Arba’in Imam Husain as: Belajar tentang Ibadah, Keberanian, Kezuhudan, Kedermawanan, Kesabaran, dan Kepedulian Imam


Ibadah Imam Husain
Sejak kanak-kanak Imam Husain as sangat cinta ibadah. Beliau sering menunaikan salat bersama Rasulullah saw.
Hafash bin Ghiyats meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah saw berdiri untuk salat dan Imam Husain juga datang dan berdiri di sebelahnya. Ketika Rasulullah membaca takbir, Imam Husain yang baru berusia lima atau enam tahun waktu itu juga berusaha mengucapkannya tetapi tidak bisa diucapkan dengan benar. Rasulullah kembali mengucapkan takbir. Lagi-lagi Imam Husain tidak dapat mengucapkannya dengan benar. Maka Rasulullah pun mengucapkan takbir sebanyak tujuh kali secara bersama-sama. Oleh karena itu, sejak itu disunahkan membaca takbir tujuh kali sebelum Takbiratul Ihram.
Seseorang bertanya kepada Imam Zainal Abidin as, kenapa ayahnya mempunyai anak sedikit. Beliau menjawab, “Alasannya karena beliau menunaikan salat seribu rakaat setiap malam.” Imam Husain as juga menunaikan haji sebanyak dua puluh lima kali dengan berjalan kaki dan tunggangannya tetap berjalan di sampingnya selama perjalanan.
Sedemikian rupa kecintaannya beribadah kepada Allah sehingga pada malam Asyura ibadahnya terhenti karena harus menghadapi Umar bin Sa’d. Malam kesusahan adalah malam Asyura, segala malapetaka telah mengepung Imam as, bahkan saat beliau sedang khusyuk dalam salat dan beribadah sepanjang malam dengan keikhlasan, kerendahan hati dan penghambaan. Hanya orang seperti Imam Husain as saja yang dapat melakukan ibadah seperti ini. Musuh-musuh beliau menembakkan anak panah pada saat Imam Husain as sedang mendirikan salat. Lebih penting lagi adalah ketika beliau sedang mengerjakan salat asar. Makhluk yang terluka dan tertindas ini dikepung oleh musuh-musuh yang menyerang beliau dari segala sisi sementara beliau sedang menunaikan salat asar dengan isyarat. Puncaknya adalah mereka memenggalnya saat beliau sedang sujud.

Keberanian Imam Husain
Semasa hidup Amirul Mukminin as, seperti Imam Hasan as, Imam Husain as juga memperoleh penghargaan atas keberaniannya dalam Perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan. Prestasi terbesar beliau dalam hal ini adalah Perang Karbala pada Hari Asyura. Hamid bin Muslim, seorang tentara Yazid dan perawi atas peristiwa itu berkata, “Aku tidak menemukan siapa pun di dunia ini yang lebih berani daripada Imam Husain as. Selama tiga hari dalam keadaan lapar dan haus di atas pasir Karbala yang panas, mayat-mayat para kerabat, sahabat dan anak-anak bergelimpangan di hadapannya, rasa takut akan penistaan kaum wanita (kafilahnya), melukai setiap jengkal tubuhnya. Tidak ada di dunia ini yang dapat berperang dengan begitu berani seberani Imam Husain as. Serangan pertama Husain telah menciptakan kekacauan dalam pasukan Yazid. Orang-orang yang lari dari tatapannya kocar-kacir seperti belalang. Imam Husain as menyerang mereka dengan serangan bertubi-tubi. Akibatnya di berbagai tempat bertumpukan mayat-mayat. Serangan terakhirnya sangat dahsyat. Musuh lari tunggang-langgang karena begitu takutnya sehingga pasukan terakhir itu lari sampai ke Kufah. Di mana-mana terdengar jeritan, “Tolong kami! Tolong kami, Wahai Putra Rasulullah!” Melihat kenyataan pahit ini Putra Habibullah merasa kasihan pada mereka, kemudian beliau memasukkan pedang ke sarung. Kini waktunya untuk menampilkan mutiara kesabaran.”
Kezuhudan Imam Husain
Imam Husain as juga menjalani hidupnya dengan sederhana dan disiplin, seperti ayah dan kakeknya. Beliau tidak pernah memakai pakaian mahal atau memakan makanan enak. Beliau memberikan semua yang beliau terima kepada orang-orang miskin dan melarat.
Suatu hari beliau menerima sejumlah kekayaan dari baitul mal. Beliau menyimpannya sambil menunggu orang-orang yang membutuhkan datang sehingga beliau dapat membagi-bagikannya di antara mereka. Seseorang berkata, “Wahai Putra Rasulullah, jubah Anda banyak tambalannya. Kenapa Anda tidak mengambil sedikit uang darinya dan membeli jubah baru?”
Beliau berkata, “Ini cukup bagiku.”
Sangat sering masyarakat memberinya hadiah dan pemberian, namun beliau bagi-bagikan semuanya kepada anak-anak yatim-piatu, janda-janda dan orang-orang miskin.

Kedermawanan Imam Husain
Kebajikan Imam Husain as sedemikian masyhur. Suatu ketika Usamah bin Zaid sakit berat. Beliau pergi menjenguknya dan ketika sampai di dekatnya, beliau mendengar ia berkata, “Oh, betapa sedihnya.” Imam menanyakan masalahnya. Ia berkata bahwa ia sedang berutang sejumlah 60.000 dirham dan kini kematiannya sudah dekat, kesedihannya tidak mampu membayar utang tidak lebih sedih karena kematiannya. Imam berkata, “Jangan khawatir, utangmu tanggung jawabku.”
Usamah berkata, “Bagaimana jika aku mati sedangkan utang itu belum terbayar?” Imam berkata, “Percayalah, aku akan membayar utang-hutangmu sebelum kamu mati.”
Kemudian Imam as kembali ke rumahnya, memanggil para pemberi utang Usamah dan membayarkan utang-utangnya.

Kesabaran Imam Husain
Tidak ada yang bisa menerapkan kesabaran Imam Husain as. Jika kita mengabaikan semua kejadian selama hidup kita dan hanya memandang Tragedi Karbala, kita akan melihat bahwa jika kesabaran di seluruh dunia digabungkan, maka tidak ada yang dapat menandingi kesabaran Imam Husain as. Gunung-gunung petaka yang menerpa beliau di Karbala dan penderitaan-penderitaan yang dialami beliau sudah diketahui semua manusia. Tetapi bibirnya tidak sesaat pun mengucapkan keluhan. Pada waktu musibah menimpa, kalimat yang beliau ulang-ulang adalah: Kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali. Dapatkah orang yang di dalam urat darahnya ruh kesabaran mengalir, dapat digoyahkan oleh berbagai malapetaka yang mengepungnya? Malah, semakin dahsyat kesulitan itu menerpa, semakin terang cahaya wajah Husain. Beliau semakin yakin kepada Allah. Dunia menerima bahwa Husain adalah pemimpin orang-orang sabar.

Kesabaran Imam Husain
Tidak ada yang bisa menerapkan kesabaran Imam Husain as. Jika kita mengabaikan semua kejadian selama hidup kita dan hanya memandang Tragedi Karbala, kita akan melihat bahwa jika kesabaran di seluruh dunia digabungkan, maka tidak ada yang dapat menandingi kesabaran Imam Husain as. Gunung-gunung petaka yang menerpa beliau di Karbala dan penderitaan-penderitaan yang dialami beliau sudah diketahui semua manusia. Tetapi bibirnya tidak sesaat pun mengucapkan keluhan. Pada waktu musibah menimpa, kalimat yang beliau ulang-ulang adalah: Kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali. Dapatkah orang yang di dalam urat darahnya ruh kesabaran mengalir, dapat digoyahkan oleh berbagai malapetaka yang mengepungnya? Malah, semakin dahsyat kesulitan itu menerpa, semakin terang cahaya wajah Husain. Beliau semakin yakin kepada Allah. Dunia menerima bahwa Husain adalah pemimpin orang-orang sabar.
Kepedulian Imam Husain
Setelah Perang Nahrawan, pasukan Amirul Mukminin membawa Syimr sebagai tawanan. Suatu hari Imam Husain melewati penjara dan Syimr berkata, “Wahai Putra Rasulullah. Kasihanilah aku dan pintalah ayahmu untuk membebaskanku. Aku tidak dapat menanggung derita ini.”
Imam langsung pergi menemui Amirul Mukminin dan memohonnya agar membebaskan Syimr. Ali sangat marah dan berkata, “Anakku, kamu tidak mengetahui siapa sebenarnya makhluk ini. Dialah pembunuhmu. Suatu hari, ia akan menyembelihmu dalam keadaan kamu sedang kelaparan selama tiga hari.”
Imam Husain berkata, “Semua itu benar, tetapi aku telah berjanji padanya. Jangan biarkan aku dipermalukan di hadapannya.”
Akhirnya Amirul Mukminin membebaskannya.

(Maulana Zafar Hasan Amruhi, Mencontoh Para Wali,
, Penerbit Al-Huda)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: