Yudhoyokarta

Pada saat Presiden Barrack Obama mengutarakan keinginannya untuk kelak bisa mengunjungi Yogyakarta bersama dengan keluarganya, mungkin ini mulai menggelitik pikiran Tuan. Ketika begitu banyak bencana, termasuk Merapi yang meninggalkan duka, dikaitkan dengan kesialan diri; mungkin Tuan mulai meradang. Orang-orang mulai bosan dengan orasi datar, air muka yang menjemukan serta pembantu-pembantu Tuan yang berlaku kayak jongos kolonial; mereka memalingkan muka dan ini bencana bagi Tuan. Negeri ini boleh hancur selebur-leburnya hingga jurang dimana setiap kata tidak lagi bisa menyelamatkan, tetapi bagi Tuan citra diri tidak boleh tergores apalagi hancur. Tuan ingin menunjukkan kepada Obama nantinya bahwa Yogyakarta adalah sebuah propinsi demokratis dalam batas-batas sempit terminologi textbook. Dengan meruntuhkan kraton Yogya Tuan ingin melarung sial, menghanyutkannya lewat Kali Progo disambut Ratu Laut Selatan. Tuan ingin mengingatkan semua orang yang berpaling bahwa Tuan tidak begitu membosankan, seperti biasa Tuan suka menimbulkan kehebohan untuk menutupi kehebohan lain yang tidak terselesaikan. Skandal Krakatau Steel butuh timbunan, Tuan mengguncang kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Presiden kita yang terhormat, beliau tidak gila. Dia sehat, bahkan teramat sehat untuk membuat warga negaranya gila semua. Dia hanya tidak bisa membedakan praktek dengan teori. Tuan kita ini, terlalu sibuk memikirkan pendapat orang lain terhadap dirinya. Tuan kita ini, lucunya, sibuk membangun patung untuk mengabadikan namanya sendiri. Dia telah merencanakan semuanya dengan matang sebagaimana gaya pidatonya yang membosankan; rapi, terukur tentu dengan begitu banyak selipan bahasa Inggris. Inilah indahnya demokrasi, presiden boleh melantur semaunya, bandit parlemen memperdebatkannya dalam sandiwara yang bisa ditebak akhirnya. Dan kita termangu-mangu menyaksikan tontotan itu dengan jeda iklan mengenai kerusuhan, kematian dan bencana alam. Bagi kawan kita yang santun ini, keistimewaan Yogyakarta tidak bisa diterima oleh akal sehat. Alasannya mudah dicari, sistem seperti ini tidak ada di Amerika tempat dia biasa thawaf mendapatkan syafaat. Mungkin dia berpikir, semoga ini tidak benar, Merapi telah melemahkan Yogya saatnya pemerintah pusat menghancurkan monarki.
Tuan presiden kita ini lahir di ujung revolusi, pada masa dimana juru runding pada konferensi meja bundar tengah bertarung dalam debat tidak berkesudahan. Itu sebabnya mungkin, sejarah hanya menempel seperti debu dalam pikirannya. Meskipun Pacitan tidak berjarak jauh dari Yogyakarta. Empat tahun sebelum tangisan “jaim” nya menyapa dunia, Sultan HB IX seorang intelektual pemikir lulusan Belanda, Republiken sejati dan raja pemberani menyatakan diri bergabung dan menjadi bagian dari Republik Indonesia yang baru lahir. Sikap langka yang tidak akan ditemukan kepada raja-raja lain dari kerajaan tradisional di nusantara. Tuan presiden boleh menyebutkan dengan memori pendek Tuan, kerajaan dari pesisir Timur Sumatera hingga raja-raja kecil daulat Bugis, semuanya menjadi alat untuk kembali tegaknya kekuasaan kolonial. Tetapi HB IX yang notabene nya adalah penguasa terkuat di antara mereka memilih lain, dia percaya ada mimpi yang lebih besar bersama republik Indonesia. Dia menyediakan Yogyakarta sebagai kantong kedaulatan Republik. Dia menjadi tameng dari setiap upaya untuk menghabisi nafas republik. Dalam hal yang lebih menyentuh, dia menjamin kehidupan istri-istri pemimpin republik ketika suami mereka ditangkap dan ditawan. Dia berbeda sekali dengan Tuan Presiden, tidak gila hormat, tetapi disegani oleh lawan dan dihormati oleh kawan. Apakah Tuan lebih besar dari Soekarno-Hatta yang tetap menghormati Sultan? Apakah Tuan lupa bahwa ketika RIS terbentuk RI tetap dipertahankan di Yogyakarta sehingga menjadi bidan lahirnya kembali NKRI?
Inilah akibatnya punya pemimpin yang selalu ingin menyaingi Agnes Monica, “pengen go international”. Semua ditakar dengan kacamata orang lain sembari mengubur sejarah layaknya aib masa silam. Tanpa mengerti sejarah Tuan, konstitusi tidak ada artinya. Sebab konstitusi adalah kenangan tentang kesepakatan di masa silam. Kami sebenarnya tidak ingin terlalu serius menanggapi ocehan Tuan Presiden, sebab kami tahu, Tuan cuma butuh panggung. Tuan tidak pernah serius dengan apa yang Tuan omongkan, sebab sebenarnya Tuan tidak punya gagasan tentang bangsa dan keadilan. Tuan gila dengan terminologi tetapi Tuan tidak mengerti morfologi. Tuan kesetanan dengan dunia tetapi lupa orang-orang di masa silam membentuk dunia sekarang karena sebab dan tujuan tertentu. Termasuk urusan keistimewaan Yogyakarta. Logika demokrasi Tuan sebenarnya lebih layak masuk tong sampah.
Tuan Presiden tidak pernah menakutkan kita. Yang mengkhawatirkan adalah pembantunya yang kesetanan. Preman-preman yang menjadi orang partai dan kemudian menyulap diri menjadi birokrat dan anggota parlemen. Dengan jilatan basahnya mereka akan merampok setiap kesempatan untuk berpikir sehat. Agresi Presiden terhadap Sultan Yogya tidak ubahnya seperti Operasi Gagak , agresi militer kedua Belanda yang menyerbu Yogyakarta. Bedanya, dulu Belanda tidak berani menyentuh Sultan yang notabene nya seorang republiken. Hari ini, Sultan diserbu hanya karena dia patuh pada konstitusi. Menakutkan, tentu saja. Seorang yang seumur hidupnya terobsesi dengan dirinya sendiri jauh lebih berbahaya dari seorang tiran atau fasis. Itu sebabnya kita mesti menolak tunduk. Sebab apabila Yogya menyerah, semua kenangannya akan terhapus. Generasi masa depan tidak akan mendapati Yogyakarta lagi tetapi Yudhoyokarta tanpa raja.
Sumber: http://itonesia.com/yudhoyokarta/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: