Inem: Semangat Laskar Pelangi

Dari milis tetangga, semoga bermanfaat
Ini kisah nyata yang diceritakan oleh Krisna, sobat karib saya, yang mudah-mudahan bisa mencerahkan kita semua, khususnya saya pribadi.

Inem boleh dibilang berasal dari keluarga ‘biasa’ kalau merasa kurang enak dibilang ‘tidak mampu’. Tinggal di sebuah desa di Jawa Barat yang sudah tidak terlalu mengandalkan sumber daya alamnya membuat orangtua Inem terbiasa menganjurkan anak-anaknya untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Hal ini pun mungkin diakibatkan oleh budaya setempat. Hingga menjadi wajar saat Inem hanya bersekolah tak sampai lulus SMP.

Pada usia yang masih tergolong muda (belum sampai 15 tahun), ia sudah harus menjadi seorang TKI. Soal tidak bolehnya seseorang sampai usia 17 tahun untuk menjadi TKI adalah urusan lain. Birokrasi masih bisa dibelokkan. Lain pikiran orangtua, lain pula pikiran anak-anaknya. Inem masih berpikiran cerdas kendati tidak lulus SMP. Hasil memeras keringat sebagai seorang TKI ia kirimkan ke orangtua dan bisa menyekolahkan kakak perempuannya sampai lulus SMA. Bukan hanya itu, ia pun berhasil menguliahkan kakaknya hingga mendapatkan gelar sarjana. Setelah kakaknya berhasil, ia pun kembali ke desa.

Sembari menunggu kakaknya berhasil bekerja, ia pun melamar kerja sebagai pembantu rumah tangga pada kawan saya tadi, Krisna. Cukup unik ketika Krisna menawarkan gaji kepada Inem. Inem yang berpenampilan ala desa hanya berkata, “Biarlah saya tidak usah dibayar. Cukuplah saya tinggal di rumah ini dan mendapatkan makanan yang cukup. Syarat saya cuma … diajarkan beberapa pelajaran hingga saya bisa mengikuti ujian Paket B dan Paket C.”

Luar biasa. Sangat jarang bahkan terbilang langka untuk orang semacam Inem. Sebagai pengetahuan, Kejar Paket A adalah Kelompok Belajar setingkat SD (MI), Kejar Paket B adalah Kelompok Belajar setingkat SMP (MTs), dan Kejar Paket C adalah Kelompok Belajar setingkat SMU (MA). Untuk lebih lengkapnya silakan lihat di Sekolah Maya (http://sekolahmaya. net). Krisna begitu terharu sehingga begitu bangga menampung Inem. Istri, adik, dan mertuanya pun sepakat untuk mengajari Inem. Awalnya baca-tulis-hitung yang mungkin bagi Inem sudah agak kaku, tetapi setelah lancar ia belajar pelajaran yang lebih berat.

Pada akhirnya, hasilnya pun menjadi luar biasa. Inem berhasil lulus ujian Paket B dan kemudian juga lulus ujian Paket C. Sampai kemudian ia pun mendaftar ujian masuk Akademi Perawat di daerah Sukabumi. Allah menjawab doa hamba-hamba- Nya yang mau berikhtiar. Ya, Inem memang anak ajaib hingga lulus ujian masuk AKPER. Setelah dinyatakan lulus ujian, ia pun pamit pada Krisna sekeluarga karena harus kuliah.

Hidup pun berganti. Biaya kuliah Inem ditanggung oleh kakak perempuannya yang kini telah berhasil bekerja di Jepang. Ya, faktor kebiasaan keluarga dan warga desanya yang mayoritas menjadi TKI memudahkan hal itu. Inem saat ini telah menjadi mahasiswi yang mempunyai status terhormat di mata masyarakat. Krisna pun pernah menanyakan kepada Inem apa cita-citanya nanti setelah lulus. Inem dengan gaya yang khas desa hanya menjawab, “Saya ingin sekali menjadi perawat yang profesional di Amerika.”

Sebagai keluarga yang lebih beruntung daripada Inem, sudah seharusnya kita malu dan tidak sungkan untuk becermin kepadanya. Saya pun berharap, semoga masih banyak manusia (apapun statusnya) seperti Inem di muka negeri ini. Semoga ini menjadi perenungan buat saya, kita, dan pemerintah khususnya.

Sumberhttp:/ /bangaswi. com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: