bagi diri kita? Memang untuk memilih pilihan yang “terbaik” mengharuskan kita
untuk bekerja dan berusaha jauh lebih berat dibandingkan pilihan yang “baik”
saja. Akan tetapi bukankah sebagai seorang mukmin sudah meyakini bahwa jika
seseorang memperbaiki dirinya lebih dari sekedar yang baik-baik saja dalam
proses mendekatkan diri kepada Allah Swt, manfaatnya dan pahalanya jauh melebihi
dari apa yang mampu kita bayangkan…?

Ada sebuah contoh yang mungkin hampir semua dari kita telah mengalaminya
baru-baru ini. Memang belum ada satu pun fatwa Islam yang jelas-jelas melarang
kita untuk merayakan pergantian tahun baru (Masehi). Akan tetapi, bila tanggal
yang dimaksud jatuh di tengah-tengah suasana dimana kita sedang berduka dalam
atas terbunhnya Imam Husain as, apa masih merupakan pilihan terbaik untuk
tetap kita merayakan tahun baru tersebut..? Apakah ketika kita sedang berpesta
merayakan tahun baru serta saling berucap selamat atas pergantian tahun akan
membawa sebuah efek yang positif bagi kita? Ataukah bahkan menjauhkan lagi kita
dari rasa bersedih dan berkabung di saat yang harusnya kita mengenang
pengorbanan- pengorbanan Imam Husain…?

Ayatullah Dastaghaib Shirazi menyebutkan dalam bukunya Greater Sins (Dosa-dosa
Yang Lebih Besar) bahwa menurut Allamah Majlisi, terdapat empat macam ketakwaan:
1. Wara at-Ta’biri – menghindar dari perbuatan-perbuatan terlarang.
2. Wara al-Shalihin – menghindar dari perbuatan-perbuatan yang belum jelas
terlarang atau tidak, agar terhindar dari suatu kemungkinan perbuatan haram.
3. Wara al-Muttaqin – menghindar dari perbuatan-perbuatan yang hanya sekedar
tidak dilarang saja agar benar-benar terhindar dari suatu kemungkinan perbuatan
haram.
4. Wara al-Shadiqin – menghindar dari segala perbuatan yang tidak ada kaitan
dengan perolehan faedah agama agar tidak menyia-nyiakan waktu yang sangat
berharga pada perbuatan-perbuatan yang tidak membawa manfaat, meskipun
kemungkinan tidak adanya resiko perbuatan haram pada hal yang bersangkutan.

Di sinilah menjadi jelas bagi kita bahwa walaupun tidak dinyatakan wajib,
melakukan ihtiyat (mawas diri) bukan saja kepada hal-hal yang belum jelas
terlarang atau tidak, tetapi juga terhadap hal-hal yang sekedar diperbolehkan
saja justru akan meningkatkan lagi kita menuju kepada ketakwaan (kesadaran akan
Allah SWT). Keuntungan dan manfaat dari ini secara fisik maupun spiritual bagi
kita tidak lagi dapat dihitung dan tidak juga ternilaikan. Maka selanjutnya
sebelum kita akan: menikmati lagi sebuah alunan lagu/musik (nasyid), membeli
sekantung permen (tanpa memikirkan komposisi asal gelatin hewani yang terkandung
didalamnya), menunda waktu shalat sampai dengan selesai terlebih dahulu semua
pekerjaan kita, langsung bergegas lari menuju ke restoran halal yang baru saja
buka hanya sekedar karena berita yang kami dengar bahwa restoran itu adalah
halal, akan sangat lebih baik jika kita mempertimbangkan hal-hal tersebut lebih
jauh sebelum melakukannya, mengejar manfaat dan keuntngan dari menghindar saja
hal-hal terlarang, berhati-hati dan mawas diri, dan meningkatkan perbuatan-
perbuatan diri kita lebih dari sekedar yang baik-baik saja dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Allah Swt telah menciptakan manusia sebagai yang paling sempurna dari semua
makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Apa sudah pantaskah kita disebut demikian? Pada
akhirnya, keputusan-keputusan yang kita ambil dalam rangka meperbaiki diri
merupakan pilihan-pilihan milik kita sendiri, bukan milik orang lain. Apakah
sudah merupakan yang “terbaik” pilihan-pilihan yang kita ambil…? Sudahkah kita
mulai memilih hanya yang “terbaik” saja buat diri kita? Ataukah kita malah
merasa sudah cukup puas dengan tingkatan pada diri kita yang lebih rendah saja…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: