Sutan Takdir Alisyahbana dan Pemikiran Kebudayaannya

sta.jpg

Abdul Hadi W. M.
(Budayawan-Sastrawan Islam, Dosen ICAS-Paramadina University & UI)

Sutan Takdir Alisyahbana (STA) adalah tokoh terkemuka dan istimewa dalam sejarah kesusastraan dan pemikiran kebudayaan di Indonesia. Dia menulis puisi, novel, esai-esai sastra, kitab pengetahuan tatabahasa dan karangan-karangan ilmiah mengenai falsafah, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Tidak banyak sastrawan di negeri menguasai persoalan-persoalan falsafah dan kebudayaan sedemikian luasnya seperti STA. Tidak banyak pula cendekiawan Indonesia yang memiliki perhatian besar terhadap persoalan kesusastraan, estetika, seni dan bahasa Indonesia seperti STA. Belakangan ia sangat menaruh minat pada sejarah intelektual Islam, khususnya pemikiran Ibn Rusyd dan menjelang akhir hayatnya kepada Muhammad Iqbal. Kecenderungan ini pun sangat jarang dijumpai di kalangan teman-teman sejawatnya maupun generasi cendekiawan Indonesia di belakangnya.
STA adalah tokoh terkemuka dan istimewa dalam sejarah kesusastraan dan pemikiran kebudayaan di Indonesia. Dia menulis puisi, novel, esai-esai sastra, kitab pengetahuan tatabahasa dan karangan-karangan ilmiah mengenai falsafah, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Tidak banyak sastrawan di negeri menguasai persoalan-persoalan falsafah dan kebudayaan sedemikian luasnya seperti STA. Tidak banyak pula cendekiawan Indonesia yang memiliki perhatian besar terhadap persoalan kesusastraan, estetika, seni dan bahasa Indonesia seperti STA. Belakangan ia sangat menaruh minat pada sejarah intelektual Islam, khususnya pemikiran Ibn Rusyd dan menjelang akhir hayatnya kepada Muhammad Iqbal. Kecenderungan ini pun sangat jarang dijumpai di kalangan teman-teman sejawatnya maupun generasi cendekiawan Indonesia di belakangnya.

Tetapi dalam karangan pendek ini saya tidak mungkin mengupas seluruh pemikiran STA yang begitu luas dan kompleks itu. Pembahasan saya tumpukan pada dua hal saja sebagai ikhtiar ‘sekadar’ memahami corak dan arah pemikirannya tentang kebudayaanya, khususnya dalam konteks Indonesia masa kini dan masa lalu seperti yang saya pahami. Yang pertama ialah pemikirannya tentang kebudayaan, khususnya seperti tercermin dalam bukunya Values as Integrating Forces in Personality, Society and Culture (1974). Walaupun dengan pembacaan kembali secara tergesa-gesa, saya mencoba memahami inti persoalan yang dikemukakan STA. Setelah membicarakan itu akan saya usahakan memahami keinginanya untuk memutuskan hubungan historis Indonesia (kebudayaan baru Indonesia yang bersifat nasional) dari kebudayaan pra-Indonesia, yang kemudian disebut kebudayaan-kebudayaan daerah, baik dalam UUD 45 maupun oleh ahli-ahli anthropologi, sejarah dan sastra.

Pengertian Kebudayaan

Pengertian STA tentang kebudayaan dalam banyak hal berbeda dari pengertian yang diterima secara umum dalam masyarakat kita, yang biasanya diturunkan dari ilmu-ilmu sosial dan anthropologi. Dalam anthropologi seperti tercermin dalam tulisan L. A. White (1962), kebudayaan dimengerti sebagai tingkah laku yang dipelajari, sedangkan yang lain daripada itu seperti pemikiran keagamaan atau estetika yang melatari suatu ekspresi sastra dipandang sebagai ‘abstraksi’ dari tingkah laku. Istilah ‘culture’ sendiri dalam bahasa Inggris baru muncul pada pertengahan abad ke-19. Sebelum tahun 1843 para ahli anthropologi memberi arti kebudayaan sebagai cara mengolah tanah, usaha bercocok tanam, sebagai tercermin dalam istilah agriculture dan holticultura. Definisi anthropologis secara lebih luas dikemukakan oleh E. B. Tylor (1871). Dia antara lain menyatakan bahwa “Kebudayaan adalah suatu keseluruhan kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan dan kebiasaan seseorang sebagai anggota masyarakat.”

Pengertian yang diberikan ahli anthropologi ini menyebabkan apa yang disebut ‘kebudayaan’ sering disamakan dengan ‘peradaban’. Padahal keduanya amat berbeda. Dalam perkembangannya malahan pengertian istilah budaya dan kebudayaan hanya dibatasi pada kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang berlaku dalam masyarakat. Bangunan batin yang membentuk kebudayaan dan peradaban sering dilakukan, khususnya sebagaimana terwujud dalam etika, epistemologi dan estetikanya. Ini berbeda sekali dengan pengertian kebudayaan yang pernah muncul dalam sejarah intelektual Islam dan Eropa seperti tercermin dalam pemikiran filosof – sejarawan seperti Ibn Khaldun, Will Durant dan ahli-ahli kebudayaan dari madzab Jerman yang di dalamnya termasuk Edward Spranger yang sering dikutip STA. Karena itu sebelum memaparkan pemikiran STA saya akan mencoba memaparkan pemikiran Ibnu Khaldun, Will Durant dan madzab Jerman.

Dalam sejarah pemikiran Islam, kata-kata yang digunakan untuk kebudayaan ialah al-hadharah atau hadharah, sedangkan untuk kata-kata peradaban atau civilization digunakan kata-kata al-madaniyah atau madaniyah saja. Kata-kata yang sama pengertiannya dengan madaniyah ialah tsaqafah (al-tsaqafah). Kata-kata al-hadharah berasal dari kata kerja hadhara, artinya datang atau hadir, kebalikan dari tidak datang atau tidak hadir. Di sini perkataan hadhara diartikan sebagai ‘tinggal di wilayah perkotaan’. Sedangkan untuk ‘tinggal di kawasan pedesaaan’ disebut al-badiyah, darimana kata-kata baduwi (kehidupan nomaden) berasal. Orang desa yang pindah ke kota disebut hadharah, artinya berkebudayaan. Ini tidak berarti di pedesaan tidak berkembang kebudayaan, hanya saja kebudayaan yang berkembang sebagiannya adalah replika dari kebudayaan yang berkembang di kota.

Penggunaan kata-kata hadharah jelas berkaitan dengan adanya petunjuk bahwa yang utama dan hakiki dalam kebudayaan ialah adanya gerak, tindakan, perubahan, peningkatan pola dan gaya hidup, serta pertambahan kebajikan dan kearifan. Orang-orang yang tinggal di kota itu berkembang dan membentuk pola kehidupan tertentu untuk memperbaiki keadaan hidup mereka. Upaya perbaikan keadaan tersebut dilakukan melalui kerjasama, solidaritas sosial, tindakan-tindakan tertentu seperti membuka lembaga-lembaga pendidikan dan pusat kebudayaan, serta mengembangkan pemikiran, pengetahuan, falsafah hidup, seni, sastra, bahasa, arsitektur, musik, pertukaran pikiran dan maklumat. Dalam pengertian ini kebudayaan hanya berkembang jika ada komunitas yang mendukung kebudayaan itu dan terdapat suasana komunikatif serta lingkungan yang ramah terhadap berbagai ide dan pemikiran yang berkembang.

Dalam bukunya al-Muqadimah Ibn Khaldun mengembangkan lebih jauh pengertian al-hadharah sebagai kebudayaan dalam arti sebenarnya. Dia berpendapat bahwa kebudayaan ialah kondisi-kondisi kehidupan yang melebihi dari apa yang diperlukan. Kelebihan-kelebihan tersebut berbeda-beda sesuai tingkat kemewahan yang ada pada kondisi tersebut. Menurut Ibn Khaldun, kehidupan tidak akan berkembang benar-benar kecuali di kota. Di kota sajalah terdapat kondisi kehidupan yang melebihi dari apa yang diperlukan. Kondisi yang lebih inilah tujuan utama semua aktivitas kehidupan. Karena itu kebudayaan dikaitkan dengan negara oleh Ibn Khaldun. Dengan adanya negara, maka kebudayaan akan berkembang dengan mantap dan dengan dilandasi kebudayaan maka negara mempunyai tujuan spiritual dan nilai-nilai selaras dengan cita rasa bangsa yang warga dari negara bersangkutan.

Pada abad ke-20 M, pengertian kebudayaan selalu dikaitkan dengan kemajuan, demokrasi dan pengetahuan manusia dalam berbagai bidang seperti bahasa, sastra, seni rupa, musik, industri hiburan, perdagangan, falsafah dan lain-lain. Semua bentuk dan perwujudan ekspresi manusia (etika, estetika, intelektualitas dll) menjadikan manusia lebih bermartabat dan berdaulat atas nasib dan hidupnya. Di sini kebudayaan dikaitkan dengan kondisi ideal dan nyata yang digerakkan oleh seperangkat pandangan hidup dan sistem yang mampu menghargai kemajemukan, perbedaan pendapat, keadilan dan hak asasi manusia. Dengan perangkat-perangkat ini perdamaian, kemajuan dan kebahagiaan bisa dicapai. Dan dengan kondisi-kondisi seperti itu pula bangsa Indonesia mampu meningkatkan kehidupan dan nilai-nilainya, serta mengembangkan ilmu pengetahuan, falsafah, agama, bahasa, seni dan kesusastraan.

Dalam bukuya The Story of Civilization (1955) Will Durant mengatakan bahwa, “Kebudayaan dimulai ketika pergolakan, kekacauan dan keresahan telah reda” (yaitu telah ditransformasikan ke dalam karya seni, karya keilmuan atau falsafah). Sebab apabila manusia aman dan bebas dari rasa takut maka akan timbul dalam dirinya dorongan-dorongan untuk mencari berbagai rangsangan alamiah dan tak henti-hentinya melangkah di jalannya untuk memahami kehidupan dan memekarkannya. Di sini pengertian kebudayaan terhubungkan dengan keharusan adanya kegairahan manusia (junon, seperti dikatakan Iqbal) untuk memahami dan memekarkan kehidupan, dan upaya ke arah itu hanya mungkin apabila rangsangan-rangsangan kerohanian yang ada dalam diri manusia terus dipupuk dalam berbagai bidang kegiatan. Dengan demikian rangsangan tersebut akan hidup.

Will Durant menghubungkan kebudayaan (culture) dan pertanian (agriculture); kemudian peradaban (civilization) dengan civility atau sopan santun orang terpelajar. Peradaban sebagai civility ditemui dalam masyarakat kota, seperti tampak dalam cara makan dan berpakaian. Durant mengatakan bahwa oleh karena hanya di kota terhimpun kekayaan dari berbagai pelosok desa, dan di kota pulalah dijumpai otak-otak berbakat. Maka itu hanya di kota saja terjadi penciptaan karya intelektual dan seni, serta di kota pula muncul industri untuk melipatgandakan sarana-sarana hiburan, kemewahan dan seni. Pun hanya di kota para pedagang saling bertemu untuk saling bertukar barang dagangan dan idea, sehingga membuat akal budi subur, kecerdasan meningkat, dan semua itu pada akkhirnya mempengaruhi kekuatannya dalam mencipta dan membuat sesuatu.

Dengan kata lain hanya di kota orang dituntut menghasilkan bermacam-macam karya dan ekspresi, yang mendorong mereka terlibat aktif secara sadar dalam kehidupan sains, falsafah, sastra dan lain sebagainya. Peradaban, menurut Will Durant, jelas berbeda dari kebudayaan. Kebudayaan berkaitan dengan upaya memberdayakan potensi kejiwaan dan rohani manusia. Apabila potensi kejiwaan dan rohaninya berkembang, maka manusia akan dapat mengolah lingkungan hidup dan kehidupan sosialnya dengan baik dan indah. Di lain hal salah satu arti dari peradaban ialah bentuk tingkah laku manusia beradab sebagai diperlihatkan oleh orang-orang kota. Mereka dapat berbuat demikian karena tingkat ekonomi dan kemampuan teknologinya telah berkembang.

Tetapi pemikiran yang lebih jelas tentang kebudayaan dapat dijumpai dalam pemikiran filosof mazhab Jerman. Menurut mazhab Jerman, kebudayaan ialah segala bentuk atau ekspresi dari kehidupan batin masyarakat. Sedangkan peradaban ialah perwujudan kemajuan teknologi dan pola material kehidupannya. Bangunan yang indah sebagai karya arsitektur mempunya dua dimensi yang saling melengkapi: dimensi seni dan falsafahnya berakar pada kebudayaan, sedangkan kecanggihan penggunaan material dan pengolahannya merupakan hasil peradaban.

Dengan demikian, kebudayaan ialah apa yang kita dambakan, sedangkan peradaban ialah apa yang kita pergunakan. Kebudayan tercermin dalam seni, bahasa, sastra, aliran pemikiran falsafah dan agama, bentuk-bentuk spiritualitas dan moral yang dicita-citakan, falsafah dan ilmu-ilmu teoritis. Peradaban tercermin dalam politik praktis, ekonomi, teknologi, ilmu-ilmu terapan, sopan santun pergaulan, pelaksanaan hukum dan undang-undang.

Pengertian yang diberikan oleh mazhab Jerman ternyata tidak jauh berbeda dengan pengertian yang terdapat dalam sejarah pemikiran Islam. Bertolak dari pengertian tersebut `Effat al-Syarqawi (1986) mengartikan kebudayaan sebagai khazanah sejarah suatu bangsa/masyarakat yang tercermin dalam pengakuan/kesaksiannya dan nilai-nilainya, yaitu kesaksian dan nilai-nilai yang menggariskan bagi kehidupan suatu tujuan ideal dan makna rohaniah yang dalam, bebas dari kontradiksi ruang dan waktu. Adapun peradaban ialah khazanah pengetahuan terapan yang dimaksudkan untuk mengangkat dan meninggikan manusia agar tidak menyerah terhadap kondisi-kondisi di sekitarnya’ Sedangkan kebudayaan ialah ’struktur intuitif yang mengandung nilai-nilai rohaniah tertinggi, yang menggerakkan suatu masyarakat melalui falsafah hidup, wawasan moral, citarasa estetik, cara berpikir, pandangan dunia (weltanschaung) dan sistem nilai-nilai.’ Peradaban ialah ikhtisar perkembangan yang dicapai dengan tenaga pikiran dan sejauh mana kemajuan tenaga itu dalam mengendalikan segala sesuatu.

Di sini peradaban meliputi semua pengalaman praktis yang diwarisi dari satu generasi ke generasi lain. Peradaban tampak dalam bidang fisika, kimia, kedokteran, astronomi, ekonomi, politik praktis, fiqih mu`amalah, dan semua bentuk kehidupan yang berkaitan dengan penggunaan ilmu terapan dan teknologi. Sedangkan kebudayaan di lain hal nampak perwujudannya dalam hal-hal yang mencerminkan kehidupan rohaniah seperti nilai-nilai moral, falsafah, sistem kepercayaan, adat istiadat, sastra, seni, bahasa dan spiritualitas (mistisisme, tasawuf dll).

A. Fizee dalam bukunya Kebudayaan Islam (1982) memberi batasan pengertian dan cakupan kebudayaan sebagai berikut: Kebudayaan dapat berarti: (1) Tingkat kecerdasan akal yang setinggi-tingginya yang dihasilkan dalam suatu periode sejarah bangsa di puncak perkembangannya; (2) Hasil yang dicapai suatu bangsa dalam lapangan kesusastraan, falsafah, ilmu pengetahuan dan kesenian; (3) Dalam pembicaraan politik, kebudayaan diberi arti sebagai ‘way of life’ suatu bangsa, terutama dalam hubungannya dengan adat istiadat, upacara keagamaan, penggunaan bahasa dan kebiasaan hidup masyarakat.

Kondisi-kondisi ideal yang memungkinkan terciptanya kebudayaan dalam pengertian ini diperlukan. Kebudayaan adalah hasil dari adanya suasana komunikatif yang memungkinkan masyarakat itu ada dan berfungsi sebagai suatu komunitas. Kondisi seperti itu juga mengandaikan eratnya hubungan manusia dengan kebudayaan, yang secara simbolis dapat digambarkan sebagai ertanya hubungan laba-laba dengan jaringan sarang yang dibuatnya. Dengan jaringan sarang yang dibuatnya sendiri itu laba-laba bisa hidup. Komunitas manusia tergantung pada jaringan makna yang dibuatnya. Jaringan makna itu tersimpul dalam simbol-simbol yang dibuatnya sendiri seperti bahasa, kesenian, ilmu pengetahuan, falsafah, sistem sosial dan lain sebagainya (Taufuik Abdullah 1988). Di belakang simbol-simbol itu bekerja seperangkat nilai, pandangan hidup dan gambaran dunia (Weltanschaung) tertentu. Itulah yang disebut kebudayaan. Hanya dengan kebudayaan suatu komunitas bisa hidup, berkembang dan berperan dalam sejarah kemanusiaan. Sebaliknya hanya dengan adanya komunitas yang mendukung kebudayaan itu, maka suatu kebudayaan berkembang. Kebudayaan tidak berkembang di tengah komunitas masyarakat yang acuh tak acuh, anarkis dan semau gue.

STA dan Kebudayaan

Tentu saja terdapat banyak perbedaan antara pemikiran STA dan Ibnu Khaldun serta Will Durant. Tetapi dengan mengerti pemikiran dua tokoh tersebut, kita akan lebih mengerti pemikiran STA dibanding bertolak dari pengertian kebudayaan yang diberikan oleh ahli-ahli anthropologi dan sosiologi.

Sebab seperti Will Durant, STA membicarakan kebudayaan dengan bertolak dari falsafah dan sejarah. Dan kemudian meletakkan pemikirannya dalam lingkait (konteks) perjuangan bangsa Indonesia yang sedang berusaha membangun kebudayaan baru yang bercorak nasional dan supra-daerah. Kebudayaan Indonesia yang dicita-citakan STA bukanlah himpunan dari puncak-puncak kebudayaan daerah, tetapi suatu kebudayaan modern yang mampu menjadikan bangsa Indonesia dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju dan memiliki kebudayaan tinggi.

Menurut STA, sebagai dampak dari penjajahan selama lebih dua ratus tahun, kedudukan bangsa Indonesia menjadi sangat terpuruk, miskin dan terbelakang di tengah-tengah bangsa lain yang jauh lebih maju dan makmur seperti bangsa-bangsa Eropa dan Jepang. Untuk mendorong bangsa ini bangkit, kondisi kebudayaannya yang menyedihkan harus diperbaiki dengan melakukan perubahan dan pembaruan besar-besaran. Dalam rangka inilah STA mengembangkan teori dan pemikiran kebudayaannya. Ia berharap pemikiran dapat dijadikan panduan dalam melakukan transformasi budaya. STA percaya bahwa hanya dengan mengubah kebudayaannya, bangsa Indonesia bisa bangkit dari keadaannya yang terpuruk. Konsep kebudayaan yang diperlukan ialah konsep yang dinamis. Untuk itu STA harus berfalsafah kembali tentang manusia sebagai makhluk yang mencipta kebudayaan dan sebagai makhluk yang yang sepanjang sejarahnya hidup dalam berbagai kebudayaan yang selalu berubah.

Dalam pencariannya itu STA sampai pada kesimpulan bahwa yang paling penting ialah soal etika dalam hubungannya dengan nilai-nilai. Di dalam lingkait ini etika bisa dibaca sebagai etika, etos, keberadaban (civility)dan kebajikan (virtue). Hubungan etika dengan nilai, menurut STA, merupakan inti utama dari persoalan kebudayaan yang dijumpai dalam sejarah semua bangsa sepanjang zaman. Manusia, sebagai pencipta kebudayaan, mempunyai kodrat ganda. Pada satu sisi ia adalah makhluk alam dan pada sisi lain ia adalah makhluk budi. Sebagai makhluk alam manusia itu tunduk kepada hukum alam yang menguasai kehidupan lahir dan jasmaninya. Sedangkan sebagai makhluk budi ia dikuasai oleh hukum budi (Geist dalam bahasa Jerman, mind dalam bahasa Inggeris, buddhi dalam bahasa Sanskerta, al-`aql dalam bahasa Arab; penulis Melayu abad ke-16 seperti Hamzah Fansuri dan Bukhari al-Jauhari menggunakan kata ’akal-budi’ atau ’budi’ saja untuk pertama kali dalam bahasa Melayu).

Pengertian manusia sebagai makhluk yang tunduk kepada hukum budi, memiliki pengertian yang mirip dengan pengertian animal rational (Aristoteles) dan al-haywan al-natiq (al-Farabi, Ibn Sina), yang artinya sama yakni ’hewan berakal’. Tetapi konsep yang dikemukakan STA saya kira dapat ditelusuri pada pemikiran para filosof Neo-Kantian, yang bersumber dari pemikiran Immanuel Kant. Pemikiran ini merupakan produk dari gerakan humanisme zaman Pencerahan (Aufklarung) yang bangkit pada abad ke-18 M. Gerakan ini meyakini pentingnya akal budi manusia dan tumbuh sejalan dengan penemuan-penemuan besar dalam ilmu pengetahuan alam, berkembangnya aliran-aliran besar dalam falsafah termasuk rasionalisme, empirisme dan idealisme. Bagi manusia zaman Pencerahan, perjumpaan ilmu pengetahuan dapat berkembang melalui pertemuan antara akal manusia dengan pengalamannya di dunia empirik. Manusia akan mencapai harkat dan martabatnya melalui penyebaran science. Ciri utama pemikiran Pencerahan ialah sekularisasi pemikiran dan cara hidup.

Dengan demikian hukum yang dilahirkan oleh pencapaian akal budi menjadi semacam keharusan yang harus ditaati, menjadi kategori imperatif. Seperti dalam pemikiran Kant, etika juga merupakan tumpuan utama dalam pemikiran STA sebab ia dianggap sebagai persoalan inti dalam kebudayaan. Secara tidak disadari STA sangat mengerti makna pepatah Melayu, ”Yang kurik sufi, yang merah saga/Yang baik budi, yang indah bahasa” – yang diturunkan dari isi kitab seperti Taj al-Salatin karangan Bukhari al-Jauhari. Dalam perkataan ’budi’, seperti nanti akan ketara pada penjelasan STA, terangkum pencapaian pikiran, moral dan tingkat kebajikan yang tercetus dalam nilai-nilai yang baik dan indah.

Menurut STA ketundukan manusia kepada hukum budi atau Geist-nya itulah yang menentukan kemanusiaan dan memungkinkan manusia menciptakan kebudayaan yang tinggi. Tetapi sebagai budayawan yang dipengaruhi ide-ide Pencerahan, STA juga mempersoalkan hak-hak dan kebebasan manusia. Lantas dalam kaitannya dengan keterikatan dan ketundukannya kepada hukum budi itu, di manakah letak kebebasan kehidupan pribadi, masyarakat dan kebudayaan? Kebebasan manusia yang berbudi itu, kata STA, terletak dalam kebebasannya memilih nilai-nilai yang menjadi motivasi, pendorong dan sekaligus tujuan dari perilaku dan perbuatannya. Berangkat dari pandangannya ini STA mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan penjelmaan dari proses penilaian dan nilai-nilai yang muncul dari perilaku, perbuatan, perkembangan benda-benda rohani dan jasmani manusia, yang kesemuanya berintegrasi dalam suatu pola atau konfigurasi. Berdasarkan ini, sebagai kelengkapannya, STA mengartikan lebih jauh kebudayaan sebagai ’penjelmaan keaktifan budi manusia menanggapi persoalan-persoalan kehidupan dan nilai-nilai’.

Menurut STA perkataan budaya/kebudayaan dalam bahasa Indonesia/Melayu sangat tepat oleh karena menghubungkan budaya dengan budi, karena kata-kata ’budaya’ dibentuk dari kata ’budi’ dan ’daya’. Kata-kata ’budi’ berarti pikiran, kesadaran disebabkan seseorang berpikir, sedang kata ’daya’ artinya ialah kekuatan untuk menghasilkan atau mencapai sesuatu. Jadi kata budaya atau kebudayaan bisa diartikan pula sebagai sebuah kemampuan menggunakan pikiran untuk menghasilkan atau menjelmakan nilai-nilai yang baik yang dapat memajukan kehidupan.

Dalam bahasa Inggris, kata STA, kaitan kata culture dan mind tidak ada sehingga pengertian kebudayaan menjadi kacau dalam tradisi intelektual Anglo-Saxon. Pengertian yang kusut inilah yang diturunkan ke dalam madzab-madzab utama ilmu sosial dan anthropologi dewasa ini. Tetapi dallam bahasa Jerman, menurut STA, hubungan pengertian antara kata Geist dengan kebudayaan atau bildung cukup rapat, sebab kata bild yang membentuk perkataan bildung salah satu artinya ialah terikat, yaitu terikat kepada apa yang ada di dalam diri manusia termasuk Geist, Weltanschauung dan lain-lain.

Karena kebudayaan adalah penjelmaan nilai-nilai, maka persoalan terpenting bagi kita yang ingin membangun teori kebudayaan ialah membuat pengelompokan secara teliti tentang nilai-nilai. Dalam usahanya itu STA bertolak dari Edward Spranger, yang dalam bukunya Lebensformen (1921) membagi enam nilai yang membuat suatu kebudayaan terjellma: (1) Nilai teori yang menentukan identitas sesuatu; (2) Nilai ekonomi yang berupa kegunaan atau utility; (3) Nilai agama yang berbentuk kekudusan atau das Helige; (4) Nilai seni yang menjelmakan keekpresian atau expresiveness; (5) Nilai kuasa atau politik; (6) Nilai solidaritas yang menjelma dalam cinta, persahabatan, gotong royong, kesadaran kelompok, dan lain-lain.

Keenam nilai itu terdapat pada semua kebudayaan, masyarakat, pribadi, malahan sebagai apriori dari budi manusia. Masing-masing memiliki pula logika, tujuan, norma dan realitas yang berbeda. Ia terjelma dalam suatu integrasi, bergantung pada integrasi pribadi, golongan masyarakat atau komunitas yang menjadi pendukung suatu kebudayaan. Jika nilai teori dan ekonomi bekerjasama, maka suatu masyarakat akan mampu menghadapi hukum alam karena keduanya bersifat rasional. Adapun nilai kuasa dan solidaritas merupakan unsur yang membentuk organisasi kemasyarakatan. Sedangkan nilai agama dan seni jika bekerjasama membentuk aspek ekspresif yang ideal dalam kebudayaan, sebab keduanya dibentuk oleh perasaan, imaginasi, keyakinan dan intuisi. Nilai seni yang tidak didukung oleh nilai religius dan rasional ilmu, cenderung menjadi dekaden. Sebaliknya nilai agama yang tidak didukung nilai seni dan ilmu akan menjadi kering dan beku.

Berdasarkan perspektif pemikiran seperti itulah STA memandang krisis kebudayaan modern yang berkembang dewasa ini dan juga menilai kebudayaan yang berkembang dalam komunitas bangsa Indonesia. Begitu pula berdasarkan pemikiran seperti itu ia mencetuskan gagasannya dalam Polemik Kebudayaan pada tahun 1930an. Menurut STA (1985), alasan mengapa ia menjadikan kebudayaan Barat yang dinamis sebagai orientasi pemikirannya, disebabkan keinginannya melihat bangsa Indonesia merebut ilmu pengetahuan, kemajuan ekonomi dan tehnologi yang bersifat rasional dalam waktu yang secepat-cepatnya.

Kebudayaan Indonesia adalah serba tanggung. Kebudayaan yang tinggi ilmu pengetahuan dan tehnologinya, rakyatnya makmur, masih belum dapat dicapai, sedang kebudayaan gotong royong dan spiritualitas lama, serta moral bangsa Indonesia telah runtuh seruntuh-runtuhnya. Kepada siapa lagi kita akan bersandar. Dalam kehidupan seni dan amalan agama juga tampak berbagai kelemahan. Kebudayaan nasional atau kebudayaan Indonesia mestinya merupakan penjelmaan dari kebudayaan modern yang dikuasai oleh ilmu dan ekonomi sehingga melahirkan tehnologi dan tingkat kecakapan dan kecerdasan yang dapat mengantarkan bangsa Indonesia maju. STA menyebut pusat-pusat penting peradaban seperti universitas, bank, pasar, pusat kekuasaan dan pusat-pusat kebudayaan. Pusat-pusat peradaban ini harus memainkan peranan penting dalam penyebaran nilai-nilai kebudayaan modern. Untuk itu bangsa Indonesia harus memiliki etika dan etos kerja yang mantap. Jika, tidak ia akan tinggal sebagai bangsa paria di tengah bangsa-bangsa lain yang telah maju.

Dari pernyataannya ini kita dapat memahami mengapa STA tidak mau menerima pengertian kebudayaan nasional seperti dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, yang kemudian dituangkan dalam UUD 45, bahwa ”Kebudayaan nasional ialah puncak-puncak kebudayaan daerah”. Pertama, menurut pendapat saya, kata-kata ’puncak kebudayaan daerah’ bisa ditafsirkan secara ahistoris dan sempit yaitu kebudayaan daerah yang pada abad ke-20 M masih tampak mewarisi monumen-monumen besar dan seni adiluhung. Jika itu yang dimaksud maka yang menghasilkan puncak-puncak kebudayaan hanyalah Jawa yang memiliki Borobudur, Lorojonggrang dan wayang kulit, serta berbagai bentuk seni pertunjukan yang terpelihara disebabkan eksistensi kraton. Lantas bagaimana dengan kebudayaan daerah lain seperti Bima, Dayak, Nias, Banjar, Toraja, Madura, Sumba, dan lain-lain? Bagaimana dengan kebudayaan Melayu yang puncak-puncaknya berbentuk teks sastra, yang cenderung dilupakan oleh ahli sejarah, para anthropolog dan sastra, khususnya dewasa ini? Kedua, kebudayaan-kebudayaan daerah dalam konteks abad ke-20 M dapat diartikan, menurut pendapat saya, sebagai tradisi-tradisi kecil yang sudah lama telepas dari Tradisi Besar yang membentuknya dan kemudian berkembang sebagai pengulangan-pengulangan yang tidak disertai inovasi dan kreativitas.

Yang saya maksud dengan tradisi kecil ialah budaya-budaya lokal yang kelihatannya sangat anekaragam itu, tetapi jiwa yang ikut membentuk dan mengikatnya tidak banyak yaitu dua tradisi besar yang disebut kebudayaan Hindu-Buddha dan Islam. Kenakeragaman budaya seperti diekspresikan oleh masyarakat tradisional Aceh, Bugis, Madura, Minangkabau, Melayu, Bima, Banjar, Sunda, Jawa Pesisir, dan lain-lain sebenarnya hanya penampakan lahirnya. Struktur batin atau intuitif dari budaya-budaya itu ialah Islam, dengan sedikit unsur-unsur Hindu atau pra-Hindu. Di lubuk kebudayaan Jawa adalah dua tradisi besar, yaitu Hindu dan Islam. Tetapi berbagai faktor internal seperti runtuhnya pusat kekuasaan Hindu pada abad ke-15 M dalam kaitannya dengan kebudayaan Jawa, proses ortodoksi dan hadirnya kolonialisme dalam kaitannya dengan Islam, telah mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi tradisi besar itu dan mengakibatkan terserak-serak menjadi tradisi-tradisi kecil yang kehilangan dinamika dan landasan intelektual.

Pada masanya ketika komunitas-komunitas sukubangsa besar Nusantara ini masih merupakan pendukung utama tradisi-tradisi besar, mereka ini menjadi komunitas bangsa yang kreatif dan maju, meskipun struktur masyarakatnya masih bersifat feodal. Dinasti Syeilendra di Jawa Tengah bisa menghasilkan Borobudur dan Mendut, dinasti Sanjaya melahirkan candi Lorojonggrang di Prambanan, kerajaan-kerajaan di Jawa Timur seperti Kediri, Singasari dan Majapahit melahirkan sastra kakawin dan candi-candi yang nilai seninya menakjubkan. Namun setelah itu, tradisi intelektual Hindu seperti tercermin dalam falsafah Vedanta, Nyaya dan Waisesika, ikut lenyap bersama berlalunya waktu. Kerajaan-kerajaan Melayu seperti Aceh Darussalam, ketika masih kokoh berdiri sebagai pendukung tradisi besar Islam, bukan tradisi kecil seperti sekarang, dapat melahirkan tokoh-tokoh kearifan yang ulung seperti Hamzah Fansuri, Bukhari al-Jauhari, Syamsudin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, Abdul Rauf Singkel, Yusuf al-Makassari, Abdul Samad al-Falimbangi, Arsyad al-Banjari, Raja Ali Haji, dan lain-lain. Tetapi dengan mundurnya kebudayaan Melayu sebagai dampak dari proses ortodoksi yang berlebihan dan cengkraman kolonialisme yang tidak terhindarkan, tradisi besar seperti tercermin tasawuf filosofis, adab, kesusastraan, dan lain-lain ikut juga lenyap ditelan waktu.

Akhir Kalam

Sebagai penutup saya ingin sedikit membandingkan pemikiran STA dengan pemikiran Fukuzawa Yukichi (1835-1901 M) dari Jepang. Meskipun sebagian besar dari 21 jilid bukunya Yukichi Zenshu (Karya Lengkap Yukichi) yang diterbitkan pada tahun 1958-64 dia berbicara tentang peradaban, pada dasarnya dia berbicara tentang kebudayaan yang disebutnya sebagai ’jiwa dari peradaban’. Dalam pemikirannya Fukuzawa Yukichi menekankan pada ilmu dan kebajikan sebagai prasyarat majunya kebudayaan dan peradaban. Sebaliknya kebodohan dan kejahatan merupakan penyakit kebudayaan dan peradaban.

Menurutnya tingginya tingkat kebudayaan dan peradaban masyarakat dapat diukur dari tingkat kecerdasan dan moralitas suatu bangsa. Kemajuan kebudayaan dan peradaban tidak semata-mata tergantung pada kemakmuran material dan pencapaian teknologi, tetapi juga pada perkembangan spiritual dan intelektual. Dia membagi kebajikan menjadi dua macam: Pertama, kebajikan pribadi yang tercermin dalam kesederhanaan, kerendahan hati, kesopanan, kejujuran, ketulusan hati, kesetiaan dan pengurbanan; kedua, kebajikan khalayak, yang tercermin dalam sikap dan tindakan adil, berani, punya rasa malu, terus terang, dan lain sebagainya.

Menurut Fukuzawa Yukichi, kebudayaan adalah jiwa peradaban dan ia merupakan bentukan spiritual. Jiwa suatu bangsa, katanya, tidak dapat ditransfer begitu saja kepada bangsa lain. Sebab kebudayaan dibentuk secara berkelanjutan dalam sejarah yang lama, terus menerus dipupuk melalui proses pendidikan dari generasi ke generasi tanpa putus. Dengan perkataan lain kebudayaan hanya dapat dibentuk jika ada tradisi kreatif dan intelektual serta dasar-dasar etika dan estetika yang mantap serta kokoh dalam suatu masyarakat atau komunitas bangsa. Di samping tradisi kreatif dan intelektual yang telah dipupuk lama, terutama melalui proses pendidikan, prasyarat lain ialah kemampuan belajar dari pengalaman sejarah. Kedua prasyarat ini tidak kita miliki lagi sekarang. Ini tercermin dalam rendahnya penghargaan bangsa kita terhadap pencapaian kreatif dan intelektual, serta meluasnya sikap ahistoris bangsa kita dalam memandang segala hal, termasuk kalangan terpelajar dan intelektualnya.

Lantas bagaimana kita meletakkan pemikiran kebudayaan STA di tengah arus pemikiran yang berkembang dewasa ini dalam skala global? Jika kita menggunakan rangka yang diajukan Gellner (1992), kecenderungan pemikiran STA dapat dimasukkan ke dalam kutub rasionalisme Enlightement atau fundamentalisme rasionalis. Kutub pemikiran seperti ini pastilah berhadapan dengan dua kutub lain yang menjadi pesaing atau pecundang sengitnya, yaitu fundamentalisme keagamaan dan posmodernisme yang bisa disebut juga sebagai fundamentalis relativis. Yang membuat pemikiran STA berbeda dengan pemikiran madzab rasionalis yang lain ialah semangatnya. Semangat yang melatari pemikiran STA adalah semangat idealisme romantik yang berakar dalam gerakan Sturm und Drang di Jerman awal abad ke-19 M dengan tokoh-tokohnya yang terkenal seperti Schiller, Goethe, Schelling, dan lain-lain. Di belakangnya lagi adalah idealisme Hegel dan pemikiran Neo-Kantianisme (lihat juga esai Asikin Arif dalam buku Sang Pujangga 2006).

Berhadapan dengan dua pesaingnya itu, para tokoh fundamentalisme rasionalis akan mengajukan pandangan yang berbeda. Bagi fundamentalisme rasionalis, posmodernisme atau fundamentalisme relativis akan dipandangnya sebagai biang dari krisis kebudayaan dan dekadensi moral. Sedangkan fundamentalisme realigius,pasti akan dikecam sebagai penyebab kemunduran dan keterbelakangan. Tetapi bagi pendukung posmodernisme, pandangan STA pasti akan dipandangnya sebagai utopia. Tetapi utopia atau tidak, mimpi besar atau bukan, pemikiran STA masih relevan untuk kita renungi sekarang di tengah krisis multi-kompleks yang dialami bangsa kita.
Jakarta 20 Februari 2006

Senarai Rujukan:

Durant, Will (1955). The Story of Civilizations. Vol. I. New York. The Pocket Library.

`Effat al-Sharqawi (1986). Filsafat Kebudayaan Islam. Terj. A. Rofi` Usmani. Bandung: Pustaka.

Gellner, Ernest (1992). Posmodernism, Reason and Religion. London and New York: Routledge.

Ibnu Khaldun (1284 H). Al-Muqaddimah. Cairo: al-Maktabah al-Tijariyah al-Kubra.

—————— (1980). The Muqaddimah: An Introduction to History. Trans. Franz Rosenthal. Princeton: Bollingen Series XLIII.

White, L. A. (1962) ”The Concept of Culture”. Dalam ed. M. F. Ashley Culture in the Evolution of Man.Oxford: OxfordUniversity Press.

Takdir Alisyahbana, Sutan (1966). Values as Integrating Forces in Personality, Societ and Culture. Kuala Lumpur: University of Malaya Press.

———————————– (1985). ”Pembahasan Makalah Koentjoroningrat

Tentang Kebudayaan Nasional”. Dalam ed. Alfian Persepsi Masyarakat

Tentang Kebudayaan. Jakarta: Gramedia.

Taylor, E. B. (1871). Primitive Culure: Researches Into The Development of Mythology,

Philosophy, Religion, Language., Art and Custom. Boston: Estes & Lauriat.

Yukichi, Fukuzawa (1973). An Outline of A Theory of Civilization. Trans. David A.

Dilworth and G. Cameron Hurst. Tokyo: SophiaUniversity.
(Sumber: http://www.jce.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: