Kaum Extremis Wahhabi Saudi Memaksa Jamaah Syi’ah Shalat Di Jalan

Umat Syi’ah Saudi di kota Khobar dipaksa untuk mendirikan shalat mereka di jalan-jalan di lingkungan mereka karena ekstremis Wahhabi mencegah mereka dari menggunakan masjid-masjid Sunni yang biasa mereka gunakan untuk shalat di dalamnya.


Beberapa jamaah menginformasikan bahwa sekelompok orang yang berwajah dan berpenampilan tipikal khas Wahhabi—janggut panjang dan celana sampai di atas mata kaki—muncul dari luar lingkungan dan mencegah mereka dari melakukan shalat-shalat mereka di sebuah masjid Sunni.

Pihak otoritas Saudi memberikan izin mereka kepada warga Saudi bermazhab Syi’ah untuk mendirikan shalat di masjid-masjid Sunni ini.
Para ekstremis Wahhabi ini muncul bersama penjaga masjid dan mulai terlibat sengketa panas sehingga nyaris terjadi bentrokan.

Para ektremis Wahhabi menghina Imam Syi’ah, Sayid Muhammad Nasser, namun beliau menanggapinya dengan tenang dan memerintahkan para jamaah untuk meninggalkan masjid guna meredakan situasi.

Sayid Muhammad al-Nasser mendirikan shalat-shalat di jalan sebelah masjid yang mereka dipaksa untuk meninggalkannya.

Sumber-sumber menginformasikan bahwa delegasi Syi’ah berencana untuk menemui para pejabat di Pemerintahan Provinsi Timur (EMARA) untuk membawa perhatian mereka apa yang terjadi.

Iklan

Perbaikan-Diri

Kewajiban berikutnya adalah menghilangkan kebiasaan-kebiasaan kotor dan sifat-sifat buruk serta memperindah kepribadian kita dengan moral yang baik. Ini adalah kewajiban di setiap saat tetapi terutama ditekankan lagi untuk periode kegaiban karena ia adalah syarat wajib untuk mendapatkan kelayakan sebagai sahabat-sahabatnya.

Nu’mani ra mencatat sebuah riwayat dari Imam Shadiq as yang mengatakan, ”Barangsiapa yang menginginkan untuk dimasukkan di antara para sahabat Imam Zaman (salam atasnya), haruslah menjadi seorang muntazhir (orang yang menunggu), dan ia haruslah saleh dan perilaku baik. Jadi, sekalipun ia wafat sebelum munculnya kembali Imam as, ia akan mendapatkan ganjaran yang sama seakan-akan dia sedang bersama Imam as. Berjuang dan nantikanlah! Sekiranya engkau ingin dianugerahi Kerahiman Ilahi…” (Ghaibat Nu’mani, hal. 106)

Mengutamakan Keinginan Imam Zaman Daripada Keinginan Kita

Ini berarti bahwa ketika kita berniat untuk mengambil sebuah langkah kita harus memikirkan langkah itu apakah Imam Zaman (semoga Allah mempercepat kemunculannya) akan ridha dengan hal itu ataukah tidak. Kita harus melakukannya hanya jika sesuai keinginannya dan tidak melakukannya jika hal itu akan menyebabkan ketidakrelaannya. Dalam situasi seperti itu kita harus mengatasi keinginan pribadi kita dan meraih keridhaan Imam. Anda akan menjadi kekasihnya dan diingat dengan kata-kata mulia oleh Imam (salam atasnya) dan nenek moyangnya. Ini disebutkan dalam riwayat yang dicatat oleh Fadhil Muhaddis Nuri yang mengutipnya dari kitab Amali Syaikh Thusi bahwa perawi bertanya kepada Imam Shadiq (salam atasnya), “Mengapa kami mendengar begitu banyak tentang Salman Parisi dari Anda?” Imam (salam atasnya) menjawab, “Jangan panggil dia Salman Parisi, katakanlah: Salman Muhammadi. Apakah engkau tahu mengapa aku banyak mengingatnya?”
“Hal ini karena tiga hal,” kata Imam (salam atasnya), “Dia mengutamakan keinginan Amirul Mukminin Ali (salam atasnya) daripada keinginan pribadi. Berteman dengan orang miskin dan memilih mereka daripada orang-orang kaya dan keterikatannya kepada ilmu dan para ulama. Sesungguhnya Salman adalah seorang Muslim dan bukan orang-orang musyrik.”(Bihâr al-Anwâr, vol. 22, hal.327)

Tentang “Bila Aku Ditaati…”

Bila Aku ditaati, Aku ridha. Bila Aku ridha, Aku berkati. Dan pemberkatan-Ku tidak ada batasnya. (Al-Kaafii 2: 275) (15/01/10; 18:25:45)

Tentang Keborosan, Doa, dan Segala Sesuatu Ada Zakatnya

1. Imam Ali ‘alaihissalam: Man iftakhara bittabdziir, ihtaqara bil iflaas. Orang yang membanggakan keborosan akan terhina dengan kebangkrutan. Ghurar al-Hikam (12/01/10; 17:51:33)
2. Ya Allah, jangan lalaikan aku dengan limpahan kebaikan-Mu, dan jangan Kaudidik aku dengan ujian-Mu. (Al-Bihar 78:127) (12/01/10;18:03:11)
3. Imam Ali ‘alaihissalam: Segala sesuatu ada zakatnya, zakatnya kemakmuran ialah berbuat baik kepada tetangga dan menyambungkan persaudaraan (silaturahim) (Ghurar al-Hikam) (19/01/10; 16:02:16)

‘Mualaf’ Syi’ah di di Brussels: “Kita Hidup dalam Dusta”

21 Maret 2009 (MO) – Penganut Sunni yang menjadi Syi’ah bukan suatu pengecualian lagi. Di Brussels, orang-orang Maroko cenderung lebih mudah berubah keyakinan daripada masyarakat Turki.
Pada hari Jumat setelah shalat zuhur. Syekh Abdullah menukar jubah panjang dan surbannya dengan celana dan jaket. Dia meminta saya untuk menunggu, sementara ia berbicara kepada seorang pemuda. Percakapan memakan waktu sepuluh menit di kantor (perpustakaan tambahan) dari masjid Syi’ah Erreda [ar-Ridha ?] di Anderlecht. Bahasa umum adalah Bahasa Persia. Syekh Abdullah adalah penduduk asli Maroko. Ia dibesarkan sebagai seorang Sunni, namun setelah mengkonversi keyakinan, ia pindah ke Iran untuk belajar teologi [di hawzah]. Dia tinggal di Iran selama sepuluh tahun. Sekarang ia adalah seorang imam di Mesjid Erreda Anderlecht tempat para pengikutnya adalah sebagian Maroko asli. Baca entri selengkapnya »

Membahagiakan Mukmin, Membahagiakan Imam Mahdi

Membahagiakan orang-orang mukmin pada masa kegaiban artinya menjadikan Imam Mahdi (semoga Allah mempercepat kemunculannya) sangat bahagia. Memyenangkan dan membahagiakan orang-orang mukmin adalah mungkin melalui bantuan keuangan ataupun bantuan tenaga.
Kadang-kadang kenikmatan mereka diperoleh dengan memecahkan masalah-masalah mereka atau merekomendasikan kasus mereka ke beberapa pihak yang berwenang atau bahkan dengan berdoa untuk mereka. Di lain waktu, kita bisa membuat mereka bahagia dengan memberi mereka kelonggaran untuk pelunasan utang. Jadi, ketika melakukan salah satu tindakan di atas, jika niat dari dari pelaku adalah bahwa Imam (as) akan ridha dengan perbuatan itu, ia akan mendapatkan ganjaran untuk itu. Ada lebih banyak kemuliaan dalam hal ini daripada hanya menyenangkan orang yang mukmin. Sebuah hadis dari Imam Shadiq as dalam al-Kâfî yang mengatakan, “Barangsiapa di antara kalian membahagiakan seorang mukmin, hendaknya tidak boleh berpikir bahwa kalian telah membahagiakan orang mukmin ini. Demi Allah, dia telah membahagiakan kami! Demi Allah, dia telah membahagiakan Rasulullah.” (Al-Kâfî ,vol. 2, pagina 189).

Tentang Kerabat, Keburukan Dunia, dan Tiga Ciri Wali Abdal

1. Imam Hasan as: Al-Qariib man qarrabathul mawaddah wa in ba’uda nasabah. Kerabat adalah orang yang dekat kecintaannya, walaupun jauh nasabnya (Tuhaf al-Uqul 234) (4/1/2010; 17:31:24)
2. Imam Ali as: Untuk segala sesuatu yang atasnya manusia berkata, “Alangkah bagusnya!”, tersembunyi di dalamnya satu keburukan dunia (Nahjul Balaghah, Qishar 296) (8/1/2010; 09:31:30)
3. Nabi saw: Tiga hal ciri wali abdal: rida dengan qadha, sabar dalam menghindari apa yang dilarang Allah, dan marah karena Allah (Kanzul Ummal 34599) (12/1/2010; 17:03:42)

Tentang Orang Arif, Kearifan, dan Tidak Boleh Menghina Makhluk Allah

1. Imam Ali: Orang arif itu temannya kebenaran, musuhnya kebatilan. Al-Kayyis shiddiiquhu alhaqq wa ‘aduwwuhu al-baathil. (Ghurar al-Hikam) (7/12/2009; 09:30:32)
2. Imam Ali: Termasuk kearifan ialah tidak menentang orang di atasmu, tidak menghina orang di bawahmu, tidak bertentangan lidahmu dengan hatimu, tidak berbeda katamu dengan lakumu (al-Ghurar) (9/12/2009; 16:01:01)
3. Janganlah kamu menghinakan seorang pun di antara makhluk Allah karena kamu tidak tahu siapa di antara mereka yang kekasih (wali) Allah. (Bihar al-Anwar 75:147) (18/12/2009; 09:30:41)