Bertuhan via Sepak Bola

Ajang sepak bola internasional 2006 baru saja usai. Kini warga Italia tengah menikmati pesta kemenangan yang gegap gempita setelah timnya berhasil mengalahkan tim Prancis dengan skor 5-3 melalui adu penalti. Kesukacitaan para pemain negeri menara Pisa di antaranya dilampiaskan dengan mencium Piala Dunia 2006. Even internasional ini begitu memesona orang. Siapa pun dan darimana pun ia berasal, pembicaraan mereka tak lepas dari olah raga paling populer ini.
Sebagai Muslim, semua hal dapat kita jadikan sebagai pelajaran, termasuk olah raga sepak bola ini. Di sini saya ingin melakukan suatu kesejajaran antara Piala Dunia 2006 dan kehidupan kita sebagai kaum Muslim. Sebetulnya bisa permainan apa saja untuk disejajarkan selama ada aturan. Pengambilan even sepak bola semata-mata karena aktualitas.
Adalah menarik menyaksikan bagaimana para pemain sepak bola ataupun pemain olah raga lainnya diatur dan diarahkan dengan aturan-aturan permainan. Semua pemain tahu bahwa jika aturan-aturan tersebut dilanggar, hukuman penalti akan dikeluarkan. Para pemain ditunjuki dengan pelbagai aturan permainan yang ia ikuti. Sebagai Muslim, kita telah diciptakan untuk tujuan yang lebih besar. Aturan main kehidupan yang mengatur kita adalah aturan main yang diturunkan oleh mahawasit, Allah Swt. Dalam al-Quran dikatakan, Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. (QS. 2:229)
Dalam permainan sepak bola, pemain begitu waspada terhadap dua hakim garis yang mengawasi jalannya pertandingan dan permainan yang ia lakukan dari kedua sisi lapangan. Sebetulnya, dalam kehidupan nyata kita pun, kirâman kâtibîn di kedua bahu kita mencatat seluruh perbuatan kita. Naasnya, kita abai pada dua hakim garis akhirat ini, Raqib dan Atid.
Betapa ironisnya ketika seorang pemain yang tidak berani menyentuh bola dengan tangannya di kotak penalti karena khawatir sang wasit menjatuhkan hukuman penalti, sementara ia berani menyentuh sesuatu yang dilarang oleh Allah, tanpa khawatir kena hukuman.
Betapa ironisnya ketika seorang pemain di lapang sepak bola begitu jeli untuk tidak terjebak off side, sementara ia tidak peduli jika Allah memergokinya di tempat-tempat di mana ia seharusnya tidak ada.
Betapa ironisnya ketika tendangan bebas dari tim lawan ditempatkan sedemikian berbahaya sehingga itu merupakan ancaman untuk tercetaknya gol, karena itu para pemain membentuk suatu barisan pertahanan, sementara kita tidak berpikiran untuk menyusun barisan guna menahan serangan atas Islam dari mereka yan menentang agama. Padahal Allah Swt berfirman dalam al-Quran, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS. 61:4)
Alangkah ironisnya ketika kita meniru habis para pahlawan olah raga kita mulai dari pakaian, gaya rambut, dan aksesoris lainnya, guna menunjukkan jati diri kita, tetapi kita tidak punya élan yang sama bahwa kita pengikut Nabi besar Muhammad saw.
Alangkah ironisnya ketika seseorang cemas akan kartu kuning dari wasit namun alpa untuk merespon peringatan lembut yang datang dari Allah Swt dalam bentuk ujian dan musibah; kartu kuning dalam bentuk aneka penyakit, kartu kuning dalam bentuk kematian dalam keluarga, kartu kuning dalam bentuk kerugian finansial, kartu kuning dalam wujud lolos dari kecelakaan, atau kartu kuning dalam wujud keselamatan dari situasi yang mengancam kehidupan.
Alangkah ironisnya ketika kita cemas akan kartu merah dari wasit yang menandai tidak diperbolehkannya kita untuk bermain selama beberapa periode pertandingan, tetapi secara total tidak cemas pada perbuatan-perbuatan kita yang akan mengeluarkan kita dari surga selamanya.
Alangkah ironisnya ketika seseorang memahami bahwa setelah peluit akhir ditiup, tak peduli berapa banyak gol yang dicetak, semua itu tak dianggap, namun ia lalai untuk memahami bahwa ketika peluit terakhir ditiup untuk hidupnya, tak ada lagi amal saleh yang dapat ditambahkan untuknya sebagai bekal akhirat.
Alangkah ironisnya ketika seseorang tidak pernah memikirkan untuk memasukkan timnya ke dalam suatu kesulitan dengan mencetak gol bunuh diri, namun tidak pernah memikirkan tentang amal perbuatan yang merusak agamanya sendiri dengan amalnya sendiri.
Alangkah ironisnya ketika seorang pemain peduli akan jutaan orang di seluruh dunia menonton permainannya namun ia tampak lalai terhadap hari ketika setiap perbuatannya akan diputar ulang di depan seluruh manusia di Hari Kiamat.
Ada baiknya even Piala Dunia 2006 dapat kita hubungkan dengan persoalan hidup kita sebagai Muslim. Allah berfirman, …maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya. (QS 16: 61)
Kadang-kadang seseorang yang berada di depan gawang tapi gagal untuk mencetakkan gol, kita menyebutnya, “Dia kehilangan kesempatan emas.”
Sungguh, alangkah seringnya Tuhan menganugerahkan kesempatan-kesempatan emas kepada kita untuk mendapatkan kedekatan dengan-Nya seperti memelihara orang tua yang berusia lanjut, membantu fakir miskin, mendirikan shalat awal waktu, bersedekah, tersenyum kepada siapa saja dikenal ataupun tidak, mendamaikan saudara yang berselisih, menyambungkan silaturahim, maupun bertobat kepada-Nya, tetapi sayangnya, kita lewatkan begitu saja.
Betapa seringnya Allah Swt meminta, “Adakah orang yang meminta ampunan untuk bisa Aku ampuni? Adakah orang yang meminta rezeki yang Aku berikan kepadanya rezeki? Adakah orang yang dalam kesulitan yang bisa Aku angkat kesulitan darinya?”
Setan tengah memainkan suatu permainan yang lebih membahayakan bagi kita. Dia membisikkan kepada kita perasaan waswas bahwa kita tidak akan sampai pada tujuan yang dimaksud. Betapa seringnya kita mendengar suatu tim mendapatkan kemenangan pada menit-menit terakhir dalam sebuah pertandingan. Setan akan terus berusaha untuk menyimpangkan imanmu sesaat sebelum sekarat. Dalam hal ini, kita harus terus menerus waspada di sepanjang waktu.
Sebagai Muslim, kita seyogianya menjadikan segala sesuatu sebagai pelajaran. Dalam menonton Piala Dunia pun kita dapat mentransendensikannya ke dalam bentuk lain. Jika para pemain sepak bola berusaha keras untuk tampil terbaik demi mendapatkan Piala Dunia, maka sebagai Muslim kita pun harus berusaha keras demi meraih piala-piala yang mengelilingi Telaga al-Kautsar dari tangan yang penuh berkah, Muhammad shallallahu ‘alayhi wa âlihi wassalâm.
Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. 9:105)[] (Tulisan ini pernah dimuat di majalah Syi’ar dengan menggunakan nama Andri Kusmayadi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: