Strukturisasi Naskah Editan

Salah satu hal yang terpenting ketika melakukan editing adalah strukturisasi naskah.
Dan itu adalah hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang editor ketika memegang naskah mentah dari penulis. Jika kita beruntung bertemu dengan penulis yang sudah mempunyai kemampuan strukturisasi naskah yang baik tentunya pekerjaan kita akan menjadi lebih mudah. Tapi bagaimana jika kita bertemu dengan naskah yang strukturisasinya tidak jelas. Mana judul, subjudul, dan segala tetek bengek yang berkaitan dengannya. Sudahlah indahnya dunia ini jika sudah bertemu yang seperti itu.

Seringkali editor merasa gatal dan ingin langsung saja mengedit isinya. Padahal yang terpenting untuk dilihat adalah strukturisasi naskahnya. Karena ini penting, strukturisasi naskah yang baik akan memudahkan layouter untuk melayout naskah tersebut, dan jadinya mungkin akan lebih menarik. Jika tidak, percayalah, maksudnya editor ke mana, tapi nanti ditangkap sama layouter kemana. Jadi kita harus bersyukur jika punya layouter yang kritis dan suka baca, karena mau tidak mau dia akan mencereweti editor. Kenapa begini dan begitu, dan lain-lainnya

Menurut guru saya, sebelum mengedit hal yang wajib dilakukan pertama kali adalah baca pertama. Jangan mengedit tahan kegatalan mata dan tangan untuk segera memperbaiki naskah itu. Karena jika kita sudah berkutat pada hal-hal kecil dan renik-renik buku, gambaran besar buku akan terlewat. Nah gambaran besar itulah yang harus diambil ketika dilakukan baca pertama. Setelah itu, kita bisa melihat struktur naskah, apakah naskah itu perlu direstrukturisasi bab-babnya atau apa pun.

Sayangnya seringkali editor malas untuk menstrukturisasi naskahnya terutama untuk naskah-naskah nonfiksi sehingga yang ada jika di bawah editor ada copyeditor, dialah yang ketiban getahnya, lalu layouter yang kebingungan, ini naskah koq begini, mana judul mana subjudulnya. Terutama untuk jenis
naskah tahapan. Percaya deh, itu indah banget, apalagi jika strukturisasi naskah dari penulisnya kacau.

Beberapa kali aku mengalaminya. Dan aku yakin buku pelajaran dan buku perguruan tinggi pastinya akan
lebih ruwet lagi. oleh karena itu editor buku pelajaran dan teks apresiasinya lebih tinggi daripada
yang bukan buku pelajaran. Karena sistematisasi berpikir mereka lebih oke. Edtor buku umum cenderung
lebih bebas cara berpikirnya. Tapi biarpun begitu, kemampuan strukturisasi adalah suatu hal wajib yang
dimiliki seorang editor.

Nurchasanah
Editor Misleuk
(Source: forum editor)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: