Pesan Arba’in

Khalifah Muslimin ke-11, Imam Hasan Askari as telah menyebutkan tanda seorang mukmin sebagai berikut:
(1) Mendirikan shalat sejumlah 51 Rakaat, yakni 17 rakaat shalat fardu dan 34 rakaat shalat sunnah rawatib (shalat sunnah yang mengiringi shalat fardu), yang terdiri atas: 8 rakaat sebelum shalat zuhur, 8 rakaat sebelum shalat asar, 4 rakaat setelah shalat magrib (dikerjakan dua rakaat-dua rakaat), 2 rakaat sesudah shalat isya (yang dihitung 1 rakaat) yang dikerjakan sambil duduk, 8 rakaat shalat malam (dikerjakan dua-dua), 2 rakaat shalat syafa’, dan 1 rakaat shalat witir, dan 2 rakaat sebelum shalat subuh.
(2) Ziarah Arbain
(3) Mengenakan cincin di tangan kanan
(4) Sujud di atas tanah
(5) Membaca Bismillahirrahmanirrahim secara nyaring pada waktu-waktu shalat, baik di malam maupun siang hari.
Karena segala sesuatu dikenali dengan tanda-tanda, maka itu, apabila kita ingin mengetahui seberapa banyak keimanan yang kita punyai, kita seyogianya mengenali seberapa banyak tanda-tanda di atas kita miliki. Apabila semua tanda itu ada pada kita, kita mesti bersyukur kepada Allah Swt, dan sekiranya hanya sebagian tanda yang ada, kita harus berusaha keras untuk memperoleh tanda-tanda (yang bersifat ritual tadi) itu juga. Kita semestinya melakukan semua ini selekas mungkin karena tidak ada tanda yang pasti bagi kematian seseorang
Ziarah Arbain
Ini merupakan tanda keimanan untuk menyampaikan salam kepada Imam Husain pada 20 Shafar dan menunaikan ziarah kepadanya. Imam Ja`far as telah mengajarkan Ziarah Imam Husain as pada hari Arba’in sebagai berikut. Beliau berkata, “Lakukanlah ziarah dengan cara berikut. Pada saat membaca ziarah, kiranya penting bahwa berbarengan dengan membacanya secara verbal, engkau seyogianya juga memerhatikan makna-makna yang engkau baca sehingga engkau dapat memperoleh ganjaran ziarah bersama dengan makrifat. Engkau pun harus menyadari kedudukan dan martabat dari orang yang engkau ziarahi. Apakah tujuan kesyahidan beliau? Tujuan apa yang ia terima dari kesyahidan ini? Dan apa rahasia tersebut bersama kesyahidannya yang dilimpahi dengan kesegaran dan kebakaan? Bahkan setelah empat belas abad berlalu, setiap hari dan setiap waktu, seolah-olah peristiwa tersebut baru saja terjadi.”
Kalimat berikut dari Ziarah Arbain menjelaskan tujuan kesyahidan Imam Husain:
Imam as menyeru manusia kepada Allah, Nabi, dan agama sedemikian cara sehingga beliau tidak menyisakan ruang untuk pemaafan. Beliau menyampaikan nasihat-nasihat mulia dengan cara terbaik dan pola yang paling tepat dan, ya Allah, beliau mengorban hidupnya di Jalan-Mu, sehingga beliau mampu menyelamatkan hamba-hamba-Mu dari gelombang berbahaya dari kematian kebodohan, penyimpangan, kebingungan, dan kebimbangan.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa salah satu tujuan kesyahidan Imam Husain adalah untuk menyelamatkan manusia kebodohan dan penyimpangan.
Siapa pun bisa keluar dari kebodohan melalui pendidikan. Semakin baik tingkat pendidikan, semakin orang berpotensi keluar dari penyelewengan.
Siapa pun bisa keluar dari penyimpangan melalui petunjuk dan bimbingan. Bimbingan bermakna tetap kokoh di jalan yang lurus. Ahlulbait as adalah Shirathal Mustaqim, Jalan yang Lurus. Sebanyak banyak kita mengadopsi akhlak Ahlulbait (as), semakin besar kita terbimbing. Semakin banyak kita terdidik dan terbimbing, maka semakin dekat kita bersama tujuan kesyahidan Imam Husain (as).
Terjemahan Ziarah Arbain
Berikut penggalan Ziarah Arbain sesuai dengan tujuan artikel singkat ini.
Salam sejahtera atasmu, wahai wali Allah dan kekasih-Nya. Salam sejahtera atasmu, wahai sahabat dekat Allah dan orang keistimewaan-Nya. Salam sejahtera atasmu, wahai pilihan Allah dan putra orang pilihan-Nya. Salam atas Husain yang terzalimi dan syahid. Salam atas tawanan duka nestapa dan orang yang terbunuh (demi mengucurkan) air mata.
Ya Allah sesungguhnya aku bersaksi bahwa dia adalah wali-Mu, pilihan-Mu, dan putra manusia pilihan-Mu yang telah jaya dengan kemuliaan-Mu. Engkau telah memuliakannya dengan syahadah, mengistimewakannya dengan kebahagiaan, memilihnya dengan kelahiran yang baik, menjadikannya seorang junjungan dari para junjungan, seorang pemimpin dari para pemimpin, seorang pembela (Islam) di antara para pembela, menganugerahkan kepadanya warisan para nabi dan menjadikannya sebagai dari para washi atas makhluk-Mu. Lalu dia telah berusaha sekuat tenaga dalam berdakwah, memberikan nasihat, dan mengorbankan dirinya demi menyelamatkan para hamba-Mu dari kebodohan dan kesesatan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: