Simpati kepada Orang Lain

Berikut ini saya kutipkan salah satu pasase dalam buku terjemahan saya yang terbaru, KASIDAH CINTA UNTUK RAMADHAN, yang diterbitkan oleh Tahira (lini dari Madia Publisher) Agustus 2008. Pengarangnya, Jameel Kermali dan kawan-kawan, membahas persoalan puasa dan shalat. Harga Rp 49.500,-

Bulan Ramadhan mengajarkan kita bagaimana perasaan kita terhadap si miskin dan si lapar. Beberapa hadis menjelaskan filosofi atau hikmah dari puasa sebagai suatu berkah dari Yang Mahakuasa agar seorang manusia menjadi sadar tentang penderitaan-penderitaan yang dialami oleh kaum fakir miskin. Seorang yang berpuasa memperoleh keutamaan-keutamaan berupa empati kepada orang-orang lain, ikut merasa ketika mereka mengalami kelaparan dan kesusahan sebagaimana ia juga telah merasakan kepedihannya melalui puasa. Adalah mudah bagi orang-orang yang memiliki persediaan yang melimpah dari segala sesuatu yang mereka butuhkan, untuk mengabaikan dan meremehkan penderitaan-penderitaan mereka yang kurang beruntung. Perihnya kelaparan yang dirasakan oleh orang yang berpuasa merupakan sebuah peringatan.
Imam Ja`far Shadiq as mengatakan, “Allah mewajibkan puasa untuk menciptakan keadilan di antara si kaya dan si miskin. Seorang kaya tidak merasakan pedihnya kelaparan untuk mengasihi si miskin karena ia mampu untuk memperoleh apa pun yang ia inginkan. (Dengan memerintahkan puasa) Allah ingin meletakkan makhluk-Nya di atas pijakan yang sama dengan membuat si kaya ikut merasakan pedihnya kelaparan, agar ia dapat menyayangi dan mengasihi orang yang lapar …
Kondisi-kondisi Kaum Fakir Miskin di Seluruh Dunia
Banyak orang di seluruh dunia hidup dalam kemiskinan yang mengerikan, dengan harta yang sangat sedikit untuk mengatasi kesengsaraan di tempat mereka hidup. Anak-anak muda terpaksa hidup di bawah kondisi-kondisi yang sangat menyedihkan. Mereka terpaksa berjuang setiap hari untuk memperoleh makanan, banyak yang tidak memiliki rumah atau tempat berteduh, dan sebagian dari mereka terpaksa menjadi tenaga kerja untuk mengais rezeki bagi keluarga-keluarga mereka. Bagi anak-anak seperti itu, masa kanak-kanak sebagai periode dari hari-hari ceria yang diisi dengan bermain dan bercanda yang tidak bisa mereka nikmati. Mainan-mainan, makanan lezat, pakaian baru dan segala kesenangan lainnya yang sudah pasti sebagian dari kita nikmati, semuanya bagi mereka merupakan mimpi-mimpi yang tidak dapat dicapai.
Membantu Orang-orang Lain
Merupakan kewajiban orang-orang yang beruntung memiliki kekayaan materi, untuk membantu mereka yang kurang beruntung di berbagai belahan dunia. Ini dapat dilakukan dengan mengirimkan bantuan ke berbagai organisasi sosial-kemanusiaan yang menangani kebutuhan-kebutuhan kaum fakir miskin di negeri-negeri seperti India, Irak dan lain-lain.
Ada beberapa ayat Al-Quran yang mengajak kita untuk membelanjakan uang di jalan Allah:
Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka di Jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus benih. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas Maha Mengetahui. Orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang telah mereka belanjakan dengan menyebut-nyebutnya atau dengan melukai perasaan (orang yang menerima), mereka memperoleh ganjaran di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak merasa sedih.” (QS al-Baqarah [2]: 261-¬262)
Allah menjelaskan bahwa uang yang kita belanjakan di jalan-Nya akan dilipatgandakan bagi kita, dan bahwa ini akan menguntungkan bagi kita di dunia dan akhirat. Namun, syarat satu-satunya yang Allah tetapkan untuk meraih ganjaran ini adalah agar pemberi sedekah tidak boleh menyebut-nyebut bantuan sedekah yang ia berikan kepada orang-orang yang menerimanya.
Al-Quran mendorong manusia untuk bersedekah dan membuatnya menarik bagi kaum mukmin dengan melukiskan sedekah sebagai pinjaman yang baik. Allah berfirman, Siapakah yang akan memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik lalu Dia akan melipatgandakan baginya dengan berlipat-lipat ganda? Allah yang menahan dan melapangkan (rejeki seseorang) dan kepada-Nya kamu akan dikembalikan. (QS al-Baqarah [2]: 245)
Allah menunjukkan kebaikan yang luar biasa dengan menjadikan sedekah sebagai jenis pinjaman yang baik yang dibayar untuk-Nya. Adalah si miskin yang meminta pinjaman, sedangkan Allah, yang bagi-Nya “kekuasaan yang ada di langit dan di bumi, dan segala yang ada di antara keduanya”, tidak membutuhkan pinjaman dari makhluk-Nya. Namun cara ungkapan disusun dalam bentuk ini terutama untuk menarik kaum mukmin untuk memberikan sedekah, dengan cara demikian menjamin harta bagi si miskin untuk meraih apa yang mereka butuhkan, dan bagi yang lebih beruntung untuk meraih keridhaan Allah. Manfaat pinjaman ini kembali ke umat manusia itu sendiri, dan mereka menikmati buah darinya di dunia ini dan di akhirat. Demikianlah rahmat Allah.
Al-Quran juga melukiskan tentang membelanjakan uang di jalan Allah sebagai sebuah perdagangan yang menguntungkan yang bermanfaat bagi pemiliknya di hari kiamat:
Wahai orang-orang yang beriman! Maukah Aku tunjukkan kepada kamu suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari siksaan yang pedih? Kamu seharusnya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang di Jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu, itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (QS ash-Shaff [61]: 10-¬11)
Beberapa hadis juga berbicara tentang manfaat membantu orang-orang lain:
1. Rasulullah saw bersabda, “Sedekah menjauhkan para pemberinya dari panasnya kubur, dan pada hari kiamat seorang mukmin akan berada dalam naungan sedekahnya.”
2. Rasulullah saw bersabda, “Allah tersenyum kepada orang yang merentangkan tangannya untuk memberikan sedekah, dan siapa pun yang Allah tersenyum kepadanya, maka dosa-dosanya diampuni.”
3. Rasulullah saw bersabda, “Jagalah diri kamu dari api neraka (melalui sedekah) meskipun dengan sebiji kurma, karena sesungguhnya Allah akan memeliharanya (membuatnya tumbuh) sebagaimana salah seorang dari kamu memelihara anak kudanya … hingga menjadi lebih besar dari sebuah bukit yang sangat besar.”
Poin penting yang perlu diingat adalah bahwa kekayaan yang manusia nikmati sebenarnya milik Allah. Al-Quran tiada henti menarik perhatian manusia terhadap fakta bahwa kekayaan itu hanya milik Allah, dan bahwa manusia tidak lebih dari seorang wakil Tuhan dalam mengawasinya; karenanya, manusia tidak boleh menentang Allah mengenai amanat yang dititipkan kepadanya. Firman-Nya, Allah adalah Pemilik kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imran [3]: 189); Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah atas kamu! Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? (QS Fathir [35]: 3)
Manusia diminta untuk membelanjakan harta yang Allah telah berikan kepada mereka, untuk orang-orang yang tidak memilikinya. Faktanya adalah harta itu bukan milik mereka, karena mereka bertindak hanya sebagai wakil-wakil yang telah ditugaskan Allah untuk mengurusnya. Allah berfirman, Belanjakanlah (sedekah) dari sebagian harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanat). (QS al-Hadid [57]: 7); Dan belanjakanlah (sedekah) dari sebagian yang Allah berikan kepada kamu sebelum kematian mendatangi salah seorang dari antara kamu, lalu ia akan berkata (menjelang kematiannya), ”Wahai Tuhanku! sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah dan aku akan termasuk di antara orang-orang yang saleh.” (QS al-Munafiqun [63]: 10)
Bersyukur kepada Yang Mahakuasa
Sebagaimana puasa mengajarkan kita untuk bersimpati terhadap kaum fakir miskin, puasa juga mengajarkan kita untuk bersyukur atas segala nikmat Yang Mahakuasa yang kita nikmati. Makanan dan minuman-minuman yang bermanfaat yang begitu melimpah adanya merupakan nikmat-nikmat Allah yang besar. Karena kita menikmatinya setiap hari, kita tidak menyadari pentingnya semua itu. Namun ketika kita terpaksa menahan diri kita darinya sewaktu berpuasa, kita memahami pentingnya makan yang cukup dan memenuhi perihnya rasa lapar.
Al-Quran Suci mengatakan:
Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia”. (QS an-Naml [27]: 40)
Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS az-Zumar [39]: 66)
Hadis-hadis berikut juga berbicara tentang pentingnya bersyukur:
1. Imam Ali as berkata, “Yang pertama dari kewajiban-kewajiban kalian kepada Allah adalah bersyukur untuk nikmat-nikmat pemberian-Nya, dan carilah keridhaan-Nya.”
2. Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Setiap napas yang engkau hirup mengharuskanmu untuk bersyukur, sebenarnya ribuan syukur, bahkan lebih.”
3. Imam Hasan al-‘Askari as berkata, “Tiada ada orang yang mengetahui suatu nikmat kecuali orang yang bersyukur, dan tidak ada orang yang mensyukuri suatu nikmat kecuali orang yang mengetahuinya.”
Latihan-latihan
1. Pilihlah suatu negeri yang belum lama ini mengalami tragedi (peperangan, gempa bumi, angin topan dan lain sebagainya). Apa yang terjadi terhadap orang-orang di sana? Bayangkanlah engkau hidup di sana. Tulislah sebuah esai singkat tentang bagaimana engkau akan rasakan jika engkau terpaksa mengalami kesengsaraan di sana!
2. Bacalah paragraf berikut dari kitab Risalat al-Huqûq oleh Imam Zainal Abidin as: ”Hak sedekah adalah bahwa engkau mengetahui bahwa sedekah itu disimpan sebagai persediaan di sisi Tuhanmu, dan sebagai deposit yang untuknya engkau tidak memerlukan saksi-saksi. Jika engkau mendepositnya secara rahasia, engkau akan lebih meyakininya daripada jika engkau mendepositnya di hadapan publik. Engkau harus tahu bahwa sedekah itu menolak bencana dan penyakit-penyakit darimu di dunia ini dan sedekah kelak menolak api neraka darimu di akhirat.”
Jelaskanlah ini dalam kata-katamu sendiri! Menurut paragraf ini, apakah cara terbaik untuk memberikan sedekah? Apakah tiga manfaat sedekah yang Imam sebutkan? Sekarang tuliskanlah poin-poin yang Imam buat dalam paragraf ini.
3. Bacalah terjemahan dari Doa no. 44 dari Shahifah as-Sajjadiyyah. Apakah yang Imam katakan tentang sedekah di bulan Ramadhan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: