Tentang Orang yang Meninggal, orang yang paling lalai, dan manusia yang paling berat siksanya

1. Nabi saw bersabda, “Bila seseorang meninggal dunia, orang banyak berkata, “Apa yang sudah ia tinggalkan?” Para malaikat berkata: Apa yang sudah ia antarkan?” (Nahj al-Fashahah, 2791) (17-4-’09 ; 09:45:03)
2. Nabi saw : Aghfalunnas man yatta’izh bittaghayyurid dunya… Orang yang paling lalai ialah orang yang tidak mengambil pelajaran dari perubahan dunia sekitarnya (Nahj al-Fashahah, 2115) (13-4-’09 ; 10:22:230
3. Nabi saw: “Asyaddun naasi ‘adzaaban yawmal qiyamah Imaamun jaair. Manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat ialah pemimpin yang zalim (Nahj al-Fahshahah) (10-4-‘ 09 ; 10:24:54)

Pesan Duka Imam Ali Khamenei atas Wafatnya Ayatullah Bahjat

Bismillahirrahmanirrahim
Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.

Saya mendengar berita duka bahwa ulama rabbani, faqih, dan arif yang salih Ayatullah Hajj Sheikh Muhammad Taqi Bahjat (quddisa sirruhu) telah meninggalkan dunia fana ini dan berpulang ke rahmatullah. Bagi saya dan bagi semua orang yang mencintai figur besar tersebut, ini adalah musibah besar yang tak bisa terobati.
“Kematian ulama menimbulkan lobang dalam Islam yang tak mungkin bisa ditutupi dengan apapun juga.”
Beliau adalah salah satu marji besar di zaman ini. Beliau juga guru akhlak dan irfan yang menonjol, yang telah memberikan berkah spiritual berlimpah yang tak akan pernah ada habisnya. Hati ulama yang saleh dan penuh ketaqwaan itu ibarat cermin bening yang memancarkan cahaya ilahi, kata-katanya yang semerbak harum menjadi petunjuk pemikiran dan amal bagi mereka yang meniti jalan spiritual.
Dari lubuk hari yang dalam, saya menyampaikan belasungkawa kepada Imam Mahdi (aj), juga kepada para ulama, para marji’, para murid, dan para pencinta beliau, terutama kepada keluarga Almarhum. Saya memohon kepada Allah untuk memberikan kesabaran kepada diri ini dan kepada semua yang berduka. Untuk arwah beliau yang suci, saya memohon kepada Allah rahmat dan maghfirahNya.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullah
Sayyid Ali Khamenei
27 Odibehesht 1388 HS (17 Mei 2009)
22 Jumadal Ula 1430 Hijriyah

Sumber: http://www.leader.ir/langs/id/index.php?p=contentShow&id=5389

Dekat, Tidak Jauh!

Antisipasi akan kedaulatan pemerintahan Allah di tangan washi terakhir dari Nabi dan Rasul termulia saw, sebenarnya merupakan jalan penuh harapan akan kehidupan dan ekspektasi tahapan sosial terakhir di muka bumi. Ini bukan saja cita-cita para nabi sebelumnya berikut masing-masing washinya, melainkan juga cita-cita dari para imam maksum as.

Diriwayatkan bahwa Imam Ridha sedang berada dalam sebuah majelis. Saat itu gelar “al-Qaim” diucapkan dan terdengar oleh Imam Ridha, beliau segera berdiri, menghadap kiblat, tangan di atas kepalanya seraya berkata, “Ya Allah, pecepatlah kemunculannya, dan mudahkanlah kebangkitannya.” (Muntakhab al-Atsar, hal.506)
Bagaimana halnya dengan kita? Apakah antisipasi Imam Mahdi telah meliputi setiap momen dari seluruh kehidupan kita? Apakah ia telah menentukan pengertian hakiki dari ‘harapan’ untuk kita? Apakah ia telah menyediakan sebuah arahan bagi kehidupan kita? Apakah ia telah mengubah cara berpikir kita? Apakah ia menjadi alasan bagi tetesan air mata dan hati yang hancur? Apakah ia menjadi alasan bagi keriangan dalam hati kita?

Jika tidak, mungkin itu dipandang masih jauh, padahal sesungguhnya ia sangat dekat! Hanya Allah yang tahu!
… Sesungguhnya mereka melihatnya jauh, padahal kami melihatnya dekat… (Doa al-‘Ahd)
(Sumber: http://www.kindfather.com, diakses pada 12 Mei 2009)

Istri Mantan Perdana Menteri Mali Anut Ajaran Ahlulbait

Menurut Kantor Berita Ahlul Bait (ABNA), istri mantan PM Mali, Ny Seyedi Bi Koulibali, setelah mempelajari dan meneliti buku-buku Islam dan Syi’ah, terutama buku-buku Profesor Sayid Mujtaba Musavi Lari, telah berpindah ke ajaran Syi’ah.
Saat ini, Ny Bi Koulibali aktif dalam dakwah dan bimbingan kepada masyarakat.
Mali adalah sebuah negara yang hampir sepenuhnya daratan di Afrika Barat. Ia dihitung sebagai salah satu peradaban tertua di Afrika.
Mali memperoleh kemerdekaan pada 1960 dan penduduknya mencapai 13 juta jiwa. 98% di antaranya beragama Islam.
Sebagian besar Muslim mengikuti Mazhab Maliki, tetapi dalam beberapa tahun terakhir kecenderungan kepada Mazhab Syi’ah semakin meningkat dan ribuan di antaranya telah memilih mazhab Syi’ah.
(Sumber: http://www.abna.ir/data.asp?lang=3&id=157382)