Fatwa Imam Khamenei soal Penghujatan terhadap Aisyah dan Simbol-simbol Ahlussunnah

Permintaan Fatwa:
Umat Islam mengalami krisis metode yang mengakibatkan penyebaran fitnah (cekcok) antarpara penganut mazhab-mazhab Islam dan mengakibatkan diabaikannya prioritas-prioritas bagi persatuan barisan Muslimin.
Hal ini menjadi sumber bagi kekacauan internal dan terhamburkannya kontribusi Islam dalam penyelesaian isu-isu penting dan menentukan. Salah satu akibatnya adalah teralihkannya perhatian terhadap capaian-capaian putra-putra umat Islam di Palestina, Lebanon, Irak, Turki, Iran dan negara-negara Islam lainnya.
Salah satu hasil dari metode ekstrem ini adalah tindakan-tindakan yang menjurus kepada pelecehan secara sengaja dan konstan terhadap ikon-ikon dan keyakinan-keyakinan yang diagungkan oleh para penganut mazhab Sunni yang kami muliakan.
Karenanya, kami memohon YM berkenan memberikan pernyataan tentang sikap syar’i secara jelas terhadap akibat-akibat yang timbul dari sensasi negatif berupa ketegangan di tengah masyarakat Islam dan menciptakan suasana yang diliputi ketegangan psikologis antarsesama Muslim baik di kalangan para penganut mazhab Ahlulbait maupun kaum Muslimin dari mzhab-mazhab Islam lainnya, mengingat penghujatan-penghujatan demikian telah dieksploitasi secara sistematis oleh para provokator dan penebar fitnah dalam sejumlah televisi satelit dan internet demi mengacaukan dan mengotori dunia Islam dan menyebarkan perpecahan antarmuslimin.
Sebagai penutup, kami berdoa semoga YM senantiasa menjadi pusaka bagi Islam dan Muslimin.
Ttd
Sejumlah ulama dan cendekiawan Ahsa’
4 Syawal 1431 H
Jawaban Imam Khamenei:
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullah wa barakatuh
Diharamkan menghina simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, Ahussunnah, berupa tuduhan terhadap istri Nabi Saw dengan hal-hal yang mencederai kehormatannya, bahkan tindakan ini diharamkan terhadap istri- istri para Nabi terutama penghulunya, yaitu Rasul termulia saw.
Semoga Anda semua mendapatkan taufik untuk setiap kebaikan.

Catatan: Terjemahan diatas saya lakukan secara bebas. Mohon dimaafkan bila kurang pas. Semoga beliau memaafkan saya, muqallid dan pewalinya yang penuh dosa ini.
Sumber: http://www.facebook.com/reqs.php#!/note.php?note_id=481815595729.

The Greatest Joy Near God and His Messenger

By Ayatollah Hasanzadeh Amuli

At the end of the book Irshaad al-Qulub, it is narrated that God asked his Messenger on the night of the spiritual ascent (Me’raj), “O Ahmad, do you know what kind of joy is the best? And [do you know] what kind of life the most lasting?” The Messenger of Allah replied, “O God, I do not know.”

God said, “The best kind of joy is when a human being is always in the state of Dhikr (remembering Allah) and does not get tired of it, he does not forget My blessings, knows Me, and throughout the night and day is after attracting My pleasure. And the most lasting kind of life is when he is ever-vigilant of himself, until the world becomes insignificant and valueless, and the Hereafter great and valuable for him. He prefers My desire over his and is after My pleasure; and he reckons Me great the way I am. He always is cognizant of My knowledge and awareness about him. Baca entri selengkapnya »

Tentang Nasib Alim, Fenomena Akhir Zaman, dan Umat Terbaik Nabi saw

1. Nabi saw bersabda, “Orang alim (berilmu), ilmu, dan amal di surga. Jika alim tidak mengamalkan ilmunya, ilmu dan amalnya di surga, orang alimnya di neraka.” (Firdaws al-Akhbar 3:102) (22.09.2010-10.00)
2. Nabi saw bersabda, “Pada generasi pertama umat ini, orang muda belajar pada yang lebih tua; pada generasi akhir, orang tua belajar pada yang lebih muda.” (Mustadrak Shahihain, 4:504) (15.09.2010-10.07)
3. Nabi saw bersabda, “Umatku yang paling baik ialah yang tetap menjaga kesucian dirinya ketika Allah mengujinya dengan ujian kerinduan.” (Kanzul Ummal 3:373, hadis 7001) (13.09.2010-10.10)

Amalan dan Doa Malam Idul Fitri

Syekh Thusi berkata, “Mandilah di penghujung malam dan duduklah di tempat shalat Anda hingga fajar menyingsing.”
Hari Pertama
Hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri. Amalan-amalan pada hari adalah sebagai berikut:
Pertama, membaca takbir yang biasanya dibaca pada malam hari raya setelah mengerjakan shalat subuh dan shalat Hari Raya Idul Fitri.
Kedua, membaca doa yang telah diriwayatkan oleh Sayid Ibnu Thawus setelah mengerjakan shalat subuh. Doa itu dimulai dengan Allâhumma innî tawajjahtu ilaika bi Muhammadin imâmî… Menurut pendapat Syekh Thusi, doa ini dibaca setelah mengerjakan shalat hari raya.
Ketiga, mengeluarkan zakat fitrah sebelum mengerjakan shalat Hari Raya Idul Fitri. Kadarnya untuk setiap kepala adalah 1 sha’ (3 kg-peny.). Pembahasan lebih detailnya dapat dilihat dalam buku-buku fikih.
Ketahuilah bahwa zakat fitrah adalah suatu kewajiban yang muakkad, syarat diterimanya puasa bulan Ramadhan, dan faktor keterjagaan kita hingga tahun mendatang. Allah telah menyebutkan zakat ini terlebih dahulu dari pelaksanaan shalat dalam ayat,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى و ذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى‏
Sungguh beruntung orang yang telah menyucikan diri dan menyebutkan nama Tuhannya, lalu ia melaksanakan shalat
Keempat, mandi. Yang lebih utama adalah mandi di sungai. Waktunya—sebagaimana diriwayatkan oleh Syekh Thusi—adalah setelah fajar menyingsing hingga waktu pelaksanaan shalat hari raya. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Mandilah di bawah atap. Ketika engkau ingin melakukan mandi, bacalah:
اللّٰهُمَّ إِيْمَانًا بِكَ وَ تَصْدِيْقًا بِكِتَابِكَ وَ اتِّبَاعَ سُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ
Ya Allah, (aku melaksanakan mandi ini) atas dasar iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, dan mengikuti sunah Nabi-Mu, Muhammad saw.
Kemudian, bacalah bismillâh dan mandilah. Setelah selesai mandi, bacalah:
اللّٰهُمَّ اجْعَلْهُ كَفَّارَةً لِذُنُوْبِيْ وَ طَهِّرْ دِيْنِيْ، اللّٰهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الدَّنَسَ‏
‏Ya Allah, jadikanlah mandi ini sebagai penebus dosa-dosaku dan sucikanlah agamaku. Ya Allah, sirnakanlah segala kotoran dariku
Kelima, memakai pakaian yang baik, memakai wewangian, dan pergi ke padang terbuka untuk selain Makkah demi melaksanakan shalat hari raya di bawah langit. Baca entri selengkapnya »

HARI AL-QUDS SEDUNIA

Urgensi Penyelenggaraan Hari Al-Quds

Tibanya Hari Al-Quds Sedunia (yakni hari Jumat terakhir di bulan Ramadhan) kembali mengingatkan umat Islam dunia tentang tugas dan kewajiban mereka membela bangsa Palestina yang teraniaya. Dengan mendeklarasikan Hari Al-Quds Sedunia, Imam Khomeini ra telah menanamkan isu Palestina ke dalam hati nurani manusia, memadukan dan memusatkan semua pekik kecaman kepada Zionisme, dan kitapun menyaksikan antusiasme umat Islam dalam menyambut peringatan ini.

Para pejuang yang gigih berjihad di Tanah Pendudukan dan hidup dalam getirnya perjuangan sebagai satu-satunya jalan untuk membebaskan Palestina dan melenyapkan rezim pendudukan harus merasa dan tahu persis bahwa bangsa-bangsa di Dunia Islam selalu mengingat dan menyokong mereka. Agar para mujahidin yang terasing di kampung halaman mereka sendiri itu dapat memiliki perasaan demikian, maka unjuk rasa Hari Al-Quds harus dilakukan di Dunia Islam. Inisiatif Pemimpin Besar kita, Imam Khomeini ra, dalam mendeklarasikan Hari Al-Quds adalah dalam rangka ini. Tanpa cara demikian, warga sipil di Teheran -misalnya- tidak bisa memberikan kontribusi apapun bagi perjuangan Palestina, sebab mereka tidak bisa ikut mengangkat senjata ke sana dan berperang melawan Israel.

(Sumber: http://indonesian.khamenei.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=366)

Ramadhan Bulan Taubat

Tak terasa satu persatu hari-hari Ramadhan berlalu begitu saja. Dan kini telah memasuki sepuluh hari terakhir bulan penuh maghfirah ini. Pada sepuluh hari terakhir inilah, terdapat momentum lailatul qadar. Suatu malam yang dikenal sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan.

Tak syak, salah satu ibadah yang paling ditekankan di bulan Ramadhan adalah bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah swt. Apalagi di bulan suci ini, Allah swt membuka pintu maghfirah dan rahmatnya lebar-lebar bagi umatnya. Karena itu, Ramadhan juga dikenal sebagai bulan taubat dan ampunan. Beberapa waktu lalu, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam sambutannya pada pertemuan dengan para pejabat pemerintahan Iran menuturkan, “Di antara keistimewaan bulan suci Ramadhan, apa yang menarik bagi saya adalah keutamaan Ramadhan sebagai Sharut-taubat wal-inabah, bulan pertaubatan. Taubat adalah kembali menuju jalan yang benar setelah tersesat dari jalan yang menyimpang, dari dosa, dari kekufuran. Sementara inabah adalah kembali menuju jalan yang diridhai Allah swt. Baca entri selengkapnya »

MENCARI FATIMAH DI MALAM RAMADHAN

Dalam kitab tafsir Furat bin Ibrahim, diriwayatkan satu hadis dari Imam Ja’far Shadiq. Beliau berkata, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatul Qadr. Lailah (malam) adalah Fatimah dan Al-Qadr adalah Allah. Barangsiapa yang mengenal Fatimah dengan sebenar-benarnya makrifat, maka dia telah menemukan Lailatul Al-Qadr.”

Memang unik hadis ini. Dalam kitab ‘Ilal Syarai’, diriwayatkan hadis dari Imam Muhammad Al-Baqir yang berkata, “Ketika Fatimah dilahirkan, Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukam kepada malaikat. Dengannya, Dia membuat lisan Muhammad berbicara lalu menamakannya (sang bayi) Fatimah. Dia berkata, Aku menyapihmu dengan ilmu dan memutuskanmu dari kotoran (haid). Kemudian Imam berkata, “Demi Allah, Dia telah menyapih beliau dengan ilmu dan memutuskannya dari kotoran dengan perjanjian.” Dalam kitab Mishbahul Anwar, hadis ini menjelaskan bahwa makna ‘Aku menyapihmu dengan ilmu’ adalah ‘Aku menyusuimu dengan ilmu hingga kamu menjadi kaya dengan ilmu’. Aku menyapih berarti ‘Aku memutuskanmu dari kebodohan disebabkan karena ilmu’. Ini merupakan kiasan yang menandakan bahwa wujud fitrah beliau adalah seorang alim yang mengetahui ilmu-ilmu rabbani. Dalam makna yang lain, itu berarti ‘Aku menjadikanmu sebagi hamba yang memutuskan manusia dari kebodohan’. Ketika Dia memutuskan beliau dari kebodohan, maka beliau memutuskan manusia dari kebodohan. Adapun makna ‘Aku memutuskanmu dari kotoran (haid)’ adalah kiasan yang berarti ‘Aku memutuskanmu dari akhlak dan perbuatan yang tercela’. Ketika Aku memutuskanmu dari kotoran-kotoran ruhani dan jasmani, maka kamu memutuskan manusia dari kotoran-kotoran maknawi.

Dalam kitab Al-Khishal, Imam Ja’far Shadiq berkata, “Tahukah kamu tentang tafsir Fatimah?” Aku (Yunus bin Zhibyan) berkata, “Kabarkan kepadaku wahai Tuanku?” Imam Shadiq menjawab, “Beliau diputuskan dari kejahatan.” Kemudian Imam berkata lagi, “Seandainya tidak ada Amirul Mukminin yang menikahi beliau, maka beliau tidak akan memiliki kufu (orang yang setara dengannya) hingga hari kiamat ….”

Mungkin kita pernah mendengar ucapan Amirul Mukminin, “Tanyakanlah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku.” Imam Ali adalah satu-satunya orang yang setara dengan Fatimah, maka bukan hal yang tidak mungkin jika Fatimah juga mengatakan “Tanyakan kepadaku sebelum kalian kehilangan aku.” Bukankah beliau dinamakan Fatimah karena memutuskan manusia dari kebodohan.

Selanjutnya amalan-amalan yang dilakukan pada malam Lailatul Qadr (malam ganjil dari bulan Ramadhan, seperti malam kesembilan belas, malam kedua puluh satu, malam kedua puluh tiga) antara lain adalah membaca doa Jausyan Kabir, ber-tawassul dengan Nabi dan Ahlul Baitnya sambil meletakkan Al-Quran diatas kepala, menunaikan shalat seratus rakaat, dan sebagainya. Dalam kitab Mafatihul Jinan, disebutkan juga bahwa amalan yang paling mulia di malam Lailatul Qadr adalah mencari ilmu. Baca entri selengkapnya »

Wasiat Nabi saw kepada Imam Ali as

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata : “Bahwa Rasulullah saaw berwasiat kepadaku dengan sabda beliau :

“Ya Ali! Aku berwasiat kepadamu dengan sesuatu wasiat, maka jagalah dia baik-baik, kerana selama engkau memelihara wasiat ini niscaya engkau akan tetap berada dalam kebaikan.

“Ya Ali! Bagi orang mukmin itu ada tiga tanda : Melakukan sholat, berpuasa dan berzakat.

Dan bagi orang munafik ada pula tiga tandanya : Pura-pura sayang bila berhadapan, mengumpat di belakang dan gembira bila orang lain mendapat musibah.”

“Bagi orang zalim ada tiga cirinya : Menggagahi orang bawahannya dengan kekerasan, orang diatasnya dengan kedurhakaan dan melahirkan kezalimannya secara terang-terangan”.

“Bagi orang riya’ ada tiga tandanya : rajin bila di depan orang ramai, malas bila bersendirian dan ingin dipuji untuk semua perkara”

“Bagi orang munafik ada tiga tandanya : Bohong bila berkata, mengingkari bila berjanji dan khianat apabila dipercaya”. Baca entri selengkapnya »

Karamah Imam Ali bin Abi Thalib as

Setelah menguburkan Ayahandanya, Imam Hasan dan Imam Hussain serta rombongan kembali ke Ku’fah, di tengah perjalanan mereka melihat seorang pengemis tua dan buta sedang merintih. Mereka bertanya,”Siapa kau dan kenapa kau begitu gelisah dan meritih ?”

Dia berkata,”Aku adalah orang asing dan miskin. Ditempat ini aku tidak punya kawan dan tempat curahan hati, sudah setahun aku berada di kota ini, setiap hari datang orang yang baik hati, dia selalu membawakan makanan untuku, sungguh dia orang yang baik hati. Tapi sudah tiga hari ini dia tidak datang padaku dan menanyakan keadaanku”

Mereka bertanya,”Apakah kau mengetahui namanya ?”
Dia menjawab, ”Tidak”
”Apakah engkau tidak menanyakan namanya ?”
”Aku sudah menanyakannya tapi dia malah berkata,’Apa urusanmu dengan namaku. Aku mengurusmu hanya karena Allah semata”

Mereka berkata,”Apakah kau punya petunjuk dari perkataan dan perilakunya ?”
Dia berkata ,”Lisannya selalu berdzikir kepada Allah. Ketika dia bertashbih dan bertahlil, bumi dan zaman, pintu dan dinding, seirama dengan suaranya. Ketika duduk disampingku dia selalu berkata: Orang miskin duduk bersama orang miskin, orang asing duduk bersama orang asing” Baca entri selengkapnya »