Pesan Seorang Sahabat (kepada kaum Agamawan)

Seorang bisa belajar dan mempersiapkan revolusi
dengan membuat revolusi
dan bukan dengan mendiskusikan revolusi

(Ali Syari’ati)

Teman-temanku yang punya kepedulian,
Kau tahu di mana kita hidup sekarang ini. Berhimpitan dengan krisis sosial yang terus mencekik dan alpanya peran negara membuat perjuangan menjadi sebuah pilihan. Engkau menyaksikan bagaimana derita bangsa ini seolah tak mau berakhir, menjalarnya wabah penyakit dan derita karena bencana alam…. Caci maki kita terhadap kekejian Orde Baru nyatanya hanya menyentuh asap karena belakangan ini mulai timbul semangat untuk membangkitkan kembali kuasa Orde Baru. Puluhan ulama dengan antusias berdatangan ke rumah cendana untuk membesuk kesehatan mantan presiden, seolah itu sebuah perintah agama untuk tetap berbuat baik.

…Bangsa yang terus dirundung musibah ini tak pernah bisa bersama karena umat beragamanya asyik saling pukul. Untuk saling bertengkar kita tak butuh seorang Yahudi karena kita sendiri seolah punya minat untuk melakukannya. Sangat memalukan orang dengan kalimat-kalimat suci tetapi melakukan pengrusakan pada sesamanya… Preman bukan hanya komplotan tapi jadi budaya keagamaan yang sangat memprihatinkan.

Sedangkan di seberang sana, umat Islam menggeliat melawan ketidakadilan. Di Iran yang dikenal sebagai negara Teo(demo)krasi telah menancapkan era pembangunan nuklir yang menggetarkan negara raksasa seperti Amerika Serikat. Tanpa khawatir mereka menjalin persahabatan dengan Cina maupun Venezuela yang kerap kali identik dengan negara sosialis. Hugo Chavez sewaktu berkunjung ke Iran bahkan menyampaikan pendapat seperti seorang saudara dekat: apa pun keputusan Iran, Venezuela ada di belakangnya. Sama halnya dengan Hizbullah di Lebanon yang hidup dalam kemajemukan tapi tak pernah merasa terusik untuk bertengkar dengan sesamanya kecuali hanya untuk melawan Israel….Ini yang kemudian tidak digarap dengan cara cerdik oleh sejumlah ornop yang dihuni oleh anak-anak muda Islam. Dengan gembira mereka sibuk mengembangkan proyek demokrasi sambil memupuk laba untuk kepentingan kekayaan pribadi atau lembaganya sendiri. Jualan program ke sana kemari dengan antusias sembari mengutuk mereka yang terpengaruh paham fundamentalis atau daerah yang dianggap setuju dengan penerapan syariah Islam. Lagi-lagi kita bertarung di antara umat yang merasa paham terhadap teks sosial dengan mereka yang paham teks kitab.

…Kau memang boleh geram, kecewa, dan sedih. Tapi situasi itu terjadi tidak hanya di lingkungan kawan-kawan pergerakan. Di televisi bisa kita saksikan para ustad yang mahir dalam menghipnotis massa. Mereka selalu teriakkan: sabar, sabar, dan sabar! Seolah-olah mereka tak tahu kalau kesabaran ini sudah terlampau lama diamalkan dengan cara yang buas. Ketika semua pejabat dan ahli ekonomi berdebat tentang kemiskinan kita seperti melihat tontonan sirkus yang tidak menghibur. Data berapa pun yang disodorkan, kemiskinan tetap menjadi sebuah kisah misteri…Kesabaran yang diam-diam berubah menjadi kebodohan dan kenaifan. Lalu sebagian artis yang mengaku jadi ustad masih bisa berceramah mengenai kesabaran dengan tekun dan antusiasnya. Mereka seperti hidup tidak menyentuh bumi sekaligus tidak mendengar gema kepedihan. Mereka berada dalam lingkungan hidup mereka sendiri, bukan sebuah lingkungan yang seharusnya banyak membuat mereka belajar.

Kau pasti bertanya di mana mereka belajar agama selama ini? Ada yang mengatakan mereka tahu agama setelah mengalami lumuran dosa. Sebagian ada yang mengaku hidayah itu muncul begitu tiba-tiba. Di sebagian lain mereka muncul karena sangat seringnya media memuat mereka. Yang lebih mutakhir mereka jadi ustad karena memenangkan lomba…

…Gerakan Islam sebaiknya kita dorong untuk turun ke lapangan menyentuh mereka yang nestapa dengan kasih sayang dan menuntut penguasa zalim dengan perlawanan.

Cerminkan kasih sayang itu dalam bentuk laku sosial. Gerakan Muhammadiyah maupun NU yang punya banyak lembaga pendidikan, jangan sesekali lembagamu hanya jadi sarana memeras pendapatan umat. Sekolah yang kalian dirikan hendaknya menjadi tempat yang orang miskin, terlantar dan kalah tidak terlalu takut untuk menginjaknya, Sekolah yang didirikan sebaiknya mengajarkan realitas sosial yang timpang dan melibatkan para pelajarnya dalam studi-studi keberpihakan. Pendidikan agama yang ditebarkan sebaiknya bertumpu pada semangat solidaritas, pembelaan, dan perlindungan pada mereka yang terkucilkan dalam sistem sosial. Agama itu perlu dikobarkan dengan semangat menghargai akal dan dilandasi oleh sikap untuk tidak bermegah-megahan.

…Tumbuhnya pusat-pusat perbelanjaan yang akan merangsang umat untuk mengkonsumsi sebaiknya diprotes keras…Komersialisasi pendidikan sebaiknya juga tetap ditolak bahkan kalau perlu nyatakan jihad terhadap kapitalisme pendidikan…Tak patut gerakan agama hanya berdiam diri, lemah, dan tidak menyatakan sikap apa pun terhadap sesama silang sengketa sosial. Wibawa agama yang hanya mengurusi soal-soal moral individual lama-kelamaan akan disapu oleh ingatan pemeluknya, yang kian percaya bahwa agama memang tak punya urusan dengan masalah sosial…

Tapi tak ada perlawanan tanpa tradisi pengetahuan. Waktunya gerakan Islam untuk mulai mengembangkan budaya pengetahuan. Ilmu sosial yang menjadi pintu bagi upaya merumuskan sistem alternatif saatnya dikembangkan…Kita bukan hanya butuh akidah yang betul tapi ilmu kemasyarakatan yang cermat memahami situasi sekarang ini. Keimanan yang memantulkan protes pada kenyataan adalah sebuah sikap keimanan yang dasar… Cetuskan protesmu (atas ketidakadilan) di medan apa saja, khotbah keagamaan, lembar media Jumat, bahkan dalam doa-doamu sehari-hari. Kita tak boleh berdiam diri atas ketidakadilan yang kini menjarah dimana-mana. Ingat jangan kau bersikap diam saat ada ketidakadilan!
….
….
….

Semoga kita semua tetap berada dalam api perlawanan bukan dalam abu kepasrahan!
(Sumber: Eko Prasetyo. Astaghfirullah: Islam Jangan Dijual! (Yogyakarta: Resist Book), hal.169-79)

Alamat Penerbit:
Resist Book
Jl. Magelang km.5 Gg Bima No.39
Kutu Dukuh
Yogyakarta 55284
Telp./Faks. (0274) 580 439, (0274) 7422 761
e-mail: resistbook@gmail.com

2 Komentar

  1. Desember 7, 2007 pada 9:48 am

    […] oleh Fajar Timur dari: Eko Prasetyo,  Astaghfirullah: Islam Jangan Dijual! (Yogyakarta: Resist Book), […]

  2. Desember 30, 2007 pada 7:56 am

    […] oleh Fajar Timur dari: Eko Prasetyo,  Astaghfirullah: Islam Jangan Dijual! (Yogyakarta: Resist Book), […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: