Nasib Editor dan Perbukuan di Indonesia

Kabar kurang sedap terbaca sehari lalu di Kompas dan Pikiran Rakyat (headline) bahwa dunia penerbitan buku terancam PHK besar-besaran. Adalah Ketua Umum IKAPI, Setia Darma yang menyampaikan kabar miris ini, khususnya dari dunia penerbitan buku pelajaran. Dari 900 anggota IKAPI kini sekitar 250 adalah penerbit buku pelajaran. Akibat regulasi BSE (buku sekolah elektronik) yang mulai diberlakukan 2008, beberapa penerbit bupel harus menanggung retur dan buku yang tidak terjual hampir mencapai 2 juta eksemplar. Jika jumlah itu menjadi jumlah rata-rata, buku yang menumpuk di gudang penerbit mencapai 500 juta eksemplar dari 250 penerbit yang ada. Kisah tragis di hari Selasa ….

Regulasi yang membahayakan dan krisis datang bersamaan. Saya bisa melihat raut kekhawatiran teman-teman pekerja perbukuan seperti editor, layouter, ataupun desainer yang mulai kehabisan pekerjaan. Buku pelajaran apa lagi yang mau dikreasikan karena semua kreasi sudah diborong pemerintah lewat Diknas dengan membeli hak cipta, mengalihdayakan editing dan layout, serta membuat karya tersebut menjadi public domain (open source) yang siapa pun (belakangan diubah menjadi percetakan untuk produksi massal) boleh memproduksi dan menjualnya dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah (berkisar hingga Rp15.000). Hm.. penerbit bupel memang sedang dibius pelan-pelan untuk tidak mengatakannya sedang disuntik mati.

Benang merah yang bisa ditarik sebenarnya upaya menciptakan buku murah. Soal buku murah bisa berdampak secara politis dengan menyebutkan pemerintah SBY berhasil mengegolkan program buku murah bagi rakyat dan hal ini disokong oleh BSE sebagai program Diknas. Hal lain, pemerintah tampaknya masih belum melihat industri buku, terutama buku pelajaran sebagai industri strategis yang perlu melibatkan swasta dan diatur dengan regulasi yang sehat tanpa membunuh industri itu sendiri. Kedua, pemerintah seolah tidak bisa membedakan industri penerbitan (industri kreatif) dan industri percetakan (manufaktur) yang jelas keduanya berbeda–ibarat desainer pakaian dan tukang jahit.

Saya membaca upaya Ketua IKAPI untuk meminta kebijakan pemerintah agar diberi peluang menghabiskan stok buku tadi. Jika opsi ini diterima, ke depan mungkin sebagian besar penerbit bupel sudah berancang-ancang alih-positioning menjadi menerbitkan buku umum atau buku pendidikan. Upaya kedua, Ketua IKAPI akan membawa masalah ini ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Tampaknya ada dua pihak sedang bersaing bisnis buku pelajaran yaitu para penerbit dan Diknas–menjadi sangat lucu.

Soal PHK, kalau kita bertandang ke penerbit buku pelajaran, terutama yang besar, tampak sekali nuansa industri. Para pekerja perbukuan, seperti editor dan layouter bisa berjumlah lebih dari 20 orang, bahkan ratusan orang dengan asumsi par 1 : 1 (satu editor dan satu layouter menggarap satu buku). Produksi penerbitannya bisa mencapai puluhan hingga ratusan judul per tahun dengan pola kerja musiman karena penerbit mengenal musim sibuk (peak season) untuk editorial dan penjualan. Panennya adalah pada tahun ajaran baru.

Industri bupel memang berkembang menjurus pada persaingan tidak sehat karena sistem penjualan langsung ke sekolah-sekolah. Sekolah menjadi saluran distribusi langsung (membuat Indonesia menjadi unik), bukan lagi toko-toko buku ataupun perpusatakaan. Guru terkadang menjadi kepanjangan tangan penerbit untuk bisa merekomendasikan judul buku kepada siswa. Dari sinilah alhasil terjadi hubungan saling menguntungkan yang berakibat pada persaingan ketat dan keras antarpenerbit bupel–bahkan tidak jarang menjurus pada black campaign. Namun, upaya perbaikan dari hari ke hari termasuk sistem seleksi pemerintah membuat penerbit bupel juga banyak berbenah dalam soal kualitas buku dan berupaya untuk akur dengan wadah IKAPI. Belum sempat pembangunan industri perbukuan ini menjadi industri yang sehat, profesional, dan benar-benar mencerdaskan, regulasi pemerintah sudah ditetapkan yang berimbas pada soal kehilangan bisnis, termasuk pekerjaan.

Dapat dipastikan bahwa jikalau tidak ada lagi yang dikerjakan oleh industri bupel dan tidak ada lagi yang dijual … maka ribuan orang terancam PHK atau dirumahkan. Pasukan yang paling banyak diistirahatkan adalah pasukan sales yang jumlahnya mencapai ratusan orang tersebar di seluruh Indonesia. Sebuah penerbit besar paling tidak memiliki cabang di 30 provinsi seluruh Indonesia, belum termasuk reps office yang tersebar di daerah tingkat II. Terus terang ngeri membayangkan mereka semua berhenti beraktivitas karena segala ruang geraknya sudah terkunci.

Mau langsung beralih ke buku umum? Memutar biduk haluan bukan perkara sederhana. Hal yang memberatkan ya karena masih terbebani stok tidak terjual tadi yang nilainya bisa mencapai ratusan miliar. Jangankan ratusan milar, satu milar saja sudah bisa membuat 20 judul buku umum kalau satu produksi buku umum rata-rata Rp50 juta rupiah.

Apa akal? Saya yang awam ini meskipun memantau industri perbukuan juga hampir kehabisan akal jikalau antara IKAPI dan pemerintah sendiri berjalan dengan persepsi masing-masing dan tidak ada titik temu. Tidak mungkin stok sedemikian besar dan sudah dihasilkan dari kerja yang berdarah-darah hanya mampir ke tukang loak untuk ditimbang kiloan–apa kata penulis, editor, layouter, dan desainer yang sudah berkreasi menghasilkannya. Dijual murah? Juga pasti merugikan dan tidak menutup kemungkinan PHK besar-besaran. Disedekahkan? Mungkin akan mengundang pertolong an Tuhan, wallahu ‘alam. Diselamatkan? Perlu kebijaksanaan, terutama dari Bapak SBY dan Mendiknas. Ditutup saja industri ini? Selamat, Indonesia akan segera memasuki dunia remang-remang, pendar cahaya hanya dari buku umum yang masih berskala kecil. Adapun pendar cahaya buku pelajaran sudah padam kecuali ada revolusi untuk menghidupkannya kembali.

Bambang Trim
Praktisi Perbukuan Nasional

http://www.bambangtrim. com
(sumber: editorindonesiaforum@yahoogroups.com)

1 Komentar

  1. arbianto said,

    April 18, 2009 pada 4:29 pm

    saya udah kerja sebagai sales buku pelajaran selama 10 tahun di salah satu Penerbit,dengan adanya peraturan Pemerintah ini saya menjadi ga punya kerjaan,gimana nasib perut anak istri saya…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: