Malam Al-Qadr (3)

Persiapan Malam al-Qadr
Usaha moral lainnya untuk malam ini adalah menjelang tiba waktunya, seorang pesuluk yang awas harus merencanakan mukadimahnya. Di antaranya ialah selama beribadah di malam ini seyogianya ia memilih tempat, pakaian, dan wewangian yang sesuai sebelumnya untuk mencurahkan diri berkomunikasi dengan Allah Swt, juga berkomunikasi dengan para pemimpinnya, yakni para Imam maksum as. Seyogianya ia mempersiapkan tema-tema dan kandungan-kandungan doa yang sesuai dengan itu. Untuk bersedekah selama malam ini, misalnya, sebaiknya ia menyediakan sejumlah uang. Bahkan bagi undangan para tamu, dan pembayaran sedekah itu ia harus merencanakan sebelumnya guna memilih tamu-tamu yang paling sesuai dan orang miskin yang ikhlas yang sesungguhnya berhak mendapat tunjangan finansial.
Allah Swt mengundang kita dengan mengutus para malaikat, para nabi yang saleh, serta para Imam maksum sebagai kurir-Nya. Dia telah mengangkat para malaikat-Nya guna mengumumkan undangan-Nya kepada kita. Dia telah memberi kita kabar gembira berupa tempat hunian abadi di surga sebagai balasan atas ibadah yang ikhlas selama satu malam itu (yakni malam al-Qadr). Dia telah menjanjikan karunia-karunia tersebut yang belum pernah disaksikan oleh mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terbayangkan pikiran. Dia telah pula memberi kabar gembira berupa pencerahan, kebahagiaan puncak, keagungan, kebesaran, kesatuan, kedekatan, dan kedamaian. Bagi orang-orang yang pemahaman dan pengertiannya sedikit, yang fakultas akal dan pikiran lemah akan mendapatkan keterkejutan dan tak berdaya.
Apakah kita termasuk orang-orang yang telah mempersiapkan malam dan undangan ini sebagaimana seharusnya, guna mencapai rahmat dan keselamatan abadi? Atau, apakah kita termasuk dari orang-orang yang lalai dan bodoh, yang tidak menerima apapun kecuali kerugian dan bencana abadi? Kita harus mengetahui lebih baik bahwa orang yang bertindak malas dan naif serta tidak berjuang untuk mengambil manfaat dari kemurahan yang luar biasa di malam ini, maka di akhirat kelak ia akan menyaksikan betapa orang-orang yang kukuh, antusias, dan terjaga di malam-malam ini telah menerima sesuatu dan sangat mulia lagi jaya. Sementara mereka sendiri tidak mendapatkan apapun selain penyesalan yang begitu besar dan menyakitkan, sehingga nyala api neraka dan siksaan yang menyedihkan pun akan tampak lebih kecil dibandingkan dengan penyesalan mereka. Akhirnya, orang-orang yang kalah dan diazab dengan api abadi akan menangis keras sambil mengiba: Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah. (QS. az-Zumar:56)
Tetapi di hari itu, ketika pintu tobat telah tertutup, tidak ada sesuatu pun yang tertinggal selain kerugian dan bencana. Setiap manusia niscaya menyaksikan hasil akhir perbuatannya. Perasaan sesal dan bersalah tidak akan berguna lagi. Oleh sebab itu, marilah kita menengok diri kita sendiri. Sebelum kita terbenam dalam perasaan sesal dan sedih seperti itu, seharusnya kita mengingatkan diri perihal kemalasan, kenaifan, dan ketakpedulian. Sebelum kita bisa keluar dari kerangkeng kejahilan dan kezaliman kita sendiri, kita akan diminta untuk menjelaskan dan dikutuk ke dalam keadaan sengsara dan hina, karena telah menyia-nyiakan modal berharga kita—modal yang melalui itu kita bisa mendapatkan keuntungan yang paling berharga. Untuk mendapatkan keuntungan semakin besar itu maka sebaiknya kita menempatkan diri kita ke dalam penyelidikan dan mawas diri.
Di antara persiapan menyambut malam al-qadr adalah:
1. Memilih Amalan-amalan yang Paling Cocok
Amal-amal lain yang disukai di malam ini adalah yang dilakukan menjelang tibanya malam mulia ini. Setiap mukmin harus meningkatkan usahanya untuk menerima karunia-karunia dan rahmat-rahmat yang dijanjikan, harus memilih ibadah dan amalan yang lebih sesuai dengan suasana hati dari tinjauan keikhlasan, menghadirkan hati, menyucikan batin. Dalam hal ini, ia harus meminta pertolongan dari Allah dan bantuan insan-insan sempurna. Apabila ia tidak bisa mendiagnosis diri dengan apa yang paling sesuai dengan suasana hatinya secara tepat, ia dapat memohon petunjuk dari Allah melalui jalan istikharah.
2. Meditasi dan Perenungan
Setelah membaca doa-doa dan munajat, ia harus menyediakan waktu merenung dan menghisab diri. Tentu saja, ini semestinya dilakukan di saat ia bebas dari segala sesuatu yang mengusik pikiran, seperti kebanyakan tidur, makan berlebihan, menanggung rasa lapar, dan lain-lain.
3. Tidak Lalai dari Mengingat Allah

Selama malam-malam tersebut, ia harus berjuang sebaik mungkin untuk memikirkan Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan pernah melalaikan-Nya sedikit pun di malam-malam mulia tersebut sekalipun demi perbuatan-perbuatan sunnah dan yang dibenarkan. Juga, ketika melakukan shalat dan doa, ia seyogianya tidak memikirkan hal-hal lain meskipun hal itu terkait dengan perbuatan-perbuatan sunah.
Misalnya, selama shalat, orang tidak boleh berpikir tentang perbuatan-perbuatan sunah, seperti membangun mesjid, membersihkan mesjid, bersedekah dan seterusnya. Karena semua itu merupakan indikasi kelalaian. Bahkan ketika melakukan bagian perbuatan shalat, ia tidak boleh memikirkan bagian shalat selanjutnya. Contohnya, dalam keadaan berdiri (qiyam) membayangkan gerakan sujud adalah kelalaian. Ia harus memusatkan perhatian pada perbuatan dan gerakan shalat yang tengah ia lakukan dan tidak boleh lalai dari segala sesuatu yang tengah dilakukan atau dibacanya. Untuk lebih memudahkan tugas ini, sebelum melakukan berbagai gerakan shalat, seperti membaca (al-Fatihah dan surah lainnya) atau rukuk, pertama-tama ia harus merenungkan bacaan tersebut secara singkat dan baru melakukannya. Apabila ketika melakukan gerakan tertentu, kelalaian menguasainya, dan jika suatu ayat atau doa dibaca dengan lalai, ia mesti mengulanginya kembali.
Misalnya, ketika ia hendak berdiri menghadap kiblat untuk shalat, pertama-tama, ia harus merenungkan sesaat tentang hikmah berdiri menghadap kiblat itu, barulah ia menghadapkan wajahnya ke arah tersebut. Dan, ketika ia hendak berdiri untuk shalat, pertama-tama ia harus merenungkan tentang makna berdiri, yakni ia berdiri demi kebenaran, dan berpijaknya ia pada kedua kaki merupakan petunjuk harapan (raja’) dan takut (khawf)-nya atas diterima-tidaknya ibadah yang dilakukannya. Ketika ia hendak membaca ayat berikut:
Bismillâhirrahmânirrahîm (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang)
Semestinya ia merenungkan pengertiannya sejenak, baru kemudian membacanya. Demikian pula halnya dengan perbuatan-perbuatan shalat lainnya, perlu dihayati terlebih dulu maknanya.
4. Bertawasul kepada Ahlulbait as
Orang yang hendak terjaga di waktu malam dengan cara di atas seharusnya berlindung kepada para Imam maksum—orang-orang suci yang memiliki malam tersebut—pada awal malamnya. Hendaknya ia mengulurkan tangan menghadap ke arah pintu-pintu kemurahan mereka dengan keteguhan, berdoa dengan cara santun dan lembut, mengadu dengan kata-kata dan madah-madah yang membangkitkan simpati mereka, dan meminta kepada mereka agar melimpahkan kepadanya karunia untuk terjaga selama malam al-Qadr ini. Selanjutnya ia mesti menundukkan dan menyerahkan semua eksistensi, akal, hati, diri, kebajikan, dan amalan-amalannya kepada mereka. Sepanjang malam tersebut, selayaknya ia berhati-hati agar tidak melakukan sesuatu yang tidak sejalan dengan penyerahan diri. Karena, orang yang berhasil menunaikannya, niscaya akan memperoleh segala sesuatu yang diinginkan di malam tersebut.
5. Menangis dan Mencucurkan Air Mata
Sepanjang malam-malam al-Qadr bagi pesuluk bijak yang ingin ketakutan, kerendahan, air mata, tangisan, kesedihan, dan duka citanya bertambah sebanyak mungkin, ia bisa membayangkan dirinya sendiri di Hari Pengadilan. Atau, sebagaimana para pendosa dicela dengan keras, seyogianya ia mencela dirinya sendiri secara patut. Setelah itu, ia sebaiknya menengok ke arah kanannya, membayangkan orang-orang yang termasuk golongan kanan (ashhab al-yamîn) dan merenungkan perihal kebesaran, keagungan, karakter, kebajikan, jubah, dan parfum mereka. Lalu ia memandang ke arah kirinya, membayangkan orang-orang yang termasuk golongan kiri (ashhab al-syimâl), seraya menganggap dirinya sendiri termasuk dari mereka, merenungkan kondisi mereka yang mengenaskan dan menyakitkan dengan wajah-wajah yang hitam, mata-mata mereka yang bengkak, tangan dan kaki yang terikat, dan kulit-kulit mereka yang terbakar. Para malaikat berdiri siaga untuk melaksanakan perintah Allah melemparkannya ke dalam neraka bersama mereka. Sepatutnya, ia membayangkan dan takut kalau-kalau Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan, Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (QS. al-Haqqah:30-32)
Kemudian, semestinya ia menangis.
Ia semestinya tidak memperhatikan kata-kata godaan, atau membiarkan bisikan-bisikan setan mempengaruhi hati, palingkanlah wajah dari setan, berlindunglah kepada Allah ‘Azza wa Jalla sambil terus memperhatikan doa, harapan, dan kebutuhan dengan penuh harapan. Kemudian setelah penuh harapan, seyogianya ia menundukkan keinginannya di hadapan-Nya. Demikian pula setelah segala kedudukan mulia dan derajat kelembutan spiritual seperti pencerahan, cinta, kesatuan, iman, dan kesalehan bisa memasuki pikirannya, semestinya ia terus memohon kepada-Nya.
(Bersambung, insya Allah)
Sumber: Puasa Lahir Puasa Batin, Ayt. Maliki Tabrizi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: