Hajj: The Antithesis of Aimlessness

Life today (not life as it should be carried on) is an idle cyclical action a movement with no goal! A meaningless pendular action starts with the day only to end at night and night starts only to disappear at dawn. In the mean time, man is busy watching the play of these black and white “mice” who chew the strings of our life until we die.

Life (as we live it) is like a theater. Man watches these aimless nights and days. Indeed, what foolish play is conducted! When you are in need, you hope and struggle to overcome your needs. Yet once you achieve this, you view your past efforts humorously. What a senseless philosophy to live by! Baca entri selengkapnya »

Iklan

Tentang Mengecam Manusia, Kebaikan dengan Akal, dan Kebodohan

1. Isa al-Masih as: Kamu kecam manusia berdasarkan sangkaan, tapi kamu tidak mengecam dirimu berdasarkan keyakinan. (al-Bihar 14: 305) (16/11/09; 09:32:45)
2. Nabi saw: Kebaikan itu seluruhnya diperoleh dengan akal. Tidak ada agama buat orang yang tidak menggunakan akalnya (Bihar 77: 158) (23/11/09; 11:02:53)
3. Ketika sahabat memuji-muji seseorang, Nabi saw bertanya, ‘Bagaimana akalnya? (Krn) orang bodoh bisa jatuh karena kebodohannya pada dosa yang lebih besar dari dosa pendosa. (Majma al-Bayan 10:324) (25/11/09; 09:32:45)

In Memoriam Imam Muhammad al-Baqir as

Dalam sejarah Islam, tanggal 7 Dzulhijjah adalah tanggal wafatnya Khalifah Muslim yang ke-5, yakni Imam Muhammad al-Baqir, putra Imam Ali Zainal Abidin, putra Husain bin Ali bin Abi Thalib. Seperti kita tahu, Imam Ali al-Murtadha adalah suami Sayidah Fathimah az-Zahra binti Nabi saw. Banyak petuah dari Imam al-Baqir yang disampaikan kepada para pengikut dan pecintanya yang bisa menjadi bahan koreksi-diri kepada kaum Muslim sejauhmana mereka mencintai dan mengikuti jejak langkah Nabi dan keluarganya. Berikut sebagian petikan nasehat beliau.


1. “Bertakwalah kepada Allah Swt. Pengikut kami adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dan memberikan ketaatan kepada-Nya.” (Al-Kâfî 2:74)
2. “Jangan kalian mengambil sembarang pendapat. Demi Allah, pengikut kami adalah orang yang taat kepada Allah Swt.” (Al-Kâfî 2:73) Baca entri selengkapnya »

Dua Belas Hal untuk Menjaga Iman: Nasihat Ulama

PENULIS buku Fikih Musafir (Cahaya, 2009), Abdul Hadi dan Sayid Muhammad Taqi al-Hakim menasihati kaum Muslim dua belas hal untuk menjaga keimanan. Berikut nasihat mereka.
1. Terus-menerus membaca surah atau ayat-ayat al-Quran setiap hari semampunya, atau mendengarkan suara lantunan al-Quran dengan hati yang khusyuk, penuh renungan, dan tafakur. Karena di dalam al-Quran terdapat bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat (QS al-A’raf: 203-204)

Hal itu karena “Tidak seorang pun yang berteman dengan al-Quran, kecuali al-Quran itu akan melakukan penambahan atau pengurangan, yaitu penambahan dalam petunjuk atau pengurangan dari kebutaan. Ketahuilah bahwa tidak ada kefakiran bagi seseorang setelah dia (berteman) dengan al-Quran, dan tidak ada kekayaan yang lebih besar bagi seseorang setelah dia (berteman) dengan al-Quran. Karena itu, obatilah penyakit-penyakit kalian dengannya, mintalah bantuan untuk melindungi diri kalian dengannya. Sungguh di dalam al-Quran terdapat penyembuh untuk penyakit terbesar, yaitu kekafiran, kemunafikan, kesalahan dan kesesatan. Dengan demikian, maka mintalah kepada Allah dengannya, menghadaplah kepada-Nya dengan mencintainya. Janganlah sekali-kali kalian meminta kepada makhluk-Nya dengan al-Quran. Sungguh tidak ada hamba yang dapat menghadap kepada Allah seperti halnya orang yang menghadap-Nya dengan al-Quran. Ketahuilah, al-Quran adalah pemberi syafaat dan berkata jujur. Barangsiapa yang diberikan syafaat oleh al-Quran kepadanya di hari Kiamat, maka dia pasti akan mendapat syafaat dari Allah.”[1] Baca entri selengkapnya »

Rahasia Shalat Menurut Syeikh Bahjat qs

Ayatullah Bahjat berkata:
“Shalat melambangkan Ka’bah. Takbiratul ihram artinya menyingkirkan segala sesuatu selain Allah dan memasuki haram-Nya. Qiyam (berdiri) menggambarkan percakapan dua orang sahabat. Rukuk melambangkan ketundukan seorang budak di depan majikannya, dan sujud adalah peragaan puncak atas kerendahan, kehinaan, dan ketakberberdayaan di depan Majikan. Ketika si hamba kembali dari shalat, hadiah yang ia terima kembali adalah ucapan salam dari Rabb-nya…”
(Sumber: http://www.islamicdigest.net/v7core/category/irfan-gnosismysticism/page/14/)

Hari-hari Penting di Bulan Dzulhijjah

1 : Pernikahan Imam Ali as dan Sayidah Fatima Zahra as
7 : Kesyahidan Imam Muhammad Baqir as (w. 114 H)
9 : Hari Arafah, Kesyahidan Muslim bin Aqil as
10 : Idul Adha
15 : Hari kelahiran Imam Ali Hadi Naqi as (l. 212 H)
18 : Idul Ghadir (10 H)
19/23 : Kesyahidan Maytsam at-Tammar (pengikut Ali) ra.
24 : Peristiwa Mubahalah 10 H
24 : Peristiwa penunaian sedekah Imam Ali as dalam keadaan rukuk
25 : Penerimaan khilafah formal oleh Imam Ali as

Nasehat-nasehat Imam Muhammad al-Jawad as

Hari ini, akhir Dzulqa’dah, menurut sebagian riwayat dari kalangan pecinta Ahlulbait Nabi saw, merupakan hari syahadah Imam Muhammad al-Jawad, khalifah ke-9 kaum Muslim. Beliau syahid karena diracun oleh istrinya, Ummu Fadhl, putri Khalifah Makmun Abbasi. Kesyahidan beliau karena diracun oleh istri sendiri mirip dengan kesyahidan Imam Hasan al-Mujtaba as, Khalifah ke-2 kaum Muslim, yang juga syahid karena diracun oleh istrinya atas suruhan Muawiyah. Bedanya, jika Imam Hasan al-Mujtaba syahid disaksikan oleh adik-adiknya seperti Imam Husain, Zainab, dan lain-lain, Imam al-Jawad tak dihadiri oleh siapa-siapa. Sebagai penghormatan kepada beliau, berikut kami kutipkan sejumlah nasehat Imam al-Jawad kepada manusia.

Tobat dan Mukmin yang Kaya
Imam al-Jawad mengajak pada jalan tobat dan menjelaskan caranya. Beliau meriwayatkan dari Imam Ali as, “Tobat itu berdiri atas tiga tiang: penyesalan hati, istighfar dengan lisan, amal dengan anggota-anggota badan dan tekad untuk tidak mengulangi (perbuatan dosa).”
“Tiga perkara yang menyampaikan hamba kepada keridhaan Allah: banyak istighfar, tawadu, dan banyak sedekah.”
“Mukmin yang kaya adalah yang tidak bergantung pada manusia”

Doa Lelaki dengan Mata Berkaca-kaca

Tuhan, ampuni aku yang menjalani kemiskinan
dengan ketakrelaan
Ampuni aku yang cita-citanya rendah
Ampuni aku yang nafsunya besar hartanya kurang
yang bacaannya filsafat, tapi hatinya tetap sesat
yang jadikan pelajaran irfan semata hiburan
yang nerjemahin buku-buku akhlak tapi pekertinya
rusak

(puisi jadul, 2004)

Fenomena Dunia

Dalam salah satu petuahnya Rasulullah SAW bersabda;
“Dunia selalu berubah-ubah. Jika sudah menjadi bagianmu ia akan datang kepadamu meski engkau lemah. Dan jika menjadi musibah bagimu, engkau tidak akan mampu menolaknya meski engkau kuat. Barangsiapa putus harapannya atas apa yang telah berlalu maka ia telah menenangkan dirinya. Dan barangsiapa rela dengan apa yang telah Allah tentukan, maka ia berbahagia.” (Tuhaf al-Uqul halaman 40)

Kata ‘duwal’ dalam hadis ini bermakna sesuatu yang bergilir. Fenomena dunia selalu mengalami perubahan. Jangan sampai kita beranggapan bahwa harta, kedudukan, sarana, kesehatan dan kebugaran yang kita miliki saat ini akan selamanya kekal. Tidak demikian. Sebab mungkin saja semua itu akan diambil dari tangan kita. Yang dimaksud dengan kata ‘dunya’ dalam sabda beliau ini, adalah dunia yang dicela. Dunia di sini adalah dunia yang membuat manusia dan hawa nafsunya rakus untuk mendapatkan dan menguasainya, bukan dunia yang memberikan kesempatan bagi manusia untuk menghias diri dengan kemuliaan dan kebaikan akhirat, bukan pula hal-hal yang semua orang diperintahkan untuk mencarinya, juga bukan pekerjaan membangun dan memakmurkan kehidupan dunia ini.[] source: http://www.khamenei.ir)

Membaca Hujan


Aku membaca hujan
dengan tafsir kegelisahan
dengan karya Ibn ‘Arabi
tetapi tak ada jawaban
yang kuharap memuas hati
sebentuk asmara yang terpendam

(puisi jadul, tahun 2004)

« Older entries