Hari Asyura Sebagaimana yang Diperingati Ordo Sufi Bektasyi

allahmuhammadali_copy-303x374.jpgPARUH pertama bulan Muharam adalah masa duka cita bagi kaum Bektasyiyah di Turki (dan sekitar Semenanjung Balkan pada umumunya–penerj., meski tidak diperingati dengan cara memukul dada atau cucuran darah sebagaimana yang dilakukan oleh kalangan Syi’ah. Sebaliknya, ia merupakan perenungan sunyi atas kesyahidan Husain dan peristiwa tragis di Karbala.

Larangan-larangan Selama Puasa
Kalangan Bektasyiyah memperingati kesyahidan Husain pada umumnya dengan berpuasa dua belas hari pertama bulan Muharam, sekalipun angka ini pada faktanya bervariasi dari sepuluh sampai dua belas hari, tergantung hari dalam seminggu yang padanya tanggal 1 Muharam jatuh—untuk menghindari adanya dua Jumat yang ada dalam periode [sepuluh hari tersebut] karena kesyahidan Husain terjadi pada satu hari Jumat. Puasa yang dilakukan mencakup aktivitas mencegah diri dari menyantap makanan dan minuman tertentu selama periode waktu tersebut—khususnya air (karena Husain dan “pasukannya” ditinggalkan di padang pasir tanpa akses ke sumber mata air) dan daging. Beberapa makanan lain yang menyisakan aroma yang menyengat—seperti bawang—juga tidak dimakan. Di kalangan Bektasyiyah dulu tidak mencuci badan selama puasa. Larangan mandi pada umumnya tidak dilakukan lagi di masa sekarang, karena kondisi-kondisi modern menuntut Bektasyiyah untuk bergerak di dunia di tengah-tengah mereka yang tidak berpuasa. Demikian pula halnya dengan larangan tradisional seperti bercukur janggut dan memotong rambut. Hiburan selama puasa juga dihentikan. Para penganut Bektasyi didorong untuk merefleksikan kesyahidan Husain selama periode ini, dan membaca suatu bab sehari dari Hadiqat as-Su’adah-nya Fuzuli, yang melaporkan tragedi Karbala. Ketika dua orang Bektasyiyah bertemu pada periode ini, sapaan mereka adalah “Ya Imam!” dan yang lain menjawab, “Ya Husain!”.

Ritus Khusus
Upacara ritual Bektasyiyah yang disebut meydan tidak dilakukan selama periode ini, namun ada ritus-ritus khusus yang menandai tragedi tersebut dan memperingati Husain, Dua Belas Imam, dan Sayidah Fathimah. Puasa dimulai dalam suatu upacara yang di dalamnya ratapan duka cita disenandungkan, sementara tanah Karbala dicampur dalam wadah air, yang diminum di akhir upacara oleh semua yang hadir. Pada hari ke-5 puasa, sebuah pertemuan dilakukan yang di dalamnya upacara yang sama dilakukan, namun dengan nasi yang disajikan sebagai ganti air. Pada hari ke-7, upacara dilakukan lagi dengan pembagian manisan yang disebut helva, terbuat dari semolina, yang mengingatkan tanah Karbala. Suasana hati selama upacara-upacara ini muram, dan banyak peserta yang menangis.

Cara Berbuka
Dalam tradisi Bektasyiyah berbuka puasa pada hari Asyura adalah dengan meminum air yang telah dicampur dengan tanah Karbala pada awal puasa. Sup manisan juga, yang disebut sup Asyura, disajikan, disantap oleh para anggota komunitas Bektasyiyah, dan dibagi-bagikan ke para tamu, tetangga, orang miskin, dan seterusnya. Ketika puasa selesai, suasana hati segera ringan, dan sisa-sisa hari dalam setahun pada umumnya bebas dari ratapan emosional pada Husain, sekalipun ia dan keluarganya serta keturunannya tentu saja tak pernah dilupakan.

Sepintas Upacara Duka atas Husain ala Bektasyiyah
Sementara sejumlah Syi’ah Azeri yang tinggal di Turki mementaskan peristiwa takziyah dramatis untuk mengenang kesyahidan Husain dan para sahabatnya, Anda tidak akan melihat darah ataupun memukul dada (ma’tam) di kalangan Bektasyiyah dan Alawiyah. Kesedihan mereka biasanya sunyi dan muram. Kendatipun, adalah mungkin bahwa di abad-abad sebelumnya, kaum Bektasyiyah (atau mungkin proto-Bektasyiyah) lebih fisikal dalam menunjukkan kesedihan mereka. Abad 14-15 Kaygusuz Abdal mempunyai syair yang di dalamnya ia menggambarkan apa yang terjadi ketika berziarah ke dergah pemimpinnya Abdal Musa—yang mencakup bait yang menyebutkan bahwa darah tertumpah selama bulan duka cita. Aktivitas-aktivitas serupa juga dikenal telah berlangsung di komplek Sayid Gazi dekat Eskisehir pada abad ke-16, namun ini bukan Bektasyiyah khusus melainkan para abdal (istilah yang menunjuk pada wali pengganti–penerj).. Semasa waktu inilah pemerintahan Utsmani menjadi kian ortodoks dan Sunni (barangkali karena asumsi sekarang peran penjaga Dunia Islam, dan konfliknya dengan Dinasti Shafawiyah yang Syi’ah) dan menumpas pada apa yang dilihatnya sebagai heterodoks. Para abdal tersebar ke mana-mana dan pada akhirnya banyak dari mereka diserap ke dalam Tarekat Bektasyi, yang kemudian berkembang sebagai pranata terpusat, dan tampaknya lebih dapat diterima para penguasa Utsmani dan ulama.

Zikir 10 Hari Pertama Muharam ala Bektasyiyah
Selama sepuluh hari pertama Asyura, Bektasyiyah memiliki zikir tertentu. Zikir-zikir tersebut adalah (1) hari pertama membacaYâ Allâh (66 kali); (2) hari kedua membacaYâ Hâfizh (989 kali); (3) hari ketiga membacaYâ ‘Ali (110 kali); (4) hari keempat membaca Yâ Khâfi (111 kali); (5) hari kelima membaca Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad (132 kali); (6) hari keenam membacaYâ Bâsith (72 kali); (7) hari ketujuh membacaYâ Râzzaq (380 kali); (8) hari kedelapan membacaYâ Salam (131 kali); (9) hari kesembilan membacaYâ Wadûd (20 kali); dan (10) Hari kesepuluh membacaYâ ‘Azîz (94 kali)[] (Diterjemahkan oleh Arif Mulyadi dari “The Commemoration of Ashura in Bektashi Tradition” dan “Prayers and Litanies for the Time of ‘Ashura” pada laman http://www.bektashi.net, edisi cetak akan dimuat dalam majalah Syi’ar edisi Muharam)

1 Komentar

  1. HJHGJHG said,

    Desember 16, 2011 pada 7:01 am

    KAFIR


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: