Mengenang Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as

Assalamu ‘alayka yaa Amiiral Mu’miniina wassalaamu ‘ala Abii ‘Abdillahil Husain

Salah satu warisan berharga dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib atau Imam Ali adalah kitab Nahj al-Balaghah, sebuah kumpulan khotbah, surat, dan aforisme yang disusun oleh Syarif Radhi. Melalui pemetaan Syahid Muthahhari dalam bukunya Tema-tema Pokok Nahj al-Balaghah, saya merasa bahwa pengenalan saya dengan kata-kata Imam Ali ini terlalu lambat, suatu hal yang diakui juga oleh Muthahhari.

Ada satu perkataan dari Imam Ali as yang sungguh menginspirasi saya dan menjadikan saya berani untuk melakukan keputusan berat. [Saya masih mencari aforisme itu] Inti dari aforisme itu ialah kita harus berani mengambil suatu keputusan agar kita tahu benar tidaknya keputusan tersebut. Kala itu, saya sedang dalam kebimbangan antara pindah ke kota lain ataukah tetap di rumah mertua [waktu itu saya sudah menikah tetapi penghasilan masih tidak tentu karena baru selesai kuliah]. Kebimbangan itu muncul karena kalau saya pindah, saya tidak tahu nasib saya di kota baru itu seperti apa [kelak pemikiran itu keliru bangets sebab semuanya itu mengarah kepada kepasrahan yang salah] ataukah tetap tinggal bersama mertua dengan muka harus dipertebal beberapa senti.

Nah, dalam kebimbangan seperti itu, saya kemudian membaca-baca lagi buku terjemahan Nahj al-Balaghah yang saya punya, persis pada perkataan yang saya sebutkan tadi, saya merasa ditonjok abis oleh kata-kata Imam. Akhirnya, setelah saya ulang-ulang dalam hati kalimat itu, saya mengambil keputusan untuk segera pindah dari kota B menuju kota baru. Istri saya memperkuat tekad saya itu karena toh di B itu rasa-rasanya tak ada lagi bisa diperbuat mengingat lapangan kerja yang ada kebanyakan tidak sesuai dengan latar keilmuan yang saya miliki. Lagipula, kami punya sudah dua anak yang harus kami asuh sesuai dengan ilmu kependidikan dan pengasuhan yang kami miliki.

Demikianlah, beberapa hari kemudian akhirnya kami berangkat menggunakan mobil carteran menuju kota hujan. Itu terjadi tahun 2000. Saya masih ingat betapa kami disambut oleh guyuran hujan deras begitu sampai perbatasan kota Bo. Sewaktu sampai di tempat yang kami tuju, hujan masih lebat. Celakanya [kalau boleh dibilang celaka], kunci rumah yang akan kami tempati masih dipegang teman saya sebagai pemilik lama rumah kontrakan itu. Kami baru bisa masuk setelah beberapa saat kemudian.

Delapan tahun sudah berlalu, saya masih teringat pada kejadian. Kini saya tengah menyicil sebuah rumah sederhana tipe 22 atau, menurut teman saya yang lain tipe 4 L (Lu Lagi Lu Lagi) karena begitu seringnya penghuni orang bertemu saking sempitnya rumah).

Saya kira, saya tak akan sampai ke titik ini apabila saya tidak membaca kata-kata Imam Ali as tersebut. Mungkin bagi orang lain, kata-kata itu “nirmakna”, namun frankly, bagi saya, kata-kata tersebut sungguh memperkuat jiwa saya yang rapuh pada masa itu.

Selamat atas kelahiran Anda, wahai Imam !

2 Komentar

  1. abu redza said,

    Desember 29, 2008 pada 1:17 am

    Assalamualaikum

    Saya mencari terjemahan Nahj al-Balaghah . Ada terjemahan indonesiakah ? atau anda ada e book itu, Kalau ada dimana amalat laman itu.
    Terima kasih.

    Aburedza

  2. Januari 2, 2009 pada 7:22 am

    Salamun’alaika
    Ya Abu Redza. Sila klik nama kerana ada link ke situs Nahj al-Balaghah.
    wasSalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: