Sesobek Catatan Asyura

HARI Sabtu kemarin, 19 Januari 2008, atau 10 Muharam 1429 H, saya dan keluarga menghadiri acara peringatan atas kesyahidan Imam Husain di Karbala tahun 61 H, di sebuah majelis taklim di Jakarta. Tadinya saya ingin mengikuti sebuah acara yang sama di bilangan Kelapa Gading pukul sembilan pagi, tetapi karena malam Asyura-nya saya pulang ke rumah (Ciampea) hampir pkl.03.30 dini hari, keinginan saya pun saya batalkan. Saya tidak bisa membayangkan dalam kondisi tidak segar, saya harus berangkat lagi ke Jakarta dari Bogor pagi-pagi bersama keluarga. Dengan niat cari berkah (!), akhirnya saya pun memutuskan untuk mengikuti acara Asyura-an di majelis taklim tersebut.

Sampai di majelis tersebut sekitar pukul dua siang, saya langsung diantar ke dalam rumah sebelah kanan yang memang khusus diperuntukkan buat kaum Adam. Kebetulan acara baru mau dimulai. Demikianlah acara dimulai dengan sambutan, baca al-Quran, ceramah dan maqtal. Saya kira, acara-acara majelis duka cita isinya tidak jauh dari itu. Hanya yang membedakannya adalah teknik penyampaian maqtal dan ma’tam. Tentu, juga pembicaranya dan pesertanya.

Sebetulnya, yang menghebohkan dalam acara di majelis tersebut, bagi saya, adalah perilaku orang setelah selesai acara tersebut. Betapa tidak, kudapan berupa bakso dan soto mie segera diserbu oleh jamaah yang memang didominasi oleh kaum perempuan berbaju hitam-hitam (kebanyakannya). Sepertinya mereka lupa (atau memang pada laper!) bahwa dalam maqtal diceritakan bagaimana para sahabat dan keluarga Imam Husain syahid dalam keadaan kehausan dan berlumuran darah.

Ibu-ibu tersebut, yang dari tongkrongannya kelas “tajir”, ada yang langsung ambil kantong plastik yang diisi dengan bakso nyaris sepuluh butir. Belum kuahnya. Belum kerupuknya. Belum es dogernya. Padahal masih banyak jamaah lain yang ngantri. Sungguh tidak ada muka muram yang membekas pada mereka setelah mendengarkan kisah terbunuhnya Sayidina Husain. Tapi mungkin Asyura tak perlu didominasi, seperti seorang ustad bilang, oleh kesedihan. Malah harus diiringi dengan semangat perjuangan (mungkin berjuang untuk segera makan?).

Ah, memang menjadi pecinta Ali butuh waktu untuk bisa itsar, altruisme. Jika itsar menjadi satu ciri pencinta Ahlulbait, kayaknya memang belum ada pencinta Ahlulbait yang bener. Termasuk saya (kalau saya, terkondisikan lho (!))

Tips
1. Kalau dijamu orang, selayaknya kita memperhatikan lingkungan sekitar. Jangan malu-maluin. Ja-im (jaga imej) di sini hendaknya diperhatikan.
2. Kalau memang mau bawa makanan ke rumah dari tempat jamuan, mendingan tunggu orang lain kebagian dulu. Kesan rakus seyogianya dihindari.
3. Sebaiknya, makanan dihabiskan jangan tersisa. Jangan mubazir. Kalau niat mau nambah, ambil sedikit dulu. Karena mengambil banyak sekaligus, khawatirnya kita kekenyangan. Jadinya mubazir dan mubazir adalah langkah-langkah setan.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: