Mengingat Imam Mahdi dan Beramal Berdasarkan Ajaran-ajarannya

Hadis-hadis dari para imam (salam atas mereka) begitu jelas berkenaan dengan fakta bahwa Imam Mahdi (salam atasnya) adalah saksi amal perbuatan kita dan ia mengetahui semua kegiatan kita. Di mana pun kita berada dan dalam kondisi apa pun, kita berada dalam pengawasan Imam (salam atasnya). Dia adalah mata dan telinga Allah Swt yang waspada. Setelah Anda yakin akan hal ini, Anda akan melihatnya dengan mata batin dan pengawasannya akan selalu ada dalam pikiran Anda. Maka itu adalah wajib bagi Anda untuk merasakan diri Anda di hadapannya. Setiap orang harus memiliki persepsi ini, kecuali orang yang buta hatinya.
Manakala seseorang yakin tentang hal ini, ia akan bertindak dengan cara yang sesuai dengan situasi ini. Sebagaimana halnya orang buta yang ia sendiri tidak bisa melihat apa-apa. Namun, ketika dia berada di hadapan seorang penguasa, ia akan bertindak dengan sangat hormat, sama seperti orang-orang yang tidak buta. Hal ini terjadi, karena dia yakin bahwa dia berada di hadapan penguasa, walaupun ia mungkin tidak melihat dengan matanya. Situasi dari seorang mukmin sama selama periode kegaiban.
Berdasarkan keimanannya, ia yakin bahwa Imam Mahdi (salam atasnya) melihatnya dan dia berperilaku sesuai dengannya. Hal ini disebutkan dalam hadis Kamaluddin oleh Syekh Shaduq. Imam Shadiq (salam atasnya) meriwayatkan dari nenek moyangnya dari Ali (salam atasnya) bahwa suatu hari ia [Ali] (salam atasnya) berada di mimbar Kufah. Beliau berkata, “Ya Allah, wujud hujah-Mu atas makhluk-Mu adalah pasti. Jadi, mereka dapat membimbing manusia menuju-Mu. Ajari mereka ilmu-ilmu-Mu sehingga hujah-Mu tidak didustakan dan setelah petunjuk-Mu, para pengikut-Mu tidak tersesat. Hujah itu baik itu jelas atau tidak ditaati, atau tersembunyi atau ditunggu. Kendatipun pada era bimbingan Imam tidak hadir di tengah-tengah manusia, ilmu dan kode etiknya terukir di hati orang mukmin, yang di atasnya orang yang beriman beramal.” (Kamaluddin, jil. 1, hal. 302)
Hadis yang terkenal ini telah tercatat dalam Al-Kâfî dan Ghaibat Nu’mani dengan perbedaan-perbedaan kecil. Ia menyebutkan ilmu, makrifat, perhatian dan zikir. Karena itu, kita harus merenungkan dengan hati-hati untuk mencapai tujuan tersebut.

1 Komentar

  1. nama tius said,

    April 29, 2010 pada 8:28 am

    ajaran yesus


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: