The Eternal Song

I Am the aware presence
Everything in existence
is an expression of what I Am,
I Am the clearness in the sky
the infinite in space
the wetness in water
the sweetness in sugar

In what I Am there is no knowledge
of what I Am
I Am beyond the knowledge
of what I Am
Both the known and the unknown
are expressions of what I Am
….

Dua bait puisi ini saya petik dari my Secret is Silence, halaman 128 karya Adyashanti, seorang mistikus Eropa. Buku yang saya dapat dari kawan sekaligus pengajar bahasa Arab saya (dulu) memang berisikan puisi-puisi dan ujaran-ujaran Adyashanti yang berwatak metafisis sepenuhnya. Secara gampangnya, seluruh puisi dan ujaran Adyashanti hanya membicarakan Wujud (saya pinjam istilah Islamnya).

Latar belakang Zen Budhismenya (dan mungkin Anda tahu bahwa Budhisme sangat menekankan harmonisasi dengan alam), membuat puisi-puisinya relatif tak mudah, bagi saya, untuk diapresiasi dan diinterpretasi. Baru ketika tiba-tiba mata saya sampai pada puisi The Eternal Song ini, saya bisa sedikit ngeh.

Saat menyimak bait pertama, saya teringat pada Hadis Qudsi kanzun makhfiyyan, ”Aku adalah Perbendaharaan yang Tersembunyi,” sebuah hadis yang sangat masyhur di kalangan para pendekar tasawuf. Melalui hadis ini, malah Ibn ’Arabi bisa melakukan ilustrasi seputar martabat wujud. Semua adalah Kegelapan, yakni tidak diketahui oleh apa pun dan siapa pun. Hening. Membisu. Kemudian Beyond Being mengekspresikan Aku-nya. Dari Aku-nya itulah, kemudian terpancar martabat-martabat wujud dari level ahadiyah, wahidiyah hingga akhirnya level materi.

Dalam bait pertama, Adyashanti menyatakan bahwa awalnya adalah Kesadaran Murni Yang Tak Terbatas. Karena Tak Terbatas, Dia hadir hingga level ruang, di langit, rasa manis di gula. Dengan kata lain, Dia—untuk mengekspresikan Ketuhanan—hadir pada semua aras dari aras spiritual hingga material. Namun, buru-buru harus saya tambahkan, ketika Dia hadir pada gula, tentu saja Dia tidak ”bersemayam” (saya percaya, pembaca tahu maksud saya). Batinnya gula adalah Dia, zahirnya adalah manifestasi-Nya.

Pada bait kedua, Adyashanti menyebutkan bahwa Dia (I Am) di balik pengetahuan. Apa yang diketahui (alam nyata) dan yang tidak diketahui (alam gaib) semata-mata merupakan manifestasi Dia.

Terkait dengan ini, dalam Doa Hari Senin-nya Imam as-Sajjad memadahkan doa berikut:
Kallatil alsunu ’an ghâyati shifatihi
wanhasaratil ’uqulu ’an kunhi ma’rifatihî
Lidah-lidah kelu mengungkap kesempurnaan sifat-Nya
Akal-akal tak kuasa mencerap hakikat pengetahuan-Nya

Seluruh makrifat manusia tentang Dia tak memerikan Hakikat Diri-Nya. Namun dalam seluruh keterbatasan pengetahuan manusia akan Diri-Nya, Dia tetap bermurah hati untuk dikenali. Misalnya, ketika Dia bermanifestasi di level teologi, maka muncul Asy’ariyah, Mu`tazilah, Syi’ah, Budha, Hindu, dan seterusnya. Ketika Dia menjelma di level filosofi, maka muncul [Hukum] Sebab-Akibat, dan seterusnya. Tetapi, semua itu tetap tidak menceritakan esensi Dia.

Bosan dengan cerita Dia?
Mari kita tarik ke tatanan perbuatan manusia. Kaum metafisis mengajarkan kepada kita bahwa segala perbuatan yang kita lakukan adalah [manifestasi] Dia. Bagaimana dengan perbuatan buruk kita? Tanya Anda kepada saya. Dengan menukil ucapan Syaikh al-Akbar Ibn ’Arabi, ”Tentu saja itu juga dari Allah,” kata Syaikh, ”tetapi lebih beradab untuk mengatakan bahwa ’perbuatan baik dari Allah’, ’perbuatan buruk dari manusia’.

Pahamilah.

2 Komentar

  1. aripin said,

    November 18, 2008 pada 12:57 am

    Puisinya diterjemahkan ya. Paragraf terakhir mengejutkan. Setelah mengukuhkan akal, agama juga berbicara tentang kepantasan, rasa malu, atau apapun yang dipercayakan pada hati kita: tetapi lebih beradab untuk mengatakan bahwa ‘perbuatan baik dari Allah’, ‘perbuatan buruk dari manusia’.

  2. amuli said,

    November 18, 2008 pada 3:36 am

    Maksudnya, mau diterjemahkan. Tapi cita rasa puitisku (ceileh) sekarang rada berkurang. Jadi kubiarkan saja adanya teks tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: