Ngaji Nahjul Balaghah Bersama Imam Khamenei: Latar Belakang Kenabian [I]

DALAM pelajaran sebelumnya[1], latar-belakang pengangkatan para nabi dibahas dengan sejumlah pernyataan Imam Ali dalam Nahjul Balaghah. Pelajaran ini ditujukan untuk menyempurnakan apa yang disebutkan sebelumnya dengan menganalisis secara spesifik keunikan-keunikan dari dua periode yang merupakan tema dalam pembahasan kita, yakni zaman pra-Islam, atau zaman Jahiliah (periode sebelum bi‘tsah) dan periode Islam (periode setelah bi‘tsah).

Dua Jenis Kekurangan di Zaman Jahiliah
Menurut kata-kata Ali, di zaman Jahiliah, manusia mengalami dua jenis kekurangan: material dan spiritual.
Pada jenis kekurangan pertama, taraf kesejahteraan dan keamanan sosial sangat rendah. Ini secara eksplisit diutarakan dalam Nahjul Balaghah (dalam khotbah yang berbeda-beda) dan al-Quran suci. Al-Quran menyebut zaman Jahiliah sebagai berikut, Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS. al-Quraisy: 4)
Sementara, pada jenis kekurangan kedua, masyarakat kosong dari jalan hidup yang bersih dan cita-cita hidup yang bening. Sesungguhnya, ini merupakan kesengsaraan dan penderitaan terbesar bagi manusia dan masyarakat secara umum karena mereka tidak berusaha mencari tujuan mulia dalam hidup. Hidup terlalu dangkal jika hanya dipakai untuk menyediakan keperluan dan kebutuhan sehari-hari semata. Sayangnya, keadaan hidup ini adalah ciri dari masa Pahlevi, hidup hampa dari aspirasi apa pun dan sebaik-baiknya orang dan seaktif-aktifnya individu, di mata masyarakat (pada saat itu), adalah yang menjadikan upaya maksimal mereka untuk menikmati kehidupan yang sejahtera dan sentosa atau mereka yang tidak memiliki keterlibatan apa pun selain menghabiskan waktu mereka dalam aktivitas keduniawian dan kesia-siaan.
Pada umumnya, kelas menengah, yakni para pedagang, pekerja, ibu rumah tangga, pelajar universitas dan yang lainnya, semuanya berusaha untuk menyediakan kebutuhan yang lumrah (biasa) dalam kehidupan mereka. Perumpamaan mereka adalah seperti kendaraan yang mengisi ulang bahan bakar dari satu pompa bensin ke pompa bensin lainnya. Masyarakat bekerja untuk mendapatkan makanan mereka sehari-hari yang memudahkan mereka untuk bekerja kembali seperti biasa. Mereka pada dasarnya menghabiskan usia mereka dengan memakan roti dan berusaha mendapatkan roti.
Keadaan hidup demikian tidak bisa dirasakan sempurna oleh para pemuda idealis saat ini yang memiliki cita-cita dan aspirasi spesifik dalam benak mereka, yang bekerja demi menegakkan pemerintahan Islam yang sebenarnya dan yang berusaha melawan arogansi negara-negara Adidaya Dunia. Dengan adanya aspirasi-aspirasi suci yang muncul di tengah-tengah masyarakat saat inilah, yang memperlihatkan adanya kehampaan nilai-nilai spiritual (kosongnya cita-cita dan aspirasi) dari masyarakat di masa rezim Pahlevi.
Masyarakat selama zaman Jahiliah, yakni sebelum pengangkatan sang Nabi dan bergejolaknya api revolusi, adalah seperti masyarakat yang tanpa tujuan dan menyimpang. Inilah masyarakat yang kebingungan dan terombang-ambing. Mereka memutar-mutar diri mereka sendiri seperti ‘keledai pemuat beban’ yang secara terus-menerus mengangkuti beban, mungkin melampaui sepuluh atau lima belas kilometer seharinya, namun tidak pernah beranjak lebih dari jarak pendek dari putaran gilingan tepung gandum. Mereka ini bodoh tetapi yang lebih bodoh lagi adalah mereka yang mengikuti tujuan-tujuan dan keinginan-keinginan destruktif yang, jika disadari, akan menghancurkan diri mereka sendiri juga seluruh masyarakat. Dalam hal ini, al-Quran mengatakan,Tidakkah kamu perhatikan (bagaimana nasib akhir) orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (QS. Ibrahim: 28-29)
Pada kenyataannya, semua pemangku kekuasaan dan para penguasa otoriter di dunia, semua kapitalis besar yang melakukan kejahatan apa pun untuk membangun jaringan ekonomi luas mereka dan mereka semua yang telah menyebabkan pengrusakan besar di muka bumi di sepanjang sejarah, bisa digolongkan sebagai orang-orang yang secara spiritual menyimpang dengan tujuan-tujuan dan keinginan-keinginan yang destruktif. Nah, dalam masyarakat yang menyimpang dan tersesat inilah, para nabi diangkat dan diutus kepada mereka. Ciri paling menonjol dari masyarakat semacam itu adalah keterasingan manusia dari fitrah suci mereka sebagai hamba Allah yang menyebabkan berkembangnya arus aspirasi material dalam suatu kelompok masyarakat tertentu sebagai pelaku penciptaan komoditi material, monopoli perdagangan dan pertambahan angka produk-produk material lainnya yang, pada gilirannya, menghasilkan kemiskinan di masyarakat lain. (bersambung, insya Allah)
—-
[1] Lihat postingan sebelumnya, tanggal 15 Desember 2008. Bagian dari buku Mengeja Tauhid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: