Mulla Shadra: Riwayat Hidup dan Karakter

Mulla Shadra adalah salah seorang filosof Islam yang paling terkenal, yang dilahirkan pada abad ke-10 H Syamsiyah (abad 16 M) di Syiraz, sebuah kota yang paling terkenal di Iran, di kawasan sekitar Persepolis (979 H.S./1571 M). Ia adalah anak tunggal dari salah satu bangsawan kota tersebut (tampaknya pejabat menteri di provinsi Fars), bernama Ibrahim Qawami. Ia dinamai Muhammad namun orang-orang memanggilnya Shadruddin atau shadra. Belakangan, ia terkenal sebagai Mulla Shadra, dan bahkan digelari Shadr al-Muta’alihin (gelar yang paling terkenal di kalangan filosof).
Selama masa pemerintahan dinasti Shafawi, Syiraz dianggap sebagai salah satu pusat ilmu dan filsafat terpenting di dunia. Kota ini pun merupakan pusat pelatihan bagi sebilangan ilmuwan besar selama dua abad lebih. Shadra muda amat berbakat sehingga mampu menyerap semua ilmu di zamannya dalam waktu relatif singkat. enam tahun setelah kelahiran Mulla Shadra, keluarga tersebut pindah ke kota Qazwin.
Kota tersebut telah berubah pesat menjadi sebuah pusat sains dan filsafat di era dinasti Shafawi. Ia menjadi tempat perkumpulan bagi para filosof masyhur, fakih, sastrawan, dan seniman. Sejak usia dini, Mulla Shadra –yang telah menguasai semua sains di zamannya selama kurang dari 20 tahun- bisa segera menjumpai dua guru terbaik di zamannya, yakni Syaikh Baha’i dan Mir Damad. Dua tokoh ini memiliki catatan brilian dalam sejarah dan dinilai sebagai dua pemikir dan tokoh politik yang paling istimewa di zaman mereka. Mulla Shadra meradukan pendidikannya di bawah tempaan kedua figur besar ini.
Di usia sekitar 30 tahun, ia telah menjadi filosof yang paling mahir, yang menguasai utuh semua mazhab filsafat di zamannya termasuk aliran Iluminasionisme, Peripatetisme, Teologi Islam, dan ’Irfan. Shadra pun telah sampai pada senarai inferensi dan kesimpulan melalui kajian-kajiannya dan mengembangkan ide-ide dan teori-teorinya sendiri, yang menjadi alasan mengapa ia dinilai sebagai seorang filsuf paling terkemuka di dunia belakangan ini.
Mulla Shadra menunjukkan kepiawaiannya di Syiraz –yang masih dihitung sebagai pusat penting filsafat dan teologi- dan menarik sejumlah besar murid dan pengikut. Buntutnya, sejumlah sejawatnya mencemburuinya dan menjadikannya sebagai sasaran tindakan dan kata-kata mereka yang kurang baik dan ofensif. Melihat kondisi demikian, Mulla Shadra memutuskan meninggalkan kotanya dan menemukan tempat uzlah di desa Kahak di sekitar pusat agama, Qum.
Jiwa Shadra tersiksa dan terluka sehingga ia menyerah untuk mengajar, menulis, dan mempelajari selama beberapa waktu dan lebih mencurahkan diri pada ibadah dan praktik-praktik kezuhudan sebagaimana telah dibiasakannya sejak usia muda. Tapi, ini tidak berlangsung selamanya. Mimpi-mimpi dan intuisi-intuisi mistisnya mengilhami Shadra untuk menyebarkan ide-idenya. Dari itu, ia kembali kepada kehidupan sosial dan bergaul di tengah orang-orang lagi serta mulai mengajar dan menulis buku-buku. Karya-karya terbaik dan terpentingnya digubah selama masa ini. Pada dasawarsa akhir hidupnya, Mulla Shadra kembali ke Syiraz dan mulai mengajar di sebuah sekolah yang secara khusus didirikan untuknya oleh penguasa kota tersebut. Ia menulis sejumlah ulasan al-Quran dan hadits selama periode itu. Di tahun 1050 H/1648 M atau sebagian lain di tahun 1045 H/1630 M, ia jatuh sakit dalam perjalanannya untuk berhaji di Basrah, Irak dan akhirnya wafat. Ia disemayamkan di kota suci Najaf, Irak, tempat makam Imam Ali berada.
Mulla Shadra meninggalkan tiga putri dan dua putra. Putra tertuanya adalah (Mulla) Ibrahim, seorang filosof, muhadits, mutakallim, fakih dan mistikus dengan bakat kepenyairan yang menonjol, matematikawan, dan menguasai ilmu-ilmu lain. Singkatnya, ia seorang ulama prolifik. Putra keduanya, Nizamuddin Ahmad –lebih dikenal sebagai Mirza Nizam dan Abu Turab- yang lahir 1031 H (menurut catatan), adalah seorang filosof, mistikus, sastrawan, dan penyair. Tiga putrinya adalah Ummah Kultsum, Zubaidah dan Ma’shumah. Dua dari putrinya ini menikah dengan Syaikh Abdurrazak Lahiji, dikenal sebagai Faidh, dan Mulla Muhsin Faidh al-Kasyani- merupakan murid-murid favoritnya dan tergolong sebagai ulama yang menguasai bidang filsafat, ’irfan, dan ilmu-ilmu Islam. Baik anak-anak maupun menantu Mulla Shadra tergolong sebagai ulama terpandang di masanya yang menguasai ilmu-ilmu Islam tradisional.
Mulla Shadra bukan sekedar filosof paling terkenal selama enam abad terakhir. Bagi sebagian orang ia telah dianggap setara dengan Ibn Sina dan al-Farabi, bahkan melampaui keduanya. Meskipun ia menguasai semua mazhab filsafat di zamannya (Peripatetik, Iluminasionisme, Teologi Islam dan ’Irfan), ia tak pernah secara total dipengaruhi semuanya dan meretas mazhab filsafatnya sendiri, yakni filsafat transenden (al-hikmah al-muta’aliyah). Ia mengkritik semua titik lemah yang disuguhkan oleh filsuf agung sebelumnya dan mencoba menyajikan sejumlah pemecahan filosofis atas masalah-masalah tersebut.
Dalam risalahnya, Mulla Shadra telah menampilkan prinsip-prinsip umum dan khususnya sendiri yang jumlahnya lebih dari 150 masalah, ide dan teori. Di pusat-pusat filsafat, bagaimanapun, sekitar sepuluh teori atau gagasannya yang paling pokok dan terkenal dianggap telah menyumbangkan landasan bagi mazhabnya sendiri, seperti prinsip ashalah al-wujud, tasykik al-wujud, prinsip kebenaran yang paling sederhana, kesatuan subjek dan objek pengetahuan (ittihad al-’aqil wa al-ma’qul), gerakan transubstansial (al-harakah al-jawharriyah), imaterialitas dunia imajinasi, dan lain-lain.
Murid-muridnya
Bukti-bukti menyebutkan bahwa ia senantiasa mengajar. Sebab itu, banyak muridnya yang tercatat dalam sejarah. Sebagian diantaranya adalah:
1. Faidh al-Kasyani (Muhammad bin Murtadha, dikenal sebagai Mulla Muhsin).
Dalam doktrin filsafat, ia tidak begitu terkenal. Ia mempunyai cita rasa mistik dan cenderung kepada hadits dan etika. Karya-karyanya yang terkenal adalah: Al-Wafi, sebuah karya tafsir; Ash-Shafi, bidang etika; Al-Mahajjat Al-Baydha’, diasaskan pada Ihya’ ’Ulum al-Din-nya al-Ghazali, dan Ushul al-Ma’arif, dalam sains. Titimangsa kelahirannya tahun 1007 H (sebagian menganggap sekitar tahun 1004 atau 1005). Adapun tahun wafatnya sekitar 1091 H. Sebagian karyanya yang terdiri dari 80 buku dengan jumlah volume yang berbeda-beda mempresentasikan dirinya sebagai orang yang memiliki citarasa mistis dan puitis. Dalam beberapa hal ia dapat disetarakan dengan al-Ghazali meski ia lebih mendalam dan komprehensif pembahasannya ketimbang al-Ghazali. Faidh bisa dianggap sebagai filsuf agung, dan di saat yang sama, seorang mistikus utuh, dan teolog paling berilmu. Tidak seperti al-Ghazali yang pernah menjadi pejabat tinggi negara (sebagai hakim), Faidh justru menolak posisi demikian. Hidupnya semata-mata dicurahkan untuk meneliti, mengajar, dan menulis di desa terpencil dan menolak pengangkatan dirinya Imam shalat Jum’at di Isfahan oleh Syah Shafi. Meski pada akhirnya, ia terpaksa menerima posisi tersebut pada masa Syah Abbas II. Setelah belajar di bawah bimbingan Mulla Shadra selama 8 tahun dan kemudian menjadi menantunya serta tinggal bersamanya di Syiraz beberapa tahun, Faidh al-Kasyani pulang ke Isfahan. Di sana, ia mulai mempromosikan doktrin-doktrin gurunya di bidang filsafat dan hadits.
2. Abdurrazaq Lahiji
Ia murid Shadra yang tersohor sebagai filosof, mutakallim dan penyair yang piawai. Kepastian kelahirannya tidak jelas. Diduga –sebagaimana ia tulis sendiri- ia lahir pada 1072 (1662 M), atau 1071 atau 1051. Selama di Qum, ia bergaul akrab dengan gurunya, Mulla Shadra. Kepadanya, Lahiji mempelajari filsafat, kalam, mistisisme, logika, dan penyucian jiwa selama beberapa tahun. Murid dan menantu Shadra, tidak seperti Faidh yang menguasai tafsir dan hadits, lebih dikenal sebagai penyair ulung. Ia mempunyai koleksi syair yang disambut baik oleh para sastrawan. Karya-karya berharganya meliputi ilmu kalam dan filsafat, diantaranya, Masyariq al-Ilham wa al-Syawariq, sebuah karya atas karya komentar ath-Thusi terhadap Al-Isyarat wa al-Tanbihat-nya Ibn Sina; Gowhar Murad (dalam bahasa Persia), dan sebuah ringkasan atasnya Sarmayeh-i Iman; dan sebuah karya syarah atas Hayakil al-Nur (Kuil Cahaya)-nya Suhrawardi yang menunjukkan kepenguasaan atas hikmah Iluminasionis. Ini menunjukkan fakta bahwa dalam mazhab Mulla Shadra, hikmah Iluminasionis dipelajari, diajarkan, dan ditulis. Murid-murid tersebut telah menerima sikap dari gurunya.
3. Murid lain, yang tidak terkenal seperti dua murid di atas adalah Mulla Husain Tunkabuni. Ia seorang filosof-mistik. Ia sangat akurat dalam karya-karyanya dan setia kepada doktrin-doktrin gurunya. Tunkabuni wafat sekitar tahun 1101 H/1105. Kematiannya disebabkan serangan sekelompok massa di Masjid al-Haram. Ia mengomentari al-Syifa’-nya Ibn Sina, menulis sebuah buku tentang keterciptaan dunia secara temporer dan kesatuan eksistensi, dan ulasan atas karya komentar Khafri tentang Tajrid al-Ulum.
4. Filsuf lain yang disebutkan dalam sejarah sebagai murid Mulla Shadra adalah Aqa Jani (atau Muhammad bin Ali Ridha bin Aqa Jani). Salah satu karyanya berupa komentar atas Qabasat-nya Mir Damad. Diduga ia belajar kepada dua orang guru yakni Mulla Shadra sendiri dan Mir Damad. Tentang kelahiran dan wafatnya tidak diketahui.
Filsafat Transenden (Al-Hikmah Al-Muta’aliyah)
Sesungguhnya Shadra bukan orang pertama yang menggunakan istilah ini. Akan tetapi, dialah yang paling efektif dalam menguraikan pengertiannya. Dalam adikaryanya yang bertajuk Al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-’Aqliyyat al-Arba’ah (lebih dikenal dengan al-Asfar saja), ia mendefinisikan istilah ini dan menetapkan landasan bagi pendekatan baru filsafat. Pendekatan ini mencakup pembuktian akal atau demonstrasi logis (istidlal atau ’aql), intuisi intelektual (kasyf atau syuhud) dan iluminasi (isyraq), selain wahyu (syari’ah).
Dalam pengantar buku itu, Shadra menyebutkan ketaksukaannya terhadap para ”ulama” jahil di masa itu dan alasan pengasingannya di Kahak, dusun kecil dekat Qum. Ia mencurahkan diri lebih dari 10 tahun untuk bertafakur dan latihan spiritual semacam zikir. Di akhir uzlah-nya itu, Mulla Shadra mengklaim dirinya telah mempelajari rahasia-rahasia semesta dan misteri-misteri yang tersembunyi darinya. Katanya, ”Apapun yang kuketahui melalui demonstrasi rasional dan intuisi intelektual yang terpancar. Aku dianugerahi rahasia-rahasia ketuhanan dan dihembusi kekayaan Singgasana.”
Kata kunci yang melambari Filsafat Transenden adalah wujud. Dalam filsafat ini, wujud lebih menonjol daripada esensi. Semua esensi, menurut Shadra, merupakan rekaan akal manusia belaka. Dari tiap-tiap sosok yang ditemuinya, akal manusia menjumput suatu gambaran yang disebut dengan esensi. Akan tetapi, sisi yang memberikan efek dan membentuk bangunan alam semesta adalah sisi wujud, bukan sisi esensi. Adalah mustahil, secara filosofis, esensi dan wujud sama-sama mewujud sebagaimana mustahilnya esensi dan wujud tidak mewujud. Menurut Shadra, wujud adalah asal-usul dan realitas tunggal yang merangkum segala sesuatu. Demikianlah pemikiran Shadra yan terus menjadi inspirasi bagi filosof-filosof Muslim modern, seperti Imam Khomeini, Murtadha Muthahhari, Allamah Thabathabai, Jawadi Amuli, dan lain-lain.

1 Komentar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: