Belajar dari Yahudi dalam Persatuan

SUDAH hampir dua puluh tahun lebih bangsa Palestina berjuang untuk merebut dan mempertahankan negerinya dari penjajahan Zionis Israel melalui Gerakan Intifadhah I dan II. Banyak martir Palestina yang gugur selama perlawanan tersebut namun itu tak pernah menyurutkan jihad mereka melawan Israel. Perjuangan tanpa letih ini tentunya membuat bangsa-bangsa Islam yang jauh secara fisik dari Palestina berkeinginan terjun langsung dalam kancah pertempuran tersebut. Akan tetapi, karena berbagai faktor, cita-cita mereka sering kali kandas di tengah jalan. Terkadang, sekadar ”pelampiasan” akhirnya sekelompok mereka yang ingin sekali berjihad melawan Zionis Israel, mengarahkan perjuangan mereka ke dalam negeri sendiri dengan target kepentingan-kepentingan negara tertentu yang dalam pandangan mereka berafiliasi ke Amerika ataupun Zionis.
Hal semacam ini jelas tidak tepat karena pengalihan sasaran seperti itu akan memungkinkan banyaknya korban yang jatuh dari kalangan sipil yang nota bene masih satu warga negara dengan mereka, para ”pejuang keadilan”. Jika perjuangan bersenjata tidak dapat kita lakukan, adakah hal lain yang bisa kaum Muslim, misalnya Indonesia, lakukan? Jika mau berusaha, tentunya pasti ada jalan lain bagi kaum Muslim yang amat peduli dengan perjuangan Palestina.
Barangkali kita ingat Dr. Nawwaf Takruri yang pernah datang ke Indonesia beberapa waktu dulu. Dr. Takruri adalah penulis buku Al-Jihadu bil-mali fi sabilillah (Jihad dengan Harta di jalan Allah). Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Dahsyatnya Jihad Harta. Dalam bukunya itu, beliau banyak menjelaskan tentang bagaimana bentuk kesertaan nyata buat kita, yaitu dengan cara ikut berjihad dengan harta, sebelum dengan nyawa.
Yang menarik, ternyata hal yang sama dilakukan juga oleh komunitas Yahudi di berbagai negeri. Kekuatan keuangan adalah salah satu sendi pokok ketahanan mereka dalam menjajah Palestina.
Sejak sebelum masa pendudukan, komunitas Yahudi di seluruh dunia sudah mengumpulkan harta untuk ‘menyogok’ Sultan Abdul Hamid II di Istanbul, agar beliau berkenan menyerahkan wilayah Palestina. Sogokan itu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Sultan yang legendaris itu.
Tapi komunitas Yahudi tidak putus asa, mereka tetap mengumpulkan harta untuk diserakan kepada penguasa Inggris yang nota bene sedang menjajah Palestina saat itu.
Mereka mendirikan berbagai yayasan yang secara khusus bertugas mengumpulkan dana dari seluruh komunitas Yahudi dari seluruh dunia. Di antaranya adalah Jewish Agency dan Jewish National Fund. Mereka juga menerima bantuan dana dari Kristen Zionis yang saat ini sedang menjadi penguasa di Amerika dengan kelompok Konservatif Baru. Dan salah satu tokoh utamanya adalah George Walker Bush, sang Presiden.
Dr. Nawaf menceritakan bahwa orang-orang Yahudi di Palestina menyediakan ruangan khusus di rumah mereka yang dibiarkan tidak terawat dan mereka selalu berdiri di depanya pagi dan petang. Di ruangan itulah mereka bersembahyang bersama anak-anaknya dan mengucapkan, “Kuil Sulaiman telah hancur maka kita harus membangunnya kembali.” Setelah itu mereka menghampiri kotak tabungan dan menyisihkan sebagian pengeluaran hariannya. Tabungan itu mereka kumpulkan lalu diserahkan kepada Lembaga Keuangan Nasional Yahudi.
Praktik ini dilakukan oleh semua orang Yahudi, bukan hanya yang kaya tapi juga yang miskin pun melakukannya. Untuk cita-cita itu, mereka rela hidup hemat, termasuk menghemat makan dan minum, karena merasa terpanggil untuk mendukung lembaga keuangan itu.
Kisah lain yang dituturkan dan boleh juga kita jadikan renungan adalah kisah yang diceritakan oleh seorang kakek. Kakek ini pernah bertamu ke rumah salah satu tetangganya yang Yahudi. Yang menarik, si pemilik rumah ketika menyuguhkan teh untuk mereka berdua, hanya memberi gula buat tamunya, sedangkan untuk dirinya sendiri, dia malah tidak memakai gula. Si kakek yang menjadi tamu tidak enak hati dan bertanya, “Mengapa Anda tidak pakai gula sedangkan saya kamu beri gula?”
Jawabannya ternyata sangat menarik. Si pemilik rumah yang Yahudi itu mengatakan bahwa dia berhemat untuk tidak minum teh pakai gula, untuk bisa menyumbang buat perjuangan Israel di Palestina.
”Kami sekeluarga lima orang dan setiap hari kami minum teh dua kali. Setiap minum teh, seorang di antara kami bisa menghabiskan dua cangkir teh. Ini berarti dalam sehari seorang di antara kami minum empat cangkir teh. Jika jumlah ini dikalikan lima sesuai jumlah keluarga kami, maka dalam sehari kami akan menghabiskan dua puluh cangkir teh. Mengingat setiap cangkir teh membuthkan dua batang gula, maka total gula yang akan kami habiskan dalam sehari adalah 40 batang. Maka kami berhemat tidak minum teh pakai gula, dan uangnya kami berikan untuk penanggulangan bantuan Yahudi yang miskin.”
Luar biasa, Yahudi saja bisa kompak melakukan solidaritas seperti itu, seolah-olah mereka memang benar-benar satu tubuh yang bila satu merasakan sakit, sekujur tubuh pun akan ikut merasakannya.
Bayangkan bila umat Islam yang berjumlah 1, 5 milyar ini melakukan hal yang sama, tentu masalah dana perjuangan Palestina sudah selesai sejak dulu. Rasanya tidak salah ketika salah seorang pemimpin Islam yang amat concern dengan masalah Palestina berkata, “Sekiranya seluruh Muslim sedunia mengencingi negara (Zionis) Israel, niscaya Israel tenggelam.” Perkataan ini mengisyaratkan bahwa hanya dengan persatuan dan solidaritas dari seluruh Muslim di dunia, Palestina dapat menikmati hak-haknya sebagai bangsa dan negara berdaulat.
Karena itu, silahkan Anda sumbangkan serupiah dua rupiah uang Anda untuk pejuangan saudara kita di Palestina, bila Anda orang tak berpunya. Dan silahkan keluarkan semilyar dua milyar kalau Allah memang meluaskan rezeki anda. Itu tindakan yang paling mudah yang bisa Anda lakukan kapan saja, tanpa harus berangkat ke sana.
Setidaknya ketika Anda makan-makan di restoran, saat berdoa jangan lupa ingat wajah anak-anak tak berdosa di Palestina yang sedang meregang ajal karena dilempari bom di taman bermain sekolah mereka oleh Zionis Israel.
Beberapa Tips yang Direkomendasikan
• Salurkan zakat profesi atau khumus Anda ke Palestina bila Anda termasuk yang cenderung berpendapat adanya zakat profesi atau khumus. Dan bila Anda bukan termasuk yang mendukung adanya zakat profesi atau khumus, setidaknya infak dan sedekah Anda arahkan ke Palestina.
• Ubahlah sistem belanja rumah tangga Anda dari gaya hidup kelas atas menjadi kelas menengah. Jadikan selisih pengeluaran itu untuk keperluan jihad dan mujahidin.
• Belilah barang-barang buatan dalam negeri sendiri dan upayakan tidak membeli barang import kalau memang tidak terlalu mendesak.
• Lepaskan sebagian perhiasan untuk jihad nyata di Palestina.
• Kalau Anda sudah melaksanakan haji dan umrah wajib, sebaiknya tahan dulu keinginan jalan-jalan untuk haji dan umrah sunnah dan alihkan dana itu buat perjuangan Palestina.
• Berpuasalah sehari atau dua hari dalam seminggu, dan uang untuk makan itu sisihkan buat perjuangan Palestina
• Ubahlah kebiasaan tabzir dalam pesta-pesta, seperti walimah, buka puasa bersama dan hajatan lainnya dan sisihkan dananya untuk Palestina
• Kurangi kebiasaan mengundang makan teman bisnis atau teman sejawat, serta kebiasaan mentraktir ini dan itu, karena ada orang yang jauh lebih membutuhkan di Palestina.
• Gantilah hadiah bingkisan atau bunga dengan hadiah berupa kuitansi sumbangan untuk infak Palestina
• Gantilah sebungkus rokok yang Anda hisap (bila Anda perokok) dengan uang sebesar itu buat dana Palestina. Dan memang sebaiknya Anda tidak merokok demi kesehatan anda sediri
• Obatilah diri Anda sekeluarga dengan banyak berinfak di jalan Allah.
• Kurangi sebagian dari pakaian dan perabot mewah, gunakan dananya untuk infak.
• Kalau Anda menyembelih hewan kurban, ada baiknya kirim dananya saja ke Palestina, seandainya di wilayah Anda jumlah kambing kurban sudah berlebihan.
Dana Yahudi untuk Investasi Bidang Politik dan Kebijakan Luas Negeri AS
Satu hal penting lainnya dalam urusan jihad dengan harta, ternyata apa yang dilakukan oleh Yahudi dengan dana mereka sudah jauh melebihi dari apa yang pernah bisa kita bayangkan. Betapa tidak, uang yang mereka kumpulkan itu mereka investasikan untuk bisa membeli kebijakan politik di negeri Adidaya Amerika.
Lebih dari 60% dana kampanye Partai Demokrat Amerika yang dikumpulkan oleh Jimmy Carter dan Bill Clinton berasal dari investasi kalangan Yahudi. Sehingga wajar bila dari 125 anggota Dewan Keuangan Nasional Partai Demokrat pada masa pemerintahan Jimmy Cater (1977-1981), 70 orang di antaranya adalah orang Yahudi.
Dan di masa Richard Nixon, 60% dana kampanye mereka juga di dapat dari investasi kalangan Yahudi.
Untuk memenangkan Cliton, sebuah jamuan makan malam yang dihadiri undangan para Yahudi, bisa terkumpul dana 3,5 juta dollar Amerika. Jamuan itu dihadiri oleh 700 undangan dan setiap undangan membayar biaya kehadiran antara 500 USD hingga 120.000 USD. Luar biasa!
Bagaimana halnya dengan Muslim Indonesia? Jangan-jangan kita lebih sering membeli pulsa untuk memenangkan peserta audisi nyanyi-nyanyi di berbagai acara televisi. (Diolah dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: