Malam al-Qadr (5)

Ya, ucapan selamat dan ribuan selamat bagi orang yang telah mampu untuk meraih karunia Ilahi dengan melakukan secara benar apa-apa yang telah diuraikan. Namun orang yang tidak atau belum mendapatkan karunia Ilahi dalam melakukan semua ibadah dan amalan tersebut, apalagi tidak, jangan sampai diperdaya oleh setan yang membisikkan kepadanya:
“Engkau bukanlah orang yang mampu melakukan semua ibadah yang menjemukan ini sebagaimana semestinya dilakukan. Karena itu, sia-sialah mencemaskan dirimu sendiri, tinggalkanlah, dan kerjakanlah urusanmu sendiri. Karena, perbuatan yang tidak dilakukan secara sempurna tidak akan memberikan pahala apapun bagimu.”
Dengan cara ini, setan berhasrat agar si mukmin berhenti melakukan apa-apa yang ia harus lakukan, yang justru bakal menutup jalan keselamatan dan kebajikan pada dirinya sendiri selamanya. Dengan kelalaian dan tipu daya ini, ia akan memerosokkan diri ke dalam bahaya serius. Karenanya, ia semestinya tidak memperhatikan bisikan-bisikan setan ini dan tidak menunjukkan kelalaian dalam melakukan apa-apa yang bisa ia lakukan, meskipun tampaknya sangat tidak berarti. Sebab, amal-amal dan ibadah-ibadah tersebut, betapapun kecilnya, memiliki iluminasi [pencerahan, peny.] dan pahala yang akan memudahkan pelakunya mendapatkan karunia Ilahi berupa melakukan amalan dan ibadah lain yang sangat membantu agar dapat menunaikan ibadah yang sempurna.
Ketahuilah, setan tidak punya maksud dan tujuan lain kecuali menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah dan memutuskan ikatan kehambaan kepada-Nya. Jangan dilupakan bahwa memperhatikan bisikan setan akan mengakibatkan kegelapan hati, yang pada gilirannya menjadikan seseorang malas dan asal-asalan dalam melakukan ibadah kepada Allah. Asal-asalan dalam melakukan amal ibadah mengakibatkan penolakan terhadap sejumlah amal ibadah lainnya. Penolakan atas sejumlah amal ibadah berakibat pada penolakan semua amal ibadah secara pelan-pelan. Penolakan atas semua amal ibadah berakibat pada kemunduran abadi kita, berikut bencananya. Hanya kemurahan Allah sajalah yang bisa menyelamatkan kita sehingga kita mampu berpaling dari godaan setan dan dengan berpantang dari godaan setan tersebut hati kita menjadi tercerahkan dan memperoleh karunia Ilahi berupa ibadah dan maqam kehambaan.
Memang benar! Mukmin yang waspada jangan sampai meremehkan amal baiknya, betapa pun tampak tak berartinya amal tersebut atau bahkan mungkin menganggap sebagian kecil dari amal ibadah tersebut sebagai tak bermakna dan tak bernilai sehingga, dengan duga-sangka keliru semacam itu, mengabaikan amal ibadah itu sendiri. Perilaku seperti ini tidak akan menyelesaikan apapun selain kerugian dan kerusakan. (Begitu pula, menganggap amal baiknya sebagai sesuatu yang besar akan terhitung sebagai menipu diri-sendiri).
Selain itu, jangan sampai ia meremehkan amal baik lantaran tak sanggup melakukannya. Tapi sebaliknya, ia harus melakukannya sebanyak mungkin. Tentu saja, setelah menunaikan suatu perbuatan, entah itu kecil atau besar, ia harus menganggapnya sebagai tidak berarti dibandingkan dengan kemuliaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya, semua amal ibadah yang dianggap sebagai tidak berarti oleh seorang hamba dinilai penting oleh Allah dan Dia pasti akan menerima amal ibadah si hamba. Apa yang penting dan bermanfaat bagi si hamba adalah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menerima amal ibadah tersebut dan tidak memperhatikan kecil-besarnya, karena Dia benar-benar menerima amal ibadah yang tampak tidak berarti tersebut dengan memberinya ganjaran. Pengabulan dan pemberian ganjaran ini berarti karunia tak terbatas bagi si pelaku. Sebaliknya, ada banyak amal ibadah yang tidak diijabah oleh-Nya dan tidak punya arti apapun bagi si hamba. Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla menerima ibadah yang remeh dan tobat dari Nabi Adam as namun menolak banyak ibadah yang dilakukan oleh setan dan mengusirnya dari Kerajaan Langit untuk selamanya.
Dari kesadaran seperti ini, jangan sampai seseorang menganggap amal ibadahnya sebagai hal yang besar dan melihatnya dengan apresiasi bangga dan kekaguman, sekalipun ia telah melakukan ibadah yang setara dengan ibadah yang dilakukan oleh semua manusia dan malaikat. Karena, menganggap ibadahnya sendiri sebagai hal yang besar tidak akan menghasilkan keuntungan apapun selain kerusakannya. Dan, yang lebih buruk dari itu, hal tersebut mengubah pencerahan amal menjadi kegelapan. Demikian pula, janganlah sampai ia menganggap amal ibadah yang remeh sebagai tidak bernilai dan melalaikannya. Karena sangat sering Allah ‘Azza wa Jalla menerima ibadah yang remeh itu dan, dengan ijabahnya, menjadikannya besar.
(Alhamdulillah, selesai)
(Sumber: Puasa Lahir Puasa Batin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: