Malam Al-Qadr (4)

Sejumlah Amalan Lain yang Dilakukan Selama Malam al-Qadr

1. Pesuluk yang cermat mendirikan shalat dua rakaat pada setiap malam al-Qadr. Dalam setiap rakaatnya membaca Surah al-Fatihah (1 kali) dan Surah al-Ikhlas (70 kali). Usai salam membaca zikir astaghfirullâhi rabbi wa atûbu ilaihi (aku memohon ampun kepada Allah, Tuhanku dan aku bertobat kepada-Nya). Kemudian ajukan permintaan akan kebutuhan dan keinginannya kepada Allah Swt.
2. Melakukan shalat khusus 100 rakaat di malam al-Qadr. Setiap selesai dua rakaat, bacalah doa yang telah diwariskan oleh para maksum as doa-doa yang sangat bernilai dan berbobot, yang mengandung hikmah-hikmah mendalam, butir-butir yang lembut, dan pelajaran-pelajaran luhur mengenai Allah ‘Azza wa Jalla, Sifat-sifat, Nama-nama suci, kemurahan dan kasih sayang, kebijaksanaan dan keadilan-Nya, kehendak dan ketetapan Tuhan, adab-adab dan cara berdoa kepada Allah.

Ulasan tentang Adab Berdoa
Tentu saja, jangan sampai dilupakan bahwa doa-doa ini haruslah dibaca dalam keadaaan yang sepenuhnya sadar, terjaga, dan hati yang hadir. Diberkatilah orang yang membaca doa dengan hati yang hadir sehingga mempengaruhi hati dan jiwanya. Segala sesuatu yang diucapkan oleh lidahnya juga dibenarkan oleh hati dan jiwanya. Apabila karena doa-doa ini tidak ada pahala dan rahmat apapun, selain hanya berpengaruh pada hati dan jiwanya, tentu saja orang harus mengerahkan semua energi, kekuatan, dan usaha-usahanya dengan hati dan jiwa untuk menyempurnakan pengaruh ini. Hendaklah diketahui untuk setiap kata dan kalimat, ada ganjaran, rahmat, dan pencerahan, yang tak seorang pun mampu untuk mengukur pahala dan rahmat tersebut.
Oleh sebab itu, bagi orang yang membaca doa-doa ini tetapi tidak memberikan pengaruh apapun kepada hati dan jiwanya, setidaknya ia harus membaca doa-doa tersebut secara sadar, merenungkan makna-maknanya, berusaha memahami perihal apa yang dibacanya berikut yang diinginkannya. Jangan sampai ia membaca doa-doa tersebut dengan lalai, yakni sebatas ujung lidah, seperti tukang sihir yang melapalkan kata-kata kosong atau kalimat-kalimat tak bermakna, tanpa mengetahui apa yang diucapkan dan apa yang diinginkannya.
Dan juga, bagi orang yang membaca doa-doa ini tapi tidak mempengaruhi hati dan jiwanya, atau ia tidak sadar dalam membacanya, bahkan tak peduli untuk memahami maknanya, sebagai ganti dari membaca doa-doa ini adalah, hendaknya ia menangisi kondisi terburuknya dan harus meneteskan air mata atas malapetaka yang tengah menimpanya itu—yaitu tragedi berupa tidak sanggupnya ia menerima karunia Ilahi dalam doa-doa dimaksud. Diri yang tak mampu menghargai doa-doa ini dan tidak mampu untuk dipengaruhi oleh doa-doa tersebut, hendaknya membaca ayat berikut berkali-kali: … Inna lillâhi wa inna ilaihi râji’ûn (Sesungguhnya kita kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita kembali) (QS. al-Baqarah:156) yang diucapkan ketika terjadi musibah yang menimpa. Selanjutnya ia mesti melantunkan doa: “Aku berlindung kepada Allah Swt dari musibah ini, yang menyedihkan dan akan membawa siksaan yang keras.”
Dalam sebuah hadis qudsi telah disebutkan mengenai ciri-ciri orang ahli akhirat: “Doa-doa mereka naik dan sampai kepada Allah, kata-kata mereka diterima, dan Allah gemar mendengarkan doa-doa mereka sebagaimana seorang ibu menyukai suara anaknya sendiri.”
Oleh karena itu, kita semestinya awas dan merenungkan kalimat: “Doa-doa mereka naik.”
Tidakkah memalukan apabila doa-doa yang naik ke atas itu dilantunkan sebatas ujung lidah, sementara hati dan jiwa tetap sibuk dengan urusan-urusan duniawi? Bukankah merupakan hal yang menjijikkan ketika kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla hanya seujung lidah, sementara mencari dunia dengan (sepenuh) hati—padahal dalam hadis-hadis dikatakan, bahwa dunia disebut sebagai “musuh” Allah dan musuh para wali-Nya? Bukankah tidak pantas dan merupakan suatu kedurhakaan ketika lidah kita sibuk dalam mengingat-Nya, sementara hati kita tertaut dengan urusan-urusan dunia? Adakah musibah yang lebih besar ketimbang musibah ini? Na’udzubillah!
3. Membuka al-Quran suci, membaca doa khususnya, menempatkannya di atas kepalamu dan berniat untuk mengamalkannya. Sikap ini menunjukkan penghargaan dan pengakuan terhadap al-Quran. Juga, melalui sarana ini, akal budi dan pikiran diperkuat serta pencerahan akal menjadi sempurna dengan pencerahan al-Quran.
4. Berziarah kepada pemimpin para syahid (sayyid asy-syuhada’), yakni Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib asy-Syahid di malam tersebut. Beberapa ziarah lain, yang telah diriwayatkan oleh para Imam maksum, pun dapat dibaca.
5. Membaca Surah ar-Rûm, al-Ankabût, dan ad-Dukhân pada malam ke-23 Ramadhan.
6. Doa-doa khusus yang telah diriwayatkan semestinya dibaca, khususnya doa-doa yang telah dinukil dalam kitab al-Iqbal dari sejumlah buku autentik, yang dimulai sebagai berikut.
“Ya Allah, boleh jadi ada keraguan dan ketidakpastian akan hadirnya malam-malam al-Qadr, namun menyangkut Engkau, keesaan-Mu (tauhid), serta kemuliaan dan keagungan-Mu, yang Engkau akan sucikan perbuatan-perbuatan hamba-Mu, sama sekali tidak ada keraguan.”

Ulasan-ulasan Seputar Arti Penting Doa-doa Ahlulbait
Kita tidak akan mendapatkan manfaat apapun dari apa yang diajarkan para Imam maksum kepada kita selain ilmu-ilmu yang sangat tinggi, tema-tema halus menawan, dan butir-butir berharga mengenai tauhid (monoteisme). Karena itu, sudah sepatutnyalah kita mengerahkan semua usaha dan kekuatan untuk berterima kasih kepada mereka, seraya menerima dan mengakui, bahwa rasa syukur dan penghormatan (yang kita lakukan) itu tidaklah cukup untuk membalas rahmat yang besar ini. Apapun yang kita kerjakan, jangan sampai kita tidak pernah berterima kasih kepada mereka sebagaimana ia seharusnya disyukuri.
Kita semestinya tidak melupakan diri untuk memilih satu momen tertentu dalam rangka mengadakan kontak pribadi dengan Sang Pencipta. Selama waktu tersebut, kita semestinya dapat memusatkan pikiran dan jiwa pada satu titik, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla sepenuhnya mengetahui ketakberdayaan dan kedurhakaan kita, dan Dia juga berkuasa untuk menyelamatkan kita dari seluruh nestapa, karena kemurahan, keagungan, cinta, dan kebaikan-Nya tidak berbatas. Selayaknya pula kita mengikatkan harapan kepada pintu kemurahan dan kasih sayang-Nya, menanti rahmat dan karunia-Nya, dan menyimak secara cermat tiupan bayu cinta-Nya.(Bersambung, insya Allah)
Sumber: Puasa Lahir Puasa Batin, karya Ayt. Malaki Tabrizi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: