Mengingat Imam Mahdi dan Beramal Berdasarkan Ajaran-ajarannya

Hadis-hadis dari para imam (salam atas mereka) begitu jelas berkenaan dengan fakta bahwa Imam Mahdi (salam atasnya) adalah saksi amal perbuatan kita dan ia mengetahui semua kegiatan kita. Di mana pun kita berada dan dalam kondisi apa pun, kita berada dalam pengawasan Imam (salam atasnya). Dia adalah mata dan telinga Allah Swt yang waspada. Setelah Anda yakin akan hal ini, Anda akan melihatnya dengan mata batin dan pengawasannya akan selalu ada dalam pikiran Anda. Maka itu adalah wajib bagi Anda untuk merasakan diri Anda di hadapannya. Setiap orang harus memiliki persepsi ini, kecuali orang yang buta hatinya. Baca entri selengkapnya »

Taubat yang Ikhlas dan Pemenuhan Hak-hak

Seperti disebutkan sebelumnya, dosa-dosa dan ketidaktaatan kita kepada syariah memainkan peran besar dalam memperpanjang kegaiban Imam Mahdi as. Tawqî Imam as lebih lanjut mengatakan, “Sesuatu yang menjauhkan kami dari mereka (para pengikut Imam Mahdi–penerj.) adalah hal-hal yang tidak menyenangkan yang kami dengar tentang mereka dan tidak menyukai dari mereka sesuatu yang kami tidak pernah harapkan dari mereka. Dan Allah adalah Zat yang pertolongan-Nya dicari dan cukuplah Dia bagi kami dan [Dia] sebaik-baiknya Pelindung.” (Bihâr al-Anwâr, jil. 53, hal. 177)

Tentang Tidak Boleh Mengemis, Yang Paling Dimurkai Tuhan, dan Orang yang Menuju Kesempurnaan

1. Nabi Muhammad saw: Tidak boleh mengemis (meminta) kecuali karena kemiskinan yang sangat sempit atau utang yang sangat menghimpit. (Bihar al-Anwar 96:156) (21/1/2010; 13:31:05)
2. Nabi saw: Orang yang paling dimurkai Tuhan: orang yang menyebarkan fitnah, yang menceraiberaikan orang yang bersaudara, dan yang menjatuhkan kehormatan orang-orang yang bersih. (Bihar al-Anwar 71:383) (25/01/2010; 15:03:51)
3. Imam Ali: Hanya orang yang menuju kesempurnaan yang merasakan kekurangan dirinya (Ghurar al-Hikam) (29/01/2010; 09:32:39)

Arba’in Imam Husain as: Belajar tentang Ibadah, Keberanian, Kezuhudan, Kedermawanan, Kesabaran, dan Kepedulian Imam


Ibadah Imam Husain
Sejak kanak-kanak Imam Husain as sangat cinta ibadah. Beliau sering menunaikan salat bersama Rasulullah saw.
Hafash bin Ghiyats meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah saw berdiri untuk salat dan Imam Husain juga datang dan berdiri di sebelahnya. Ketika Rasulullah membaca takbir, Imam Husain yang baru berusia lima atau enam tahun waktu itu juga berusaha mengucapkannya tetapi tidak bisa diucapkan dengan benar. Rasulullah kembali mengucapkan takbir. Lagi-lagi Imam Husain tidak dapat mengucapkannya dengan benar. Maka Rasulullah pun mengucapkan takbir sebanyak tujuh kali secara bersama-sama. Oleh karena itu, sejak itu disunahkan membaca takbir tujuh kali sebelum Takbiratul Ihram.
Seseorang bertanya kepada Imam Zainal Abidin as, kenapa ayahnya mempunyai anak sedikit. Beliau menjawab, “Alasannya karena beliau menunaikan salat seribu rakaat setiap malam.” Imam Husain as juga menunaikan haji sebanyak dua puluh lima kali dengan berjalan kaki dan tunggangannya tetap berjalan di sampingnya selama perjalanan.
Sedemikian rupa kecintaannya beribadah kepada Allah sehingga pada malam Asyura ibadahnya terhenti karena harus menghadapi Umar bin Sa’d. Malam kesusahan adalah malam Asyura, segala malapetaka telah mengepung Imam as, bahkan saat beliau sedang khusyuk dalam salat dan beribadah sepanjang malam dengan keikhlasan, kerendahan hati dan penghambaan. Hanya orang seperti Imam Husain as saja yang dapat melakukan ibadah seperti ini. Musuh-musuh beliau menembakkan anak panah pada saat Imam Husain as sedang mendirikan salat. Lebih penting lagi adalah ketika beliau sedang mengerjakan salat asar. Makhluk yang terluka dan tertindas ini dikepung oleh musuh-musuh yang menyerang beliau dari segala sisi sementara beliau sedang menunaikan salat asar dengan isyarat. Puncaknya adalah mereka memenggalnya saat beliau sedang sujud. Baca entri selengkapnya »

Tentang Tidak Boleh Mengemis, Orang yang Paling Dimurkai Tuhan, dan Orang yang Menuju Kesempurnaan

1. Nabi Muhammad saw: Tidak boleh mengemis (meminta) kecuali karena kemiskinan yang sangat sempit atau utang yang sangat menghimpit. (Bihar al-Anwar 96:156) (21/01/10; 13:31:05)
2. Nabi saw: Orang yang paling dimurkai Tuhan: orang yang menyebarkan fitnah, yang menceraiberaikan orang yang bersaudara, dan yang menjatuhkan kehormatan orang yang bersih (Bihar al-Anwar, 71:383) (25/01/10; 15:03:51)
3. Imam Ali: Hanya orang yang menuju kesempurnaan yang merasakan kekurangan dirinya (Ghurar al-Hikam) (29/01/10; 09:32:39)

Berdoa kepada Allah agar Kita Tidak Kehilangan Ingatan kepada Imam Zaman as

Hendaknya kita berdoa kepada Allah Swt agar kita tidak pernah lalai dalam mengingat Imam Zaman (salam atasnya). Pasalnya, Allah Swt telah menetapkan seperangkat aturan bagi kita sekaitan dengan Imam Zaman (salam atasnya). Syekh Amir, duta khusus Imam Zaman (salam atasnya) di masa kegaiban pendek, mengatakan, “Jangan hapuskan ingatan kepada Imam (salam atasnya) dari hati-hati kita.” (Kamaluddin, vol.2, pagina 513)
Mari renungkan kata-kata ini: Betapa pentingnya komponen doa dan bagaimana orang Syi’ah dianjurkan untuk memasukkan kata-kata tersebut dalam doa-doa mereka. Kita semestinya jangan pernah mengabaikan noktah penting ini. Kita harus mencamkan dalam pikiran khususnya ketika kita mempunyai harapan tinggi untuk diterimanya doa-doa kita. Kita seyogianya memohon kepada Allah dan meminta-Nya untuk tidak menjadikan kita alpa dalam mengingat Imam (salam atasnya). Kita tidak boleh menunda-nunda masalah ini sehingga seseorang menderita dengan penyakit ketidaksadaran sebelum ia mulai berdoa. Menurut riwayat-riwayat para Imam (salam atas mereka) kiranya penting bagi kaum mukmin untuk berdoa sebelum bencana datang.
Siapa pun harus berusaha menghindari segala dosa yang bisa mencerabut ingatan kepada Imam Zaman karena itu merupakan bencana besar seperti disebutkan dalam doa Amirul Mukminin Ali (salam atasnya) dalam doa Kumail-nya, “Ya Allah, ampunilah kami dari dosa-dosa kami yang menyebabkan turunnya musibah (dan kemalangan).”