Indahnya Menyunting

Sunting awalnya merupakan kata benda yang bermakna hiasan (bunga dsb) yg dicocokkan di rambut atau di belakang telinga. Kata kerjanya menjadi menyuntingkan yaitu 1 mencocokkan bunga dsb pd rambut atau di belakang telinga sbg hiasan; 2 ki mencantumkan (kata pendahuluan dl buku dsb). Selanjutnya, sunting memiliki makna lain sebagai kata kerja yang dipadankan dengan editing dalam dunia penerbitan.

Dengan melihat asal usul katanya, tampak bahwa editing lebih dekat dengan seni untuk mencocokkan atau menyelipkan sesuatu sebagai hiasan. Lalu, dalam soal pernaskahan, editing menjadi seni memilah, memeriksa, dan menata kata-kata sehingga layak untuk dipertunjukkan ke publik pembaca. Para pelakunya kemudian disebut penyunting sebagai padanan dari editor.

Mana yang hendak kita gunakan: menyunting atau mengedit? penyunting atau editor? Dalam soal kedalaman makna, tentu bahasa Indonesia memiliki makna yang lebih dalam dan menyentuh. Menyunting benar-benar mengandung pengertian segala aspek editing, seperti editing mekanik, editing substantif, dan editing gambar. Karena itu, sungguh tepat siapa pun yang mengusulkan sunting menjadi padanan kata editing dalam bahasa Indonesia.

Saya setuju bahwa menyunting adalah seni seperti halnya tipografi sebagai seni memilih, menata, dan
menggunakan huruf atau font. Menyunting merupakan seni memilih, menata, dan mempublikasikan naskah. Dengan demikian, seorang penyunting harus memiliki rasa seni dan cinta keindahan. Seorang penyunting harus peka terhadap unsur-unsur kehidupan yang membuat naskah garapannya menjadi berdaya dan memiliki kekuatan mengubah pembaca.

Menyunting adalah membuat perubahan, baik dari sisi substansi maupun sisi kemasan, bahkan termasuk
mengubah banyak subjek yang terlibat, seperti penulis, penerbit, dan pembaca. Karena itu, para penyunting juga merupakan agen perubahan dan ia harus bisa memosisikan diri dengan baik.

Saya betul-betul orang yang sangat terkesan dengan menyunting dan menganggap pekerjaan ini sudah mendarah daging. Bayangkan bahasa kita (Indonesia) memiliki kiasan hebat seperti ‘mendarah daging’ yang bermakna sesuatu sudah menyatu dalam diri. Demikianlah yang memang berlaku dalam diri saya walaupun saya tidak menyadari betul bagaimana berlakunya.

Sebuah tulisan di dalam naskah memang harus bisa menghipnosis dan demikianlah tujuan penerbitan
sesungguhnya. Judul harus menghipnosis, tampilan desain harus menghipnosis, daftar isi harus
menghipnosis, dan juga isi tentunya harus menghipnosis. Apa itu hipnosis? Hipnosis adalah
kemampuan memengaruhi sehingga seseorang mengikuti apa yang disarankan ataupun dimasukkan ke dalam dirinya.
Dengan demikian, editor juga seorang hipnotis yang semestinya bisa menghipnosis tiga konstituen: penulis, penerbit, dan pembaca.

Karena itu, editing harus indah karena keindahan adalah bagian dari hipnosis. Bayangkan ketika Anda
pergi ke pantai atau daerah pegunungan. Tuhan telah menghipnosis Anda dengan keindahan luar biasa sehingga membuat Anda betah berlama-lama. Masalahnya, apakah Anda ingat dengan Tuhan? Seperti halnya juga naskah, apakah seorang penulis, penerbit, atau pembaca ingat dengan editornya? Editor memang bukan Tuhan walaupun Stephen King menyebut pekerjaan editor adalah
pekerjaan para dewa. Namun, editor (semestinya) bekerja dengan kreativitas meniru kreativitas Tuhan.
Sesuatu yang indah!
(Source: forum editor)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: