Dua Belas Hal untuk Menjaga Iman: Nasihat Ulama

PENULIS buku Fikih Musafir (Cahaya, 2009), Abdul Hadi dan Sayid Muhammad Taqi al-Hakim menasihati kaum Muslim dua belas hal untuk menjaga keimanan. Berikut nasihat mereka.
1. Terus-menerus membaca surah atau ayat-ayat al-Quran setiap hari semampunya, atau mendengarkan suara lantunan al-Quran dengan hati yang khusyuk, penuh renungan, dan tafakur. Karena di dalam al-Quran terdapat bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat (QS al-A’raf: 203-204)

Hal itu karena “Tidak seorang pun yang berteman dengan al-Quran, kecuali al-Quran itu akan melakukan penambahan atau pengurangan, yaitu penambahan dalam petunjuk atau pengurangan dari kebutaan. Ketahuilah bahwa tidak ada kefakiran bagi seseorang setelah dia (berteman) dengan al-Quran, dan tidak ada kekayaan yang lebih besar bagi seseorang setelah dia (berteman) dengan al-Quran. Karena itu, obatilah penyakit-penyakit kalian dengannya, mintalah bantuan untuk melindungi diri kalian dengannya. Sungguh di dalam al-Quran terdapat penyembuh untuk penyakit terbesar, yaitu kekafiran, kemunafikan, kesalahan dan kesesatan. Dengan demikian, maka mintalah kepada Allah dengannya, menghadaplah kepada-Nya dengan mencintainya. Janganlah sekali-kali kalian meminta kepada makhluk-Nya dengan al-Quran. Sungguh tidak ada hamba yang dapat menghadap kepada Allah seperti halnya orang yang menghadap-Nya dengan al-Quran. Ketahuilah, al-Quran adalah pemberi syafaat dan berkata jujur. Barangsiapa yang diberikan syafaat oleh al-Quran kepadanya di hari Kiamat, maka dia pasti akan mendapat syafaat dari Allah.”[1]
Sungguh “Orang yang membaca al-Quran dan dia seorang pemuda yang mukmin, maka al-Quran akan bercampur dengan daging dan darahnya. Dan Allah akan menjadikan orang tersebut bersama orang-orang mulia yang suci, dan al-Quran akan menjadi penghalang baginya (dari api neraka) di hari kiamat kelak.”[2]
Ada beberapa mushaf beserta tafsir singkatnya yang mudah dibawa dan banyak memberi manfaat ketika seseorang berada dalam pengasingan.

2. Menjalankan shalat wajib tepat pada waktunya, bahkan shalat selain wajib sekalipun jika memungkinkannya.[3] Dalam riwayat, ketika dalam Perang Mu’tah, Nabi saw menasihati Abdullah bin Rawahah dan berkata kepadanya, “Sungguh kamu akan mendatangi sebuah negara yang di dalamnya jumlah orang yang sujud di sana sangatlah sedikit. Maka dari itu, perbanyaklah kamu untuk bersujud.”
Zaid bin Syaham meriwayatkan dari Abu Abdillah, bahwa dia mendengar Abu Abdillah berkata, “Sebaik-baik amal yang paling dicintai Allah Àzza wa Jalla adalah shalat. Itu adalah pesan terakhir dari pesan-pesan yang disampaikan oleh para nabi.”[4]

Imam Ali telah berwasiat kepada kita tentang shalat, beliau berkata, “Perhatikanlah urusan shalat dan jagalah dia. Perbanyaklah menunaikannya dan mendekatlah kepada Allah dengannya, karena sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. Tidakkah kalian mendengar jawaban penduduk neraka ketika mereka ditanya apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,” (al-Muddatstsir: 42-43).

Sesungguhnya shalat itu dapat meruntuhkan dosa seperti runtuhnya dedaunan dari pohon dan melepaskan dosa seperti lepasnya tali dari ikatan. Rasulullah saw mengibaratkan shalat ini dengan kamar mandi yang ada di depan pintu seseorang. Dalam waktu sehari semalam dia mandi lima kali, maka tidak akan ada kotoran sedikit pun yang tersisa pada dirinya.”[5]

3. Membaca doa, munajat, dan berzikir yang mudah. Ini semua mengingatkan akan dosa dan membawa orang untuk bertaubat, mendorong manusia untuk menjauhi keburukan, dan menambahkan bekal kebaikan. Misalnya, doa-doa Shahifah Sajjadiyah Imam Ali Zainal Abidin, doa Kumail bin Ziyad, dan doa-doa bulan Ramadhan seperti doa Abu Hamzah ats-Tsumali dan doa sahur, serta doa mingguan dan lain sebagainya.
Penyucian seperti ini sangat dibutuhkan bagi setiap Muslim terutama mereka yang berada di negara selain negara Islam.

4. Secara rutin mendatangi pusat-pusat dan lembaga Islam yang sering mengadakan hari-hari besar dan peringatan keagamaan, hari kelahiran, majelis kesedihan, dan peringatan-peringatan keagamaan lainnya yang dapat memberi nasihat, pengarahan, dan wawasan baik pada bulan Ramadhan, Muharram, Shafar, ataupun pada bulan, hari serta waktu-waktu lainnya.

Kemudian hendaknya seorang mukmin segera menghidupkan peringatan-peringatan seperti ini di rumah-rumah mereka, ketika berada di negara-negara yang sangat membutuhkan adanya pusat lembaga Islam.

5. Menghadiri berbagai pertemuan dan muktamar Islam yang diadakan di negara-negara tersebut serta bergabung di dalamnya.

6. Membaca kitab, majalah, serta koran-koran Islam agar dapat mengambil manfaat darinya dan sekaligus menikmatinya sebagai khazanah keilmuan.

7. Mendengarkan berbagai macam kaset yang berisikan ceramah-ceramah Islam yang telah disiapkan oleh para ustad dan para penceramah besar. Sebab, di dalam kaset-kaset ceramah tersebut terdapat nasihat dan peringatan.

8. Menjauhi tempat-tempat hiburan dan kerusakan, termasuk menghindari menyaksikan acara televisi yang buruk serta saluran khusus yang memberikan tayangan-tayangan yang tidak sesuai dengan akidah, agama, norma, kebiasaan, tradisi, dan pemikiran kita serta peradaban Islam.

9. Mencari sahabat yang saleh yang dapat diarahkan dan memberikan pengarahan, yang dapat diluruskan dan memberikan pelurusan. Hendaknya memanfaatkan waktu-waktu kosong untuk duduk bersama mereka dengan membahas sesuatu yang berguna. Hendaknya menjauhi persahabatan dengan teman-teman yang berperilaku buruk. Imam Shadiq meriwayatkan dari ayah-ayahnya, beliau berkata dalam sebuah hadis Rasulullah saw yang bersabda, “Tidak seorang Muslim pun yang dapat mengambil keuntungan setelah Islam seperti halnya saudara yang memberi keuntungan kepadanya di jalan Allah.”[6]

Maisarah bercerita bahwa Imam Abu Ja’far Shadiq bertanya kepadanya, “Apakah kalian berbuat hampa, berbicara, serta berkata-kata sesuka kalian?”

“Benar, demi Allah, kami adalah hampa dan berbincang-bincang serta berkata sesuka kami,” jawab Maisarah.
Lalu beliau berkata, “Ingatlah demi Allah, aku sangat berkeinginan bisa bersama kalian ketika kalian berada di tempat-tempat tersebut. Ingatlah demi Allah, sungguh aku sangat mencintai bau wangi ruh kalian sedangkan kalian berada dalam agama Allah dan naungan malaikat-Nya. Maka dari itu, berusahalah dengan sikap menjaga diri dan semangat (beribadah).”[7]

10. Mengintrospeksi diri setiap hari atau setiap minggu tentang apa yang telah diperbuat. Apabila yang telah diperbuat adalah kebaikan, hendaknya bersyukur kepada Allah dan meningkatkannya lagi. Apabila yang telah diperbuat adalah keburukan, hendaknya meminta ampun dan bertaubat kepada-Nya dan berniat untuk tidak mengulanginya lagi. Nabi Muhammad saw telah berwasiat kepada Abu Dzar dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Dzar, hisablah dirimu sebelum kamu dihisab karena sesungguhnya hal itu akan meringankan hisabmu di hari esok. Timbang-timbanglah dirimu sebelum kamu ditimbang, bersiaplah untuk menghadapi pertunjukan besar di hari pertunjukan yang tidak ada tersembunyi bagi Allah. Wahai Abu Dzar, tidak tergolong orang yang bertakwa hingga orang tersebut mengintrospeksi dirinya melebihi daripada seorang sekutu terhadap sekutunya. Mengetahui darimana asal minuman dan pakaiannya, apakah hasil dari yang halal ataukah dari yang haram.”[8]
Imam Kazhim berkata, “Tidak termasuk golongan kami orang yang tiap harinya tidak melakukan hisab terhadap dirinya. Apabila telah melakukan kebaikan, dia meminta tambahan kepada Allah Ta’ala, dan apabila telah melakukan keburukan, dia meminta ampun kepada Allah dan bertaubat.”[9]

11. Memerhatikan bahasa Arab sebagai bahasa al-Quran dan bahasa berbagai sumber hukum Islam serta syariat. Di samping juga sebagai bahasa nenek moyang bagi kaum muslimin yang menggunakan bahasa Arab sekaligus memerhatikan anak-anaknya agar tidak berbicara dalam keluarga kecuali dengan bahasa Arab. Apabila status mereka adalah para pelajar yang mempelajari lebih dari satu bahasa asing, maka hendaknya mereka mempelajari bahasa al-Quran agar dapat meneruskan agama, warisan, norma, dan sejarah, serta peradaban mereka.

12. Memerhatikan generasi baru melalui pendidikan anak-anak agar mencintai kitab Allah dan senang membacanya dengan cara mengadakan lomba dan aktivitas lain yang dapat mendorong untuk ke arah sana. Membiasakan mereka beribadah dan berakhlak mulia, seperti sikap jujur, berani, tepat janji, dan mencintai orang lain. Kemudian hendaknya mengajak mereka pergi ke lembaga dan pusat-pusat Islam sehingga mereka akan menjadi terbiasa. Mengenalkan musuh-musuh Islam kepada mereka dan menanamkan semangat persaudaraan Islam dalam hati mereka. Mengajak mereka bergabung dalam berbagai peringatan dan hari-hari besar Islam. Mendidik mereka untuk mencintai kerja dan bersikap serius serta hal-hal lain yang bisa membantu mereka untuk meningkatkan pemahaman yang lebih baik tentang Islam. Dengan demikian, maka mereka akan bersikap yang lebih baik dalam hidup ini sesuai dengan nilai dan prinsip Islam itu sendiri.

———————-
Catatan
1. “Shubhi Shaleh” dalam Ali bin Abi Thalib, Nahj al-Balâghah, hal. 252.
2. Al-Kulaini, al-Ushul min al-Kafi, jil. 2, hal. 603.
3. Lihat bab “Istihbab Menjaga secara Kontinu Menunaikan Shalat Sunah” dalam al-Hurr al-Amili, Wasâ’il asy-Syî’ah, jil. 4, hal. 87-105.
4. Al-Hurr al-Amili, op. cit., jil. 4, hal.38.
5. “Kumpulan Shubhi Shaleh” dalam Ali bin Abi Thalib, op. cit., hal. 317.
6. Al-Hurr al-Amili, op. cit., jil.12, hal.233.
7. Al-Kulaini, op. cit., jil.2, hal.187. Lihat Bab “Ziyarat al-Ikhwan”, jil.2, hal.175 dan “Tadzukur al-Ikhwan”, jil.2, hal.186 dari kitab yang sama.
8. Syaikh Tusi, al-Amali, jil.2, hal.19.
9. An-Naraqi, Jami’ as-Saàdat, jil.3, hal.94.

2 Komentar

  1. nurrahman18 said,

    November 20, 2009 pada 3:55 am

    trimakash atas nasehatny di hari jumat.mencerahkan

    • amuli said,

      November 20, 2009 pada 4:00 am

      Terima kasih juga sudi kunjungi blog sederhana dari al-faqir ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: