DOSA-DOSA BESAR DAN DOSA-DOSA KECIL (III)

Syi’ah Ahlulbait as
Salah satu hadis menyangkut kedudukan kaum Syi’ah dan para pecinta Ahlulbait as menyebutkan bahwa api neraka tidak dapat membakar mereka. Maka itu, jenis hadis-hadis ini memberitahukan kekuatan pada harapan kita. Kecintaan kita pada Ahlulbait as tentunya merupakan jaminan bagi kita namun itu tidak seharusnya membujuk kita untuk berbuat dosa secara terang-terangan.
Syi’ah dan Muhibbin
Hadis-hadis mengenai topik ini didasarkan pada dua poin penting. Pertama, terkait dengan kata ‘Syi’ah’ dan kedua, muhibbin (para pecinta) Ahlulbait as. Kedudukan dan status dari kaum Syi’ah yang sudah mencapai keutamaan di bidang ilmu dan amal saleh amatlah tinggi. Bahkan, mereka ini tidak memandang diri mereka sendiri pantas disebut sebagai Syi’ah (pengikut) Ahlulbait as. Ambil contoh, Muhammad bin Muslim Tsaqafi.
Dia adalah sahabat terkemuka (shahâbi) Imam Muhammad Baqir dan Imam Jafar Shadiq (salam atas mereka berdua). Kedua imam ini telah merekomendasikannya kepada kaum Syi’ah untuk pemecahan permasalahan keagamaan mereka. Muhammad bin Muslim Tsaqafi juga telah disebut-sebut sebagai fakih terbesar di zamannya dalam buku rijal (Rantai Para Perawi Hadis).
Pada salah satu kesempatan, Muhammad bin Muslim bersama dengan Abu Karibatul Azdi menemui Qadhi Syarik. Syarik menatap sekilas dengan marah dan berkata, “Dua orang ini Jafari dan Fathimi!” [Maksudnya, Syi’ah Ahlulbait as]. Ketika mendengar ini, keduanya mulai menangis getir. Ketika Qadhi menanyakan alasan mereka menangis, mereka menjawab, “Engkau telah menghimpunkan kami dengan pribadi tersebut [Imam Jafar Shadiq as]! Apakah orang-orang seperti kami yang tidak punya ketakwaan dan warak bisa dibandingkan dengan pribadi agung tadi? Apa hubungan debu dengan eksistensi Ilahi? (Sebuah ungkapan Persia) Kami sangat berutang kepadamu jika engkau bisa menerima permintaan kami (dan tidak memberi kami julukan yang kami tidak pantas menerimanya).”
Syi’ah Sejati adalah Mereka yang Mengikuti (Menaati) Para Imam as
Benar, kita dapat memberikan gelar ‘Syi’ah’ kepada individu-individu yang mengikuti para imam as dalam semua aspek karakter dan perkataan. Karena itu, Bab al-Hawaij Imam Musa Kazhim as berkata, “Syi’ah kami hanyalah orang-orang yang mengikuti kami (dalam semua aspek), melangkah dalam jejak kaki kami dan meniru amal-amal kami.” (Bihar al-Anwar)
Dialog Ali as dengan Sejumlah Syi’ah
Pada suatu senja, Ali as baru keluar dari mesjid. Alam sekitar begitu terang lantaran bulan purnama. Ia melihat di belakangnya sekelompok orang berjalan menujunya. Ia bertanya, “Siapakah kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah syi’ah-mu.” Ali memandang wajah mereka dengan cermat dan berkata, “Mengapa wajah kalian tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa engkau adalah seorang Syi’ah?”
“Maula, apakah tanda-tanda dari seorang Syi’ah?”
“Wajah-wajah mereka pucat karena ibadah mereka yang banyak dan takut pada Allah, punggung-punggung mereka bungkuk karena lamanya salat mereka, seringnya mereka berpuasa menjadikan perut mereka hampir-hampir bersentuhan dengan punggung mereka, bibir mereka kering karena seringnya berdoa dan berzikir, dan hati mereka disarati dengan ketakwaan kepada Allah.” (Bihar al-Anwar, al-Irsyad).
Sekarang, saya akan kutipkan tiga hadis demi manfaat yang bisa diambil pembaca:
Semata-mata Pengakuan Tidaklah Cukup
1) Jabir ra meriwayatkan dari Imam Jafar Shadiq as bahwa ia berkata, “Tidaklah cukup bagi siapa saja untuk menghubungkan dirinya dengan Syi’ah dan mengatakan bahwa, ‘Aku seorang pecinta Ahlulbait as?’ Demi Allah, Syi’ah kami tiada lain adalah orang yang bertakwa kepada Allah dan menaati segala perintah-Nya.” (al-Kafi)
2) Imam Jafar Shadiq as berkata kepada Mufadhdhal bin Umar, “Jika engkau ingin melihat salah seorang pengikut kami, maka carilah orang yang menjauhi dosa dan lebih takut kepada Pencipta-Nya dan tetap berharap akan pahala-Nya. Apabila engkau menemukan orang semacam itu maka ambillah ia untuk jaminan karena ia adalah salah satu pengikut.”
3) Isa bin Abdullah Qummi masuk ke majelis Imam Jafar as. Imam as berkata, “Orang itu bukanlah golongan kami ataupun kami tidak memandangnya dengan hormat, orang yang jika ia tinggal di sebuah kota yang berpenduduk ratusan ribu dan hanya ada satu orang bukan Syi’ah yang lebih takwa darinya.” (al-Kafi)
Maka itu, keimanan, amal perbuatan, dan ketakwaan dari Syi’ah Ahlulbait as semestinya demikian sehingga mereka dapat menjadi yang terbaik dan tak seorang pun yang melampaui mereka. Allah telah mendefinisikan orang-orang seperti itu sebagai khairul barriyah dalam al-Quran, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (QS al-Bayyinah: 7)
Nabi saw diriwayatkan telah menerangkan bahwa khairul barriyah merujuk kepada Syi’ah (pengikut) Ali: “Wahai Ali, khairul barriyah artinya engkau dan syi’ah-syi’ah-mu. Pada hari kiamat mereka akan ridha dengan apa yang Allah limpahkan kepada mereka dan mereka pun akan diridhai oleh Allah. (Tafsir Thabarsi, Manaqib Khwarazmi, Ibnu Hajar) (Bersambung, insya Allah)

2 Komentar

  1. mas wiwit said,

    Mei 13, 2010 pada 2:07 pm

    yang jelas islam adalah rahmatan lilalamin, karena semua sama disisi Allah SWT, kecuali kadar taqwanya, setuju.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: