Ada Apa dengan Maroko?

oleh Yasin Abdus Salam

Fakta bahwa ada pengikut Ahlulbait di Maroko semestinya bukanlah suatu kejutan mengingat kenyataan bahwa di manapun kaum Muslim berada, kaum Syi’ah juga ada. Sejarah Islam di Maroko dapat dilacak hingga ke tahun 683 ketika Uqbah bin Nafi, pemimpin Dinasti Umayah di Damaskus, menaklukkan kawasan tersebut. Ketika banyak orang Berber bersegera menganut Islam, hal ini tidak serta merta menjamin dukungan mereka kepada para penakluk Arab mereka yang mengenakan pajak tinggi kepada mereka, memperlakukan kaum muallaf sebagai Muslim kelas dua, dan yang paling buruk, bahkan memperbudak mereka. Sebagai akibatnya, banyak orang Berber menjadi cenderung kepada ajaran-ajaran Khawarij, Isma’iliyah, dan Syi’ah Imamiyah.
Baru pada tahun 788, dengan kedatangan Idrin bin Abdullah, pendiri Dinasti Idrisiyah, Syi’ah Imamiyah berkembang luas sepanjang negeri tersebut. Moulay Idris, begitu ia dikenal, memiliki asal usul leluhurnya kepada Ali bin Abi Thalib dan Sayidah Fathimah Zahra. Sebagai seorang Syi’ah Imamiyah, dia dihukum oleh Abbasiyah. Sebagai salah seorang yang selamat dari Perang Fakhkh, yang di dalamnya banyak keturunan Ali dibunuh oleh Abbasiyah, Idris hijrah ke Maghrib. Di sana, ia didapuk oleh Muslim Berber sebagai imam mereka, memasukkan suku-suku Berber yang ada ke Islam Syi’ah, dan membangun Negara Islam otonom yang pertama di Maroko. Moulay Idris mendirikan tradisi syarifian di Maroko, yang dengannya klaim keturunan Nabi merupakan kebutuhan dasar bagi aturan monarki. Dinastinya juga merupakan dinasti pertama yang menggabungkan baik bangsa Berber dan Arab.
Dinasti Idris berkuasa di Maroko hingga tahun 985, kehilangan kekuasaan selama periode pendek (922-25 and 927-37) hingga Miknasa yang adalah Fathimiyah bersekutu, dan demikian juga Muslim Isma’iliyah. Pada abad ke-10, Dinasti Idris pecah dan Maroko terbadi ke dalam beberapa kerajaan kecil. Seluruh negeri dipersatukan kembali oleh Almoravid (1062-1145), yang diikuti oleh Almohad (1145-1248), Merinid (1248-1554), Saadian (1554-1660) dan, akhirnya, Alawiyah (1660-sekarang).
Setiap dinasti yang berkuasa di Maroko—dengan pengecualian Almoravid dan Almohad—mendakwa sebagai keturunan Nabi dan mengikuti model politik Syi’ah. Menyangkut teologi, filsafat, dan fikih, penguasa Maroko secara tradisional memilih Mazhab Maliki, yang secara resmi dan paksa ditekankan oleh Almoravid. Seperti halnya kaum Wahhabi, Almoravid, berusaha untuk “memurnikan” praktik keagamaan. Tujuan mereka adalah pemindahan (kepercayaan) kaum pagan atau semi-pagan di Sahara, juga perjuangan melawan Kristen dan Muslim pelaku bid’ah. Penyebaran Mazhab Maliki dimulai sekitar tahun 1040 dengan bantuan ‘Abd Allah bin Yasin, seorang pegiat Maliki yang aktif dari Tunisia yang dibawa ke negeri tersebut oleh pemimpin Almoravid Yahya bin Ibrahim. Bagaimanapun, konversi itu tidak tanpa paksaan dan menjelang 1054, kaum Syi’ah Maroko yang lalai melakukan taqiyah semua telah dibantai. Karena penindasan terus menerus, Syi’ah Maroko terpaksa bersembunyi hingga abad 21.
Situasi tersebut bagi Syi’ah di Maroko telah meningkat secara signifikan bagi mereka untuk menampilkan diri mereka secara kikuk di wilayah publik. Pada April 2003, harian Assabah meliput keberadaan kehadiran kaum Syi’ah yang kuat di jantung PJD, al-Yaqazha wa al-fadhilah, sebuah partai politik Muslim. Menurut artikel tersebut, lebih dari 50 orang Syi’ah berperan serta dalam pertemuan pertama gerakan tersebut. Laporan itu dengan segera disangkal oleh Saâd Bouaachrine, salah seorang pendiri gerakan tersebut. Penyangkalannya tampaknya ganjil karena selama lebih dari setahun terbitan resmi gerakan tersebut, al-Asr, telah menyediakan suatu kolom bagi Driss Hani, pemimpin komunitas Syi’ah Maroko, yang bertajuk “Tahta’ chams.”
Selain berpartisipasi dalam perdebatan politik, Syi’ah Maroko juga telah mendirikan organisasi-organisasi keagamaan seperti At-Tawassoul di al-Hoceima, al-Inbiaat in Tangiers, dan al-Ghadir di Meknes. Organisasi yang belakangan ini, yang mencari para anggota termasuk Mohsinne Hani, dikutip dalam the 2002 Country Reports on Human Rights Practices, yang ditebitkan pada 31 Maret 2003, oleh Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Pekerja Amerika. Laporan itu menyebutkan, pada Mei 2002, organisasi al-Ghadir meminta status resmi. Ini adalah untuk pertama kalinya sebuah perhimpunan warga Syi’ah meminta pengakuan resmi. Hingga menjelang 2006, tak ada respon yang diterima dari pejabat berwenang atas permintaan tersebut. Sementara komunitas Syi’ah menunggu pengakuan resmi dari pemerintah Maroko, perhimpunan lain disusun secara hati-hati di Agadir, Marrakesh, dan Tetouan, tanpa memperlihatkan afiliasi keagamaan mereka. Apabila pemerintah Maroko, yang dikenal karena keserbaadaan dan keserbatahuaannya, bisa mengkonfimasi eksistensi sekitar 300 kaum Baha’i di negeri tersebut, kaum Syi’ah di negeri itu telah tinggal dalam persembunyian sedemikian mendalam sehingga tidak angka yang pasti atas jumlah keberadaan mereka.
Mayoritas Syi’ah Maroko sangat terdidik dan muda, jarang yang sampai usia empat puluh tahun. Mereka terdiri para insinyur, dokter-dokter medis, pengacara, pengusaha, guru, dan pelajar. Adalah kelompok pertama yang membentuk jantung gerakan Syi’ah di Maroko. Sebagian dari mereka berasal dari keluarga-keluarga Syi’ah yang telah melakukan taqiyah selama lebih dari satu abad. Yang lainnya adalah muallaf yang belajar ke luar negeri seperti ke Lebanon, Suriah, atau Iran, dan pulang dengan keimaman pada Ahlulbait. Sebagian lagi, menganut cara pandang Syi’ah karena terinspirasi oleh Imam Khomeini, juga jaringan televisi Hizbullah, al-Manar. Situasi ini lebih mendapatkan para pemirsa di Maroko, sekelompok audiens yang terus menerus bertambah secara bertahap dengan transmisi-transmisi barunya di Maroko yang ditujukan pada para intelektual Francophone di Magrib. Dan, pada akhirnya, kita pun harus menyebutkan peran penting literatur Syi’ah dalam penyebaran paham Syi’ah di Maroko.
Literatur Syi’ah kini telah tersedia di banyak toko buku di sepanjang Casablanca, Rabat, dan Marrakesh. Selama dua tahun silam, Pameran Buku Internasional di Casablanca ditandai oleh pameran khusus di sekitar stan-stan dua penerbit buku dari Iran dan Lebanon yang menawarkan buku-buku pilihan tentang Islam Syi’ah dengan harga yang sangat rendah. Sejak 1999, bahkan ada toko buku yang mengkhususkan diri dalam ajaran-ajaran paham Syi’ah di pusat bisnis Casablanca. Pendiri perpustakaan itu adalah seorang yang baru memeluk paham Syi’ah di usia empat puluhnya. Ia seorang sarjana di bidang manajemen bisnis dan telah menjadi pembela kuat filsafat Syi’ah. Secara terbuka, ia mengupas persoalan-persoalan agama tetapi membutuhkan anonim, mungkin mengkhawatirkan “problem-problem” dengan otoritas.
Jika orang Syi’ah Maroko tetap hati-hati atas keimanan mereka, mereka mempunyai banyak alasan untuk berbuat demikian. Banyak dari mereka mengenang akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an ketika pemerintah Maroko mencari dukungan dari Arab Saudi untuk menentang pengaruh Revolusi Islam Iran. Sebagai akibatnya, Wahhabi—yang merupakan gerakan marjinal yang diperkenalkan di Maroko pada abad 19—mendapatkan dukungan negara. Dengan menerima uang minyak Saudi, yang membantu menentang upaya-upaya Iran untuk “mengekspor” revolusi juga keuangan, perang terhadap Polisario di Selatan, bangsa Maroko dipaksa untuk menerima ulama-ulama Saudi. Dengan bantuan Saudi, kampanye propaganda berskala besar melawan Syi’ah dilangsungkan di media yang dikontrol negara. Situasi sampai titik kritis pada 1984 dengan manifesto “pro-Khomeini” yang mengakibatkan banyaknya penahanan. Pada saat inilah, dewan ulama Maroko mengeluarkan suatu fatwa yang menyatakan bahwa Imam Khomeini adalah seorang kafir. Alih-alih berbicara dalam bahasa Arab Standar Modern, para penyiar berbicara dalam bahasa Arab tidak resmi untuk menjamin pesan tersebut sampai ke telinga massa.
Dengan bantuan Saudi, ulama Wahhabi menyebar sepanjang Maroko, literatur ekstremis didistribusikan ke ribuan pelajar, dan beasiswa diberikan untuk belajar di universitas-universitas dukungan Saudi. Maroko, yang di masa modern dikenal karena moderasinya, segera dihadapkan dengan anak-anak Saudi: para khatib Wahhabi yang terlatih yang pulang ke rumah untuk menebarkan teori-teori mereka. Para teoretisi Wahhabi ini menolak paham Maliki Maroko modern yang terbuka dan mengutuk orang Syi’ah sebagai murtad. Akibatnya, sejak pendirian Republik Islam pada 1979, banyak orang Syi’ah Maroko, lelaki dan perempuan, dan anak-anak, meninggalkan negeri tersebut dan pindah ke Iran di mana mereka bisa mempraktikkan paham keagamaan mereka secara bebas.
Baru pada akhir 1990-an, seiring proses demokrasi yang diinisiasi oleh Raja Hasaan II, Syi’ah mendapatkan ruang kebebasan beragama. Konstitusi Maroko 1996 menetapkan Islam sebagai agama negara dan menjamin kebebasan ekspresi dan berkumpul bagi warga negaranya (Artikel 6). Konstitusi juga menjamin warga negaranya dalam hal kebebasan berekspresi dan berorganisasi (Artikel 9). Kendatipun ada hak-hak konstitusional yang baru dicapai ini, Muslim Syi’ah masih terpaksa bertemu secara semi-terbuka untuk mendiskusikan dan memperdebatkan keimanan mereka di Magrib. Baru setelah tragedi 9 September, Negara Maroko mulai menggeser kebijakannya, secara resmi memutuskan diri dari Wahhabisme sebagai suatu buah dari pemboman Casablanca pada 2003. Ketika penjahat riil segera ditangkap, semua anggota Salafia Jihadia , pemerintah pada awalnya menyatakan bahwa kaum Syi’ah bertanggung jawab atas penyerangan tersebut, mengarahkan enam orang Syi’ah dari PDJ untuk penyelidikan menurut Menteri Kehakiman sendiri.
Baru pada bulan November 2002, eksistensi Syi’ah Maroko diungkapkan melalui wawancara dengan Hujjatul Islam Sayid Dris Hani, pemimpin spiritual Syi’ah Maroko, yang muncul di Maroc Hebdo. Sekarang di usia pertengahan 30-annya, dan tinggal dengan damai di Sale bersama istrinya dan keluarga yang sejahtera, Dris Hani menemukan Syi’ah ketika remaja dan pindah ke Suriah pada usia 18 tahun untuk belajar di Hawzah. Begitu kembali ke Maroko, ia membaktikan diri dengan misi: berjuang untuk pengakuan dan penghargaan pada komunitas Syi’ah minoritas. Dalam wawancaranya dengan Maroc Hebdo, ia menyatakan bahwa “Maroko adalah negeri Syi’ah”; bahwa Syi’isme adalah penguasa dan Sunnisme adalah pengecualian. Ia menjelaskan bahwa tidak perlu untuk menjadikan Maroko sebagai negeri Syi’ah, karena ia adalah satu. Ia pun berharap bahwa komunitas tersebut bisa mendirikan partai politik Syi’ah seperti Hizbullah, namun mengadaptasi realitas Maroko. Karena penekanan yang ditimpakan kepadanya oleh otoritas Maroko, selalu berusaha untuk menjamin persatuan nasional melalui uniformitas—Allah, Raja, dan Negeri, satu agama, satu bahasa, dan satu mazhab—ia “diminta” untuk menarik kembali pernyataan-pernyataannya. Dalam wawancara selanjutnya, ia mengembalikan banyak pernyataan yang telah diatribusikan kepadanya. Ia menekankan ekumenisme Islam dan kebutuhan untuk menyatukan umat Muslim. Dalam kata-katanya, Sunni dan Syi’ah adalah dua arus yang saling melengkapi, dan seluruh Muslim, baik mereka Sunni ataupun Syi’ah, memiliki keyakinan dasar yang sama.
Sekalipun fakta bahwa bangsa Maroko terpaksa untuk menganut Islam Sunni, mereka selalu memelihara banyak aspek dari Islam Syi’ah: kecintaan pada Nabi dan keluarganya; penghormatan kepada para keturunan Nabi, yang dikenal di Maroko sebagai syarif; penyelenggaraan Idul Maulid, kebiasaan Syi’ah yang dirintis oleh Dinasti Merinid di negeri tersebut; doa tawasul umum melalui Nabi dan Fathimah; penghormatan kepada para wali; spiritualitas Sufi yang diilhami Syi’ah yang kaya rohani, dan peringatan Asyura. Di Maroko, peringatan duka cita ini diselenggarakan terutama oleh kaum wanita dan anak-anak. Peringatan-peringata ini dipelopori oleh komunitas Syi’ah yang ada di negeri tersebut antara abad ke-9 dan 12 dan diteruskan oleh para syarif, keturunan Nabi. Hujjatul-Islam Dris Hani mendedahkan, “Bahkan negeri-negeri yang mendakwa sebagai (negeri-negeri Sunni) sesungguhnya adalah Syi’ah. Karena, mereka memiliki penghormatan yang sama kepada Ahlulbait. Ini hanya persoalan tingkat kesyi’ahan mereka saja.” Sebagaimana banyak orang Maroko katakan, “Kita adalah Sunni dalam praktik, tetapi Syi’ah di hati.” (Dari http://www.jaafariya.news).”[]

6 Komentar

  1. fatah mujahid said,

    November 27, 2007 pada 7:36 am

    syiah dan suni sama saja, keduanya islam, suka salat, suka puasa, zakat, memiliki tuhan yang sama, nabi yang sama, percaya kepada akhirat, dsb tapi kenapa saudara kita Hartono jaiz seperti kurang suka dengan syiah?
    orang syiah harus banyak belajar dari literatus suni dan suni juga harus banyak belajar dari literatur syiah. terlalu sayang kalau keduanya saling diam, apalagi saling curiga.

    • iamam fuadi said,

      September 3, 2009 pada 2:58 am

      menurut saya apa yang dikatakan oleh mas fatah mujahid itu benar. Kita tidak perlu membesar-besarkan perbedaan, Islam ini akan kuat dan kembali menjadi kendali dunia jika kita meminimalisir perbedaan2.Maka bersatulah sunni dan syi’i karena ini akan jadi modal besar kemajuan Islam ke depan. Sudah saatnya jurang pemisah sunni dan syi’i itu kita hilangkan sedikit demi sedikit biar ukhuwah islamiyah semakin nyata.

  2. rina erfina said,

    November 27, 2007 pada 7:41 am

    mas arif tampaknya mewakili seorang muslim yang arif, tidak terbentur dengan perbedaan teologis lebih mengutamakan aspek tasawuf, tapi bagi kami orang awam, sangat sulit menerima itu, guru-guru kami seperti ust aam amirudin dari bandung, ust adian husaini, ust hartono jaiz, ust, athian ali dai masih menganggap syiah adalah berbeda dengan islam?

  3. amuli said,

    November 27, 2007 pada 8:24 am

    Ya, betul saya setuju. Syi’ah dan Sunni bisa saling belajar. Haidar Amuli, seorang arif dari Mazhab Syi’ah, belajar Fushush al-Hikam-nya Ibnu Arabi kepada tokoh-tokoh Sunni. Demikian juga, pakar fikih Syi’ah Syahid Awwal belajar fikih Sunni ke orang-orang Sunni. Cuma terkadang, orang Sunni sedikit sekali belajar Syi’ah. Bagaimanapun, Sunni dan Syi’ah tidak punya makna “apa-apa” jika sama-sama tidak meningkatkan kualitas manusia.

  4. serbuk said,

    Desember 2, 2007 pada 4:44 am

    orang yang masih membedakan antara sunni dan syi’ah membuktikan islamnya masih diragukan..bukan zamannya lagi untuk membedakan sunni dan syi’ah…

  5. amuli said,

    Desember 3, 2007 pada 2:49 am

    Kadang-kadang kategori semacam itu dipakai juga oleh para ulama klasik. Bahkan ulama modern juga melakukan hal yang sama. Apakah dengan hal itu keislaman mereka diragukan juga?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: