Malam Al-Qadr (2)

Derajat-derajat Malam al-Qadr
Bisa disimpulkan dari sejumlah hadis bahwa ada derajat-derajat dan tingkatan-tingkatan untuk malam al-Qadr. Untuk setiap malam tersebut—yakni malam 19, 21, 23, dan 27 Ramadhan—bisa dianggap memiliki salah satu derajat yang dimaksud. Dan malam yang memiliki keistimewaan paling utama telah disebutkan dalam al-Quran setara dengan seribu bulan. Segala sesuatu telah ditetapkan di malam ini dan yang tidak akan berubah adalah malam 23 Ramadhan yang juga dikenal sebagai malam Juhanni.* Orang yang ingin agar tindakannya tepat dan pasti, lebih baik tidak tidur selama empat malam ini. Tentu saja, ada sejumlah hadis lain mengenai malam al-qadr. Tetapi, karena keabsahannya dipertanyakan, maka tidak layak untuk menjelaskan hadis-hadis tersebut di sini.

Meminta kepada Allah agar Melimpahkan Kemudahan di Malam al-Qadr
Bagi orang beriman dan menghargai ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis imam maksum, semestinya melakukan upaya sebaik-baiknya untuk merayakan malam-malam ini. Usaha-usaha yang diinginkan dan harus dijalankan adalah bahwa selama sepanjang tahun sebelum tibanya malam al-Qadr, ia mesti berkali-kali memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar melimpahkan kepadanya taufik untuk bisa terjaga selama malam ini; merahmatinya dengan perbuatan-perbuatan paling diakui dan dicintai; menjadikan malam itu lebih utama ketimbang seribu bulan baginya; menjadikannya sebagai orang yang paling dicintai dan paling dekat dengan-Nya selama malam tersebut; menganugerahinya dengan cinta, ilmu, kedekatan, kesatuan, keridhaan, dan izin-Nya berikut kekayaan, kebahagiaan, dan kemakmuran. Ia harus ridha atas semua pemberian sedemikian rupa dengan keyakinan bahwa setelah ini ia tidak akan pernah lagi tidak ridha dengan keputusan-Nya. Ia harus menjadikan para nabi, imam, terutama Imam Zaman (semoga Allah mempercepat kemunculannya) ridha kepadanya; dan mencurahkan hidupnya dalam kedekatan dengan-Nya, sehingga kehidupannya ditemani oleh restu insan-insan sempurna yang juga mendoakan agar ia dilimpahi karunia Ilahi demi berhasil dalam membangun ketaatan kepada Allah dan menjadikan tujuan akhirnya adalah ridha Allah Swt.
(Bersambung, insya Allah) (Dinukil dari: Puasa Lahir Puasa Batin)

Catatan
*)Abu Yahya Abd Allah bin Unais Juhanni: seorang penggembala dari kabilah Juhan sampai di depan Nabi saw dan berkata, “Wahai Nabi Allah! Saya ingin Anda memerintahkan agar selama satu malam di malam-malam Ramadhan, saya datang ke Madinah dan mendirikan shalat.” Nabi saw memanggilnya pada malam 23 Ramadhan. Oleh karena ini, malam ini terkenal dengan sebutan malam Juhanni (Bihâr al-Anwâr, jil.99, hal.20; Usud al-Ghabah, jil.3, hal.20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: