Dahsyatnya Tung dan Trisno

Berikut ini ada postingan milis yang saya ikuti
Minggu pagi, 1 Juni 2008, masyarakat Serang, Banten, dikejutkan dengan hujan uang dari pesawat layang Jabiru. Tidak tanggung-tanggung, uang dengan pecahan 1.000, 5.000, dan 10.000 itu ditebarkan 8 kali.
Bersama uang, turut ditebar 1.200 tiket seminar 3 hari Financial Revolution gratis seharga Rp5 juta. Konon uang yang disebar senilai seratus jutaan dan harga tiket jika dirupiahkan adalah Rp6 M! Itulah pekerjaan Tung Desem yang menghebohkan di pertengahan tahun ini.

Di sebuah bioskop kelompok 21, lampu mulai padam tanda film akan segera dimulai. Sebelumnya para penonton disuguhi berbagai iklan dan cuplikan film yang akan datang. Namun, hampir semua penonton terhenyak ketika menjelang putar film muncul sosok yang sudah akrab: “Hidup adalah perbuatan!” Seorang penonton tiba-tiba nyeletuk: “Eh, dia lagi!” Serentak yang lain tertawa. Dan kita mafhum dengan sosok satu ini yaitu Sutrisno Bachir, ketua umum PAN.

Tung menghabiskan ratusan juta beriklan buku, tetapi langsung mengena dan diliput media nasional maupun internasional secara gratis serta bikin heboh. Trisno alias Sutrisno Bachir saya kira lebih gila lagi
menggelontorkan uang miliaran rupiah untuk iklan dirinya di TV, koran, majalah, bahkan masuk ke
gedung-gedung bioskop. Dua hal yang sama, tetapi dengan cara berbeda.

Cara Tung Desem memang revolusioner seperti mottonya: Dahsyat! Saya tak sabar juga menanti bukunya “Marketing Revolution” meskipun saya menyangka bahwa beberapa isinya pasti sama dengan yang beliau tulis di kolom berjudul sama di koran Sindo. Sewaktu buku “Financial Revolution” yang juga memecah rekor MURI terjual 12.000 eksemplar lebih dalam sehari, saya juga langsung membelinya. Saya tahu buku tersebut dahsyat memotivasi, tetapi penggarapannya tidak terlalu apik dari sisi editing maupun pengemasannya. Tapi, buku itu memang laku.

Cara Trisno ya… revolusioner juga dengan dana tak terkira memberondong pikiran orang tentang dirinya dan turut juga istrinya. Beliau pintar mengambil momen 100 tahun kebangkitan nasional untuk start beriklan. Beliau pintar menyita perhatian orang dengan kapling-kapling iklan yang besar dan jam tayang prime time. Tindakan berani yang membuat orang lain melongo: dari mana dana sebesar itu? Sayang atau mungkin belum, Pak Trisno belum menulis buku seperti yang dilakukan Tung. Jadi, Pak Trisno sebenarnya belum berbuat karena belum menulis buku. Orang yang menulis buku adalah orang yang telah berbuat sesuatu. Karena itu, hidup adalah perbuatan, he-he-he.

Manusia dibagi dalam tiga kategori: 1) mereka yang membuat sesuatu terjadi; 2) mereka yang hanya melihat sesuatu terjadi; dan 3) mereka yang terkesima dengan apa yang terjadi.

Tung dan Trisno adalah dua tokoh yang sempat menyita perhatian kita dengan kiprah masing-masing. Tung dan Trisno bisa menjadi inspirasi bagaimana menarik perhatian dengan cara berbeda–persamaannya cuma sama-sama menggelontorkan uang. Tung menyebut dirinya
melakukan Protes Marketing, tetapi Trisno saya rasa sebaliknya melakukan Pro-Marketing. Tapi, dua-duanya Marketing, bukan anti-Marketing (karena yang anti ini cuma Bang Kafi Kurnia! Ha-ha-ha).

Kita tinggal menantikan efek yang dilakukan keduanya. Apakah Pak Tung bukunya laris manis (sebelumnya dijual indent) dan sosoknya makin meroket? Apakah Pak Trisno bisa masuk nominasi capres atau cawapres atau juga jajaran kabinet? Tapi, yang pasti uang sudah digelontorkan dan menepis anggapan bahwa bangsa Indonesia lagi susah karena naiknya BBM. Itulah gilanya marketing, marketing Indonesia. Dahsyat!

Salam buku,

Bambang Trim
(source: forum editor)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: